Kanselir Jerman Friedrich Merz akan bertandang ke Turki untuk menemui Presiden Recep Tayyip Erdogan. Dengan gejolak geopolitik di dunia, mampukah kedua negara menyudahi perselisihan lama dan merajut kerja sama?
Pertemuan Merz dan Erdogan di Albania, 16 Mei 2025Foto: Apaimages/SIPA/picture alliance
Iklan
"Fokus utamanya adalah pertemuan bilateral dengan Erdogan.” Itulah yang disampaikan oleh juru bicara pemerintah Jerman, Steffen Meyer, pada Senin (27/10) dalam konferensi pers di Berlin, menjawab pertanyaan seputar kunjungan kanselir ke Turki pada hari Rabu hingga Kamis minggu ini.
Meyer menyebut kunjungan tersebut sebagai kunjungan resmi Kanselir Friedrich Merz, menambahkan kunjungan tersebut akan disertai agenda kecil lainnya.
Di panggung internasional, kedua pemimpin sudah beberapa kali bertemu secara singkat sejak Merz menjabat, misalnya pada bulan Mei di Tirana, Albania. Turki merupakan sekutu penting NATO yang belum berhasil menjadi anggota di Uni Eropa (UE).
Sejarah pertemuan bilateral Jerman-Turki
Kanselir Federal Olaf Scholz telah melakukan kunjungan serupa pada Maret 2022, setelah hampir tiga bulan menjabat. Angela Merkel, sebelumnya, mengunjungi Istanbul dan Ankara pada 2006, setelah 11 bulan menjabat sebagai kanselir.
Ketiga kanselir ini menggambar satu kesamaan, yakni Jerman membutuhkan Turki, meski dengan latar belakang politik yang berbeda. Merkel, misalnya, kunjungannya menekankan penanganan gelombang pengungsi di tahun 2015. Kunjungan Scholz dilatarbelakangi invasi Rusia atas Ukraina yang dimulai Februari 2022, sedang Merz lebih kepada peran penting yang bisa dimainkan Ankara sebagai mediator dalam perang Ukraina maupun konflik Gaza.
Sangat kontras dengan Helmut Kohl, Kanselir Jerman dari tahun 1982 hingga 1998 yang baru mengunjungi Turki setelah hampir tiga tahun menjabat. Penggantinya, Gerhard Schröder, yang memimpin Jerman dari 1998 hingga 2005, bahkan menunggu lima setengah tahun sebelum kunjungan pertamanya.
Melihat 20 tahun ke belakang, masih ada kontroversi yang alot dan belum selesai: permohonan keanggotaan UE yang diajukan pada 1999. Jerman selalu melihat permohonan ini secara kritis dan itulah yang membuat Ankara kesal. Negosiasi resmi baru dimulai pada 2005, tetapi terhenti hingga kini.
"Kondisi politik Jerman terhadap Turki telah berubah,” kata peneliti di Pusat Studi Turki Terapan SWP, Yasar Aydin. Kini, hubungan Berlin dan Ankara berkembang menjadi "hubungan pragmatis dan transaksional”. Hubungan ini didasarkan pada logika geopolitik dan kekuasaan.
Titik awal perubahan, menurut Aydin, ada pada "kesepakatan pengungsi” yang dibuat Kanselir Merkel pada 2016, yang saat itu menurunkan tensi perdebatan publik Jerman. Kemudian muncul tantangan geopolitik lainnya seperti perang Ukraina.
Untuk merayakan ulang tahun ke-60 kesepakatan penerimaan pekerja migran asal Turki di Jerman, museum Ruhr memamerkan foto-foto karya fotografer asal Istanbul, Ergun Cagatay.
Fotografer Ergun Cagatay dari Istanbul, pada 1990 mengambil ribuan foto warga keturunan Turki yang berdomisili di Hamburg, Köln, Werl, Berlin dan Duisburg. Ini akan dipajang dalam pameran khusus “Kami berasal dari sini: Kehidupan keturunan Turki-Jerman tahun 1990” di museum Ruhr. Pada potret dirinya dia memakai pakaian pekerja tambang di Tambang Walsum, Duisburg.
Dua pekerja tambang bepose usai bertugas di tambang Walsum, Duisburg. Dipicu kemajuan ekonomi di tahun 50-an, Jerman menghadapi kekurangan pekerja terlatih, terutama di bidang pertanian dan pertambangan. Menindak lanjuti kesepakatan penerimaan pekerja migran antara Bonn dan Ankara pada 1961, lebih dari 1 juta “pekerja tamu” dari Turki datang ke Jerman hingga penerimaan dihentikan pada 1973.
Ini foto pekerja perempuan di bagian produksi pelapis interior di pabrik mobil Ford di Köln-Niehl. “Pekerja telah dipanggil, dan mereka berdatangan,” komentar penulis Swiss, Max Frisch, kala itu. Sekarang, komunitas Turki, dimana kini sejumlah keluarga imigran memasuki generasi ke-4, membentuk etnis minoritas terbesar di Jerman dengan total populasi sekitar 2.5 juta orang.
Foto menunjukan keragaman dalam keseharian orang Turki-Jerman. Terlihat di sini adalah kedelapan anggota keluarga Hasan Hüseyin Gül di Hamburg. Pameran foto di museum Ruhr ini merupakan liputan paling komprehensif mengenai imigran Turki dari generasi pertama dan kedua “pekerja tamu.”
Saat ini, bahan makanan seperti zaitun dan keju domba dapat ditemukan dengan mudah di Jerman. Sebelumnya, “pekerja tamu” memenuhi mobil mereka dengan bahan pangan itu saat mereka balik mudik. Perlahan-lahan, mereka membangun pondasi kuliner Turki di Jerman, untuk kenikmatan pecinta kuliner. Di sini berpose Mevsim, pemilik toko buah dan sayur di Weidengasse, Köln-Eigelstein.
Anak-anak bermain balon di Sudermanplatz, kawasan Agnes, Köln. Di tembok yang menjadi latar belakang terlihat gambar pohon yang disandingkan dengan puisi dari Nazim Hikmet, penyair Turki: “Hidup! Seperti pohon yang sendiri dan bebas. Seperti hutan persaudaraan. Kerinduan ini adalah milik kita.” Hikmet sendiri hidup dalam pengasingan di Rusia, hingga dia meninggal pada 1963.
Di sekolah baca Al-Quran masjid Fath di Werl, anak-anak belajar huruf-huruf Arab agar dapat membaca Al-Quran. Itu adalah masjid dengan menara pertama yang dibuka di Jerman pada tahun 90-an. Sejak itu warga Turki di Jerman tidak perlu lagi pergi ke halaman belakang untuk shalat atau beribadah.
Cagatay, sang fotografer berbaur dengan para tamu di sebuah pesta pernikahan di Oranienplatz, Berlin-Kreuzberg. Di gedung perhelatan Burcu, para tamu menyematkan uang kepada pengantin baru, biasanya disertai dengan harapan “semoga menua dengan satu bantal.” Pengantin baru menurut tradisi Turki akan berbagi satu bantal panjang di atas ranjang pengantin.
Tradisi juga tetap dijaga di tanah air baru ini. Di pesta khitanan di Berlin Kreuzberg ini, “Masyaallah” tertulis di selempang anak sunat. Itu artinya “terpujilah” atau “yang dikehendaki tuhan.” Pameran antara lain disponsori Kementerian Luar Negeri Jerman. Selain di Essen, Hamburg dan Berlin, pameran juga akan digelar di Izmir, Istanbul, dan Ankara bekerjasama dengan Goethe Institute. (mn/as)
"Ini adalah hubungan saling memberi dan menerima,” kata Aydin. Hubungan ini telah "bergerak menuju simetri”. Berbeda dengan masa Kanselir Kohl, yang selalu menjalankan kebijakan pertahanan yang restriktif terhadap Turki, kini ada pendekatan yang lebih terbuka terhadap Ankara.
Apa yang dapat diberikan Merz pada Erdogan?
Aydin menekankan simbolisme kekuasaan. Pada Senin (27/10), Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berada di Ankara. Ia tidak bertemu dengan perwakilan partai oposisi Cumhuriyet Halk Partisi (CHP) yang secara ideologis memiliki kemiripan dengan partai sosial-demokratnya. Sebagai gantinya, Starmer dan Erdogan menandatangani kesepakatan dengan Turki membeli 20 Eurofighter dari Inggris.
Aydin juga menyoroti peran Jerman sebagai negara terbesar UE dengan lebih dari tiga juta migran Turki dan sebagai pasar utama produk-produk Turki. Erdogan berharap akan adanya modernisasi kesepakatan bea cukai dengan UE.
Dari sisi politik Eropa dan pengaruh Ankara akan imigran Turki di Jerman, partai Merz, CDU dan CSU selalu bersikap kritis terhadap kebijakan Turki. Pembatasan hak-hak demokratis dan penindasan terhadap oposisi kian meningkatkan skeptisme tersebut. Menlu sebelumnya, Annalena Baerbock dari Partai Hijau, yang menjabat hingga awal Mei lalu kerap melayangkan kritik keras atas Turki, memicu kemarahan Ankara.
Iklan
Fokus pada ekonomi, migrasi, dan keamanan
Dalam kunjungan Merz, menurut juru bicara pemerintah di Berlin, kanselir akan berfokus pada penguatan kerja sama di bidang ekonomi, migrasi, dan keamanan. Tantangan yang terjadi saat ini.
Sebelas hari sebelum kunjungan Kanselir Jerman, Menteri Luar Negeri Johann Wadephul (CDU) telah melakukan kunjungan resmi ke Ankara. Kunjungan Wadephul ini turut mempersiapkan kehadiran Merz di Ankara.
Menteri Luar Negeri Jerman dalam kunjungannya menekankan pentingnya Turki sebagai mitra penting dan sekutu NATO. Topik utamanya adalah situasi di Gaza dan perang Rusia melawan Ukraina. Kritik publik hampir tidak terdengar.
Mengutip Wadephul dalam siaran televisi Jerman, ARD, yang menginginkan kemajuan dalam hubungan UE-Turki. "Kami ingin pembaruan kesepakatan bea cukai, kami ingin liberalisasi visa. Secara keseluruhan, kami ingin agenda yang positif.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Rizky Nugraha
Sekitar 150.000 orang menggunakan kapal-kapal feri Istanbul setiap harinya. Menghubungkan Asia dan Eropa dari dahulu hingga sekarang, kapal ini kerap menjadi 'kantor terapung', panggung hiburan, hingga tempat 'healing'.
Foto: Francisco Seco/AP Photo/picture alliance
Melintasi dua kontinen setiap hari
Tak terhitung berapa banyak feri yang melakukan perjalanan ke Eropa atau ke Asia setiap harinya. Feri bukan sekadar alat transportasi tapi juga gaya hidup perkotaan serta menjadi saksi budaya dan sejarah kedua kontinen. Setiap tahun, lebih dari 40 juta orang menggunakan jalur feri di kota ini - pelancong, pemusik, dan pengembara.
Foto: Francisco Seco/AP Photo/picture alliance
16 juta orang, terhubung dalam satu selat
16 juta orang tinggal di Istanbul, kota metropolitan yang padat. Feri menawarkan alternatif yang menenangkan dibandingkan jalanan yang padat. Waktu tempuh beragam, bisa dari 10 menit hingga berjam-jam. Moda ini jadi tempat pertemuan bahkan 'panggung' bagi para musisi.
Foto: Francisco Seco/AP Photo/picture alliance
Lantunan musik di atas air
Seorang musisi memetik gitarnya di atas feri, di saat yang sama beberapa penumpang mendengarkan dengan khusyuk. "Saya rasa ini adalah panggung terindah di dunia," kata sang musisi. Kapal-kapal feri membawakannya pendengar juga inspirasi. Bagi banyak seniman, feri-feri ini adalah tempat pertujukkan seni mereka.
Foto: Francisco Seco/AP Photo/picture alliance
Kesultanan yang jadi metropolitan
Feri yang padat meninggalkan terminal Eminonu di muara Golden Horn. Bahkan di era Kekaisaran Ottoman, jalur ini digunakan untuk berdagang, transportasi, bahkan jalur penting dikala perang. Konstantinopel, nama Istanbul sebelumnya, berarti persimpangan antara Timur dan Barat. Kapal-kapal feri melihat air bukan sebagai penghalang, tetapi sebagai jalur kehidupan.
Foto: Francisco Seco/AP Photo/picture alliance
Pertemuan di depan kapal tua
Kapal feri tertua beroperasi sekitar tahun 1950an hingga 1960an. Dibangun awalnya untuk menghubungkan kedua sisi selat Bosporus, mereka jadi transportasi penghubung di era Kerajaan Ottoman. Selain melayani masyarakat sipil, mereka juga digunakan sebagai transportasi militer. Kini feri tertua tersebut adalah saksi sejarah yang mengapung.
Foto: Francisco Seco/AP Photo/picture alliance
Perjalanan pertama, kekal di ingatan
Seorang pelancong asal Maroko mengatakan pengalamannya menggunakan feri sebagai pengalaman magis. "Sangat istimewa untuk menyebrangi satu selat ke selat lainnya dan melihat monumen-monumen," katanya. Feri 'menjahit' kota yang modern dengan sejarah kunonya 'tanpa cela'.
Foto: Francisco Seco/AP Photo/picture alliance
Kantor di atas ombak
Seorang penumpang 'tenggelam' dalam bukunya. "Saya suka laut," kata penumpang lainnya yang telah tinggal di kota itu selama beberapa tahun. Untuk banyak orang feri bukan sekadar alat transportasi tetapi juga "kantor terapung." Laptop yang terbuka, telepon yang berbunyi berpadu dengan deru suara mesin. Saat menyeberangi dua kontinen menjadi sebuah jeda yang produktif.
Foto: Francisco Seco/AP Photo/picture alliance
Proteksi diri yang kreatif
Nampak dua perempuan berlindung dari terik matahari. Kapal berangkat beberapa kali dari Kabataş, Eminonu arau Kadıkoy ke pulau-pulau bebas mobil: Buyukada, Heybeliada, Burgazada and Kınalıada. Koneksi tercepat ke pulau-pulau tersebut memakan waktu sekitar satu jam - sebuah perjalanan ke tempat yang lebih tenang, hanya dengan satu feri dari Istanbul yang penuh hiruk-pikuk.
Foto: Francisco Seco/AP Photo/picture alliance
Beristirahat sejenak dengan pemandangan indah
Seorang penumpang berinstirahat di salah satu bangku. "Jika pergi dengan feri, pastikan isi energi Anda," kata seorang penumpang. Bagi para penduduk Istanbul, feri adalah tempat beristirahat sejenak dan melepas penat. Pemandangan Bosphorus dengan burung camar dan warna keemasan dari matahari yang terbenam memberikan relaksasi yang menenangkan.
Foto: Francisco Seco/AP Photo/picture alliance
Lebih dari sekadar alat transportasi
Feri Istanbul tidak hanya menghubungkan dua benua, tapi juga menghubungkan masa lalu dan masa kini, pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, kebisingan dan keheningan. Feri adalah simbol terapung di sebuah kota yang tidak pernah berhenti bergerak -membawa cerita, hari demi hari, gelombang demi gelombang.