Kamera Luar Angkasa Buatan Jerman Lacak Benda Langit
14 September 2017
Institut Max Planck untuk Penelitian Sistem Tata Surya dikenal di seluruh dunia, sejak sukses memotret komet Churyumov-Gerasimenko dari jarak dekat. Kamera antariksa buatanya dikenal tangguh mengejar komet dan asteroid.
Foto: picture-alliance/dpa
Iklan
Mengejar Komet dan Asteroid Dengan Kamera Luar Angkasa Buatan Jerman
04:03
This browser does not support the video element.
Wujud kamera luar angkasa sangat berbeda dengan kamera biasa. Dengan kamera ini, peneliti bisa memotret dalam tujuh gelombang cahaya. Dari foto yang diperoleh bisa diteliti, mineral apa yang ada pada benda luar angkasa tersebut.
Selama delapan tahun, model kamera yang sama di wahana antariksa DAWN berkembara untuk meneliti asteroid Vesta dan planet kerdil Ceres. Untuk itu peneliti harus mempersiapkan kamera tersebut menghadapi berbagai rintangan.
Prof. Ulrich Christensen, Direktur riset sistem Tata Surya di MPI menjelaskan:"Tantangan kamera ini adalah harus tetap berfungsi dalam kondisi ekstrim. Pada suhu sangat tinggi dan sangat rendah. Harus melewati radiasi sinar kosmik. Dan harus bisa diandalkan. Karena jika wahana udah terbang, maka tidak bisa direparasi lagi."
Pendaratan Pertama di Komet
Kapsul penelitian Philae yang dilepaskan dari wahana ruang angkasa Rosetta mencatat sukses bersejarah mendarat di permukaan komet Churyumov–Gerasimenko. Kini dumulai riset untuk melacak asal usul kehidupan di tata surya.
Foto: ESA–C. Carreau/ATG medialab
Philae Mendarat di Churyumow-Gerassimenko
Ilustrasi ESA menunjukkan pendaratan kapsul penelitian Philae di permukaan komet Churyumow-Gerassimenko. Setelah terpental kembali satu kali, dan harpun pendarat gagal dikeluarkan untuk mengkait komet, kapsul seberat 100 kg itu dilaporkan berada dalam posisi stabil. Citra Yang dikirimkan diharap mengungkap lebih banyak misteri jagat raya.
Foto: ESA via Getty Images
Ilmuwan Sambut Gembira
Para ilmuwan di pusat pengendali wahana antariksa nirawak Rosetta di Darmstadt, Jerman bersorak gembira menyaksikan sukses pendaratan Philae di komet 67P. Bagaimana kondisi kapsul dan sebanyak apa data yang akan dikirim, ditunggu dengan tegang di pusat pengendali.
Foto: ESA/J. Mai
Mendarat di Aglikia
Setelah perjalanan panjang selama lebih dari sepuluh tahun, misi nirawak Rosetta sukses melakoni tugas terbesarnya, yakni mendaratkan kapsul riset Philae di permukaan komet Churyumov–Gerasimenko. Ilmuwan membaptis lokasi pendaratan Philae dengan nama Aglikia, sebuah pulau di tengah sungai Nil yang menyimpan lusinan situs bersejarah dari zaman Mesir kuno.
Foto: ESA/Rosetta/MPS for OSIRIS Team MPS/UPD/LAM/IAA/SSO/INTA/UPM/DASP/IDA
Manuver Kritis
Wahana penelitian antariksa Rosetta meluncurkan kapsul pendarat Rabu, 12 November pukul 10:03 Waktu Eropa Tengah atau sekitar 16:03 Waktu Indonesia Barat. Philae dilepaskan dari ketinggian satu kilometer dari permukaan komet. Kapsul pendarat itu jatuh dengan kecepatan satu meter per detik.
Foto: ESA–J. Huart, 2013
Citra Pertama dari Philae
Philae mendarat di permukaan komet Churyumov–Gerasimenko setelah manuver berbahaya. Kapsul riset itu diharapkan mengirim foto-foto beresolusi tinggi dan informasi lain kondisi di lapisan terluar Komet yang sebagian besar berupa es dan material Organik ke Rosetta yang terus berada di orbit. Dari jarak 500 juta km, Rosetta mengirim citra itu ke bumi.
Foto: ESA/AOES Medialab
Gagal Menancap pada Komet
Kapsul Philae berbobot 100 kilogram dan sebagian besar terbuat dari serat karbon. Karena gaya gravitasi pada komet Chruyumov Gerasimenko sangat lemah, Philae akan menembakkan harpun yang menancap di permukaan komet dan mencegah agar wahana tidak terlempar kembali ke luar angkasa. Manuver ini diyakini gagal dan harpun tidak terlontar ke luar.
Foto: picture-alliance/dpa/ESA
Sepuluh Menguak Chruyumov Gerasimenko
Philae diharap tetap stabil berada di permukaan komet selama sepekan hingga beberapa bulan walau tanpa diperkuat harpun. Kapsul buatan Badan Antariksa Eropa itu akan mempelajari struktur benda langit tersebut dengan 10 piranti ilmiah. Tampak pada gambar model wahana pendarat Philae di Pusat Kendali Misi Rosetta.
Foto: DW/F.Schmidt
Mendekat Matahari
Rosetta dan Philae siap memasuki fase paling dinamis dalam kehidupan Churyumov Gerasimenko. Antara akhir November hingga Desember, komet tersebut akan terbang melintasi matahari. Kedua wahana nirawak itu ditugaskan untuk mengamati perubahan pada struktur es di tubuh komet ketika temperatur melonjak. Suhu permukaan komet diperkirakan berkisar antara -68 derajat Celcius hingga -43 Celcius.
Foto: dapd
8 foto1 | 8
Pengalaman panjang
Pengetahuan untuk merakit kamera luar angkasa diperoleh dari pengalaman selama bertahun-tahun. Peter Czechowsky tidak terlibat sejak awal. Tahun 1946 pusat penelitian tata surya Max PIanck Institut pindah ke kota kecil, 30 kilometer dari Göttingen.
Awalnya peneliti meriset lapisan atmosfer yang bermuatan listrik bagi transfer gelombang radio. Kemudian juga stratosfer yang letaknya lebih rendah. Disana lah, mereka mulai berfokus pada ruang angkasa dengan program roket dan balon udara.
Peter Czechowsky, mantan direktur MPI mengisahkan:"Kami sangat beruntung memiliki pekerja yang berkualitas dan mendalaminya secara intensif. Begitunya masalah detektor untuk kamera. Itu semua bidang baru. Jadi harus banyak dilakukan eksperimen."
Membelokkan Asteroid, Menyelamatkan Bumi
Jumlah benda langit yang melintas dekat Bumi tidak terhitung. Dalam tujuh tahun Badan Antariksa ESA dan NASA ingin mengembangkan teknologi yang mampu mengubah arah terbang asteroid dan menyelamatkan Bumi dari kehancuran
Foto: ESA–Science Office
Asteroid Kembar
Tahun 2020 ESA akan mengirimkan wahana nirawak buat mengorbit asteorid Didymos. Benda langit berstruktur batuan itu memiliki diameter selebar 800 meter. Uniknya Didymos ditemani oleh sebuah bulan yang oleh ilmuwan dinamakan Didymoon.
Foto: ESA–Science Office
Pendaratan di Asteroid
Wahana Asteroid Impact Mission (AIM) direncanakan masuk ke orbit Didymos dan menurunkan robot pendarat - layaknya Rosetta dan Philae 2014 silam. Berbeda dengan misi Rosetta, wahana AIM akan mengirimkan data ke Bumi lewat laser. Ia juga membawa dua satelit mini yang akan mengorbit bulan Didymoon.
Foto: ESA–Science Office
Rendezvous dengan Didymoon
Pada 2022 atau dua tahun kemudian, asteroid kembar ini akan terbang melintasi Bumi dalam jarak sebelas juta kilometer. Jarak tersebut tergolong dekat. Pada saat itu pesawat antariksa NASA akan menyambangi bulan Didymoon
Foto: ESA–Science Office
Membentur Bulan
NASA berencana mengirimkan wahana yang menghantam Didymoon layaknya komet. Dengan cara itu lintasan Didymoon dan Didymos akan sedikit bergeser. Wahana AIM dan wahana pendaratnya akan menganalisa dampak benturan tersebut. Misi ini bertujuan mencari tahu apakah teknologi yang ada sanggup mengubah arah terbang asteroid yang mengancam Bumi.
Foto: ESA–Science Office
Batu Raksasa
Tidak terhitung jumlah asteorid yang saat ini malang melintang di sistem tata surya. Kebanyakan memiliki diameter selebar beberapa kilometer. Ilmuwan memantau dengan seksama, kendati tidak menemukan benda langit yang berpotensi akan menghantam Bumi dalam waktu beberapa ratus tahun ke depan
Foto: picture-alliance/ dpa
Serangan dari Langit
Meteor adalah asteroid atau benda langit lain yang menghantam Bumi dengan kecepatan tinggi dan menyebabkan kebinasaan. Pakar geologi mencatat, Bumi telah berulangkali mendapat serangan dari langit yang kemudian mengubah wajah planet.
Foto: cc-by/LarryBloom
Nyaris Binasa
Februari 2013 lalu sebuah asteroid seberat 130.000 ton bernama 2012 DA14 terbang terlalu dekat dengan Bumi. Benda langit itu melintas dalam jarak 27.000 kilometer, yang jauh lebih dekat daripada orbit sebagian satelit.
Foto: NASA/Science dpa
Peringatan Dini
Badan Antariksa Eropa, ESA, membangun sistem peringatan dini untuk serangan meteor di kota Frascati, Italia. Data dari berbagai teleskop di Bumi dialihkan ke Frascati untuk dianalisa. Dengan cara ini ilmuwan bisa membuat perkiraan, kapan sebuah asteroid akan terbang melintasi Bumi.
Foto: IQOQI Vienna
8 foto1 | 8
Mereka berhasil. Institut ini menjadi bagian dari sejarah penerbangan luar angkasa. Satelit penelitian antar planet pertama dari Eropa memboyong kamera buatan MPI. Foto spektakuler dari penerbangan pertama ke komet dikirim ke bumi.
Foto bersejarah dari antariksa
Saat wahana Huygens menuju Titan, kamera MPI berhasil memperoleh foto yang bersejarah: pendaratan pertama di bagian luar tata surya. Untuk rekaman wahana peneliti planet Mars, Pathfiner, MPI bahkan memperoleh penghargaan televisi. Apa rahasia keberhasilan institut ini?
"Menurut saya tiga hal: Pertamam kami membutuhkan ilmuwan yang kaya akan ide baru untuk mewujudkan instrumen, mengukur dan merekam hal-hal yang menarik. Lalu dibutuhkan pakar dan teknisi yang tahu cara mewujudkan ide tersebut menjadi instrumen yang berfungsi", tambah Prof. Ulrich Christensen.
Batuan Antariksa
Dengan memahami komposisi material penyusun bantuan antariksa, seperti komet, para peneliti berupaya memahami lebih banyak asal usul terbentuknya Bumi.
Foto: Reuters
Debu dan Gas
Bukan hanya partikel debu dari komet yang bisa jatuh ke bumi, tapi juga kometnya itu sendiri bisa menabrak bumi. Para ilmuwan menduga, komet merupakan material sisa dari pembentukan planet. Komposisinya bisa memberikan informasi mengenai awal pembentukan Tata Surya.
Foto: AP
Komet dan Bintang Berekor
Komet terdiri dari awan gas dan ekor panjang yang terdiri dari gas, batuan serta partikel debu. Jika ekor yang terdiri dari partikel dan batuan memasuki atmosfir bumi, gesekan memanaskannya hingga 3000 derajat Celsius. Inilah yang disebut sebagai bintang berekor.
Foto: picture-alliance/dpa
Hujan Komet
Jika komet melintas amat dekat ke bumi, sejumlah partikel bercahaya akan jatuh ke bumi layaknya hujan. Yang paling terkenal adalah hujan komet Perseid dan Leonidas. Setiap kali, hujan komet menjadi fenomena langit yang spektakuler.
Foto: AP
Meteorit
Debu komet yang jatuh ke bumi biasanya habis terbakar di atmosfir. Tapi pecahan yang lebih besar dari luar angkasa bisa tersisa dan jatuh ke permukaan bumi. Inilah meteorit. Kebanyakan ukurannya kecil dan tidak berbahaya. Jika cukup besar, bisa menimbulkan kerusakan hebat, seperti misalnya kawah meteorit Barringer di Arizona, AS dengan diameter 1000 meter.
Foto: cc-by/LarryBloom
Meteorit Raksasa
Meteorit raksasa yang jatuh 65 juta tahun lalu di semenanjung Yucatan, menimbulkan kawah Chicxulub yang berdiameter 300 km. Para ilmuwan memperkirakan tumbukan metorit ini memicu musnahnya dinosaurus.
Foto: NASA/Don Davis
Batu Hitam
Meteorit mirip dengan batuan bumi. Tapi kenampakannya seperti terbakar. Bopeng-bopeng ini tercipta saat meteorit memasuki atmosfir bumi dan permukaannya meleleh akibat gesekan yang menimbulkan suhu amat panas.
Foto: picture-alliance/ dpa/dpaweb
Pecahan Besar
Asteroid dalam jumlah amat banyak juga beterbangan di luar angkasa. Ukurannya ada yang lebih besar dari komet, dengan diameter hingga beberapa kilometer.
Foto: picture-alliance/ dpa
Mendekat ke Bumi
Februari 2013 asteroid seberat 130.000 ton bernama 2012 DA14 mendekat ke bumi hingga sejarak 27.000 kilometer. Ini lebih dekat dari kebanyakan satelit di orbit.
Foto: NASA/Science dpa
Lebih Aman
Badan antariksa Eropa (ESA) membangun sistem peringatan dini meteorit di Frascati Italia. Data dari teleskop seperti di Teneriffa (foto) akan dicatat di sana.
Foto: IQOQI Vienna
9 foto1 | 9
Dan tentu juga bengkel kerja yang membuat komponen kamera teknologi tinggi. Di gedung institut yang baru tempatnya lebih luas. Disini mereka mendidik teknisi dan ahli elektronika masa depan. Para mahasiswa ini akan menjadi pakar yang dibutuhkan untuk misi penelitian baru.
Kamera luar angkasa masa depan dirakit disini. Teleskop dengan tekonologi canggih yang mampu menyibak misteri bidang magnet matahari. Untuk itu, bidang magnetnya harus bisa diukur secara teliti. Kondisinya sebenarnya tidak memungkinkan. Suhu yang sangat tidak stabil harus bisa diatasi oleh instrumen tersebut. Begitu juga angin surya.
Prof. Sami Solanki, Direktur riset sistem Tata Surya di MPI menuturkan lebih jauh:"Partikel bermuatan tersebut pada dasarnya adalah listrik yang berasal dari luar dari bisa menyebabkan hubungan pendek. Artinya, kita harus melindungi peralatan elektronik dan merakitnya sedemikian rupa supaya tidak sensitif terhadap partikel semacam itu."
Para peneliti berharap akan terus mendapat proyek dari badan-badan antariksa besar. Seperti teleskop matahari.
(DWInovator)
Air di Bumi Berasal dari Asteroid
Data yang dikirim wahana peneliti Rosetta dari komet Churyumov-Gerasimenko mengindikasikan, air di Bumi kemungkinan besar berasal dari asteroid. Bukan dari komet seperti dugaan selama ini.
Foto: DLR
Asteroid Pembawa Air ke Bumi
Air di Bumi diduga keras berasal dari asteroid yang jatuh ke permukaan Bumi sekitar 4 milyar tahun lalu. Peneliti Eropa menyatakan, dugaan semula bahwa air di bumi berasal dari komet terbukti salah. Air dari komet umurnya jauh lebih tua dan lebih berat ketimbang air yang eksis saat ini. Sementara kandungan isotop hidrogen pada air di asteroid mirip dengan levelnya pada air bumi saat ini.
Foto: picture alliance/dpa
Data dari Philae dan Rosetta
Indikasi bahwa air di Bumi berasal dari asteroid bukannya dari komet dikirimkan wahana peneliti antariksa Rosetta dan robot pendarat Philae yang berhasil didaratkan di permukaan komet Churyumov-Gerasimenko. Komet terbentuk di awal kelahiran tata surya, sementara asteroid terbentuk jauh setelah itu. Air di bumi diketahui berasal dari zaman yang lebih muda dari umur tata surya.
Foto: ESA via Getty Images
Air Purba Masih Tersembunyi
Para pakar astrofisika Eropa memperkirakan, volume air yang dibawa asteroid saat menghujani bumi yang masih muda, jauh lebih banyak ketimbang volume air yang kasat mata saat ini. Diduga, sebagian air purba itu masih tersedimen di dalam lapisan batuan atau di es abadi kedua kutub bumi.
Foto: picture-alliance/dpa
Elang Laut Memburu Air di Asteoid
Untuk makin menegaskan indikasi, bahwa asteroid adalah pembawa air yang memicu kehidupan di Bumi, badan antariksa Jepang meluncurkan wahana penelitian Hayabusa2 atau Elang Laut yang dilengkapi pendarat asteroid MASCOT (Mobile Asteroid Surface Scout) tanggal 30 November 2014 dari Tanegashima Space Centre. Program penerbangan ke asteroid bernama 1999 JU3 akan memakan waktu hingga 4 tahun.
Foto: Akihiro Ikeshita
Kapsul Riset Permukaan Asteroid
Kapsul pendarat MASCOT dilengkapi empat instrumen untuk meneliti permukaan asteroid. Robot pendarat akan mengukur temperatur dan medan magnet asteroid, menganalisa komposisi material serta melacak kandungan mineral dan komponen lain yang terkandung di permukaan asteroid. Sebuah kamera khusus akan mengambil gambar kontur dan bentuk permukaan benda langit itu.
Foto: DLR
Instrumen Riset Presisi Tinggi
Para insinyur dan peneliti di pusat antariksa Jerman-DLR mengecek tahap akhir semua perlengkapan MASCOT berupa instrumen penelitian canggih dengan presisi tinggi menjelang peluncuran ke asteroid. Sebuah kapsul lain akan membawa sampel batuan dari asteroid kembali ke bumi.
Foto: DLR
Asteroid Yang Mengandung Air
Sejumlah asteroid menunjukkan indikasi adanya air. Seperti ilustrasi asteroid 24 Themis yang terbentuk akibat tabrakan dua benda langit sekitar dua milyar tahun lalu. Kebanyakan asteroid bersifat statis tapi sejumlah lainnya memiliki ekor seperti komet yang berasal dari sublimasi air dalam bentuk es pada permukaaannya.
Foto: picture-alliance/dpa
Asteroid Dekat Bumi
Kelompok asteroid dekat bumi termasuk 1999 JU3 yang akan diteliti Hayabusa2 terbentuk sekitar empat milyar tahun lalu dari debu dan gas di dalam tata surya. Obyek kosmis ini terjebak diantara orbit Yupiter dan Mars dan kemudian membentuk sabuk asteroid di wilayah langit tersebut. Dengan meneliti asteroid diharapkan bisa dilacak asal-usul air dan kehidupan di bumi.
Foto: NASA/JPL/JHUAPL
Komet Bisa Memicu Kehidupan
Walau diduga air di bumi berasal dari asteroid, komet yang merupakan benda langit purba seumur tata surya, diduga juga memiliki kontribusi besar bagi munculnya kehidupan di bumi. Komet kaya kandungan unsur karbon yang bersama hidrogen dan oksigen bisa membentuk senyawa organik yang esensial bagi munculnya kehidupan.