1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikThailand

Mantan PM Thailand Thaksin, Dibebaskan Lebih Awal

Kate Hairsine sumber: AFP, Reuters
11 Mei 2026

Mantan PM Thailand, Thaksin Shinawatra, yang mendapat pengampunan masa hukuman kini telah keluar dari penjara. Ia diwajibkan mengenakan alat pemantau elektronik selama empat bulan masa percobaan.

Bangkok, Thailand 2026 | Thaksin Shinawatra setelah dibebaskan bersyarat dari Penjara di Bangkok.
Mantan PM Thailand, Thaksin Shinawatra, disambut oleh anggota keluarganya saat ia dibebaskan lebih awal dari penjara.Foto: Lillian Suwanrumpha/AFP

Mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, dibebaskan bersyarat dari penjara pada hari Senin(11/5).

Pada September 2025, Mahkamah Agung memerintahkan miliarder telekomunikasi berusia 76 tahun itu untuk menjalani hukuman penajara selama satu tahun atas kasus korupsi yang menjeratnya.

Thaksin keluar dari Penjara Pusat Klong Prem di Bangkok sekitar pukul 07.40 waktu setempat.

Mantan PM Thailand tersebut lantas memeluk anggota keluarga yang menunggunya di luar penjara dan menyapa ratusan pendukung yang mengenakan kaus merah, mencirikan partai Pheu Thai.

Lembaga Pemasyarakatan Thailand mengumumkan pembebasan bersyarat pada Thaksin di bulan April lalu dengan alasan usia dan sisa masa hukuman yang kurang dari satu tahun. Thaksin diwajibkan mengenakan alat pemantau elektronik selama masa percobaan empat bulan.

Thaksin akan kembali ke kediaman keluarga Shinawatra di Thonburi, di selatan ibu kota Bangkok, menurut laporan Thai Examiner.

Para pendukung Thaksin berteriak menyatakan dukungannya dan turut hadir di luar penjara saat mantan PM tersebut dibebaskan.Foto: Anthony Wallace/AFP

Akankah Thaksin kembali ke panggung politik?

Selama dua dekade, Thaksin telah menjadi pesaing utama kelompok elit Thailand yang mendukung militer dan monarki.

Ia pertama kali terpilih sebagai PM Thailand pada tahun 2001 berkat janji-janji populis tentang kemakmuran bagi masyarakat miskin di pedesaan. Ia pun terpilih kembali secara mutlak pada tahun 2005, namun digulingkan dalam kudeta militer di tahun 2006.

Thaksin sempat melarikan diri ke luar negeri pada tahun 2008 setelah dinyatakan bersalah atas konflik kepentingan, penyalahgunaan wewenang, dan korupsi selama masa jabatannya.

Sekembalinya ke Thailand pada tahun 2023, Thanksin dijatuhi hukuman penjara selama delapan tahun.

Namun, beberapa jam di penjara ia mengeluh sakit di bagian dada dan segera dilarikan ke rumah sakit. Ia menghabiskan enam bulan di penjara sebelum dibebaskan bersyarat. Mengingat kondisi fisik dan usianya, Raja Thailand memberikan keringanan atas hukuman Thaksin dengna memberikan royal pardon atau remisi atas hukuman Thaksin menjadi satu tahun.

September 2025, Pengadilan Thailand menyatakan bahwa Thaksin dan dokter yang menangani kesehatannya telah memperpanjang masa rawat inap di rumah sakit tanpa alasan yang jelas dan menuntut Thaksin untuk memenuhi masa hukuman penjara selama satu tahun atas vonis yang dijatuhkan sebelumnya.

Sebelumnya pada Agustus 2025, putri Thaksin Shinawatra, Paetongtarn Shinawatra, lengser dari jabatan PM pada Agustus 2025 akibat skandal percakapan telepon dengan pemimpin Kamboja.

Hal ini berimbas pada kinerja terburuk yang dicatatkan Partai Pheu Thai dalam pemilu Februari 2026 lalu, namun partai tersebut tetap menjadi bagian dari koalisi pemerintahan. Keponakan Thaksin, Yodchanan Wongsawat, menjabat sebagai menteri pendidikan tinggi dalam kabinet saat ini.

Berbeda dengan Thaksin, pemerintah berkuasa saat ini, yang dipimpin PM Anutin Charnvirakul dan Partai Bhumjaithai yang konservatif, mendapat dukungan kuat dari militer Thailand dan para elit yang setia kepada kerajaan.

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid