Perundingan sengketa atom Iran di Wina, Austria, sulit menembus kebuntuan yang sudah terpateri selama 12 tahun. Perbedaan pendapat antara masyarakat internasional dan Iran sudah terlalu dalam.
Foto: Reuters
Iklan
Perundingan sengketa atom antara Iran dengan lima negara anggota tetap Dewan Keamanan ditambah Jerman nampaknya akan gagal mencapai kesepakatan hingga tenggat waktu Senin (24/11/14) tengah malam waktu Eropa. Kini para pihak yang berunding berupaya mencari kemungkinan memperpanjang waktu negosiasi.
Harapan cukup muluk digantungkan bahwa perundingan di Wina itu akan dapat mencapai kesepakatan pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran, yang efeknya juga diharap bisa mengubah situasi di Timur Tengah secara signifikan.
Semua pihak menyadari, harga yang harus dibayar jika perundingan gagal akan sangat tinggi. Baik bagi 76 juta rakyat Iran yang makin sengsara di bawah sanksi internasional, maupun bagi mitra dan musuh Iran di Timur Tengah. Sebuah kesepakatan yang lemah ditakutkan akan gagal mencegah ambisi Iran memiliki senjata atom. Sedangkan kegagalan akan makin mendorong Iran mewujudkan ambisinya menjadi anggota negara adidaya nuklir.
Gebrakan terakhir
Lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, masing-masing Inggris, Perancis, Amerika Serikat, Cina dan Rusia, ditambah Jerman yang disebuk grup P5+1 menggelar perundingan dengan Iran untuk berusaha mencapai kesepakatan terkait sengketa program atom Teheran.
Ambisi Program Atom Iran
Iran berulang kali menegaskan, program atomnya murni hanya untuk tujuan sipil. Tapi, pemanfaatan energi atom untuk tujuan sipil dan keperluan militer, hanya terpaut satu langkah.
Foto: Getty Images/AFP
Apa Niat Terselubung Iran?
Sejak bertahun-tahun memperluas know-how di bidang teknik nuklir. Badan energi atom internasional-IAEA meyakini, Iran hingga paling tidak hingga tahun 2010, berusaha membuat bom atom.
Foto: aeoi.org.ir
Ingin Bukan Berarti Bisa
Tapi juga diketahui, untuk memproduksi senjata atom yang berfungsi, termasuk sistem roket peluncurnya, merupakan tantangan teknologi sangat berat. Sederhananya, ada lima langkah yang harus ditempuh, dan tidak semua negara memiliki kemampuan itu.
Foto: aeoi.org.ir
Langkah Pertama : Material
Untuk membuat bom atom diperlukan unsur Uranium yang diperkaya atau Plutonium dengan kemurnian tinggi. Dalam hal ini Iran memiliki cukup cadangan Uranium, misalnya dari pertambangan Sarghand, yang ditambang untuk reaktor nuklir sipil. Artinya syarat pertama sudah terpenuhi.
Foto: PD
Langkah Kedua : Pengayaan Uranium
Uranium harus diperkaya menggunakan peralatan sentrifugal gas, agar lebih mudah meluruh. Untuk senjata atom, diperlukan pengayaan hingga 85 persen. Iran membeli sentrifugal canggih itu dari luar negeri, lewat perusahaan bayangan. November 2012 dilaporkan, Iran sudah mencapai tingkat pengayaan 20 persen.
Foto: picture-alliance/dpa
Langkah Ketiga : Hulu Ledak Nuklir
Uranium yang diperkaya kadar tinggi saja tidak cukup, untuk membuat bom atom yang bisa meledak. Para teknisi dan insinyur juga harus mampu mencetak logam berat itu menjadi bentuk tententu, agar lewat impuls terarah, bisa dipicu reaksi berantai. Sejauh ini tidak diketahui, apakah Iran sudah menguasai teknik ini.
Foto: picture-alliance/dpa
Langkah Keempat : Pemicu Ledakan
Teknik pemicu ledakan pada bom atom mirip sumbu peledak senjata konvensional. Iran sudah menguasai tekniknya. Selain itu, para ilmuwan Iran sudah membuat model algoritma dan melaksanakan ujicoba simulasi sifat-sifat hulu ledak.
Foto: AFP/Getty Images
Langkah Kelima : Sistem Roket Pengangkut
Iran juga sudah sukses mengujicoba roket yang bisa dimuati hulu ledak nuklir. Roket jarak menengah Shabab-3 sebuah varian dari roket Korea Utara Nodong-1, mampu mencapai sasaran sejarak 2000 kilometer.
Foto: picture-alliance/dpa
Keinginan Memiliki Senjata Nuklir
Tanpa pengawasan, sebuah program atom untuk tujuan sipil nyaris tidak bisa dibedakan dari yang bertujuan militer. Pada dasarnya instalasi tekniknya sama. Pertanyaan apakah Iran mampu membuat bom atom, atau sudah direalisasikan, jawabannya sangat tergantung dari keinginan para penguasa di negara itu.
Foto: Getty Images/AFP
8 foto1 | 8
Tapi Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier mengakui, perbedaan pendapat dengan Iran amat dalam serta masih jauh dari sebuah sukses. Menteri Luar Negeri Inggris Philip Hammond mengatakan kepada wartawan, pihaknya akan melakukan gebrakan terakhir Senin (24/11/14) yang diharap bisa menembus banyak hambatan.
Sejumlah pejabat tinggi barat memperkirakan, hanya akan terdapat dua opsi bagi perundingan sengketa atom Iran. Pertama menghentikan perundingan hari Senin ini, dan para pakar dari kedua belah pihak kembali bertemu beberapa pekan mendatang. Dan kedua menundanya hingga tahun depan dengan memasukkan berbagai elemen dari kesepakatan sementara tahun sebelumnya.
Walau begitu tercetus keraguan, apakah perundingan berikutnya masih memiliki manfaat? Mereka juga mempertanyakan kesiapan pimpinan revolusi Iran untuk membuat kompromi. Sebaliknya Teheran menuding Barat yang membuat perundingan buntu, dengan cara terus menerus mengajukan syarat yang tidak masuk akal.