Mengenang Rosa von Praunheim, Sang Pionir Perjuangan LGBTQ+
19 Desember 2025
Dia tak bisa diam. Selama lebih dari lima dekade, ia mengubah wajah perfilman Jerman, menyutradarai lebih dari 150 film serta berpengaruh besar pada gerakan perjuangan hak-hak LGBTQ+. Karya-karyanya sering kali menimbulkan ketidaknyamanan, penuh warna, nada kemarahan, kadang menyinggung, tetapi selalu memicu pemikiran mendalam.
Rosa von Praunheim, yang meninggal pada tanggal 17 Desember di Berlin pada usia 83 tahun ini, meninggalkan jejak sebagai sosok perintis dalam dunia perfilman queer.
Lahir dengan nama Holger Radtke, von Praunheim muncul sebagai salah satu aktivis paling vokal dalam gerakan gay di Jerman pada awal kariernya. Ia memperjuangkan visibilitas dan menuntut perubahan, terkadang menggunakan metode yang keras untuk mencapai tujuannya.
Salah satu insiden yang terkenal adalah siaran langsungnya pada tahun 1991, di mana ia secara publik "mengungkap” identitas seksual bintang televisi Jerman, Hape Kerkeling dan Alfred Biolek, tanpa izin mereka. Tindakan radikal ini memicu skandal besar pada saat itu dan menimbulkan tekanan emosional yang signifikan bagi para selebriti tersebut; hingga kini, kontroversi itu masih menjadi perbincangan.
Kejadian ini menunjukkan betapa von Praunheim tidak kompromistis dan menyoroti keyakinannya bahwa keterbukaan adalah hal esensial untuk kemajuan. Meski para kritikus menuduhnya melampaui batas, para pendukungnya memuji keberaniannya. Sepanjang kariernya, von Praunheim menavigasi wilayah kompleks di antara kedua perspektif ini.
Film perpisahannya: "Satanic Sow"
Ia tetap aktif secara artistik sepanjang hidupnya, membuat film, menulis buku, dan menyutradarai pertunjukan teater. Karya terakhirnya, Satanic Sow (2025), menjadi legasinya: Bersifat autobiografis dan eksperimental, sekaligus refleksi atas hidupnya dan perpisahan. Von Praunheim menggambarkan film ini sebagai "sebuah puisi — dan puisi yang sangat eksperimental." Ketika ditanya mengapa ia membuatnya, ia menjawab sederhana, "Saya terus membuat film dan pertunjukan, jadi tidak ada alasan khusus. Saya melakukannya hanya untuk berkarya."
Dalam sebuah wawancara dengan DW pada Desember 2025, sutradara Rosa von Praunheim berbicara terbuka tentang kematiannya yang semakin dekat: "Ini adalah akhir hidup saya, dan saya akan segera meninggal. Saya memiliki tumor otak dan waktu saya tidak banyak."
"Saya menantikan kematian. Rasanya indah bisa beristirahat, tidak terus-menerus berlari-lari dan membuat satu film demi film berikutnya. Saya akan senang ketika menemukan kedamaian," tambahnya.
Sosok kunci dalam gerakan LGBTQ+
Von Praunheim dikenal sebagai sosok yang penuh kontradiksi. Berisik dalam karya seni, pendiam dalam kehidupan pribadi. Ketika ditanya apa yang ia sukai dari perfilman, ia menjawab dengan kering, "Tidak ada, sebenarnya. Selalu ada ketegangan dan rasa takut melakukan kesalahan."
Di balik sosok sutradara "enfant terrible” (anak yang menakutkan atau anak yang buruk perilakunya) itu, terdapat seseorang yang dipenuhi keraguan namun memilih untuk terus maju.
Dengan film dramanya It Is Not the Homosexual Who Is Perverse, But the Society in Which He Lives (1971), von Praunheim menjadi suara penting dalam gerakan LGBTQ+, menyoroti kehidupan kaum gay dan memicu diskusi yang bermakna.
Film ini merupakan seruan emansipasi bagi pria gay untuk bersatu dan memperjuangkan kebebasan mereka, menginspirasi terbentuknya banyak kelompok aktivisme homoseksual di Jerman Barat dan Swiss.
Karya-karyanya menantang norma sosial, memecah tabu, dan menghadapkan penonton pada berbagai isu. Pada tahun-tahun terakhirnya, ia menjadi lebih tenang. "Ketika saya muda, saya radikal. Selama waktu yang lama, saya tidak begitu aktif dalam scene gay dan politik. Saya menciptakan seni saya, dan itu saja."
Bagi von Praunheim, seni tidak harus selalu eksperimental: "Saya rasa perfilman queer bisa seperti perfilman lainnya, sepenuhnya individual. Ada ratusan cara untuk melakukannya. Tetapi perfilman queer juga harus radikal dan menantang masyarakat."
Sikap ini membentuk karyanya dan karya banyak orang yang mengikuti jejaknya. Ia berharap ada "kedamaian dan keadilan" bagi masa depan komunitas LGBTQ+. Ia sadar bahwa tugas ini akan tetap menantang bahkan di abad ke-21: "Banyak orang tidak terlalu progresif dan ingin semuanya tetap sama. Perubahan membuat mereka gila, sehingga mereka membenci apa pun yang tidak sesuai dengan 'normal'."
Mengekspresikan kequeerannya
Ia percaya hanya ada satu cara untuk mempromosikan toleransi dalam masyarakat: "Mengekspresikan kequeer-anmu dan mendukung gerakan feminis. Bagus memiliki kelompok orang yang saling mendukung."
Ia tidak mengharapkan film terakhirnya, Satanic Sow, mendapat perhatian besar. "Saya pikir orang tidak akan memahaminya, dan saya senang ada beberapa orang yang menyukainya."
Hanya beberapa hari sebelum kematiannya, Rosa von Praunheim menikah dengan pasangan lamanya, Oliver Sechting.
Ini adalah perpisahan yang tenang untuk kehidupan yang riuh. Von Praunheim memprovokasi, menginspirasi, menyakiti, dan menyembuhkan. Ia membuka pintu di mana orang lain tidak melihatnya dan menunjukkan bahwa seni dapat menjadi alat untuk kebebasan, visibilitas, dan perubahan.
Wawancara DW dengan Rosa von Praunheim dilakukan oleh Dima Elagin.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman.
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Yuniman Farid