Gadis-Gadis Afrika Kerja Paksa di Pabrik Perang Rusia
Maria Katamadze
17 Juni 2025
Mereka bermimpi bisa meraih karier yang lebih baik, namun nyatanya berujung di pabrik-pabrik perang Rusia. Sebuah studi teranyar mengungkap bagaimana perempuan muda, terutama dari Afrika, menjadi korban eksploitasi.
Foto: picture alliance / abaca
Iklan
"Aku suka Rusia, bahasanya dan budayanya,” ujar Aminata, yang baru berusia 20 tahun, kepada DW. Ia ingin meninggalkan tanah kelahirannya, Sierra Leone, dalam beberapa pekan ke depan, untuk menempuh program magang di Rusia, 7000 kilometer dari tanah airnya.
Biaya perjalanannya akan ditanggung oleh program Alabuga Start, yang dinamai sesuai kawasan industri di barat daya Rusia, tempat para peserta program disediakan asrama.
Alabuga Start menawarkan prospek karier dengan penghasilan baik bagi para pelamar perempuan dari negara-negara kurang mampu.
Iklan
Mimpi yang berantakan
Bagi kebanyakan dari mereka, mimpi itu hancur tak lama setelah tiba di Kawasan Ekonomi Khusus Alabuga sebuah kawasan industri besar di wilayah Tatarstan, Rusia.
Menurut laporan yang diterbitkan pada bulan Mei oleh Global Initiative against Transnational Organized Crime, banyak pendatang baru "dirantai" untuk merakit drone murah di bawah kondisi yang buruk.
DW menghubungi beberapa peserta program—kebanyakan dari mereka enggan berbicara terbuka demi alsan keamanan.
Chinara, seorang perempuan muda asal Nigeriayang ikut program Alabuga dan meninggalkan Rusia dengan penuh kekecewaan, bersedia diwawancarai melalui layanan pesan media sosial.
"Mereka mengubah kami menjadi pekerja berat dengan upah rendah,” tulisnya dalam obrolan dengan DW.
"Awalnya kami merasa baik karena saat melamar, kami ditawari bidang seperti logistik, pelayanan dan katering, operator derek,” kata Chinara, namanya disamarkan demi menjaga identitasnya.
Ia menjelaskan bahwa pada awalnya ini tampak seperti kesempatan langka bagi perempuan Afrika untuk menjejakkan kaki dalam profesi tersebut. "Namun saat kami tiba di sana, semuanya berubah dan mereka memberikan alasan-alasan.”
Sebagian ditugaskan di pabrik perakitan drone, sebagian mengawasi produksi drone, dan sisanya bekerja sebagai petugas kebersihan.
Perempuan muda ini terpapar bahan kimia yang "sangat berbahaya dan mengancam nyawa,” klaim Chinara, seraya menambahkan, "bahkan orang Rusia sendiri tak bertahan lama bekerja di sana karena tempat itu sangat berbahaya.”
Zona Ekonomi Khusus Alabuga adalah kawasan industri besar di wilayah barat daya Rusia, TatarstanFoto: Planet Labs PBC/AP Photo/picture alliance
Pusat ekonomi perang
Zona ekonomi khusus Alabuga adalah pusat produksi utama drone Geran-2, yang didasarkan pada Shahed 136 buatan Iran dan memainkan peranan kunci dalam serangan ke Ukraina.
Zona ini didirikan pada 2006 untuk menarik perusahaan dan investasi ke Tatarstan. Setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, fasilitas ini berkembang pesat dan sebagian diubah menjadi produksi militer dengan menambah atau merenovasi bangunan, seperti yang terlihat dari citra satelit.
Kelangkaan tenaga kerja sering dilaporkan dari Rusia yang dilanda perang. Di saat yang sama, pekerja migran dari belahan bumi selatan tampaknya menjadi fokus perekrut. Menurut data dari Sistem Informasi dan Statistik Antar Departemen Tunggal (SIISS), basis data resmi pemerintah Rusia, lebih dari 111.000 pekerja Afrika tiba di Rusia pada 2024—kenaikan 50% dibandingkan tahun pertama perang pada 2022.
Pertumbuhan paling pesat dicatat dari warga Kamerun, diikuti banyak lainnya dari Nigeria, Burkina Faso, Togo, Republik Afrika Tengah, dan Gambia.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Hampir semua negara ini muncul dalam studi Global Initiative terkait program Alabuga Start. Awalnya, menurut studi tersebut, yang direkrut terutama adalah perempuan Afrika berusia antara 18 hingga 22 tahun.
Program ini sejak itu diperluas ke negara-negara berkembang lain di Asia dan Amerika Latin, serta beberapa bekas republik Soviet.
Para penulis studi menganalisis data dan melakukan sekitar 60 wawancara antara Desember 2024 hingga Maret 2025.
Rekan penulis Julia Stanyard berkata kepada DW bahwa perempuan 16 tahun juga dipekerjakan untuk produksi drone oleh fasilitas pelatihan Politeknik Alabuga yang berada di lokasi produksi.
"Kondisi kerja sangat eksploitatif, perempuan muda bercerita bekerja berjam-jam di bawah pengawasan manajemen Alabuga. Mereka bekerja dengan bahan kimia yang membahayakan kesehatan,” kata Stanyard.
Banyak perempuan muda Afrika bekerja di pabrik drone yang diduga beroperasi dalam kondisi yang eksploitatifFoto: Maxar Technologies/AP Photo/picture alliance
‘Putri kami bercerita tentang kerja paksa'
"Program ini tampaknya menyerupai bentuk eksploitasi tipu daya,” ujar Stanyard kepada DW. "Mereka tidak diberi tahu apa yang akan mereka produksi saat direkrut. Banyak gadis muda terjebak di Alabuga dan meninggalkan negara itu tampak mustahil.”
Di Zimbabwe, para orang tua khawatir dengan anak-anak mereka yang mendaftar secara online dan berangkat ke Rusia dengan tiket pesawat yang dibayar oleh Alabuga.
Seorang ibu dari seorang gadis di pedesaan utara Zimbabwe mengeluhkan penderitaan anaknya. "Dia ingin melanjutkan pendidikan teknis. Sekarang dia menceritakan tentang kerja paksa, hampir tidak diizinkan menggunakan ponsel dan dia diawasi ketat.
Dia belum menerima upah $1.500 yang dijanjikan,” katanya kepada DW. "Sekarang aku bahkan tak bisa membawanya pulang kembali.”
Seorang ayah dari gadis lain yang meninggalkan Zimbabwe ke Alabuga mengatakan kepada DW bahwa itu adalah mimpi buruk ketika program pelatihan yang seharusnya dapat dipercaya berubah menjadi "jebakan maut.”
Dan seorang ibu di ibu kota Zimbabwe, Harare, bercerita kepada DW tentang putrinya yang berusia 20 tahun di Alabuga, yang seharusnya menjalani pelatihan teknis.
"Tapi dia melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda. Kami hampir tidak bisa berbicara dengannya, paspornya disita agar dia tak bisa melarikan diri,” kata perempuan itu kepada DW.
Inilah Negara Sarang Perbudakan
Jutaan manusia ada dalam perbudakan modern dunia. Sebagian negara bahkan ikut memetik keuntungan dari praktik keji tersebut. Indonesia masuk dalam daftar sepuluh besar Indeks Perbudakan Global edisi 2018.
Foto: picture-alliance/e70/ZUMA Press
1. India
Sekitar 270 juta penduduk India masih hidup di bawah garis kemiskinan. Menurut Indeks Perbudakan Global, negeri raksasa di Asia Selatan itu saat ini masih mencatat jumlah pekerja paksa sebanyak 18.354.700 orang. Sebagian besar bekerja di sektor informal. Sementara sisanya berprofesi prostitusi atau pengemis.
Foto: picture alliance/Photoshot
2. Cina
Maraknya migrasi internal kaum buruh menjadikan Cina lahan empuk buat perdagangan manusia. Pemerintah di Beijing sendiri mengakui hingga 1,5 juta bocah dipaksa mengemis, kebanyakan diculik. Saat ini lebih dari 70 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Menurut Indeks Perbudakan Global, Cina masih memiliki sekitar 3.864.000 budak.
Foto: Reuters
3. Pakistan
Sebanyak 3.186.000 penduduk Pakistan bekerja sebagai budak di pabrik-pabrik dan lokalisasi. Angka perbudakan tertinggi tercatat di dua provinsi, Sindh dan Punjab. Sejumlah kasus bahkan mengindikasikan orangtua di sejumlah wilayah di Pakistan terbiasa menjual putrinya untuk dijadikan pembantu rumah tangga, pelacur, nikah paksa atau sebagai bayaran untuk menyelesaikan perseteruan dengan suku lain.
Foto: Roberto Schmidt/AFP/GettyImages
4. Korea Utara
Berbeda dengan negara lain, sebanyak 2.640.000 budak di Korea Utara bukan bekerja di sektor swasta, melainkan untuk pemerintah. Eksploitasi buruh oleh pemerintah Pyongyang sudah lama menjadi masalah. Saat ini sebanyak 50.000 buruh Korut dikirim ke luar negeri oleh pemerintah untuk bekerja dengan upah minim. Program tersebut mendatangkan lebih dari 2 miliar Dollar AS ke kas negara.
Foto: picture alliance/AP Photo/D. Guttenfelder
5. Nigeria
Tidak sedikit perempuan Nigeria yang dijual ke Eropa untuk bekerja sebagai prostitusi. Namun sebagian besar buruh paksa mendarat di sektor informal di dalam negeri. Tercatat sebanyak 1.386.000 penduduk Nigeria bekerja di bawah paksaan.
Foto: UNICEF/NYHQ2010-1152/Asselin
6. Iran
Sebanyak 1.289.000 populasi di Iran terjebak perbudakan. Perdagangan perempuan dan gadis muda dari Iran untuk perbudakan modern, khususnya ke negara-negara Arab di Teluk Persia, adalah praktik umum di sana. Misogini dan korupsi yang merajalela menjadi faktor utama pendorong kenaikan angka perbudakan di Iran.
Foto: picture-alliance/dpa/A. Taherkenareh
7. Indonesia
Menurut catatan Walk Free Foundation, kebanyakan buruh paksa di Indonesia bekerja di sektor perikanan dan konstruksi. Paksaan juga dialami tenaga kerja Indonesia di luar negeri seperti di Arab Saudi atau Malaysia. Secara umum Indonesia berada di urutan kesepuluh dalam daftar negara sarang perbudakan dengan jumlah 1.220.000 buruh paksa.
Foto: Getty Images
8. Republik Demokratik Kongo
Serupa dengan negara-negara Afrika Sub Sahara lain, Republik Demokratik Kongo mencatat angka tertinggi dalam kasus perbudakan anak. Sebagian besar bekerja di sektor informal, prostitusi atau bahkan dijadikan tentara. Jumlah budak di RD Kongo mencapai 1.045.000 orang.
Foto: AFP/Getty Images
9. Rusia
Pasar tenaga kerja Rusia yang mengalami booming sejak beberapa tahun silam banyak menyerap tenaga kerja dari berbagai negara bekas Uni Sovyet seperti Ukraina, Uzbekistan, Azerbaijan atau bahkan Korea Utara. Saat ini sebanyak 794.000 buruh paksa bekerja di Rusia. Celakanya langkah pemerintah yang kerap mendiskriminasi buruh dari etnis minoritas justru membantu industri perbudakan.
Foto: picture-alliance/dpa
10. Filipina
Berdasarkan Indeks Perbudakan Global, dikatakan bahwa Filipina memiliki prevalensi perbudakan modern tertinggi ke-12 dengan 784.000 populasinya berkerja dalam perbudakan. Pada tahun 2018, Departemen Kehakiman Filipina menerima sebanyak 600.000 gambar dan video anak-anak Filipina yang menjadi korban perbudakan seks hingga dilecehkan. (rn/kp/hp)
Foto: Human Rights Watch/Mark Z. Saludes 2015
10 foto1 | 10
Interpol menyelidiki di Botswana
Di negara tetangga Botswana, program pelatihan kini menarik perhatian penyidik: Interpol turun tangan menyelidiki apakah Alabuga Start terlibat dalam perdagangan manusia.
"Topeng palsu Alabuga mulai sedikit retak,” kata Stanyard, mencatat beberapa negara—seperti Kenya, Uganda, dan Tanzania—semakin menyadari risiko program ini dan telah meluncurkan penyelidikan.
Program Alabuga Start tidak menanggapi permintaan dari DW untuk memberi tanggapan.
Garikai Mafirakureva di Zimbabwe dan Aleksei Strelnikov turut berkontribusi dalam peliputan artikel ini.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman.
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Hendra Pasuhuk
5 Negara Paling Berbahaya bagi Perempuan
Ancaman kesehatan, kekerasan seksual dan perbudakan harus dihadapi perempuan di banyak negara. Ini lima negara yang paling berbahaya menurut Thompson Reuters Foundation dan Foundation for Sustainable Development.
Afghanistan
Sejak kecil hidup adalah perjuangan bagi anak perempuan Afghanistan. 87% dibiarkan buta huruf, dan 70-80% dipaksa menikah. Punya keluarga juga jadi tantangan besar. Jumlah kematian perempuan ketika hamil dan 42 hari setelah keguguran mencapai 400 dari 100.000 (untuk bandingan: di Inggris hanya 8). Di samping itu tingkat KDRT sangat tinggi. Foto: perempuan sedang menunggu layanan medis di Kabul.
Foto: picture alliance/Ton Koene
Republik Demokratik Kongo
Kongo adalah salah satu negara dengan tingkat kekerasan bermotif seksual paling tinggi di dunia. American Journal of Public Health memperkirakan, 1.150 perempuan diperkosa tiap hari di negara ini, yang berarti 420.000 per tahun. Kondisi kesehatan perempuan juga sangat buruk, 57% perempuan hamil dinyatakan menderita anemia, atau kekurangan sel darah merah.
Foto: Phil Moore/AFP/Getty Images
Pakistan
Banyak praktek budaya dan agama di Pakistan jadi ancaman bagi perempuan, terutama nikah paksa, serangan air keras, hukum rajam. Menurut Komisi HAM Pakistan, per tahun lebih dari 1.000 anak dan perempuan jadi korban pembunuhan demi kehormatan. 90% alami kekerasan domestik. Foto: protes 29 Mei 2014 atas pembunuhan wanita hamil Farzana Parveen oleh keluarganya, karena kawin dengan pria pilihannya.
Foto: AAMIR QURESHI/AFP/Getty Images
India
Walaupun jadi negara demokrasi terbesar di dunia, contoh mengejutkan seperti pemerkosaan massal serta pembunuhan korban perkosaan menunjukkan, India bisa jadi tempat sangat berbahaya bagi perempuan. Peneliti memperkirakan, sekitar 50 juta kasus pembunuhan anak atau janin terjadi dalam tiga dekade terakhir. Jumlah anak yang dipaksa menikah dan penjualan manusia juga jadi ancaman besar.
Foto: Chandan Khanna/AFP/Getty Images
Somalia
Tingkat kematian perempuan saat mengandung, perkosaan, mutilasi genital dan kawin paksa sudah jadi masalah sehari-hari perempuan Somalia. Negara ini dianggap tidak punya hukum dan ketertiban. 95% perempuan Somalia menghadapi mutilasi genital pada usia sekitar 4-11 tahun. Dalam usia melahirkan, hanya sekitar 9% perempuan dapat melahirkan dengan fasilitas medis memadai.