1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

270709 USA China Produkte

5 Agustus 2009

Amerika Serikat salah satu pasar barang konsumsi terbesar dunia, kini dibanjiri produk 'made in Cina'. Apakah Cina siap menggeser Jerman sebagai juara dunia di bidang ekspor?

Fake-Markt in Nanjing, China
Pasar barang bajakan di Nanjing, CinaFoto: picture alliance/dpa

Juara dunia ekspor - itulah gelar yang selama ini disandang oleh Jerman. Tapi belakangan, persaingan di pasar dunia untuk merebut gelar itu semakin ketat. Saingan utama Jerman adalah Cina. Produk Cina dapat ditemukan di dimana-mana, termasuk di stasiun kereta api Union Station di Washington. Kesibukan terlihat di tiap pojok stasiun kereta api yang terkenal karena sejarahnya ini. Berkas sinar matahari merembes masuk lewat celah-celah yang terbuat dari kaca. Cahayanya menyinari barang dagangan yang tertata rapi di sejumlah toko suvenir di stasiun kereta api in.

Kaos bertuliskan 'I love DC' atau 'Aku Cinta DC', cangkir kopi dengan foto keluarga Presiden Obama, atau suvenir lainnya yang menampilkan motif Gedung Putih - semua itu bisa dibeli di salah satu toko suvenir yang menjual pernak-pernik khas Amerika di Union Station. Tapi, bila pernak-pernik itu diamati lebih seksama, si pembeli mungkin menemukan label atau stiker bertuliskan 'made in Cina'.

Antara 90 sampai 99 persen produk yang dijual di toko suvernir di Union Station berasal dari Cina. Demikian menurut para pemilik toko.

Dan para pembeli tak punya pilihan lain, cerita Eric Lumpkin. Ia jauh-jauh datang dari Texas untuk mengunjungi ibukota Amerika Serikat, Washington DC. "Saya mencoba untuk membeli produk asli Amerika, tapi sebagian ebsar produk yang dijual di sini berasal dari Cina. Di sini, hampir tidak ditemukan produk lain, karena produk Cina mendominasi pasar."

Betapa sulitnya menemukan produk yang tidak dibuat di Cina sudah dibuktikan Sara Bongomi. Jurnalis bidang ekonomi asal Lousiana ini mencoba untuk tidak membeli produk 'made in China' selama satu tahun. Ternyata, tak mudah untuk hidup tanpa produk buatan Cina. Pengalamannya ia rangkum dalam sebuah buku yang melukiskan, bagaimana ia terpaksa mencari sebuah produk selama berhari-hari sebelum akhirnya menemukan barang yang bukan buatan Cina. Mulai dari komputer, iPod, ponsel sampai pakaian, kadang ia harus berburu berhari-hari untuk menemukan satu barang. Untuk barang kebutuhan sehari-hari seperti betere, bohlam, kuas dan sekrup kadang tidak ada pilihan selain membeli produk Cina.

Padahal, produk 'made in Cina' sebenarnya kurang disukai konsumen. Harganya murah, tapi barang buatan Cina mudah rusah dan kadang bahkan berbahaya bagi kesehatan. Luke Granger, seorang warga campuran Amerika-Jerman juga mengaku kurang menyukai produk negeri Tirai Bambu.

"Produknya banyak yang murahan. Waktu saya masih anak-anak, hampir semua produk adalah produk asli Amerika. Tapi sekarang, hampir semuanya dibuat di Cina."

Dulu, Negeri Paman Sam memang memiliki industri produksi yang kuat. Mulai dari mobil, produk pangan sampai pada jejaring restoran makanan cepat saji, Amerika mendominasi pasar dunia. Tapi kini, label 'made in America' makin sulit ditemukan. Yang ada adalah 'Designed in America'. Jadi, hanya ide dan rancangannya yang berasal dari Amerika, tapi produksinya dialihkan ke luar negeri. 70 persen produk yang dijual di jaringan supermarket Amerika Walmart diproduksi di Cina. 95 persen game komputer yang dijual di Amerika berasal dari Cina, untuk boneka angkanya bahkan mencapai seratus persen.

Ada sejumlah alasan bagi menurunnya angka produksi di Amerika Serikat, kata Douglas Paal, pakar untuk Asia di Yayasan untuk Perdamaian Carnegie:

"Salah satunya adalah gaji buruh yang terus naik, juga potongan pajak bagi perusahaan yang memindahkan produksi ke luar negeri kemudian mengimpor kembali produk yang sudah jadi ke Amerika Serikat. Presiden Obama sekarang berupaya menutup celah ini."

Meski demikian ini tidak berarti di masa depan produk asal Cina akan menghilang dari toko-toko Amerika. Karena di pasar yang menang adalah produsen yang menawarkan produk termurah. Tak penting, apakah produk itu berasal dri Cina, India, Thailand atau Taiwan. Jurnalis ekonomi Sara Bongomi yang merangkum pengalamannya selama memboikot produk asal Cina dalam sebuah buku, akhirnya menghentikan boikotnya setelah 12 bulan. Alasannya, boikot tersebut menghabiskan terlalu banyak waktu dan tenaga.

Dörthe Keilholz/Ziphora Robina
Editor: Agus Setiawan