Menteri Agama Nasaruddin Umar membahas tentang tradisi santri ikut ngecor di pondok pesantren. Dia mengatakan pembangunan gedung bertingkat harusnya dilakukan secara profesional.
Bangunan pondok pesantren Al Khoziny di Sidoarjo yang ambruk dan menewaskan sedikitmya 66 santriFoto: Dicky Bisinglasi/SOPA Images via ZUMA Press/picture alliance
Iklan
"Kerja sama dan gotong royong itu memang ada. Tetapi tergantung, kalau hanya membangun halaman-halaman, memang santri sering terlibat membangun. Tapi kalau bangunan bertingkat seperti itu, harus profesional," kata Nasaruddin setelah bertemu dengan Menko Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, di Jakarta Selatan, Selasa (7/10/2025).
Menurutnya, keselamatan dan standar pengerjaan bangunan harus diutamakan. Dia mengatakan santri tak mungkin bisa mengerjakan bangunan bertingkat.
"Anak-anak itu kan harus pakai helm segala macam, tidak gampang mendaki gedung-gedung bertingkat. Jadi kalau hanya halaman, bersihkan ruangan, itu kerja sama. Tetapi kalau bangunan yang bertingkat, bangunan besar, itu nggak mungkin," kata dia.
Alat berat dikerahkan untuk pencarian korban yang tertimbun reruntuhan ponpes Al Khoziny di Sidoarjo yang ambruk saat pembangunan.Foto: Trisnadi/AP Photo/picture alliance
"Saya mulai nanti sekarang sudah mau jalan, Kalimantan, ke Sulawesi, saya sendiri yang turun tangan, insyaallah. Kita mulai pendataan dulu. Pendataan dulu, baru sudah ada pendataan, baru kita panggil pimpinan-pimpinan pondok," kata Nasaruddin.
Nasaruddin mengatakan pihaknya akan membahas pembangunan secara komprehensif. Dia mengatakan Kemenag akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait perizinan bangunan pesantren.
"Iya, secara komprehensif (bangunan harus sesuai standar). Kita sudah hubungi pemerintah setempat untuk membantu kita, kan mereka juga mengeluarkan izin segala macam," ucap dia.
Tarung Bebas "Pencak Dor" dari Pesantren Lirboyo
Bertarung secara bebas. Segala ilmu bela diri yang dikuasai boleh dikerahkan. Tegang dan mencekam, demikian pertarungan para pendekar di Pesantren Lirboyo, Kediri.
Foto: Getty Images/I. Ifansasti
Digemari penonton
Pencak Dor sudah dikenal sejak tahun 1960-an. Seni bela diri gaya bebas ini sangat di gemari oleh masyakarat di Kediri. Setiap kali pertandingan ini digelar, ratusan hingga ribuan penonton hadir memadati arena menyaksikan para pendekar bertarung.
Foto: Getty Images/I. Ifansasti
Bertarung dengan gaya bebas
Saling jotos, tendang dan banting, tak jarang peratung mencekik lawan tandingnya. Pertarungan Pencak Dor memicu adrenalin sebab setiap petarung bebas gunakan berbagai ilmu bela diri yang dimilikinya. Suasana begitu menegangkan. Masing.masing pihak yang bertanding membawa kehormatan perguruan silatnya masing-masing.
Foto: Getty Images/I. Ifansasti
Lahir dari pesantren
Dikutip dari Merdeka, awalnya kegiatan Pencak Dor diprakarsai Kiai Agus Maksum Jauhari yang merupakan cucu pendiri pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Kiai Haji Abdul Karim. Pencak dor dilahirkan di Pesantren Lirboyo yang terletak di lembah gunung Willis, Kota Kediri. Sejak tahun 1960- an pesantren ini juga dikenal sebagai tempat pengkaderan pendekar silat dari kalangan santri.
Foto: Getty Images/I. Ifansasti
Tujuan kegiatan
Tujuan kegiatan ini adalah menjalin tali silaturahmi sesama pendekar dan menjadi wadah dakwah pemuda. Disebutkan, latar belakang dibentuknya wadah kegiatan ini adalah ketika cucu pendiri pondok pesantren ini sering melihat terjadi perkelahian antar remaja di Kediri pada masa itu. Ia merasa prihatin atas kondisi itu.
Foto: Getty Images/I. Ifansasti
Menjadi wadah meluapkan emosi pemuda
Gus Maksum kemudian mempertemukan pemuda-pemuda itu untuk bertarung satu lawan satu dalam gelanggang Pencak Dor berukuran 8 x 4 meter. Bentungnya mirip dengan arena tinju, namun pembatas berupa bambu. Di arena ini diharapkan pemuda-pemuda itu bisa selesaikan perselisihan secara adil tanpa mengurangi rasa persaudaraan.
Foto: Getty Images/I. Ifansasti
Lebih dekat ketika usia bertarung
Lebih-lebih lagi, usai pertarungan, biasanya para pendekar dapat lebih saling mengenal satu sama lain. Mereka bisa saling bertukar pengalaman dalam ilmu bela diri. Tidak boleh ada dendam usia pertarungan digelar. Sehingga, di pesantren ini, selain melahirkan santri-santri yang menguasai ilmu agama, juga tumbuh para santri yang menguasai ilmu bela diri.
Foto: Getty Images/I. Ifansasti
Keselamatan tetap yang utama
Luka, berdarah, lebam dan memar-memar. Meski ini jenis pertarungan bebas, keselamatan petarung tetap jadi prioritas yang utama.
Foto: Getty Images/I. Ifansasti
Wasit wajib punya kemampuan lebih
Ada dua wasit yang mengawasi tiap pertarungan digelar. Tugas mereka di antaranya melerai kedua petarung jika kondisi pertarungan makin mencekam. Para wasit wajib memiliki kemampuan bela diri tinggi dan menguasai berbagai ilmu bela diri, mulai dari pencak silat, karate, judo, dll.
Foto: Getty Images/I. Ifansasti
Menjaga tradisi
Kegiatan pencak dor berupa tarung bebas ini dkini digelar lebih pada upaya untuk mempertahankan tradisi Pondok Lirboyo.
(ed: ap/as/merdeka/radarkediri)
Foto: Getty Images/I. Ifansasti
9 foto1 | 9
Bangunan ponpes tak boleh dibuat sembarangan
Menko PM, Muhaimin Iskandar (Cak Imin), menyebut pesantren Al Khoziny sudah ada sejak 100 tahun lalu. Dia mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi agar tradisi yang sudah ada tidak membahayakan.
"Tapi kita akan evaluasi juga tetap harus menggunakan standar PU. Tidak boleh ada lagi bangunan yang diproses tanpa melalui persetujuan PU dan saya minta kepada semua pesantren di seluruh Indonesia koordinasikan dengan Dinas PU setempat, semua jenis pembangunan detik ini juga harus koordinasi dengan PU setempat," ujar Cak Imin.
"Saya sudah kontak menteri PU-nya nanti Menteri PU dan jajaran siap membantu mengaudit, kemudian diteruskan dan polanya diubah, semua pesantren, bayangkan 40 ribuan pesantren yang mandiri dan selama ini nggak mau diintervensi, kita akan minta supaya koordinasi. Jadi tidak lagi boleh sembarangan," ucapnya.