Melemahnya dollar-AS ; Integrasi warga asing di Jerman
22 November 2004
Mata uang tunggal Eropa, euro, akhir pekan lalu kembali mencetak rekor tertinggi terhadap dollar AS yang terus melemah. Akibat kenaikan tersebut, kanselir Jerman Gerhard Schröder meminta Amerika Serikat untuk mengurangi defisitnya. Permintaan kanselir oleh suratkabar Jerman Handelsblatt dikomentari ...
Menegur presiden AS yang baru terpilih lagi, di depan publik internasional, tidak diplomatis dan juga tidak bijaksana. AS tidak akan mau digurui oleh seorang kanselir Jerman, tentang bagaimana caranya untuk mengatur politik ekonomi dan keuangannya. Apalagi oleh seorang kepala pemerintahan dari sebuah negara yang menduduki ranking paling bawah dalam skala pertumbuhan negara industri, yang tidak dapat direkomendasikan sebagai penjaga anggaran yang solid.
Kita beralih tema: Masalah integrasi warga asing di Jerman.
Para politisi semua partai di Jerman menuntut lebih besar kesediaan berintegrasi dari para warga asing yang hidup di Jerman. Berkaitan dengan masalah itu kembali timbul diskusi tentang apa yang disebut deutsche Leitkultur, kultur Jerman sebagai rujukan.
Mengenai perdebatan baru tentang kultur Jerman suratkabar Frankfurter Allgemeine Zeitung mengulas:
Mungkin kita berada pada awal perdebatan serius yang tidak didominasi kaum fanatik ideologi atau pemikiran tabu, mengenai bagaimana caranya untuk mengintegrasikan para imigran Muslim. Kriteria mana yang dapat dipakai untuk menilai apakah integrasi berhasil, dan apakah integrasi sebagai targetnya telah cukup. Dalam perdebatan itu , tema kultur acuan tidak dapat dikesampingkan . Masyarakat yang percaya diri dan tidak malu akan asas ke-Kristenan, wajar menuntut kewajiban-kewajiban dari sesama warga.
Komentar harian Die Welt bernada sama:
Negara Jerman dan mayoritas warga yang hidup di sini berhak meminta penyesuaian diri dari para imigran, yang sudah mendekati asimilasi. Sebagai orientasi istilah Leitkultur – kultur acuan – tidaklah salah. Tentu akan membutuhkan waktu yang lama , untuk dapat menyepakati poin-poin yang konkret. Namun terdapat serangkaian keyakinan dan nilai yang membuat Jerman suatu masyarakat yang bebas dan jujur berasaskan agama Kristen.
Suratkabar Financial Times Deutschland mencatat:
Pada garis besarnya, pertanyaan apakah kita membutuhkan kultur acuan dan yang bagaimana, dapat dijawab dengan mudah. Jerman merupakan negara hukum yang demokratis yang punya UUD, yang mengakui pemisahan antara gereja dan negara dan mengakui hak universal manusia dan warga. Berlandaskan itu , setiap warga , Kristen , Muslim atau pun Budhis harus dapat hidup sesuai keinginnannya. Yang menjadi masalah adalah integrasi yang harus dituntut dan dimajukan oleh Jerman. Selama ini kedua belah pihak melupakan kontribusi yang akan diberikannya.
Untuk kaum konservatif momentum sekarang menguntungkan, demikian menurut harian Mittelbayerische Zeitung.
Multikultural atau multikulti sekarang menjadi istilah yang tidak populer,. Tindakan keras terhadap orang-orang fundamentalis kini mendapat sambutan. Siapa yang menuntut pengetahuan bahasa Jerman dari warga asing , tidak lagi dicap sebagai nasionalis. Situasi sekarang ini hendak dimanfaatkan oleh kaum konservatif. Berbeda dengan pemerintahan koalisi sosial demokrat-partai hijau yang terlalu lama mengimpikan masyarakat multikulti. Apalagi tindakan keras terhadap kaum fundamentalis tidak memerlukan banyak biaya. Yang jelas akan mendapat simpati rakyat. Tuntutan akan integrasi, penyesuaian diri para imigran , saat ini mendapat dukungan luas.