1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KeragamanIndonesia

Merawat Kerukunan Beragama di Indonesia

24 Maret 2026

Menteri Agama menyebut indeks kerukunan beragama Indonesia tertinggi dalam 11 tahun terakhir. Lebaran 2026 menjadi momen merawat kebersamaan lintas iman.

Daniel dan anak-anak di lintasan rel kereta api Jatinegara
Komunitas Gumul Juang menanamkan nilai toleransi dan kerukunan beragama kepada anak-anak kolong rel Jatinegara, Jakarta.Foto: Ausirio Sangga Ndolu

Kerukunan umat beragama di Indonesia menunjukkan tren yang semakin positif. Pada Desember 2025, pemerintah merilis Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) yang mencapai skor tertinggi dalam 11 tahun terakhir.

"Berdasarkan hasil pengukuran nasional, Indeks Kerukunan Umat Beragama Tahun 2025 tercatat sebesar 77,89 dan berada dalam kategori tinggi," kata Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Agama, Muhammad Ali Ramdhani.

Survei tersebut mengukur tiga indikator utama, yakni toleransi, kesetaraan, dan kebersamaan. Di balik angka itu, kerukunan tidak hanya hidup dalam data, tetapi juga tumbuh dari praktik sehari-hari yang kerap luput dari perhatian.

Lebaran 2026 pun menjadi momen untuk kembali merawat nilai-nilai tersebut. Dimulai dari hal kecil, dari cara kita hadir, berbagi, dan memandang sesama.

Berbagi tanpa sekat iman di kolong rel Jatinegara

Di bawah kolong rel kereta Jatinegara, Jakarta Timur, praktik toleransi lintas agama tumbuh dalam keseharian yang sederhana. Di ruang sempit yang jauh dari gemerlap kota, anak-anak belajar, bermain, dan menjalani Ramadan bersama.

Menjelang waktu berbuka, mereka mulai berkumpul. Ada yang duduk melingkar, ada pula yang tetap bermain bersama temannya. Di tengah segala keterbatasan yang ada, suasana terasa hangat. Kebersamaan hadir tanpa banyak syarat.

Di antara mereka, Daniel ikut duduk dan berbaur. Seorang guru agama Kristen berusia 33 tahun yang sudah 15 tahun rutin mengunjungi tempat ini. Pada hari kerja, ia mengajar di sebuah sekolah terpadu. Namun setiap akhir pekan, ia kembali ke kolong rel untuk mendampingi 96 anak yang seluruhnya beragama Islam.

Daniel tadinya ingin menjadi pendeta, tapi ia kemudian memutuskan jadi guru agama.Foto: Ausirio Sangga Ndolu

Kehadirannya bukan sesuatu yang instan. Ia merupakan bagian dari perjalanan panjang Komunitas Gumul Juang, yang didirikan sejumlah calon pendeta dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta pada 2009.

Namun setelah komunitas ini berdiri, banyak di antara para pendiri telah memilih jalurnya masing-masing untuk melayani Gereja. Alhasil, Daniel pun kini seorang diri dalam menjalani seluruh kegiatan Komunitas Gumul Juang.

Selama bertahun-tahun, Daniel hidup berdampingan untuk memahami kehidupan warga kolong rel Jatinegara dari dekat, bahkan tinggal bersama mereka.

"Kami ingin menyatu dengan warga dan hidup bersama-sama. Kami bahkan sempat tinggal bersama mereka lebih dari lima tahun," kata Daniel.

Dari situ, hubungan yang terbangun melampaui sekadar relawan dan penerima bantuan. Daniel menyebut orang tua di sana sebagai "mamah" dan "ayah", sebuah panggilan yang mencerminkan kedekatan yang tumbuh perlahan.

Di ruang itu, perbedaan agama tidak menjadi batas. Justru menjadi bagian dari keseharian yang diterima apa adanya.

"Kami memang beragama Kristen dan mereka semua beragama muslim. Tapi kami tidak berlandaskan agama, melainkan kemanusiaan," ujarnya.

Potongan kata yang menyemangati anak-anak di kolong rel JatinegaraFoto: Ausirio Sangga Ndolu

Menurut Daniel, tembok perbedaan yang sering terasa besar di kota seperti Jakarta bisa mencair ketika orang memilih hadir dan saling mengenal. Ia tak menampik begitu banyak kesulitan yang ia hadapi karena perbedaan tersebut, termasuk penolakan. Namun, pelan-pelan tembok pembatas itu hancur dengan komunikasi yang konsisten.

"Kita selalu dibenturkan dengan perbedaan, tanpa melihat apa yang bisa kita lakukan bersama. Padahal, kita punya satu nilai yang sama, yaitu memanusiakan manusia," katanya.

Di akhir pekan, Daniel mendampingi anak-anak belajar, sekaligus memberi ruang bagi mereka untuk memahami agama Islam dengan nyaman. Dari situ, ia melihat perubahan kecil mulai tumbuh dari anak-anak di sana.

"Kadang mereka tanya, ‘Kak, sudah gereja?’ Itu hal kecil, tapi menunjukkan mereka sudah terbuka dengan perbedaan," ujarnya.

Selama Ramadan, kebersamaan itu terasa lebih dekat. Daniel ikut menemani anak-anak ngabuburit hingga berbuka, menjaga semangat mereka menjalani puasa, bahkan mencarikan donatur untuk memberikan hadiah bagi anak-anak yang berhasil menuntaskan puasa secara penuh. 

Baginya, Ramadan bukan hanya soal ibadah, tetapi juga momen untuk kembali pada nilai dasar sebagai manusia. 

"Ramadan itu momen kita kembali ke fitrah, kembali ke titik suci sebagai manusia, tanpa pikiran negatif tentang sesama," katanya.

Kegiatan sederhana seperti belajar bersama, kerja bakti, hingga berbuka puasa bersama menjadi cara merawat kebersamaan itu. Menjelang Lebaran, komunitas ini juga menggelar pasar murah serta membagikan beras dan daging kepada warga.

Bagi Daniel, semua itu berangkat dari hal yang paling mendasar, yakni niat untuk berbuat baik.

Ia percaya, ketika kebaikan dijalankan dengan tulus, orang lain akan melihat dan merasakannya. Perlahan, perbedaan pun tidak lagi menjadi jarak, melainkan jembatan.

"Kalau kita mau melakukan dengan nilai baik, maka orang akan melihat nilai baik itu. Dan mereka akan melihat bahwa Daniel yang beragama Kristen adalah sesamanya. Dan kita saudara," ujarnya.

Harmoni Nyepi dan Ramadan di Bali

Di Desa Adat Tuban, Bali, keheningan Nyepi berjalan berdampingan dengan ibadah Ramadan. Di tengah suasana sunyi, tanpa pengeras suara, dan dengan pencahayaan minimal, tarawih tetap berlangsung.

Malam itu, Haji Sidik terlihat mengenakan pakaian pecalang, yakni petugas keamanan di desa adat di Bali. Ia bukan hanya menjaga ketertiban desa, tetapi juga memimpin aktivitas di Masjid Asasutaqwa sebagai ketua takmir.

Nyepi dan Ramadan di Bali, 2026. Dua ibadah berjalan berdampingan dalam suasana hening dan saling menghormati.Foto: I Gede Made Surya Sanjaya

Peran gandanya menjadi penting ketika dua momen keagamaan hadir bersamaan. Ia membantu memastikan kesepakatan antarwarga tetap berjalan, agar setiap umat bisa menjalankan ibadahnya dengan tenang.

"Warga di sini sudah terbiasa dengan suasana ini. Tidak masalah, karena sudah saling memahami," ujarnya.

Di desa yang dihuni warga dengan berbagai latar belakang agama, keterbukaan menjadi kunci. Warga sudah terbiasa menyesuaikan diri, menjaga keseimbangan antara aturan adat dan kebutuhan ibadah.

Saat Nyepi, umat muslim menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan sederhana. Sementara pecalang, termasuk Haji Sidik, berpatroli menjaga ketertiban desa.

Sekretaris Desa Adat Tuban, I Gede Agus Suyasa, mengatakan keberagaman di wilayahnya justru memperkuat rasa kebersamaan.

"Tuban ini desa yang majemuk. Kami sepakat untuk saling menghormati kegiatan masing-masing," katanya.

Kesepakatan itu menjadi fondasi, bahwa perbedaan tidak harus dipertentangkan. Sebaliknya, bisa dijalankan berdampingan, dengan saling menghormati ruang masing-masing.

I Gede Made Surya Sanjaya dari Tuban, Bali, turut berkontribusi atas laporan ini.

Editor: Arti Ekawati

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait