Gunung Agung pernah memperlihatkan kedasyatan letusannya di masa lampau. Sekali lagi ia bergolak. Ahli geofisika Jacqueline Salzer menjelaskan kepada DW bagaimana gunung berapi tersebut memiliki potensi yang mematikan.
Foto: Reuters/D. Whiteside
Iklan
DW: Gunung berapi seperti apa sebenarnya Gunung Agung di Bali?
Jacqueline Salzer: Itu adalah gunung berapi campuran, juga dikenal sebagai "stratovolcano". Gunung api yang demikian kerap ditemukan pada zona subduksi tektonik. Di Bali, lempeng Indo-Australia menelusup ke bawah lempeng Sunda. Ini bagian dari cincin api pasifik. Di daerah tersebut, kita kerap menemukan lava yang sangat kental, tidak seperti "shield volcano", yang lavanya lebih cair.
Ini artinya pada zona letusan, lava gunung api, abu vulkanik serta materil letusan lainnya menumpuk dengan tajam. Ini ciri khas gunung api yang berbentuk kerucut. Gunung Agung adalah gunung tertinggi di Bali, dengan ketinggian mencapai 3.140 meter.
Ahli Geofisika, Jacqueline Salzer memantau aktivitas gunung berapi Avachinskaya Sopka di Kamchatka, Rusia. Foto: Jacqueline Salzer
Seberapa berbahaya gunung api yang demikian?
Jika magmanya sangat kental, maka gunung berapi tersebut sangat eksplosif. Penyebabnya karena gas yang terperangkap di dalam magma mendapat tekanan. Ketika magma naik ke permukaan maka tekanannya pun semakin meningkat. Tapi ketika gunung berapi meletus, maka tiba-tiba gas tersebut pun terbebas. Dengan demikian, letusan benar-benar memuntahkan magma menjadi beberapa bagian, yang menyebabkan awan abu yang sangat besar. Letusan ini akan berulang dan bisa berlanjut selama beberapa hari, karena ada sumber magma yang konstan. Gas pun naik ke permukaan dan melepaskan energi.
Bahaya apa yang mengintai penduduk di pulau tersebut?
Pada letusan yang terakhir, sebagian besar korban tewas akibat aliran piroklastik. Itu adalah gas panas, abu vulkanik dan bebatuan yang bergerak cepat meluncur menuruni sisi gunung. Ini adalah ancaman terbesar.
Itu adalah peristiwa yang sangat cepat: aliran piroklastik memiliki kecepatan hingga ratusan kilometer per jam. Tidak seorang pun dapat luput. Anda harus berada sangat jauh dari gunung berapi - dan cukup dini – agar dapat selamat.
Bahaya besar lainnya adalah "lahar". Kata itu berasal dari bahasa Indonesia yang berarti aliran lumpur yang terbentuk ketika material dari letusan gunung berapi bercampur dengan air hujan. Lahar ini mengalir melalui sungai dan lembah yang turut membawa material bebatuan yang besar. Alirannya dapat menghancurkan jembatan dan rumah-rumah, bahkan bisa menimbun desa-desa. Itu adalah bahaya kedua terbesar akibat letusan gunung api.
Selain itu, debu vulkanis juga dapat terlontar hingga ketinggian 20 kilometer. Debu yang padat ini bisa turun di atas permukiman. Bahaya lainnya adalah aliran lava yang panas.
Gunung Agung Masuki Fase Aktivitas Vulkanik Sangat Kritis
00:57
This browser does not support the video element.
Seberapa jauh warga harus menghindari gunung berani yang demikian? Apakah lebih baik jika meninggalkan pulau tersebut?
Ada beberapa simulasi untuk beberapa gunung berapi yang berbahaya, tergantung pada dampak letusannya. Lembaga yang berwenang melakukan perhitungan, tapi sayangnya tidak seorang pun bisa yakin 100 persen.
Pada kasus gunung Agung, area yang dievakuasi berada pada radius 12 kilometer dari gunung Agung. Lebih dari 80.000 orang telah meninggalkan rumah mereka.
Lava diperkirakan berpotensi untuk mengalir hingga beberapa kilometer dari gunung api. Aliran piroklastik dapat mencapai lebih jauh, bahkan belasan kilometer. Pada letusan gunung Agung yang terakhir, aliran lava bergerak hingga tujuh kilometer dan aliran piroklastik hingga 10 kilometer.
Potensi letusan Gunung Agung menyergap warga Bali dalam kekhawatiran. Sebanyak 75.000 penduduk telah dievakuasi ke kamp pengungsi. Wisatawan asing diminta waspada dan hotel mulai kehilangan pelanggan.
Foto: Reuters/Antara Foto/F. Yusuf
Pariwisata Dibayangi Erupsi
Wisatawan memantau situasi Gunung Agung menyusul aktivitas vulkanik yang menguat sejak beberapa hari terakhir. Meski belum berdampak secara signifikan, denyut pariwisata di Bali mulai melemah lantaran kekhawatiran terhadap erupsi.
Foto: Reuters/D. Whiteside
Evakuasi Sejak Dini
Sebanyak 75.000 orang telah dievakuasi dari radius 12 kilometer di sekitar Gunung Agung. Namun begitu sejumlah kecil penduduk masih memilih bertahan.
Foto: Reuters/Antara Foto/N. Budhiana
Pengungsi di Kampung Sendiri
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama dengan pemerintah dan sejumlah organisasi bantuan membangun 377 kamp pengungsi untuk penduduk di kaki Gunung Agung. Sebagai langkah pengamanan, BNPB juga mengevakuasi 14.000 penduduk di luar zona evakuasi.
Foto: Reuters/Antara Foto/F. Yusuf
Letusan Tinggal Hitungan Hari
Sejak beberapa hari terakhir, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi telah mencatat sekitar 564 getaran atau gempa kecil yang disebabkan oleh aktivitas vulkanik di Gunung Agung. Pakar menilai pergerakan magma di perut gunung hampir mencapai permukaan.
Foto: Reuters/D. Whiteside
Sejarah Berulang?
Terakhir kali meletus tahun 1963, Gunung Agung memuntahkan debu vulkanik hingga ke ketinggian 20 kilometer dan lava sejauh 7,5 kilometer. Abu dari letusan Gunung Agung dilaporkan mencapai Jakarta yang berjarak hampir 1.000 kilometer. Sekitar 1.000 manusia meregang nyawa kala itu.
Foto: Reuters/D. Whiteside
Bantuan Mulai Mengalir
Saat ini BNPB telah mulai menyalurkan bantuan berupa 640.000 masker, 12.500 kasur, 8.400 selimut dan 50 tenda raksasa. Pemerintah pusat juga telah menyiapkan dana hingga 900 milyar Rupiah untuk membantu penduduk jika Gunung Agung meletus.
Foto: picture-alliance/AP Photo/F.Lisnawati
6 foto1 | 6
Ada juga bebatuan besar yang terlontar ke sekitar gunung dan disebut sebagai "bom". Seberapa besarkah itu?
Itu tergantung pada letusannya. Sebelumnya letusan Gunung Agung melontarkan bebatuan seukuran kepala. Sekarang, pihak berwenang memperingatkan perkiraan diameter bebatuan yang terlontar bisa mencapai puluhan sentimeter. Tapi ada juga kasus dimana "bom" berukuran beberapa meter kubik dan beratnya beberapa ton. Itu semua tergantung pada intensitas letusan dan jarak ke kawah. Pada prinsipnya: semakin jauh dari kawah maka "bom" pun semakin kecil.
Letusan terdasyat gunung tersebut adalah tahun 1963/64. Itu sekitar setengah abad lalu. Apakah ada durasi tertentu kapan gunung meletus?
Kita tidak dapat memastikan aturan yang demikian. Kita mengetahui bahwa letusan Gunung Agung terbesar terjadi tahun 1843, tapi kita hanya mengetahui sedikit sekali apa yang sebenarnya terjadi.
Ada beberapa gunung berapi yang tampaknya mengikuti siklus tertentu, tapi itu adalah pengecualian. Kita tidak dapat berpedoman pada prognosis yang didasarkan pada faktor tersebut, atau mencoba memprediksi letusan berikutnya berdasarkan model tersebut.
Kita harus tetap ingat, pada kasus gunung berapi yang meletus secara rutin, warga kerap kali sudah terbiasa berhadapan dengan situasi tersebut. Seperti pada kasus yang terjadi di Gunung Etna di Sisilia. Penduduk di sana sudah pernah mengalami nya. Di Bali, sebagian besar warga tidak lagi mengingat letusan sebelumnya.
Gunung berapi Manaro di kepulauan Ambae Vanuatu melepaskan awan abu serta melontarkan bebatuanFoto: picture-alliance/AP Photo/New Zealand Defense Force
Gunung berapi lainnya yang juga terletak di cincin api pasifik baru saja meletus – Gunung Manaro di Vanuatu. Pihak berwenang di san telah mengevakuasi 7.000 warga dari total populasi sebanyak 10.000 orang. Apakah kedua letusan ini saling terkait?
Vanuatu letaknya sekitar 5.000 kilometer dari Bali. Keduanya memiliki batas lempeng tektonik yang berbeda, bahkan komposisi bebatuannya juga berbeda. Lava di Vanuatu jauh lebih cair dan membentuk danau lava. Sangat sulit untuk membandingkan keduanya. Ketika kedua peristiwa terjadi pada waktu yang bersamaan hanya suatu kebetulan.
Tapi bukan berarti gunung berapi di Vanuatu kurang berbahaya. Ada danau di kawah Gunung Manaro. Ketika air segar dalam jumlah besar bercampur dengan lava panas maka ada potensi bahaya tambahan. Itu dapat memicu ledakan, dan air dari danau juga bisa menghasilkan lahar. Letusannya akan terbentuk secara berbeda dibandingkan di Bali. Meski demikian, bahaya yang mengancam di sana juga melibatkan abu vulkanik, gas, "bom," lava dan aliran piroklastik.
Dr. Jacqueline Salzer bekerja di Pusat Penelitian Geosains Jerman bidang gempa bumi dan fisika gunung berapi. Secara khusus, geofisika memantau gunung berapi aktif lewat kamera dan data yang berasal dari satelit observasi radar bumi TerraSAR-X. Fokus utama penelitiannya adalah mempelajari perubahan geometri dari gunung berapi sebelum, selama dan setelah letusan.
Interview dipandu oleh Fabian Schmidt.
Gunung Api Paling Berbahaya dan Mematikan
Di seluruh dunia terdapat 1.500 gunung api aktif, yang erupsinya dalam dua abad terakhir menewaskan ratusan ribu orang. Indonesia dengan 130 gunung api aktif, memegang rekor letusan terdahsyat dan korban terbanyak.
Foto: picture-alliance/dpa
Tambora, Indonesia
Letusan gunung Tambora di Sumbawa tahun 1815 memuntahkan jutaan kubik meter material ke atmosfir, yang menyebabkan Eropa pada 1816 mengalami tahun tanpa musim panas. Sedikitnya 92.000 orang tewas akibat erupsi. Sekitar 100.000 korban lain tewas di Eropa dan Amerika akibat kelaparan yang dipicu gagal panen gara-gara abu letusan Tambora menyebabkan musim dingin panjang.
Foto: picture-alliance/AP
Krakatau, Indonesia
Letusan gunung Krakatau 27 Agustus 1883 menyemburkan material ke atmosfir hingga ketinggian 20 km. Debu vulkaniknya tersebar ke seluruh dunia dan erupsi memicu tsunami dahsyat. Dentumannya terdengar hingga ke Mauritius yang jaraknya 4.800 km. Sedikitnya 36.000 orang meninggal akibat letusan tersebut. Kini dari bekas kaldera muncul gunung Anak Krakatau.
Foto: AP
Mt. Pelee, Martinique Perancis
Letusan dahsyat yang terjadi mulai 25 April hingga mencapai puncaknya 8 Mei 1902 menewaskan lebih 40.000 orang di pulau kawasan Antilles Kecil milik Perancis. Gunung api yang diduga sudah mati itu tiba-tiba aktif dan melontarkan isi dapur magmanya. Letusan final tanggal 8 Mei sangat hebat, sehingga meluluhlantakkan kota St. Pierre. Hanya dua orang warga kota yang selamat dari kematian.
Foto: K. Tribouillard/AFP/Getty Images
Vesuvius, Italia
Erupsi yang dicatat sebagai paling dramatis dalam sejarah dunia, adalah letusan gunung Vesuvius di Italia pada tahun 79 Masehi. Akibat letusan, kota-kota Pompeii, Herculaneum dan Stabia hancur dan lebih dari 10.000 orang tewas dilanda awan dan lahar panas. Sementara letusan tahun 1631 tercatat menewaskan lebih 6.000 orang.
Foto: Imago
Kelud, Indonesia
Letusan gunung Kelud 19 Mei 1919 menghancurkan lebih dari 100 desa dan menewaskan sedikitnya 5.000 orang. Saat erupsi, 38 juta kubik meter air dilontarkan dari danau kawah. Letusan terakhir terjadi 2014 yang membuat sengsara warga di sekitar Blitar hingga ke Yogyakarta.
Foto: Reuters
Nevado del Ruiz, Columbia
Gunung api ini sebetulnya sudah melontarkan sinyal akan meletus hebat, dengan tremor dan gempa kecil terus menerus. Tapi pemerintah Columbia mengabaikannya, hingga sebuah erupsi hebat tanggal 13 November 1985 malam, menyemburkan lava, lahar panas serta lahar dingin yang menimbun kota Armero. Sedikitnya 23.000 orang tewas akibat letusan gunung api tersebut.
Foto: picture-alliance/dpa/Ingeominas
Merapi, Indonesia
Gunung Merapi di dekat Yogyakarta yang berpopulasi padat terkenal sebagai gunung api paling aktif dalam beberapa dekade terakhir ini. Erupsi yang terjadi tahun 1930 tercatat menelan korban terbanyak, 1.300 tewas. Letusan tahun 2010 yang merupakan erupsi terhebat sejak 1872 menewaskan sedikitnya 350 orang.
Foto: picture alliance/dpa
Mount Nyiragongo, Republik Demokrasi Congo
Gunung berapi yang berlokasi di Virunga National Park dekat perbatasan antara Republik Demokrasi Congo dan Ruanda ini terkenal karena danau lava cairnya dengan diameter sekitar 1,2 km. Erupsi yang terjadi 2002 meluluhlantakan kota Goma dengan aliran lava cairnya. Sejarah mencatat erupsi, gunung api Nyiragongo menyumbang kontribusi 40% dari seluruh kasus letusan gunung api di benua Afrika.
Foto: AP
Unzen, Jepang
Erupsi gunung api Unzen pada tahun 1792 dicatat sebagai salah satu bencana alam terhebat dalam sejarah Jepang. Letusan Unzen yang berlokasi dekat kota Nagasaki itu memicu tanah longsor dan tsunami. Sedikitnya 15.000 orang tewas akibat kombinasi bencana alam letusan gunung api, tanah lonsor dan tsunami.
Foto: picture-alliance/dpa
Laki Volcanic System, Islandia
Erupsi berlangsung 8 bulan mulai 8 Juni 1783 hingga Februari 1784 muntahkan lebih dari 14,7 kubik kilometer lava dan sebabkan munculnya retakan sepanjang 27 kilometer. Tapi sekitar 9.500 korban tewas bukan diakibatkan lontaran material vulkanik padat, melainkan akibat dilanda gas beracun yang juga dilontarkan ke atmosfir dan memicu hujan asam, yang membunuh ribuan hewan ternak dan meracuni tanah.