1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Menbud Fadli Zon Rilis Buku Sejarah Indonesia Versi Terbaru

15 Desember 2025

Menteri Kebudayaan merilis buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global yang mencakup akar peradaban Nusantara, masa kolonial, hingga reformasi dan konsolidasi demokrasi sampai 2024.

Pascaperang Indonesia 1945–1949. Pasukan infanteri Belanda bergerak maju menuju Bandung untuk merebut kendali Jawa Barat dari kaum nasionalis pimpinan Sukarno
Menbud merilis buku sejarah Indonesia pada Minggu (14/12) berjudul Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Ia mengklaim, buku dibuat oleh 123 penulis dan ahli sejarah dari 34 perguruan tinggi se-IndonesiaFoto: United Archives/TopFoto/picture-alliance

Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon melaunching buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Buku tersebut terdiri dari 10 jilid buku sejarah yang mencakup perjalanan panjang Indonesia, mulai dari akar peradaban Nusantara, interaksi global, masa kolonial, pergerakan kebangsaan, hingga era reformasi dan konsolidasi demokrasi sampai 2024.

Peresmian buku berlangsung di gedung Kemendikdasmen, Jakarta, Minggu (14/12). Peresmian buku ditandai dengan meletakan puzzle berbentuk pulau-pulau Indonesia yang melambangkan unsur-unsur yang ada dalam buku sejarah Indonesia.

Dalam sambutannya, Fadli Zon menyampaikan buku tersebut dibuat oleh para ahli sejarah. Terdapat 123 penulis dari 34 perguruan tinggi se-Indonesia. 

"Jadi ini bukan ditulis oleh saya, oleh Pak Restu, atau oleh orang Kementerian Kebudayaan. Kita memfasilitasi para sejarawan untuk menulis sejarah. Kalau sejarawan tidak menulis sejarah, lantas bagaimana kita merawat memori kolektif bangsa kita?" kata Fadli Zon.

Fadli mengungkapkan ketika Presiden Prabowo Subianto membentuk Kementerian Kebudayaan, dirinya meminta agar Direktorat Sejarah dan Permuseuman dihidupkan kembali. Hingga akhirnya ada Direktorat Sejarah dan Permuseuman di Kementerian Kebudayaan.

"Dan Direktorat Sejarah ini, sebenarnya sudah almarhum tadinya. Direktorat Sejarah ini sudah tidak ada lagi. Pas kebetulan setahun yang lalu ketika Bapak Presiden Prabowo Subianto mendirikan Kementerian Kebudayaan, salah satunya yang kita minta adalah adanya Direktorat Sejarah lagi, hidup kembali Direktorat Sejarah kita," ujarnya.

"Jadi ini juga merupakan pejuangan. Dan ternyata cukup alot juga, saya dan Pak Sekjen ngotot waktu itu, agar Direktorat Sejarah ini dihidupkan. Tadinya tidak ada, jadi Direktorat Sejarah ini sekali lagi sebenarnya ini bangkit dari kubur," lanjutnya.

Fadli mengakui banyak polemik yang muncul dari penulisan ulang sejarah dalam buku tersebut. Menurutnya, polemik yang muncul adalah wajar di era demokrasi saat ini.

"Kita tahu di dalam proses penulisan ini cukup banyak juga polemik, ada yang meminta juga menghentikan penulisan sejarah. Saya kira ini juga pendapat di era demokrasi wajar-wajar saja," ucapnya.

Lebih lanjut, Fadli berharap ada buku-buku sejarah lainnya yang diterbitkan tahun depan. Dia berharap nantinya ada buku sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

"Kita berharap nanti, tahun ini kita menyelesaikan satu buku sejarah Indonesia, tahun depan kita harapkan ada buku-buku sejarah yang lain. Ada sejarah saya kira salah satu yang penting untuk ita tulis dari salah satu jilid ini tetapi harus kita pertajam, perluas, karena kroniknya cukup lumayan banyak dinamikanya banyak, yaitu sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, 1945-1950 sebenarnya sampai 1949 tapi biar lengkap ujungnya itu adalah kita menjadi negara kesatuan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1950," tutupnya.

Baca selengkapnya di: DetikNews

Menbud Fadli Zon Launching Buku Sejarah Indonesia Versi Terbaru 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait