Sebentar lagi Idulfitri. Saat orang-orang ramai mudik meninggalkan ibu kota, warga Betawi seperti Adnan Garibaldi justru mudik ke Jakarta. Bagaimana rasanya mudik ke kota?
Biasanya, mudik identik dengan meninggalkan hiruk-pikuk kota menuju kampung halaman yang tenang. Namun ternyata, ada juga yang melakukan mudik justru menuju kota yang terkenal dengan kepadatan dan polusinya, Jakarta.
Seperti yang dilakukan Adnan Garibaldi. Pria yang berprofesi sebagai mural artis ini selama beberapa tahun terakhir mudik dari Depok, Jawa Barat menuju Jakarta.
Setiap menjelang libur Idulfitri, Adnan hampir tak pernah absen mudik ke Jakarta sejak tahun 2019 setelah kedua orang tuanya meninggal. Ia pun melakukan berbagai persiapan, seperti memastikan kendaraannya dalam kondisi prima.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Menurut Adnan, waktu tempuh yang biasa dilalui dari Depok menuju Jakarta biasanya sekitar satu jam perjalanan. Namun, karena kondisi jalan yang lengang, ia hanya butuh waktu sekitar 30 menit sambil menikmati suasana jalan yang sepi.
"Biasanya ini jalur macet. Tapi berhubung suasananya mau lebaran, jadi jalanannya agak lengang. Jadi saya bisa menikmati perjalanan dari rumah saya ke rumah keluarga,” katanya kepada DW.
Orang Betawi tinggal di pinggiran
Karena perpindahan penduduk hingga perkembangan kota, warga asli Jakarta atau "orang Betawi” saat ini banyak yang tinggal di sekitar Jakarta seperti Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Hal itu lah yang menjadi tantangan bagi Adnan dan keluarga besarnya saat berkumpul di momen Lebaran.
Hidangan khas Idulfitri di sejumlah wilayah di Indonesia mulai dari opor ayam, rendang, dan sambal goreng kentangFoto: Arti Ekawati/DW
"Ya jadi perlu perjuangan datangnya setiap Lebaran. Karena beberapa keluarga saya yang lain juga sudah tersebar di pinggiran Jakarta. Seperti ada yang tinggal di Bogor, Bekasi, dan Depok. Jadi kalau kumpul selalu di sini, di rumah kakak ibu saya,” katanya kepada DW.
Iklan
Melestarikan budaya Betawi di kota sendiri
Bagi Adnan, berkumpulnya keluarga besar saat momen Idulfitri tidak sekadar untuk menjalin tali silaturahmi. Namun menurutnya, momen tersebut juga untuk melestarikan budaya Betawi di kotanya sendiri.
"Biasanya tempat tinggalnya orang Betawi itu, ini ada rumah kakaknya ibu, rumah adiknya, ini rumah omnya, jadi semuanya dekat. Jadi kalau sudah kumpul saat Lebaran di hari H, pasti ramai banget. Encang, encing, om, tantenya pasti ramai,” katanya kepada DW.
Pelestari Makanan Khas Betawi Tempo Dulu
Kuliner Khas Betawi kini semakin jarang dijumpai, tapi bisa ditemui di warung Betawi Bang Be’eng dan warung Laksa Betawi Asirot. Berikut menu-menu menggiurkan yang kaya sejarah dan tradisi ini.
Foto: A.K. Ulung/DW
Berbagai menu makanan Betawi tempo dulu tersedia
Warung Betawi Bang Be’eng menyediakan lebih dari 20 menu masakan Betawi, termasuk makanan Betawi tempo dulu seperti sayur besan, pecak mujair, dan tumis jantung pisang. Menurut para sejarawan, makanan ini sudah ada di Batavia (Jakarta) jauh sebelum Indonesia merdeka. Makanan Betawi tempo dulu ini dipengaruhi oleh tradisi kuliner orang-orang Tionghoa yang berimigrasi ke Batavia untuk berdagang.
Foto: A.K. Ulung/DW
Pemegang tongkat estafet bisnis kuliner Betawi
Suhaer Be’eng mendirikan Warung Betawi Bang Be’eng pada 2006. Kini, putrinya, Yusri Khoiriyah, belajar mengelolanya. Yusri berharap bisa melanjutkan bisnis keluarga ini untuk melestarikan makanan Betawi tempo dulu. Setiap hari, keduanya berbagi tugas. Pada pukul 02.00 pagi, Suhaer berbelanja ke pasar. Bahan-bahan yang dibeli Suhaer kemudian mulai dimasak oleh Yusri pada waktu subuh.
Foto: A.K. Ulung/DW
Pecak mujair ini cepat ludes terjual
Tidak banyak tempat makan yang menyediakan pecak mujair. Ikan mujair digoreng garing, disiram saus aromatik dari berbagai bahan, seperti bawang merah, kunyit, dan serai. Kuahnya mirip bumbu rujak dan rasanya tidak hanya segar, tapi juga ramai; pedas, asam, dan gurih jadi satu. Di Warung Betawi Bang Be’eng, harga satu porsi tergantung ukuran ikan, mulai dari Rp30.000 hingga Rp60.000.
Foto: A.K. Ulung/DW
Sayur khusus untuk para besan
Dulu, sayur besan adalah makanan mewah karena disajikan pada acara khusus, seperti pernikahan. Sayur besan wajib dibuat oleh keluarga pengantin perempuan Betawi untuk menjamu keluarga pengantin pria. Butir-butir terubuk yang menyatu diyakini sebagai simbol dua keluarga yang bersatu. Dijual Rp10.000 per porsi, sayur besan berwarna kekuningan dan di dalamnya ada kentang, suun dan terubuk.
Foto: A.K. Ulung/DW
Terubuk semakin susah dicari
Terubuk dari tebu merupakan bahan utama untuk membuat sayur besan. Saat ini terubuk semakin sulit didapatkan karena semakin sedikit orang membudidayakannya. Di Bogor, terubuk hanya tersedia di Pasar Parung. Harganya juga cukup mahal, yakni Rp250.000 untuk 100 batang. Hal inilah yang menyebabkan sayur besan semakin langka di Jabodetabek.
Foto: A.K. Ulung/DW
Tumis jantung pisang, makanan alternatif zaman Jepang
Tumis jantung pisang adalah pendamping khas pecak mujair. Tekstur tumis jantung pisang seperti jamur dan rasanya gurih. Hanya pisang kepok dan pisang raja yang cocok untuk dibuat tumis jantung pisang. Jantung pisang dianggap sebagai makanan spesial oleh orang-orang Betawi pinggir karena tanaman ini dahulu diolah sebagai makanan alternatif untuk bertahan hidup pada zaman penjajahan Jepang.
Foto: A.K. Ulung/DW
Orang Betawi suka mengolah beragam ikan
Kepala ikan kakap disajikan dengan kuah kuning ala Betawi. Sejak dulu, orang Betawi mengolah ikan-ikan liar di sungai dan rawa, seperti ikan gabus. Namun, sejak tahun 1990-an, ikan gabus kian langka seiring makin jarangnya sawah dan rawa di Jakarta akibat proyek pembangunan yang semakin masif. Karena itu, kini ikan gabus diganti dengan ikan mujair, ikan gurami, atau ikan kakap merah.
Foto: A.K. Ulung/DW
Laksa Betawi dengan cita rasa orisinal
Di rumah makan Laksa Betawi Asirot di Jl. Assirot No. 1 di Jakarta Selatan, laksa Betawi disajikan seorisinal mungkin. Kuah santannya berwarna kuning dan di dalamnya ada potongan ketupat, daun kemangi, dan daun kucai. Aroma ebi juga sangat kuat. Dijual dengan harga Rp20.000 per porsi, laksa Betawi akan terasa lebih nikmat jika dimakan dengan telur semur, semur jengkol, dan daging empal.
Foto: A.K. Ulung/DW
Penerus bisnis laksa keluarga
Kelezatan laksa Betawi ini berkat olahan tangan Muroni, istri dari Darussalam Isa, pendiri rumah makan Laksa Betawi Asirot. Setelah meninggal pada 2018, bisnis keluarga diteruskan oleh cucunya, Ahmad Syihabbudin. Laksa Betawi Asirot telah ada sejak tahun 1972 ini hanya menjual 2 menu: laksa dan ketupat sayur. Dibantu kedua adiknya, Ahmad mulai memasak pukul 03.00. Warungnya selalu ramai.
Foto: A.K. Ulung/DW
Ketupat sayur juga tidak kalah lezat
Di rumah makan ini, ketupat sayur juga tidak kalah spesial karena menggunakan sambal godok Betawi yang khas. Seperti laksa, ketupat sayur juga memiliki aroma ebi yang kuat. Kuah sayur yang gurih, potongan ketupat yang lembut, dan emping melinjo yang renyah akan sangat pas jika dipadu dengan semur jengkol yang legit. Di Laksa Betawi Asirot, semur jengkolnya cepat sekali ludes. (ae)
Foto: A.K. Ulung/DW
10 foto1 | 10
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Jakarta menjadi provinsi dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi yaitu sebanyak 16.155 orang per kilometer persegi pada tahun 2025. Menjelang lebaran, sedikitnya 2,18 juta kendaraan diprediksi akan meninggalkan kota metropolitan ini selama arus mudik Lebaran 2025.
Sementara itu, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Jakarta memprediksi adanya sekitar 10.000 hingga 15.000 pendatang yang masuk ke Jakarta setelah Lebaran 2025.