1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikPakistan

Melihat Peran Pakistan dalam Gencatan Senjata AS–Iran

9 April 2026

AS, Israel, dan Iran sepakat melakukan gencatan senjata selama dua minggu setelah Pakistan menjadi mediator, sebuah pencapaian diplomatik besar bagi Islamabad.

Poster yang mengumumkan penutupan Selat Hormuz di Teheran
Penutupan Selat Hormuz hanyalah salah satu dari sekian banyak isu diplomatik utama yang memisahkan Iran dan ASFoto: AFP

Pakistan dipuji karena berhasil meyakinkan Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menghentikan perang selama dua minggu ke depan.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada Selasa (09/04), bahwa ia menerima proposal gencatan senjata dari Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, dan setuju untuk menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua minggu, "dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui pembukaan Selat Hormuz secara lengkap, aman, dan segera.”

Trump sebelumnya sempat mengancam Iran dengan "kematian seluruh peradaban" melaluai pesan di Truth Social yang muncul hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu yang ia tetapkan sendiri.

"Pakistan memungkinkan gencatan senjata dengan memposisikan diri sebagai perantara yang kredibel dan tepercaya pada saat eskalasi akut," kata Raja Qaiser Ahmed, seorang ahli hubungan internasional di Universitas Quaid-e-Azam Islamabad, kepada DW.

Drone Murah Iran vs. Pertahanan Miliaran Dolar AS

01:57

This browser does not support the video element.

 "Pakistan mengaktifkan diplomasi jalur belakang, menyampaikan jaminan kepada Washington dan Teheran, dan membantu menyelaraskan kepentingan langsung seputar de-eskalasi."

Perdana Menteri Pakistan Sharif dan Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir, telah mempertahankan hubungan baik dengan Trump sejak Mei lalu, ketika Pakistan terlibat dalam eskalasi militer singkat, tapi mematikan, dengan India. Trump setelahnya mengeklaim berperan dalam "mengakhiri" perang antara Islamabad dan New Delhi tersebut..

Kenapa Pakistan bisa dipercaya AS-Iran?

Pakistan memiliki hubungan yang bersahabat, tapi kompleks, dengan rezim Iran.

"Pakistan memanfaatkan jalur keamanan dan diplomasi dengan AS, sambil tetap menjaga hubungan dengan Iran, sehingga bisa mewujudkan potensi gencatan senjata yang nyata. Kontribusi kuncinya bukanlah paksaan, melainkan koordinasi, menyusun langkah pertama yang dapat diterima secara bersama-bersama untuk mengurangi risiko dan menciptakan ruang dialog," tambah Ahmed.

Elizabeth Threlkeld, Direktur Asia Selatan di Stimson Center yang berbasis di Washington, mengatakan kepada DW bahwa Pakistan "akan berupaya mempertahankan momentum dalam negosiasi dan mengunci kesepakatan yang lebih tahan lama antara AS dan Iran sebelum jendela peluang tertutup."

"Bahkan mencapai gencatan senjata merupakan pencapaian luar biasa bagi Islamabad, dan para pemimpinnya akan melanjutkan keterlibatan mereka dengan kedua belah pihak dan mitra utama untuk melanjutkan pembicaraan dan meminimalkan risiko tindakan yang merusak," tambahnya.

Jalan yang berliku

Meskipun belum jelas apakah gencatan senjata akan bertahan, perdana menteri Pakistan optimistis. Sharif mengonfirmasi bahwa pemerintahnya telah mengundang delegasi AS dan Iran ke Islamabad pada hari Jumat (10/04) untuk "bernegosiasi lebih lanjut guna mencapai kesepakatan yang konklusif untuk menyelesaikan perselisihan."

Namun, menciptakan jalan menuju penyelesaian melalui negosiasi antara AS, Israel, dan Iran tidak semudah membalikkan telapak tangan.

"Negosiasi tidak akan mudah bagi Islamabad, tetapi gencatan senjata adalah langkah awal yang positif. Kita akan lihat berapa lama gencatan senjata ini akan bertahan," kata Zahid Hussain, seorang analis politik, kepada DW.

"Masih ada pertanyaan tentang keseriusan Iran dan AS dalam mengejar perdamaian abadi. Teheran tidak memercayai Washington, dan Presiden Trump menghadapi tekanan yang meningkat untuk mengakhiri perang di tengah kritik bahwa Washington mungkin telah salah perhitungan dalam strateginya." 

Selain tantangan domestik, Trump juga dinilai menghadapi kekhawatiran yang diangkat oleh sekutu Barat. Hussain menambahkan bahwa Israel "dengan enggan menerima gencatan senjata sambil melanjutkan operasi di Lebanon."

"Masih belum pasti apakah AS akan mampu menahan Israel dan memastikan bahwa gencatan senjata mengarah pada stabilitas regional yang lebih luas," tegas Hussain.

Apa yang dapat menggagalkan gencatan senjata?

Trump mengatakan bahwa Iran telah mengajukan 10 poin proposal yang menurutnya merupakan "dasar yang dapat diterapkan untuk bernegosiasi." 

Pemimpin AS itu juga mengeklaim bahwa kesepakatan telah tercapai pada "hampir semua poin perselisihan sebelumnya," meski tidak menjelaskan lebih lanjut.

Keberhasilan gencatan senjata, baik jangka pendek maupun panjang, sangat bergantung pada pembukaan Selat Hormuz, yang ditutup oleh rezim garis keras Iran setelah AS dan Israel mulai menyerang target militer dan kepemimpinannya pada 28 Februari lalu.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan kapal boleh melintas di Selat Hormuz di bawah pengawasan militer Iran. Sementara itu, Donald Trump mengatakan AS akan membantu mengatasi penumpukan lalu lintas kapal di selat tersebut.

Kemungkinan akan ada beberapa poin penting lainnya yang menjadi kendala dalam pembicaraan antara delegasi AS dan Iran. Salah satunya adalah program nuklir Iran dan persediaan uranium yang menurut Trump harus dihapus.

"Negosiasi ini akan sangat sulit,” kata Ali K. Chishti, analis keamanan berbasis di Riyadh, kepada DW. "Pembicaraan juga akan mempertimbangkan masalah ekonomi Iran dan kemungkinan pemberian keringanan sanksi bagi Teheran, sebagai imbalan atas kerja sama menjaga keamanan Selat Hormuz," tambahnya.

Aktor diplomasi yang kredibel

Chishti mengatakan Pakstan juga sedang menyiapkan "rencana terpisah” untuk kesepakatan antara Iran dan negara-negara Teluk, agar Iran tidak menyerang tetangganya di masa depan. 

Namun, ia menilai kecil kemungkinannya bagi Arab Saudi dan negara Teluk untuk terlibat langsung jika Iran keluar dari kesepakatan gencatan senjata.

"Ada perhitungan untung-rugi di Riyadh. Bergabung dalam kampanye melawan Iran justru akan lebih merugikan Saudi,” ujarnya.

Sementara itu, Ahmed menilai meski Iran tidak sepenuhnya memenuhi komitmennya, Pakistan masih punya ruang untuk mendorong penahanan diri dan membuka kembali dialog.

"Efektivitasnya tetap bergantung pada kemauan kedua pihak untuk berunding dengan itikad baik. Jika pelanggaran terus berlanjut, pengaruh Pakistan memang akan menyempit, tapi tetap bisa menjadi salah satu aktor kredibel untuk membuka komunikasi dan mencegah konflik meluas.”

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Iryanda Mardanuz

Editor: Prihardani Purba

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya