Bagaimana jadinya bila para penyintas pelecehan seksual di masa kanak-kanak tumbuh dewasa dan menjadi orang tua dan membesarkan anak-anak mereka sendiri nantinya?
Banyak penyintas pelecehan seksual anak khawatir akan mewariskan beban trauma mereka kepada anak-anak mereka.Foto: Depositphotos/IMAGO
Iklan
Inilah fokus dari sebuah studi teranyar yang mengkaji peran penyalahgunaan masa lalu dalam peran orang tua. "Banyak penyintas sangat khawatir tentang apakah mereka bisa membesarkan anak atau tidak, karena dibayangi-banyangi trauma masa kecil mereka sendiri. Mereka dihantui pertanyaan: Bagaimana jika insiden itu terjadi pada anak saya juga? Bagaimana jika saya tidak bisa melindungi anak-anak saya," keluh Ava Anna Johannson, salah satu penyintas yang terlibat dalam studi yang dilakukan Komisi Penyelidikan Independen tentang Pelecehan Seksual Anak di Jerman.
Johannson sendiri adalah seorang penyintas pelecehan anak. Ia dibesarkan dekat Bremen di utara Jerman dan menjadi korban pelecehan seksual oleh kakeknya serta anggota keluarga lainnya sejak usia tiga tahun. Setelah menjalani masa kecil yang sulit dengan beberapa kali dirawat di klinik psikiatri, Johannson menyelesaikan sekolah, kuliah, menikah, dan memiliki anak.
Namun, pengalaman melahirkan anak pertamanya menyebabkan trauma dari pelecehan masa lalunya kembali muncul. "Saya sangat terkejut," jelasnya. "Saya merasakan sekali diperlakukan seperti objek, seolah-olah ini tidak ada hubungannya dengan saya dan kebutuhan saya, bahwa saya hanya jadi topik pembicaraan dan bukan diajak bicara."
Negara Dengan Angka Pemerkosaan Anak Tertinggi Dunia
Kasus Angeline menelanjangi kegagalan pemerintah melindungi anak-anak. Tapi Indonesia bukan yang terburuk. Berikut daftar negara dengan tingkat pelecehan seksual anak-anak tertinggi di dunia versi IB Times.
Foto: Juri Rescheto
Inggris
Hampir lima persen bocah di Inggris pernah mengalami pelecehan seksual. 90% di antaranya dilakukan oleh kenalan sendiri. Tahun 2012/13, kepolisian mencatat lebih dari 18.000 kasus pelecehan seksual terhadap bocah di bawah 16 tahun. Pada tahun yang sama 4171 pelecehan dan pemerkosaan dilakukan terhadap bocah perempuan di bawah usia 13 tahun.
Foto: Fotolia/NinaMalyna
Afrika Selatan
Setiap tiga menit seorang bocah diperkosa di Afrika Selatan, ini menurut penelitian Trade Union Solidarity Helping Hand. Studi laín mengungkap satu dari empat laki-laki mengaku pernah memperkosa seseorang dan sepertiganya meyakini perempuan menikmati pemerkosaan. Beberapa korban pemerkosaan bahkan baru berusia enam bulan. Korban juga sering terinfeksi HIV/AIDS setelah diperkosa.
Foto: Getty Images/AFP/O. Andersen
India
Asian Centre for Human Rights melaporkan pelecehan seksual kepada anak-anak sedang mewabah di India. Laporan terakhir menyebut ada lebih dari 48.000 bocah yang diperkosa selama sepuluh tahun sejak 2001. Tahun 2011 saja kepolisian mencatat 7112 kasus pemerkosaan anak-anak. Menurut IB Times, pelaku pemerkosaan anak di India mencakup ayah, saudara, tetangga, dan guru sekolah.
Foto: UNI/Reuters
Zimbabwe
Kepada harian lokal NewsdeZimbabwe, kepolisian mengklaim kasus pemerkosaan anak-anak meningkat tajam sejak 2010, dari 2883 kasus menjadi 3172 di tahun berikutnya. Dalam banyak kasus, kata kepolisian, "pelakunya berasal dari lingkungan keluarga." Sebuah rumah sakit di Harare mengabarkan, pihaknya menangani lebih dari 30.000 bocah korban pemerkosaan dalam periode empat tahun.
Foto: DW/A. Stahl
Amerika Serikat
"Akan ada 500.000 bayi lahir tahun ini di Amerika Serikat yang akan menjadi korban pelecehan seksual sebelum mereka berusia 18 tahun," tulis Children Assessment Centre (CAC). Kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak tergolong tinggi di AS. Menurut data Departemen Kesehatan, 16% remaja antara 14 hingga 17 tahun mengaku pernah menjadi korban pelecehan seksual atau pemerkosaan.
Foto: Frederic J. Brown/AFP/Getty Images
Indonesia
Kendati tidak termasuk dalam daftar negara dengan tingkat pelecehan seksual anak tertinggi di dunia, Indonesia mencatat kemunduran dalam hal perlindungan anak. Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat, 2014 silam dari 2.726 kekerasan terhadap bocah, 56% di antaranya berupa pelecehan seksual. Dari jumlah tersebut cuma 179 yang mengadu kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.
Foto: Juri Rescheto
6 foto1 | 6
Perlakuan medis yang mengingatkan pada trauma masa kecil
Johannson mengaitkan perlakuan yang diterimanya dari tenaga medis saat melahirkan dengan pengalaman pelecehan yang dialaminya ketika kecil, seperti perasaan tidak berdaya yang sama.
Iklan
Prosedur medis untuk memperbesar saluran lahir, yang disebut episiotomi, sangat traumatis baginya (Ed: Episiotomi adalah prosedur medis yang dilakukan selama persalinan untuk membuat sayatan kecil di area perineum (bagian antara vagina dan anus) ibu hamil. Tujuan utama episiotomi adalah untuk memperbesar saluran lahir guna memfasilitasi kelahiran bayi, terutama jika ada kebutuhan mendesak untuk mempercepat proses persalinan atau jika ada risiko robekan perineum yang lebih parah).
"Bagian itu disayat untuk memaksa bayi keluar tanpa memberi saya aba-aba," tuturnya kepada DW. "Saya rasa ada kemiripan yang kuat di sini dengan pelecehan … kita hanya diharapkan bisa bersyukur bahwa bayinya sehat dan memuji-muji bayi itu."
Para penulis studi ini mengumpulkan data dari lebih dari 600 penyintas pelecehan seksual anak berusia antara 20 hingga 70 tahun, 84% di antaranya adalah perempuan.
Mereka menulis bahwa kekerasan dan ketidakpedulian selama persalinan adalah masalah besar dalam kebijakan sosial, kesehatan, dan perempuan. Pelatihan sensitif terhadap trauma yang ditargetkan dan pendirian layanan dukungan profesional yang komprehensif sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini.
Inilah Provinsi Paling Rawan Pelecehan Seksual
Indonesia belakangan didaulat sedang menghadapi darurat pemerkosaan dan pelecehan seksual. Ironisnya provinsi Aceh tergolong yang paling banyak mencatat kasus pencabulan terhadap perempuan dan anak-anak.
Foto: Imago/Xinhua
Darurat Pelecehan Seksual?
Menurut data Komisi Nasional Perempuan, tahun 2016 Indonesia mencatat lebih dari 6000 kasus kekerasan seksual. Sebagian di antaranya terjadi di rumah tangga. Sementara sisanya di komunitas-komunitas sosial. Tapi provinsi mana yang paling rawan tindak kekerasan seksual?
Foto: Getty Images
#1. Aceh
Yayasan Kita dan Buah Hati mendaulat Aceh sebagai provinsi dengan tingkat kasus pelecehan seksual tertinggi di Indonesia. Korban tidak cuma perempuan. Menurut data Badan Pemberdayaan Perempuan dan Anak-anak, daerah Syariat Islam itu tahun 2015 mencatat 147 kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur.
Foto: picture-alliance/dpa/H. Simanjuntak
#2. Jawa Timur
Lembaga Bantuan Hukum Surabaya mencatat sepanjang tahun 2015 terdapat 116 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak-anak di Jawa Timur. Angka tersebut sudah banyak menurun dari tahun sebelumnya yang sebesar 183 kasus kekerasan.
Foto: Getty Images
#3. Jawa Barat
Setiap bulan 17 perempuan di Jawa Barat mengalami pelecehan seksual. Catatan muram tersebut berasal dari Data Kekerasan Seksual yang dipublikasikan Komisi Nasional untuk Perempuan. Menurut Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, kabupaten Bandung dan Bandung Barat menjadi daerah yang mencatat kasus kekerasan seksual tertinggi.
Foto: Imago/Xinhua
#4. DKI Jakarta
Menurut data kepolisian, sepanjang 2014 Jakarta mencatat 63 kasus pemerkosaan terhadap perempuan. Sementara kasus pelecehan seksual yang melibatkan bocah di bawah umur tercatat hampir mendekati angka 300 kasus.
Foto: Ulet Ifansasti/Getty Images
#5. Sumatera Selatan
Tahun 2014 Sumatera Selatan mencatat 111 kasus pemerkosaan dan pelecehaan seksual terhadap perempuan. Jumlahnya tidak banyak berubah di tahun 2015.
Foto: Getty Images/U. Ifansasti
6 foto1 | 6
Jaringan dukungan lebih banyak dibutuhkan untuk penyintas
Studi ini memberikan sejumlah rekomendasi kepada pembuat kebijakan dan profesional perawatan, seperti bidan, agar para penyintas dapat didukung lebih baik dalam perencanaan keluarga dan kehidupan sehari-hari mereka sebagai orang tua. Hal ini termasuk dukungan khusus untuk anak-anak di taman kanak-kanak dan sekolah.
"Pengalaman traumatis dapat diteruskan ke generasi berikutnya, tetapi itu bukan takdir. Bahayanya bukanlah orang tua yang pernah mengalami kekerasan, tetapi bahaya adalah ketika mereka tidak mendapatkan dukungan yang cukup dan dibiarkan sendirian," ujar sosiolog Barbara Kavemann, salah satu penulis studi, kepada DW.
Masalah lain yang diungkapkan oleh peserta studi, terutama pria, adalah ketakutan bahwa mereka bisa menjadi pelaku — dan hal ini tidak hanya menghalangi mereka untuk memiliki anak tetapi juga untuk mencari dukungan yang sangat dibutuhkan. "Mereka takut untuk meminta dukungan dari konseling, kesejahteraan anak, dan bantuan lembaga lainnya karena mereka akan distigmatisasi sebagai korban kekerasan dan diberitahu bahwa mereka tidak dapat merawat anak-anak mereka," jelas Kavemann.
Penyintas pelecehan seksual anak sering kali telah kehilangan jaringan dukungan keluarga mereka.Foto: Ute Grabowsky/photothek/IMAGO
Sebagian besar pelecehan seksual terhadap anak terjadi dalam keluarga, dan hampir seperempat orang tua yang disurvei melaporkan kesulitan menghindari anak-anak mereka berhubungan dengan pelaku. Salah satu rekomendasi adalah untuk memperbaiki jaringan dukungan bagi mereka yang telah kehilangan jaringan dukungan keluarga mereka, baik karena mereka dikucilkan atau karena mereka secara aktif menjauhkan diri karena keluarga mereka tidak ingin menjauh dari pelaku.
"Kelompok swadaya juga memainkan peran yang sangat penting," jelas Kavemann, sambil menambahkan bahwa staf di pusat perencanaan keluarga dan konseling "hampir tidak tahu apa-apa" tentang topik ini.
Penting juga bagi orang tua untuk menjelaskan kepada anak-anak mereka ketika mereka mencapai usia yang tepat, tentang apa yang terjadi di masa lalu dan untuk bisa menjawab pertanyaan, yang membantu meringankan beban baik bagi orang tua maupun anak, demikian menurut Kavemann: "Anak-anak bisa menghadapinya selama mereka tahu dan bisa melihat bahwa mereka dan orang tua mereka memiliki hak untuk mendapatkan dukungan, dan yang terpenting, bahwa mereka tahu itu bukan salah mereka. Itu sangat penting," tandasnya.
Johansson setuju bahwa banyak hal yang berubah baginya ketika ia akhirnya bisa berbicara kepada anak-anaknya tentang apa yang terjadi padanya ketika masih bocah. "Itu dimulai ketika saya memberi tahu mereka bahwa saya kini merasa baik-baik saja, bahwa ada alasan untuk bisa mencapai kondisi tersebut dan bahwa saya mencari bantuan. Itu selalu yang paling penting bagi saya, agar anak-anak saya tidak perlu khawatir tentang saya, bahwa mereka tidak merasa bersalah dan saya mendapatkan bantuan," katanya.
Solusi Inovatif untuk Mengatasi Kasus Pelecehan Seksual
Hampir satu dari tiga perempuan pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual setidaknya sekali seumur hidup, demikian laporan WHO 2021 lalu. Berikut ragam solusi digital sebagai upaya atasi pelecehan seksual.
Foto: Montira Narkvichien/UN Women | CC BY-NC-ND 2.0
Cincin alarm
Katya Romanovskaya awalnya pernah diserang. Pengalaman ini mendorongnya mendirikan perusahaan Nimb, yang menciptakan tombol darurat berbentuk cincin. Perhiasan buatan Rusia ini dirancang untuk memberi rasa aman pada perempuan. Jika tidak sengaja mengaktifkan peringatan, pengguna dapat membatalkannya dalam hitungan 20 detik. Namun, ada kata sandinya, jadi tidak semua orang bisa menghapusnya.
Foto: Mark Lennihan/AP/picture alliance
Cara kerja Nimb
Pengguna mengirimkan peringatan dan lokasi ke daftar nomor telepon yang telah dipilih sebelumnya. Pesan disampaikan dalam bentuk pemberitahuan baik berupa getaran, panggilan telepon, atau email. Orang yang memakai Nimb akan melihat cincin mereka bergetar dan tahu bahwa ada teman dan kerabat dalam bahaya. Informasi peringatan itu juga diteruskan ke layanan darurat dan kantor polisi.
Foto: Stephen Chung/ZUMA/imago
Berbicaralah kepada Spot
Insinyur dari Jerman dan Swiss menciptakan Spot, sebuah chatbot khusus yang memungkinkan karyawan melaporkan tuduhan pelecehan seksual secara anonim. Bot diprogram untuk mengajukan pertanyaan dan memberikan informasi serta saran untuk membantu mereka menyelidiki insiden ini. Jawaban akan dirangkum ke dalam PDF, dengan lembar sampul yang tampak formal, yang dapat dikirim melalui email ke HRD.
Foto: Andriy Popov/PantherMedia/imago images
Sis bot buatan Thailand
Letkol Peabrom Mekhiyanont membuat chatbot yang memberikan informasi 24/7 bagi para penyintas kekerasan seksual. Bot ini dapat diakses melalui perangkat seluler atau komputer. Penyintas dapat mengirim pesan lewat Facebook Messenger, dan nanti akan otomatis dipandu terkait bagaimana cara melapor ke polisi, cara menyimpan barang bukti, dan layanan dukungan yang didapat para penyintas secara hukum.
Foto: Montira Narkvichien/UN Women | CC BY-NC-ND 2.0
Terkoneksi di malam hari dengan bthere
Aplikasi ini ditujukan untuk pengguna yang berusia 18-22 tahun demi mengurangi kasus kekerasan seksual yang terjadi di kampus-kampus di AS. Teknologi ini berupaya untuk membantu penggunanya menghindari situasi berbahaya dengan mendorong mereka terkoneksi di malam hari. Alat ini dilengkapi dengan fitur berkirim pesan, berbagi lokasi, bahkan hadiah yang mendorong pengguna habiskan waktu bersama.
Foto: bthere
Bagaimana cara kerja bthere?
Pengguna mendaftar dan membuat "lingkaran" dengan teman kampus, keluarga, atau teman serumah, yang dapat bersifat permanen atau sementara, misalnya hanya untuk keluar malam di hari tertentu. Aplikasi ini memiliki dua tujuan yakni menjaga anak muda tetap aman, tetapi juga memberi peluang agar mereka menghabiskan lebih banyak waktu bersama dalam kehidupan nyata, dengan memanfaatkan kekuatan digital.
Foto: bthere
Callisto di kampus di Amerika Serikat
Kasus kekerasan seksual di berbagai kampus di AS mendasari terbentuknya Callisto. Platform ini dapat mendeteksi pelaku kekerasan seksual dengan teknologi AI yang menjalankan fungsi pencocokan. Penyintas akan melaporkan rincian pelaku ke dalam sistem, lalu penyintas lain juga memberi rincian serupa. Dengan cara ini, pelaku berantai dapat diidentifikasi terlepas dari afiliasi universitas.
Foto: Spencer Grant/imago images
Safecity di India
Dibentuk setelah kasus pemerkosaan Nirbhaya Gang 2012 di India, platform Safecity menjadi tempat berbagi cerita tentang pelecehan seksual atau pemerkosaan yang terjadi. Dengan menggunakan teknologi AI, secara visual akan terlihat lokasi berbahaya, dan rute aman. Lewat laporan berbasis crowdsoursing ini, otoritas keamanan dan pembuat kebijakan diharapkan dapat menciptakan ruang aman. (ts/ha)
Foto: safecity
8 foto1 | 8
Monumen yang diusulkan sebagai pengakuan bagi penyintas pelecehan
Dibentuk pada 2016 oleh Majelis Rendah Parlemen, komisi yang melakukan studi ini telah menyelidiki sejauh mana, sifat, dan akibat dari kekerasan seksual terhadap anak-anak dan remaja di Jerman. Komisi ini melakukan wawancara dan menerbitkan laporan dengan rekomendasi, untuk pencegahan hal serupa di masa depan dan bagaimana memberi pengakuan yang sesuai bagi para penyintas.
Informasi yang tepat tentang seberapa meluasnya pelecehan seksual anak di Jerman tidak tersedia karena kurangnya data. Ini jadi masalah yang telah diminta oleh Organisasi Kesehatan Dunia, WHO untuk diperbaiki agar masalah ini bisa dibicarakan secara lebih terbuka. Statistik terbaru dari Badan Kriminal Jerman memperkirakan sekitar 54 anak dan remaja setiap hari menjadi korban pelecehan seksual di Jerman.
Salah satu gagasan yang dibahas dalam laporan tersebut adalah untuk membuat situs peringatan sebagai pengakuan bagi mereka yang terdampak pelecehan seksual anak yang memilih untuk tidak memiliki anak sebagai akibat dari pengalaman mereka atau yang tidak dapat melakukannya karena kerusakan fisik yang ditimbulkan oleh pelaku.
Ini adalah ide yang juga disambut baik oleh Johannson, yang masih berjuang dengan dampak dari pelecehan yang pernah dialaminya. "Saya memiliki awal hidup yang sulit, tetapi saya mencoba melakukan yang terbaik dan saya rasa saya berhasil membesarkan anak-anak saya," ujarnya. "Namun tidak ada tempat bagi saya untuk mendapatkan pengakuan resmi untuk apa yang terjadi pada saya atau mendapatkan kompensasi. Itu adalah pil yang sangat pahit untuk ditelan."