1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialKorea Selatan

Mengapa Perempuan Korea Selatan Enggan Mempunyai Bayi

6 Maret 2024

Statistik terbaru Korea Selatan menunjukkan jumlah anak yang lahir tahun lalu sangat rendah. Salah satu alasan utamanya adalah keinginan perempuan untuk berkarir dan penolakan terhadap dominasi laki-laki.

Foto ilustrasi perempuan di Korea Selatan
Foto ilustrasi perempuan di Korea SelatanFoto: Jung Yeon-je/AFP/Getty Images

Ketika masih muda, Hyobin Lee dibesarkan untuk menjadi seorang ibu. Namun ada saatnya dia harus mengambil keputusan sulit. Pada akhirnya, dia memilih kariernya daripada berkeluarga. Dia sekarang menjadi akademisi yang sukses di kota Daejeon, Korea Selatan.

Lee, yang kini berusia 44 tahun, hanyalah satu dari jutaan wanita Korea Selatan yang secara sadar mengambil keputusan untuk tidak memiliki anak – yang mengakibatkan tingkat kesuburan negara tersebut turun ke rekor terendah.

Tingkat kesuburan – yaitu jumlah rata-rata kelahiran per perempuan – menyusut menjadi 0,72 tahun lalu, menurut statistik pemerintah yang dirilis minggu lalu, turun dari 0,78 pada tahun sebelumnya. Angka ini mempertegas penurunan tahunan bertahap sejak 2015.

Padahal untuk mempertahankan jumlah populasi Korea Selatan dibutuhkan angka 2,1 anak per perempuan. Total populasi Korea Selatan pada tahun 2100 diperkirakan hanya tinggal sekitar 26 juta orang – setengah dari total populasi saat ini.

South Korea's birth rate hits record low

01:58

This browser does not support the video element.

Impian memiliki anak lelaki

"Ketika saya masih muda, saya bermimpi memiliki seorang putra yang mirip dengan saya,” kata Lee kepada DW. "Saya ingin bermain dengannya, membaca bersama, dan menunjukkan kepadanya banyak hal tentang dunia. Namun saya menyadari bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu."

"Saya memilih untuk tidak memiliki anak demi karier saya,” katanya. "Memiliki dan membesarkan anak akan menimbulkan masalah bagi karier saya dan saya khawatir saya akan menolak anak tersebut nantinya. Sebagai konsekuensinya, baik saya maupun anak tersebut tidak akan bahagia."

"Karir yang sukses di masyarakat yang didominasi laki-laki, adalah salah satu alasan mengapa banyak perempuan memilih untuk tidak memiliki anak, kata Lee menambahan. Tapi juga ada banyak alasan lain.

Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru! 

"Masalah ekonomi memainkan peran penting, meskipun berbagai kebijakan persalinan dirancang untuk mendukung perempuan. Tapi langkah-langkah ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya,” jelasnya.

"Di Korea, masih ada budaya umum yang percaya bahwa melahirkan anak dan semua aspek pengasuhannya adalah tanggung jawab perempuan,” kata Lee. "Tantangan dalam mengelola persalinan dan pengasuhan anak secara bersamaan sangatlah berat, sehingga banyak perempuan memilih untuk tidak memiliki anak. Hal ini juga berlaku bagi saya.”

Perempuan paling banyak menanggung beban anak-anak

Jungmin Kwon, profesor di Portland State University di Oregon yang berspesialisasi dalam budaya populer Asia Timur, setuju bahwa tekanan masyarakat Korea Selatan bisa sangat menyesakkan.

"Menurut banyak penelitian, faktor penting adalah biaya dan upaya yang perlu dilakukan dalam pengasuhan anak,” katanya. "Korea terkenal dengan pasar pendidikan swasta yang luas, dan orang tua akan menghabiskan banyak uang untuk berbagai program pendidikan swasta bagi anaknya sejak usia muda agar dapat bersaing dengan anak-anak lain." 

"Yang lebih penting lagi, dalam budaya patriarki saat ini, di mana perempuan diharapkan menanggung sebagian besar energi mental dan fisik yang dibutuhkan untuk membesarkan anak, melahirkan dan mengasuh anak merupakan pilihan yang sulit bagi perempuan,” kata Kwon, seraya menunjukkan angka statistik bahwa perempuan yang memiliki anak juga melakukan pekerjaan rumah tangga dan tugas mengasuh anak lima kali lebih banyak dibandingkan laki-laki.

Baik Lee maupun Kwon sama-sama pesimistik bahwa krisis kependudukan di Korea Selatan dapat diatasi. "Perempuan muda saat ini memiliki perspektif yang berbeda tentang keluarga, pernikahan, persalinan, komunitas, dan negara bangsa dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka tidak lagi terjebak oleh 'kewajiban menjadi perempuan' yang dipaksakan oleh negara, masyarakat, dan rumah tangga yang patriarki,” katanya

Kwon setuju dengsn penilaian itu. "Struktur patriarki tidak mungkin diubah dalam semalam, dan oleh karena itu, saya juga pesimistik bahwa perempuan ingin memiliki anak dan akan meningkatkan angka kelahiran di Korea.”

(hp/as)

Julian Ryall Jurnalis di Tokyo, dengan fokus pada isu-isu politik, ekonomi, dan sosial di Jepang dan Korea.
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait