1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Kesehatan

Menjalani Operasi di Jerman di Masa Pandemi Corona

Syafa Haack
6 November 2020

Selama pandemi corona, kunjungan ke dokter pun jadi berbeda. Tak ada jabat tangan, dan masker harus selalu dipakai selama masa kunjungan. Oleh: Syafa Haack

Berkas untuk operasi di klinik ortopedi Jermand
Berkas untuk operasi di klinik ortopedi JermanFoto: Privat

Pertengahan Oktober lalu saya dijadwal operasi oleh dokter ortopedi saya. Sudah agak lama lutut kiri saya terasa nyeri. Terutama bila berjongkok dan bangun dari tempat yang rendah. Sebelumnya saya disuruh melakukan MRT untuk mengecek apa yang terjadi pada lutut saya tersebut. Rutinitas kontrol hingga proses operasi dilakukan di salah satu klinik di Travemünde-Lübeck. Saya ingin berbagi kisah tentang pengalaman operasi penanganan lutut kiri saya tersebut di tengah serangan pandemi corona yang belum juga mereda di Jerman.

Syafa HaackFoto: Privat

Kunjungan ke klinik ortopedi sudah saya lakukan sebelum terjadi pandemi korona. Dibanding selama korona tentu terjadi perubahan prosedur yang harus dilalui selama kontrol. Di antaranya pembatasan pasien yang harus ditangani dan jumlah pasien menunggu di ruang tunggu. Di klinik ortopedi yang saya kunjungi yang kebetulan memiliki gedung yang cukup besar, mereka mengubah letak ruang tunggu ke ruang yang lebih luas dan nyaman. Bangku-bangku diatur sedemikian rupa sehingga ada cukup jarak duduk antara satu pasien dengan pasien lainnya. Selain itu, hanya pasien saja yang boleh masuk. Jadi bila si pasien datang bersama kerabat, mereka harus menunggu di luar. Dalam kondisi seperti ini diam-diam saya merasa bangga pada diri sendiri karena selama masa kontrol, berkomunikasi dengan tim medis dan aktivitas lain yang dilakukan untukm persiapan operasi, semuanya saya lakukan sendiri. Tanpa pendamping 😊

Kontak fisik antara tim medis dan pasien juga diminimalisir. Dalam beberapa kasus sebelum corona, dokter biasanya menjabat tangan pasien sebagai tanda salam saat konsultasi. Aktifitas yang otomatis lenyap selama masa corona. Tak ada jabat tangan. Kartu asuransi yang biasa diserahkan pada resepsionis saat awal mendaftar pun kini dimasukkan sendiri oleh si pasien pada mesin kecil pembaca kartu. Dan tentu saja, masker yang harus selalu dipakai selama masa kunjungan.

Operasi di klinik Jerman tanpa menginap

Operasi yang saya alami tidak perlu rawat inap. “Ambulante Operation” istilahnya atau sering disebut juga dengan “Ambulante OP”. Ini bukan operasi di dalam ambulance melainkan begitu operasi yang tak perlu rawat inap. Begitu operasi selesai dan si pasien siuman ia akan pulang ke rumah. Dengan kondisi yang belum sepenuhnya pulih tentu saja. Karena besoknya pasien akan diminta datang lagi untuk kontrol. Untuk kasus saya, sebelum hari H saya sudah diminta menebus dan membawa alat bantu penopang kaki begitu saya datang ke klinik untuk dioperasi. Selain itu ada persiapan lain yang harus saya lakukan menjelang hari-hari pembedahan lutut kiri saya.

Ruang tunggu di klinik yang sudah direnovasi selama masa pandemi coronaFoto: Privat

1) Kontrol ke dokter umum („Hausartzt“ atau „Allgemeinmedizin“ dalam istilah Jerman). Kunjungan ke dokter umum ini untuk kontrol darah dan memastikan bahwa kondisi pasien fit untuk dioperasi. „Termin“ atau jadwal kunjungan ke dokter umum ini harus dilakukan oleh si pasien sendiri. Hasil dari kunjungan ini akan ada surat keterangan dari dokter umum tersebut yang harus dibawa dan diserahkan ke klinik pada hari kunjungan operasi. Oh ya, karena tempat praktek dokter umum yang saya kunjungi kecil, selama korona ini pasien tak menunggu panggilan giliran periksa di ruang tunggu, melainkan menunggu di luar gedung praktek. Untungnya saat jadwal saya berkunjung cuaca cerah dan tidak turun hujan 😊

2) Menebus obat-obat yang diperlukan dalam proses operasi. Untuk kasus saya, obat-obatan ini tak ditanggung asuransi. Saya harus membayar extra. Ada dua tempat yang harus saya kunjungi. Apotik untuk menebus obat penghilang rasa nyeri, suntikan anti thrombosis atau penggumpalan darah  karena saya akan tidak bisa melakukan aktifitas seperti biasa dan obat bius untuk keperluan operasi. Selain itu saya juga harus pergi ke Sanitätshaus (toko perlengkapan medis) untuk membeli kruk penopang kaki dan sarung kaki yang harus saya kenakan pasca operasi.

3) Membuat janji dengan psioterapi untuk latihan berjalan (Krankengymnastik) pasca operasi.

Tidak boleh ada pendamping

Saya mendapat bius total selama operasi. Sehari sebelumnya saya ditelpon oleh dokter anestesi yang menjelaskan apa saja yang harus saya lakukan di jam-jam terakhir sebelum keberangkatan saya ke klinik. Utamanya puasa yang harus dilakukan 6 jam sebelum operasi dilakukan. Operasi ini bukan yang pertama buat saya. Sebelumnya saya sudah mengalami beberapa kali operasi di rumah sakit di Jerman. Pada saat saya mengalami keguguran dan saat melahirkan anak kedua saya secara sesar. Jadi sedikit banyak saya punya pengalaman. Tetapi tetap saja saya merasa dag dig dug menjelang hari H. Apalagi saya akan menjalani semuanya sendiri.

Operasi kali ini akan dilakukan secara berbeda karena pandemi. Tak ada suami yang menunggu di ruang tunggu dan akan berada di samping saya saat saya siuman seperti yang saya alami pada operasi-operasi sebelumnya. Pada hari pelaksanaan operasi, suami hanya mengantar sampai di depan gedung klinik. Ia akan ditelpon untuk menjemput begitu operasi selesai dengan posisi tetap berada di luar gedung klinik.

Untungnya segalanya berjalan lancar. Saya sempat merasa de javu saat memasuki ruang operasi. Saat suntikan bius perlahan merasuki tubuh saya dan saya tak berdaya melakukan apapun. Lalu saya tak ingat apapun sampai perawat membangunkan saya dengan kaki kiri yang terbungkus perban. Operasi yang dilakukan tanpa ciuman perpisahan dari suami yang menunggu di ruang tunggu operasi dan belaian hangatnya begitu saya siuman. Kami hanya bisa melakukan salam perpisahan di tempat parkir dan suami yang melambai-lambai melihat kedatangan saya keluar gedung klinik dengan kruk di kedua tangan.

*Syafa Haack adalah alumni program master Universitas Osnabrück, Jerman. Menetap di Jerman sejak tahun 2011. Vlogger untuk channel Youtube: “Ads-Kds Aku di Sini Kau di Sana” (www.youtube.com/channel/UCeC771ZoAcIAV1EASrHKB2A) untuk berbagi kisah selama tinggal di Jerman.

**DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman unik di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan 1 foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri. (hp)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait