1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Makin Banyak Warga Iran Hadapi Masa Depan Suram

4 Februari 2009

Revolusi Islam Iran diharapkan membawa kemakmuran bagi masyarakatnya, namun janji ini tidak juga terpenuhi. Saat ini, ketiadaan harapan yang mencekam akademisi muda. Jika bisa, mereka meninggalkan tanah airnya.

Karikatur dari Keyvan Zargari mengenai tema 'bagaimana ekonomi Iran berfungsi'Foto: Keyvan Zargari

Revolusi Islam di Iran menjanjikan perbaikan keadilan sosial. Tapi, kesenjangan sosial yang dalam di era Syah Iran, kini bahkan bertambah besar. Saat ini, jumlah warga yang dapat hidup dari satu pekerjaan saja, semakin menurun. Misalnya Ahmad yang bekerja pada perusahaan pemerintah untuk pengangkutan sampah di Teheran. Karena gajinya jarang dibayar tepat pada waktunya, setelah jam kerjanya sebagai pengangkut sampah, ia terpaksa harus membanting tulang di sebuah perusahaan cleaning service:

„Di negara kami ada orang yang bahkan punya tiga pekerjaan. Karena di sini, di Iran, kebanyakan orang yang hanya punya satu pekerjaan, tidak dapat hidup. Kami harus punya sedikitnya dua pekerjaan, kadang-kadang bahkan tiga. Pensiunan pun kerap masih harus mencari kerja tambahan."

Menurut keterangan resmi, 20 persen warga Iran hidup di bawah garis kemiskinan. Dan jumlah ini tampaknya cenderung meningkat. Padahal lima tahun lalu, saat Ahmadinedjad dipilih sebagai presiden, ia menyebut dirinya sebagai 'pembela rakyat kecil' dan berjanji untuk memerangi kemiskinan yang terus meningkat di Iran. Kekecewaan akibat janji pemilu yang tidak ditepati kini membesar. Mohammad yang berusia 48 tahun dan ayah dari tiga anak, menghidupi keluarganya sebagai supir taksi di Mashad:

„Keadilan tidak ada. Penduduk Iran berjumlah 70 juta, tapi hanya 5 juta yang mengambil keuntungan dari rezim ini. Saya malu terhadap istri dan anak-anak saya. Putri saya kuliah empat tahun dan sekarang selesai. Tapi saya tidak dapat membelikan hadiah untuknya. Setelah 25 tahun bekerja, saya tidak dapat membeli beras yang bagus. Kami harus puas dengan beras untuk makanan ayam."

Menurut keterangan resmi, 25 persen warga Iran saat ini tidak punya pekerjaan. Tingkat inflasi yang terus menanjak, mencapai 30 persen. Republik Islam Iran tampaknya harus siap-siap menghadapi masa sulit. Karena seprtiga tiga lulusan perguruan tinggi tidak menemukan pekerjaan, banyak dari akademisi muda Iran mencari keberuntungannya di luar negeri. Mehdi, seorang pakar informatika dari Teheran mengutarakan:

„Saya sekarang sedang mengurus dokumen-dokumen untuk pergi ke luar negeri. Di sini, di Iran saya tidak punya masa depan yang jelas dan juga tidak punya rencana nyata untuk kehidupan saya. Selain itu, saya tinggal di kota yang banyak sekali penduduknya. Setiap hari semakin banyak orang luar yang datang dan karena itu peluang saya untuk mendapatkan pekerjaan semakin tipis."

Kemiskinan di Iran meluas dan kas negara semakin menipis. Pada pertengahan tahun lalu, harga minyak mencapai 147 dollar per barrel dan kini anjlok ke bawah 50 dollar AS. Ini tentunya membawa dampak bagi penghasilan negara. Semua projek kini diteliti kembali. Pasalnya, semua projek tersebut diperhitungkan berdasarkan harga minyak sebesar 80 dollar per barrel. (cs)