Kisahnya menggerakkan dunia. Martunis, bocah korban Tsunami yang tenar lantaran kaus timnas Portugal itu, kini diboyong oleh Sporting Lisbon untuk berlatih di akademinya.
Foto: picture-alliance/EPA/M. nagi
Iklan
Nasib tidak bisa ditebak. Sempat sekarat diterjang ombak Tsunami 2004, mengelak ajal selama tiga pekan, Martunis, bocah Aceh yang mendunia ketika ditemukan terkapar dengan mengenakan kaus tim nasional Portugal itu, kini siap mewujudkan mimpinya menjadi pesepakbola profesional.
Martunis diterima oleh akademi sepakbola Sporting Lisbon. 11 tahun setelah tragedi yang merenggut nyawa ibu dan kedua saudaranya. "Bocah yang selamat dari Tsunami akan bekerja dan tumbuh bersama SportingCP," tulis klub Portugal tersebut lewat akun Twitternya,
Martunis yang dijuluki "anak angkatnya Christiano Ronaldo" kini sedang menapaktilasi jejak idolanya itu. Sayap Real Madrid itu pun dulu pernah merumput di akademi Sporting. "Martunis akan belajar di Akademi. Kami akan bekerja bersamanya, juga dalam pertumbuhannya sebagai manusia dan laki-laki," ujar Presiden Sporting Lisbon, Bruno de Carvalho.
Sambutan Meriah Penggemar Sporting
Penggemar Sporting sontak merayakan bintang baru itu bak pinangan pada atlit bernama besar. Tepuk tangan meriah dan yel-yel memenuhi seisi gedung ketika remaja kurus berusia 17 tahun itu tampil di depan publik.
Mengenakan kaus sporting yang cuma terlihat pas karena ia memakai setelan jas di baliknya, Martunis berterimakasih pada punggawa klub. "Saya sangat gembira atas kesempatan ini," ujarnya. "Klub ini membuat mimpi saya menjadi kenyataan."
Padahal 11 tahun silam mimpi itu hampir lenyap ditelan Tsunami. Saat itu Martunis yang baru berusia 6 tahun baru selesai bermain sepakbola bersama teman sebayanya. Ketika ombak menghantam, ia berpegangan pada sofa hingga terbawa arus air. Selama 21 hari ia menghidupi diri dengan mi instan. Hingga ditemukan terkapar dengan kaus bernomer 10 milik Rui Costa.
Dongeng Terindah
Kisahnya menggerakkan seantero Portugal. Ronaldo yang mengunjunginya di Aceh tahun 2005, menyumbangkan rumah buat keluarga Martunis. "Saya kira ada banyak orang dewasa yang tidak akan mampu menghadapi cobaan seperti yang dialaminya," ujarnya.
"Kita harus menghormatinya. Kisahnya menunjukkan kekuatan dan kedewasaan," imbuh pemain El Real yang pernah dua kali terpilih sebagai pesepakbola terbaik sejagad itu. "Dia adalah bocah yang istimewa."
Sporting sempat mendulang kritik di Portugal karena dianggap memanfaatkan Martunis untuk kepentingan marketing. Ada tudingan manajemen klub ingin memoles diri dengan memboyong korban Tsunami. Tapi dalam kasus ini mungkin yang terpenting adalah ketika Sporting sukses merajut "dongeng terindah," dalam sepakbola dunia, tulis harian Jerman, Die Welt.
rzn/as (dpa,welt,guardian)
Tsunami Aceh Dulu dan Sekarang
Aceh adalah kawasan yang terparah diterjang tsunami 2004. Masyarakat internasional langsung menyalurkan bantuan. Bagaimana kemajuan pembangunan di sana? Bandingkan foto dulu dan sekarang.
Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti
Paling parah
Provinsi Aceh di utara Pulau Sumatra adalah kawasan terparah yang dilanda tsunami. Sedikitnya 130.000 orang tewas di kawasan ini saja. Gambar ini diambil 8 Januari 2005 di Banda Aceh, dua minggu setelah amukan tsunami.
Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti
Rekonstruksi
Sepuluh tahun kemudian, Banda Aceh bangkit kembali. Jalan-jalan, jembatan, pelabuhan sudah dibangun lagi. Bank Dunia menyebut Aceh sebagai "upaya pembangunan kembali yang paling berhasil". Gambar ibukota provinsi Aceh ini dbuat Desember 2014.
Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti
Pengungsi
Setelah diguncang gempa berkekuatan 9,1 skala Richter dan diterjang gelombang raksasa yang tingginya lebih sepuluh meter, banyak penduduk Aceh jadi pengungsi. Di seluruh Asia Tenggara, 1,5 juta orang kehilangan tempat tinggal. Gambar ini menunjukkan penduduk yang melihat puing-puing rumahnya beberapa hari setelah bencana tsunami.
Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti
Dibangun kembali
Bencana tsunami Natal 2004 mengundang perhatian besar warga dunia yang ramai-ramai memberikan bantuan. Banyak bangunan yang akhirnya diperbaiki, banyak kawasan yang berhasil dibangun kembali. Gambar ini dibuat Desember 2014 di Lampulo, Banda Aceh. "Kapal di atas rumah" jadi peringatan tentang peristiwa mengerikan itu.
Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti
Kehancuran di sekitar Masjid
Gelombang raksasa yang melanda Aceh menewaskan lebih dari 100 ribu orang dan mengakibatkan kerusakan parah. Gambar ini dibuat Januari 2005 dan menunjukkan kawasan Lampuuk di Banda Aceh yang hancur, kecuali Masjid yang bertahan dari terjangan air.
Foto: AFP/Getty Images/Joel Sagget
Sepuluh tahun kemudian
Masjid di Lampuuk dipugar dan kawasan sekitarnya dibenahi. Rumah-rumah penduduk dibangun kembali di sekitar Masjid. Gambar ini diambil sepuluh tahun setelah kehancuran akibat tsunami.
Foto: AFP/Getty Images/Chaideer Mahyuddin
Gempa bumi hebat
Sebelum tsunami muncul, gempa hebat mengguncang kawasan utara Sumatra, 26 Desember 2004. Gempa itu memicu munculnya gelombang raksasa yang mencapai sedikitnya 11 negara, termasuk Australia dan Tanzania. Gambar ini menunjukkan kerusakan di Banda Aceh.
Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti
Dibangun lebih baik setelah perdamaian
Bantuan internasional yang berdatangan ke Aceh membuka peluang bagi masyarakat membangun kembali kawasannya dengan lebih baik. Tahun 2005, perundingan antara pemerintah Indonesia dan kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menghasilkan kesepakatan damai, setelah ada mediasi dari Eropa.
Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti
Pemandangan mengerikan
Jurnalis AS Kira Kay menuliskan pengalamannya ketika tiba di Banda Aceh setelah tsunami: "Mayat-mayat bergelimpangan, terkubur di bawah reruntuhan. Lalu mayat-mayat itu diangkut dengan truk ke lokasi penguburan massal. Bau mayat menyengat". Gambar ini menunjukkan suasana Masjid Raya di Banda Aceh setelah tsunami.
Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti
Masjid Raya
Suasana Masjid Raya sekarang. Aceh kini menikmati status sebagai daerah otonomi khusus, dengan wewenang luas melakukan pemerintahan sendiri. Berdasarkan kewenangan itu, Aceh kini menyebut dirinya Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan memberlakukan Syariat Islam.