Masjid Biru Bersejarah di Afganistan Rusak Akibat Gempa Bumi
4 November 2025
Masjid Biru yang bersejarah di Mazar-i-Sharif rusak akibat gempa bumi di Afganistan utara, kata pejabat setempat pada Senin (03/11).
Dalam video dari media Afganistan TOLOnews, terlihat puing-puing di sekitar bangunan, meskipun struktur utama bangunan masih berdiri. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,3 terjadi menjelang fajar pada Senin (03/11). Kementerian Kebudayaan pemerintah Taliban berjanji akan segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menilai dan memperbaiki kerusakan.
Masjid dan makam berubin biru di Mazar-i-Sharif, kota dengan populasi 523.000 orang itu berasal dari abad ke-15, di mana situs ini dihormati oleh umat Muslim.
Semula, sebuah makam dibangun di lokasi tersebut pada abad ke-12 karena dipercaya sebagai tempat peristirahatan Ali ibn Abi Talib, menantu Nabi Muhammad. Makam asli tersebut dihancurkan oleh invasi Mongol pada abad ke-13.
Gempa bumi kedua dalam kurang dari 6 bulan
Gempa bumi melanda bagian utara negara tersebut pada Senin (03/11) pukul 01.00 waktu setempat (03.30 WIB), sekitar 22 kilometer dari distrik Kholm, dekat Mazar-i-Sharif di Provinsi Balkh, menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).
Otoritas setempat menyebut kalau sedikitnya 20 orang tewas dan lebih dari 640 orang luka-luka, 25 orang di antaranya dalam kondisi kritis. Jumlah ini diperkirakan masih akan bertambah seiring upaya penyelamatan yang masih berlangsung. Kementerian Pertahanan menyampaikan bahwa tim penyelamatan darurat telah tiba di Provinsi Balkh dan Samangan, wilayah yang mengalami kerusakan paling parah.
Sementara itu, Yousaf Hammad, juru bicara Badan Penanggulangan Bencana Nasional Afganistan, mengatakan sebagian besar korban mengalami luka ringan dan telah dipulangkan setelah mendapat perawatan.
Ihsanullah Kamgar, juru bicara markas kepolisian provinsi Badakhshan yang tak jauh dari lokasi gempa, mengatakan gempa tersebut juga berdampak pada wilayah itu.
Kamgar mengatakan sekitar 800 rumah di satu desa di distrik Shahr-i-Bozorg rusak sebagian atau seluruhnya.
Dia menambahkan bahwa ketidakhadiran internet di daerah terpencil tersebut mengakibatkan angka korban yang akurat masih belum dapat dilaporkan.
Organisasi kemanusiaan Save the Children mengatakan mereka mengirimkan tim ke Provinsi Samangan.
"Seiring turunnya suhu, ribuan anak di bagian timur negara yang dilanda gempa bumi menghadapi musim dingin hanya dengan tenda sebagai perlindungan dari hujan dan salju,” kata Samira Sayed Rahman, Direktur Pengembangan Program dan Advokasi Save the Children di Afganistan.
Gempa bumi di Afganistan utara terjadi hanya tiga bulan setelah negara pegunungan tersebut dilanda gempa bumi besar pada Agustus, yang melanda bagian timur negara tersebut, menewaskan lebih dari 2.200 orang dan merusak ratusan rumah.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Algadri Muhammad
Editor: Melisa Lolindu