Mantan Kanselir Jerman Kunjungi Iran
23 Februari 2009
Selama menjabat sebagai kanselir Jeman, tahun 1998 hingga 2005, Gerhard Schroeder tidak pernah mengunjungi Iran. Justru sekarang, empat tahun sesudah tak lagi jadi pemimpin pemerintahan Jerman, bekas kanselir Gerhard Schroeder melawat ke Iran. Dalam kapasitas pribadi, memang, atas undangan seorang ilmuwan Iran yang bermukim di Jerman. Namun peristiwa pribadi ini jadi kontroversial, karena salah satu agenda lawatannya adalah pertemuan dengan Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, sosok yang dipermasalahkan dunia barat sejak berkuasa.
Pertemuan hari akhir pekan itu berlangsung tertutup di kantor kepresidenan. Sebuah pernyataan singkat usai peristiwa itu menyebut, kedua tokoh bertukar pendapat mengenai berbagai perosalan internasional dan regional. Disebutkan, Ahmadinejad menyerukan kerja sama internasional untuk memecahkan berbagai persoalan internasional.
Pertemuan memang tak bisa dikatakan berlangsung terlampau hangat. Bisa jadi terkait pernyataan Schroeder hanya beberapa jam sebelum pertemuan dengan Ahmadinejad. dalam pidato di Kamar Dagang dan Industri Iran, Schroeder mengecam presiden Iran itu mengenai sikapnya yang menyangkal holokos. Schroeder menegaskan, pembunuhan enam juta warga Yahudi oleh rezim Nazi Jerman itu merupakan kenyataan sejarah yang penuh bukti. Dan sama sekali tak masuk akal untuk disangkal.
Betapapun kerasnya kecaman dilontarkan Schroeder di Iran, tetap saja pertemuan bekas kanselir itu dengan Ahmadinejad mendapat kecaman keras dari berbagai kalangan di Jerman.
Eckart von Klaeden, tokoh Partai Uni Demokratik Kristen dan Ketua Komisi Kebijakan Luar Negeri partai Angela Merkel itu melontarkan kecamannya.
"Pertemuan Gerhard Schroeder dengan presiden Ahmadinejad ini sama sekali tidak bermanfaat. Dan sayangnya, juga tidak bisa dikatakan tidak berbahaya. Ahmadinejad sedang bersiap menghadapi Pemilu. Dia menyangkal Holokos. Dan ia telah menciptakan bencana ekonomi bagi rakyatnya sendiri. Justru pada saat seperti inilah kunjungan Gerhard Schroeder berlangsung," ujarnya.
Menurut von Klaeden, orang seperti Ahmadinejad memang sangat membutuhkan pengakuan internasional. Karenanya masyarakat internasional, justru harus secara tegas menunjukan penentangan atas sikap dasar Ahmadinejad, yang juga tidak mengakui hak eksistensi Israel. Kecaman juga datang dari Dewan Yahudi Jerman.
Gerhard Schroeder juga bertemu dengan Ketua Parlemen Ali Larijani, Menteri Luar Negeri Manoucher Mouttaki, dan bekas presiden Iran Mohamad Khatami.
Pertemuan dengan Khatami berlangsung dalam suasana lebih hangat. Khatami adalah seorang politikus reformis yang cukup disukai barat namun dikalahkan politikus garis keras Ahmadinejad dalam pemilihan presiden terdahulu. Khatami sudah mengumumkan niatnya maju lagi sebagai calon presiden, melawan Ahmadinejad. Selain itu, Khatami juga fasih berbahasa Jerman. Mohamad Khatami memang pernah tinggal di Hamburg, Jerman, menjalanai pengasingannya semasa kekuasaan Shah Iran Reza Pahlevi.
Dalam lawatan di Iran, bekas kanselir Jerman Gerhard Schroeder mendesak negeri Persia itu untuk menyambut kesedian pemerintahan baru Amerika di bawah Barack Obama untuk berunding langsung dengan Iran. Namun Ahmadinejad mensyaratkan permintaan maaf Amerika terlebih dahulu atas sikap Amerika terhadap Iran di masa lalu. Sementara Ketua Parlemen Iran kepada Schroeder menegaskan bahwa Iran akan terus menjalankan program-program nuklirnya, dan tak peduli pada tekanan internasional. (gg)