Mandarin - Bahasa Masa Depan di Afrika?
29 September 2025
Miradie Tchèkpo adalah penerjemah bahasa Mandarin yang tinggal di Benin. Ia bekerja di sebuah perusahaan Cina. Baginya, ini adalah mimpi yang jadi kenyataan. "Ketika di bangku sekolah menengah, saya sering menonton saluran televisi Cina dan bermimpi suatu hari pergi ke Cina untuk mengenal budayanya,” ujarnya kepada DW.
Tchèkpo mengejar mimpinya dengan tekun: setelah lulus SMA ia masuk Institut Konfusius di Universitas Abomey-Calavi. "Saya belajar bahasa Mandarin di sana dan mengikuti kursus selama tiga tahun untuk mendapatkan sertifikat profesi di bidang bahasa Mandarin," ujarnya bangga.
Namun, impian lebih besar Tchèkpo belum tercapai, ”Saya ingin mewujudkan mimpi berkecimpung di dunia perdagangan internasional, membawa produk tropis dari Benin ke Cina dan produk dari Cina ke Benin," jelasnya "Bahkan, kalau bisa, ke seluruh Afrika. Jika seseorang mempelajari bahasa, itu agar ia bisa bekerja sama dengan negara tersebut."
Seberapa menjanjikan berkarir dengan bahasa Mandarin?
Institut Konfusius adalah lembaga bahasa dan budaya yang didirikan pada tahun 2004 di bawah naungan Kementerian Pendidikan Cina. Pemerintah Cina gencar memperluas eksistensi lembaga ini ke seluruh dunia.
Di Afrika, puluhan Institut Konfusius tercatat menawarkan kursus bahasa Mandarin. "Salah satu cara Cina membangun soft power di benua Afrika bukan sekadar lewat ekonomi, tetapi juga lewat sosial dan budaya, terutama lewat perluasan pembelajaran bahasa Mandarin,” jelas Simbarashe Gukurume, seorang ilmuwan sosial dan dosen di Universitas Sol Plaatje, Kimberly, Afrika Selatan.
Namun, keberhasilan Miradie Tchèkpo adalah pengecualian. Banyak mahasiswa Afrika yang belajar Mandarin tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang relevan. Menurut Gukurume, meski Cina menawarkan banyak beasiswa, pada akhirnya kesempatan kerja di Cina untuk lulusan asing sangat terbatas.
Hal ini karena masyarakat Cina memiliki keterampilan bahasa yang lebih baik dibandingkan orang Afrika. Selain itu, Cina dikenal selalu membawa pekerjanya sendiri untuk proyek infrastruktur besar seperti pelabuhan, jalan raya, atau bandara di Afrika.
Karir setelah lulus hanya berlaku segelintir orang,"Misalnya, hampir seluruh dosen dan staf Institut Konfusius di Universitas Zimbabwe adalah akademisi lokal yang mengajar Mandarin setelah mendapatkan dukungan finansial untuk studi mereka di Cina,” jelas Gurukume kepada DW.
"Cina mendapatkan banyak keuntungan dari perkembangan ini, karena sebagian besar kegiatan pertukaran budaya Institut Konfusius didasarkan pada perjanjian bilateral antar pemerintah. Terkadang, ini disertai dengan akses penuh Cina terhadap sumber daya alam Afrika,” tambahnya.
Kegiatan budaya dan dominasi Cina dalam pertambangan litium dan kobalt di Afrika menurut Gurukume seperti dua sisi mata uang.
Bahasa dan politik yang saling berkaitan
Banyak negara memiliki lembaga promosi bahasa dan budaya di luar negeri. Namun, berbeda dengan Goethe-Institut dari Jerman yang memiliki lokasi tersendiri, Institut Konfusius berada di dalam universitas lokal.
Di negara-negara Barat, kehadiran institut ini memicu kritik pengaruh partai komunis Cina di dalamnya. Institut bukan hanya mengajarkan bahasa dan budaya Cina, tetapi juga memperkenalkan sistem politiknya. Gukurume lebih lanjut menjelaskan, "Anak-anak muda yang mempelajari sistem politik ini akan mengadopsi prinsip-prinsip yang tidak demokratis.”
Ia menilai inilah yang menjadi alasan beberapa Institut Konfusius di Eropa dan Amerika Serikat ditutup,"Mereka dianggap membatasi kebebasan akademik universitas sekaligus mengindoktrinasi mahasiswa dengan sistem politik Cina yang cenderung otoriter.”
Sebaliknya, di Afrika, jumlah institut ini justru berkembang pesat. Afrika Selatan kini menjadi pusat utama dengan sepuluh Institut Konfusius. Selain itu, Cina juga semakin banyak berinvestasi di sektor budaya Afrika seperti teater, museum, industri film, musik, media, dan perpustakaan.
Dalam studi "Kehadiran Budaya Institusional Cina di Afrika" yang diterbitkan pada 2023, Avril Joffe, Kepala Departemen Kebijakan dan Manajemen Budaya di Wits School of Arts, Johannesburg, meneliti bagaimana masyarakat Afrika memandang kegiatan budaya Cina.
Menurut Joffe, untuk negara besar seperti Cina, promosi budaya di luar negeri adalah hal biasa. Namun, ada perdebatan apakah ini dapat menggusur konten lokal Afrika. Minat Cina di Afrika bukan hanya soal ekonomi atau keamanan, tetapi juga membangun soft power. Bahkan, jumlah mahasiswa Afrika di universitas Cina melonjak dari kurang dari 2.000 orang pada tahun 2003 menjadi lebih dari 81.500 orang pada tahun 2018.
Bagi Joffe, meningkatnya investasi Cina dalam infrastruktur budaya Afrika bukan sekadar simbolis. Namun, ia mengkritik kurangnya regulasi dan batasan nasional. "Untuk mengurangi dampak negatif dari kehadiran budaya ini, kita memerlukan rekomendasi yang jelas, terutama untuk masyarakat sipil, seniman, kreator, pembuat film, musisi, dan juga pemerintah,” ujarnya kepada DW, "Kami belum memiliki kepastian apakah ideologi antidemokratis Cina turut berpengaruh dalam investasi ini. Langkah korektif perlu diambil untuk memastikan hal itu tidak terjadi.”
Dapatkah Afrika kembali pegang kendali?
Joffe mengusulkan agar Uni Afrika (AU) dan lembaga regional lain dilibatkan dalam setiap negosiasi dengan Cina. Afrika harus memiliki kebijakan budaya yang menyatukan semua negara Afrika, memiliki posisi tawar yang lebih kuat dan memaksimalkan dampak positif dari investasi Cina.
Ia juga menekankan pentingnya menghargai kebutuhan para seniman dan pekerja budaya lokal. Jika isi proyek budaya lebih banyak dipengaruhi Cina, identitas seniman Afrika bisa terancam. Ia bahkan menyebut ada kartun satir yang menggambarkan Cina "mencuri Afrika,” sebagai tanda meningkatnya kesadaran publik terhadap diplomasi budaya Cina.
Joffe mendesak peningkatan pendanaan nasional dari negara-negara Afrika, "Untuk menjamin beasiswa dan program seni dan budaya, sehingga mengurangi monopoli pendanaan yang dilakukan Cina.” Selain itu, hal tersebut juga diperuntukkan untuk membuka lowongan kerja di ranah lokal atau pelatihan lanjutan untuk para kaum muda Afrika yang telah menempuh pendidikan di Cina.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Agus Setiawan