Mensos Saifullah Yusuf mengungkap masih adanya salah sasaran dalam BPJS BPI TK. Puluhan juta warga miskin belum menerima PBI JK. Sementara, 15 juta warga mampu justru tercatat sebagai penerima bantuan kesehatan.
Menteri Sosial ungkap masih adanya salah sasaran penerima BPJS BPI TKFoto: Wisnu Agung Prasetyo/ZUMA/picture alliance
Iklan
Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan masih banyak persoalan salah sasaran dalam program BPJS Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK). Gus Ipul menyebut sebanyak 54 juta penduduk miskin belum menerima PBI JK.
Hal itu disampaikan Gus Ipul dalam rapat bersama Pimpinan DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (9/2). Gus Ipul mengatakan sekitar 15 juta orang yang tergolong mampu malah tercatat sebagai penerima.
"Berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), masih ada penduduk desil 1 sampai 5 yang belum menerima PBI JK, sementara sebagian desil 6 sampai 10 masih tercatat sebagai penerima,” kata Gus Ipul.
"Desil 1 sampai 5 yang belum menerima PBI cukup besar, yaitu sebesar 54 juta jiwa lebih, sementara desil 6 sampai 10 dan non-desil mencapai 15 juta lebih, di mana yang lebih mampu terlindungi, yang lebih rentan justru menunggu,” sambungnya.
Gus Ipul mengatakan data tersebut diperoleh pada 2025. Sebab itu, pihaknya mulai memanfaatkan pembagian desil sebagai dasar perbaikan penyaluran bantuan.
Lima Tahun Sejak Pandemi, COVID-19 Masih Jadi Momok
Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan lebih 7 juta orang meninggal akibat COVID-19. Lima tahun setelah pecahnya pandemi, pemimpin dunia dan masyarakat masih harus menghadapi dampaknya.
Foto: LUIS TATO/AFP/Getty Images
Situasi darurat global
Desember 2019, penyakit paru-paru baru didiagnosis di Wuhan, Cina dan menimbulkan kematian. Dalam beberapa minggu, virus corona baru memicu tantangan global: Tanggal 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan COVID-19 sebagai pandemi. Otoritas kesehatan dengan cepat mengembangkan tes usap untuk mendiagnosis penyakit ini, dalam foto sedang dilakukan oleh tenaga medis di Beijing
Foto: NOEL CELIS/AFP/Getty Images
Petugas medis bekerja hingga lewat batas
Dengan cepat menjadi jelas bahwa COVID-19 sering kali berakibat fatal, terutama bagi warga lanjut usia atau mereka yang sebelumnya memiliki catatan kondisi medis. Tenaga medis seperti perawat ini di Brussels ini bekerja hingga kelelahan. Fakta bahwa virus ini terus bermutasi selama pandemi, menambah tantangan dunia medis.
Foto: ARIS OIKONOMOU/AFP/Getty Images
Sistem kesehatan nyaris ambruk
Jumlah pasien yang sangat banyak membuat banyak rumah sakit mencapai batasnya. Di rumah sakit di kota Chongqing, Cina, Desember 2022 tempat tidur dijejali di lobi rumah sakit. Di India, sistem kesehatan nyaris ambruk, dengan orang-orang yang putus asa menunggu di luar fasilitas kesehatan yang penuh sesak. Saat itu India mencatatkan 2.000 kematian per hari akibat COVID-19.
Foto: NOEL CELIS/AFP/Getty Images
Italia kewalahan
Di Eropa, Italia terdampak sangat berat. Akhir Maret 2020, truk militer mulai mengangkut korban meninggal COVID-19 di Bergamo ke krematorium di sekitar area, karena fasilitas di kota tersebut sudah kelebihan beban. Lombardy pernah mencatatkan 300 kasus kematian hanya dalam satu hari.
Foto: MIGUEL MEDINA/AFP/Getty Images
Masker: Repot tapi perlu
Kala itu, sulit membayangkan kehidupan sehari-hari tanpa masker wajah, yang sangat penting untuk membantu membatasi penyebaran virus. Di awal pandemi, masker dijahit dari kain, tetapi masker N95 segera menjadi standar. Di banyak tempat, memakai masker di tempat umum menjadi kewajiban selama dua tahun lebih. Peneliti menegaskan, masker yang dipakai dengan baik, membantu mengurangi sebaran infeksi
Foto: MAHMUD HAMS/AFP/Getty Images
Sepinya jalanan bagai dikota hantu
Jalanan New York sepi sejak tahap awal pandemi. Hampir semua negara menerapkan pembatasan kontak dan lockdown (penguncian) panjang untuk melindungi orang dari virus. Tempat penitipan anak dan sekolah sebagian besar tetap tutup, begitu juga kafe, restoran, pub, kolam renang, dan salon rambut. Di mana-mana orang berusaha bekerja dari rumah.
Foto: TIMOTHY A. CLARY/AFP/Getty Images
"Bye, bye" kehidupan sosial
Pandemi memaksa banyak bisnis terhenti. Perdagangan dan perekonomian runtuh, dan kehidupan sosial terputus di mana-mana, sehingga menyebabkan krisis keuangan global. Bahkan setelah pembatasan dilonggarkan, langkah-langkah perlindungan tetap diberlakukan, misalnya pemakaian layar pembatas plastik di toko dan restoran, seperti yang terlihat di ibu kota Thailand, Bangkok
Foto: MLADEN ANTONOV/AFP/Getty Images
Atur jarak, jangan derkat-dekat, ah!
Di Mission Dolores Park, San Francisco, lingkaran di rumput menunjukkan seberapa dekat orang diperbolehkan duduk, jarak tersebut dimaksudkan untuk meminimalkan risiko infeksi. Meskipun infeksi menurun selama bulan-bulan musim panas, langkah-langkahhigiene, dengan jaga jarak sering kali tetap ketat. Di beberapa negara, orang bahkan tidak diperbolehkan meninggalkan rumah mereka.
Foto: JOSH EDELSON/AFP/Getty Images
Antre vaksinasi
Agustus 2021, para warga India akhirnya bisa divaksinasi dengan vaksin Covishield. Di Uni Eropa, vaksin COVID-19 pertama dari BioNTech/Pfizer tersedia akhir 2020. Lalu, vaksin dari Moderna dan AstraZeneca disetujui melalui prosedur percepatan. Orang lanjut usia dan sakit, dan tenaga kesehatan, menjadi yang pertama divaksin. Banyak negara miskin harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan vaksin.
Foto: DIPTENDU DUTTA/AFP/Getty Images
Dilarang biar aman, malah protes
Langkah-langkah ketat untuk memperlambat sebaran COVID-19 mendapat penolakan dari beberapa kalangan di seluruh dunia, seperti yang terlihat di Paris pada September 2021. Di banyak negara, termasuk Jerman, ekstremis sayap kanan menyusup ke dalam protes tersebut. Teori konspirasi jadi bagian tak terpisahkan dari oposisi menentang kebjiakan resmi dan vaksin. Virus corona diklaim 'senjata biologis.'
Foto: BENOIT TESSIER/REUTERS
Balik lagi ke sekolah
Di Jerman, anak-anak kembali ke sekolah setelah liburan musim panas 2020, setelah berbulan-bulan belajar di rumah akibat lockdown (penguncian). Homeschooling menjadi ujian berat bagi orang tua dan siswa, dan menurut studi, bahkan lima tahun setelah pandemi dimulai, banyak anak dan remaja masih menderita kesepian dan masalah kesehatan mental.
Foto: INA FASSBENDER/AFP/Getty Images
Kompetisi tanpa sorak sorai
Pada Juli 2021, para pesepeda ini menunjukkan keterampilan mereka di Olimpiade Tokyo, namun hampir tidak ada yang bisa mendukung mereka. Setelah pecahnya pandemi, acara olahraga yang awalnya direncanakan pada 2020 ditunda setahun — namun virus corona masih menguasai dunia setahun kemudian. Akibatnya, Olimpiade Musim Panas digelar di depan tribun yang sebagian besar kosong.
Foto: LIONEL BONAVENTURE/AFP/Getty Images
Berakhir dengan kewaspadaan
Organisasi Kesehatan Dunia WHO mengakhiri keadaan darurat kesehatan internasional 5 Mei 2023, namun menyatakan virus corona tetap berbahaya. Menurut WHO, sekitar 7 juta orang dipastikan meninggal akibat COVID-19, namun perkiraan lain menyebutkan jumlah totalnya mencapai 20 juta. Di London, simbol hati merah digunakan untuk memperingati orang-orang yang meninggal akibat COVID-19.
Foto: JUSTIN TALLIS/AFP/Getty Images
13 foto1 | 13
"Kita masih perlu melakukan cross-check lebih luas lagi, karena pada tahun 2025 itu kami hanya mampu meng-cross-check 12 juta KK lebih, padahal seharusnya lebih dari 35 juta KK,” ujarnya.
"Maka itulah kita kemudian bekerja sama dengan daerah untuk melakukan verifikasi dan validasi cepat. Tetapi saya rasa itu masih belum cukup, dan seharusnya harus ada lagi suatu upaya yang lebih nyata sehingga data kita makin tahun makin akurat,” sambung Gus Ipul.
Sebab itu, dia mengatakan ada pengalihan secara bertahap dari Mei 2025 sampai Januari 2026. Hal itulah, kata dia, yang mengakibatkan inclusion error dan exclusion error turun signifikan.
Exclusion error ialah orang yang seharusnya mendapatkan PBI, tetapi tidak mendapatkannya. Sementara itu, inclusion error merupakan orang yang seharusnya tidak mendapatkan PBI, tetapi justru mendapatkannya.
"Jadi, alhamdulillah sebenarnya kalau kita berpedoman pada desil, error-nya semakin kecil. Masih ada yang di atas desil 5 dan desil yang belum diranking karena hasil reaktivasi, termasuk 6.000 penderita penyakit katastropik dan bayi baru lahir yang seharusnya di-cover oleh PBI JK.”