1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Otomotif dan MobilitasJerman

Pekan Penentuan bagi VW dan Masa Depan Otomotif Jerman

26 Agustus 2026

Manajemen Volkswagen harus menghadapi amarah pegawai lantaran rencana pemulihan yang melibatkan PHK massal terhadap sekitar 100.000 tenaga kerja. Pekan ini, nasib VW akan ditentukan dalam sebuah perundingan final.

Protes antirestrukturisasi VW di Zwickau
Protes antipemecatan di pabrik VW di ZwickauFoto: Jens Schlüter/AFP

Pekan ini, manajemen Volkswagen (VW) menggelar pertemuan luar biasa dengan para pekerja di tengah program pemangkasan besar-besaran, dengan level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Program tersebut mencakup kemungkinan pengurangan hingga 100.000 pekerja dan penutupan beberapa pabrik mobil di Jerman.

Secara umum, industri otomotif Jerman menghadapi krisis struktural akibat kuatnya persaingan dari Cina, keterlambatan transisi menuju kendaraan listrik (EV), biaya produksi yang lebih tinggi, serta berbagai tantangan lainnya.

Sebagai produsen mobil terbesar di Eropa berdasarkan volume produksi, VW paling terpapar persoalan kelebihan kapasitas di pabrik-pabriknya di Jerman, tingginya biaya produksi, serta ketergantungannya pada pasar Cina.

Para pekerja terutama mempersoalkan lemahnya sosialisasi dari manajemen, yang oleh perwakilan mereka disebut "bencana."

Sembilan pertemuan terpisah akan digelar. Pertemuan dimulai pada Selasa di kantor pusat VW di Wolfsburg, disusul pembicaraan di sejumlah lokasi lain, termasuk Emden, Zwickau, Braunschweig, dan Hanover, sebelum akhir pekan.

Para pekerja sebelumnya telah menyetujui pemangkasan sekitar 50.000 pekerjaan, terutama melalui skema pemutusan hubungan kerja secara sukarela. Namun, manajemen kini menilai 50.000 pekerjaan tambahan harus dihapus.

Industri Mobil Jerman Krisis, Apa yang Perlu Dilakukan?

01:33

This browser does not support the video element.

Mengapa VW perlu pemangkasan drastis?

CEO Oliver Blume menegaskan bahwa VW berada dalam "kondisi yang lebih dari sekadar kritis" dan langkah-langkah yang telah diambil sejauh ini belum cukup untuk memulihkan daya saing perusahaan.

"Kami terlalu besar. Itu sering membuat kami terlalu lambat dan terlalu rumit," katanya kepada para pekerja dalam wawancara yang dimuat di intranet perusahaan pekan lalu.

Dengan hampir 630.000 pekerja, VW tumbuh lebih gemuk dibandingkan para pesaingnya selama beberapa dekade setelah memilih mengendalikan lebih banyak tahapan produksi—termasuk komponen dan perangkat lunak—sembari mengakuisisi pesaing seperti Skoda, Porsche, SEAT, dan Bugatti.

Produsen mobil itu juga terlambat beralih ke kendaraan listrik ketika para pesaing dari Cina mulai mengambil pangsa pasar. Akibatnya, penjualan VW anjlok di pasar yang sebelumnya menjadi pasar nomor satunya, yakni Cina.

Blume memperingatkan bahwa saat ini VW memproduksi sekitar setengah juta kendaraan lebih banyak daripada yang dapat diserap pasar Eropa setiap tahun.

Meski menutup pabrik di Jerman merupakan pilihan terakhir, Blume mengatakan manajemen "saat ini tidak melihat cara agar pabrik-pabrik tersebut tetap menghasilkan keuntungan pada dekade 2030-an."

Produsen mobil lain juga mengkritik tingginya biaya operasional di Jerman. CEO Mercedes-Benz Ola Källenius, misalnya, bulan lalu menyebut adanya kesenjangan biaya sebesar 70 persen antara operasi perusahaan di Hungaria dan Jerman. 

Truk Elektrik Tanpa Pengemudi Diuji di Swedia

03:49

This browser does not support the video element.

Bagaimana reaksi para pekerja?

Blume diperkirakan akan menghadapi reaksi keras dari karyawan VW. Mereka termasuk pekerja otomotif dengan bayaran tertinggi di dunia berkat kekuatan dan pengaruh serikat pekerja serta dewan pekerja.

Setelah sebelumnya menerima rencana restrukturisasi VW, Christiane Benner, pemimpin serikat IG Metall, mengatakan para pekerja "kembali mendapat tamparan di wajah."

Dalam pertemuan dengan para pekerja di Wolfsburg pada Selasa, Ketua Dewan Pekerja VW Daniela Cavallo mengatakan "kepercayaan" terhadap Blume dan jajaran direksi "telah rusak", tetapi "belum sampai pada titik yang tidak dapat diperbaiki."

Bulan lalu, dewan pengawas VW—yang mencakup perwakilan pemegang saham dan pekerja—menolak putaran kedua proposal pemangkasan biaya.

Persoalan ini semakin rumit karena sebagian saham VW dimiliki negara bagian Niedersachsen, yang menguasai 20 persen hak suara. Menurut laporan media Jerman, negara bagian tersebut menolak menyetujui rencana itu.

"Niedersachsen adalah negeri otomotif... dan harus tetap demikian," kata Olaf Lies, perdana menteri negara bagian itu, pada Senin. "Sekarang yang penting bagi saya adalah kita menemukan solusi bersama." 

Jerman Ingin Pertahankan Kepemimpinan di Dunia Otomotif

03:45

This browser does not support the video element.

Bagaimana strategi VW?

Blume mengatakan kepada surat kabar Bild am Sonntag akhir pekan lalu bahwa ia telah menyusun "rencana transformasi terbesar dalam sejarah Volkswagen Group."

Rencana Target Vision 2030 bertujuan memangkas separuh jajaran model VW dan menurunkan biaya operasional, terutama di Jerman. Produsen mobil itu juga akan mengurangi target produksi globalnya, yang mencapai puncak sekitar 11 juta kendaraan pada 2018, menjadi 9 juta kendaraan per tahun di masa depan.

Menghadapi persaingan yang semakin ketat dari Cina, ditambah tarif Amerika Serikat, geopolitik, dan birokrasi, Blume memperingatkan bahwa manajemen VW harus "mengasumsikan bahwa risiko akan memburuk di seluruh dunia."

Sebagian besar produsen mobil global kesulitan merespons membanjirnya kendaraan listrik Cina di pasar dunia, pasar yang kian sulit diprediksi, serta tekanan yang terus meningkat dari aturan net-zero Uni Eropa, termasuk denda bagi perusahaan yang gagal mencapai target emisi.

Blume mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa beberapa tahun mendatang akan menjadi "masa yang menentukan" bagi keberlangsungan para produsen mobil.

Dia mengatakan, meski VW berhasil mencatat margin operasi yang solid sebesar 3,8 persen, keuntungan tersebut belum cukup untuk membiayai investasi dalam teknologi dan produk baru sekaligus mempertahankan fasilitas-fasilitas perusahaan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Ayu Purwaningsih

Nik Martin Penulis berita aktual dan berita bisnis, kerap menjadi reporter radio saat bepergian keliling Eropa.
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait