Mantan Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol didakwa atas tuduhan penyalahgunaan kekuasaan. Sebelumnya, ia diadili atas tuduhan pemberontakan akibat upayanya memberlakukan darurat militer pada Desember.
Mantan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yoel kini menghadapi tuduhan pemberontakan dan penyalahgunaan kekuasaanFoto: Kim Hong-ji /REUTERS
Iklan
Mantan Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol, akan menerima dakwaan tambahan atas tuduhan penyalahgunaan kekuasaan, menurut kantor berita Korea Selatan, Yonhap.
Mahkamah Konstitusi Korea Selatan akhirnya mencabut semua kekuasaan dan hak istimewa Yoon pada awal bulan April dan mengukuhkan keputusan parlemen yang memakzulkannya pada Desember lalu.
Yoon belum ditahan
Kantor berita Yonhap yang mengutip kantor kejaksaan melaporkan bahwa Yoon belum ditahan atas dakwaan tambahan ini.
"Kami kini telah melanjutkan persidangan (atas pemberontakan) tersebut sambil melakukan penyelidikan tambahan atas tuduhan penyalahgunaan kekuasaan, yang mengarah pada dakwaan tambahan ini," kata jaksa dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis.
Dakwaan tambahan tersebut diumumkan sehari setelah penyidik menggeledah kediaman pribadi Yoon di ibu kota Korea Selatan, Seoul.
Penggeledahan tersebut merupakan bagian dari penyelidikan atas tuduhan penyuapan yang melibatkan istri Yoon, Kim Keon Hee, dan seorang dukun yang dituduh menerima hadiah bernilai fantastis atas nama mantan ibu negara tersebut.
Kebakaran Hutan di Korea Selatan: Menghanguskan Situs Bersejarah
Kebakaran hutan terbesar ketiga dalam sejarah Korea Selatan menelan puluhan korban jiwa. Warisan budaya yang berusia ratusan tahun di timur negara ini, hangus tak terselamatkan.
Foto: YONHAP NEWS AGENCY/Reuters
Kerusakan masif
Banyak rumah di Distrik Uiseong, bagian timur Korea Selatan hangus terbakar. Setidaknya 27 orang dilaporkan tewas. Lebih 9.000 petugas pemadam kebakaran dan 130 helikopter telah dikerahkan untuk mengatasi kobaran api. Menurut pihak berwenang setempat, sekitar 5.500 orang harus dievakuasi dan 43.000 hektar lahan hangus dilalap api.
Foto: YONHAP NEWS AGENCY via REUTERS
Kehilangan warisan budaya yang sangat menyakitkan
Bara api masih menyala di antara reruntuhan Kuil Gounsa di Uiseong. Kuil ini didirikan tahun 681 pada masa Kerajaan Silla. Api keakaran hutan dan lahan juga menghanguskan banyak bangunan lainnya.
Foto: YASUYOSHI CHIBA/AFP
Patung Budha dibungkus dengan hati-hati
Dua orang pria mengamankan patung Buddha di Kuil Bongjeong di Kota Andong. Ada kekhawatiran api kebakaran juga dapat mencapai kuil ini. Pelaksana Tugas Presiden Korea Selatan, Han Duck-soo, mengatakan kerusakan akibat peristiwa ini “belum pernah terjadi sebelumnya” dan menyerukan tanggap nasional yang komprehensif terhadap bencana tersebut.
Foto: YASUYOSHI CHIBA/AFP
Lahan yang hangus
Petugas pemadam kebakaran sejak minggu lalu terus berjuang memadamkan kebakaran di negara ini. Meskipun petugas damkar dikabarkan telah berhasil mengendalikan api, namun api kembali berkobar akibat kondisi cuaca kering disertai angin kencang. Para penyelidik menduga ada faktor kelalaian manusia sebagai penyebab terjadinya kebakaran.
Foto: YONHAP NEWS AGENCY/Reuters
Menyaksikan dengan putus asa
Seorang warga berdiri di depan lautan api di Andong. Kebakaran berkobar hebat di sini, juga di kota Ulsan dan distrik Uiseong serta Sancheong. Desa bersejarah Hahoe, yang dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2010, juga terancam terbakar.
Foto: YONHAP NEWS AGENCY/Reuters
Insiden tragis
Sebuah helikopter jatuh saat melakukan operasi pemadaman kebakaran di Uiseong. Menurut kantor berita Yonhap, pilotnya tewas. Dinas Kehutanan Korea menginformasikan pada Rabu 26 Maret 2025, tidak ada kru lain yang berada di dalam pesawat tersebut.
Foto: YASUYOSHI CHIBA/AFP
Tersisa puing dan debu
Kuil Unramsa, sebuah situs Buddha bersejarah di Korea Selatan, habis dilalap api. Bangunan dinasti Silla ini berusia lebih dari 1.000 tahun sebelum akhirnya hangus dalam kebakaran hutan terbesar ketiga dalam sejarah negara tersebut.
Foto: Minwoo Park/REUTERS
7 foto1 | 7
Pengadilan atas tuduhan pemberontakan Yoon
Yoon pertama kali didakwa pada bulan Januari atas tuduhan sebagai "dalang dari sebuah pemberontakan” saat ia masih menjabat sebagai presiden. Dakwaan yang berhubungan dengan pemberontakan tetap bisa diberlakukan kepadanya secara hukum meskipun ia memiliki kekebalan sebagai presiden.
Jika terbukti bersalah atas dakwaan pemberontakan tersebut, Yoon bisa dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Secara teori, Yoon bisa saja menghadapi hukuman mati, tetapi Korea Selatan belum pernah mengeksekusi siapa pun sejak tahun 1997. Korea Selatan terakhir kali menjatuhkan hukuman mati pada tahun 2018.
Dengan lengsernya Yoon dari jabatannya, Korea Selatan akan mengadakan pemilihan umum dadakan pada tanggal 3 Juni mendatang.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris