Kanselir Jerman Friedrich Merz belum melihat tanda-tanda perang di Ukraina akan segera berakhir, sementara itu Menhan Boris Pistorius mendesak upaya untuk memutus aliran dana Rusia.
Friedrich Merz menekankan pentingnya Jerman memainkan peran yang “aktif, kuat, dan mendukung penuh” upaya perdamaian UkrainaFoto: LUDOVIC MARIN/AFP
Iklan
Kanselir Jerman Friedrich Merz pada Rabu (21/05) mengatakan, belum ada tanda-tanda bahwa perang di Ukraina akan segera berakhir.
"Untuk saat ini belum ada tanda-tanda bahwa perang ini akan segera berakhir,” kata Merz di Berlin. Namun, saat menyinggung upaya diplomatik untuk mengakhiri perang, ia menyebut kemungkinan mediasi dari Paus sebagai “otoritas duniawi terakhir.”
Merz mengatakan, orang-orang hanya bisa berharap agar setidaknya pihak-pihak yang bertikai bisa berdiskusi secara konstruktif di Vatikan. Ia juga menekankan pentingnya peran Jerman untuk "aktif, kuat dan mendukung penuh” upaya perdamaian.
Trump: Ini bukan perang saya
Pernyataan Merz ini muncul setelah percakapan via telepon antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin (20/05).
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Trump juga menyebut, Vatikan sangat tertarik menjadi tuan rumah pembicaraan damai tersebut. Trump kembali mengingatkan bahwa ia bisa saja mundur dari upaya mediasi ini jika tidak ada kemajuan yang signifikan dalam negosiasi itu.
"Ini bukan perang saya," ujar Trump kepada wartawan.
Pada Selasa (21/05), Perdana Menteri (PM) Italia Giorgia Meloni mengumumkan bahwa Paus Leo XIV telah mengonfirmasi kesiapan Vatikan untuk memfasilitasi perundingan damai antara kedua belah pihak. Namun hingga kini, Vatikan belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait hal ini.
Iklan
Pistorius: Trump salah menilai pengaruhnya pada Putin
Sementara itu, Menteri Pertahanan (Menhan) Jerman Boris Pistorius menilai Trump terlalu percaya diri atas pengaruhnya terhadap Putin.
"Saya menduga dia salah menilai posisi negosiasinya,” kata Pistorius kepada radio publik Deutschlandfunk, merujuk pada upaya Trump yang tampaknya gagal menekan Putin agar menerima gencatan senjata tanpa syarat selama 30 hari.
"Tidak ada perkembangan yang berarti. Hanya muncul lokasi-lokasi baru, tenggat waktu baru, dan itu berarti Vladimir Putin bisa terus melancarkan serangan ke Ukraina. Tapi perdamaian belum terlihat,” ujar Pistorius.
Bagaimana Perang Putin Memengaruhi Ekonomi Dunia
Efek perang Rusia terhadap Ukraina dirasakan di seluruh dunia. Harga makanan dan bahan bakar meningkat di mana-mana. Di beberapa negara kerusuhan pecah akibat naiknya harga barang kebutuhan utama.
Foto: Dong Jianghui/dpa/XinHua/picture alliance
Belanja Semakin Mahal di Jerman
Konsumen di Jerman merasakan kenaikan biaya hidup. Konsekuensi dari perang di Ukraina dan sanksi terhadap Rusia mulai terasa. Pada bulan Maret, tingkat inflasi Jerman mencapai level tertinggi sejak 1981. Pemerintah Jerman ingin segera mengembargo batubara Rusia, tetapi masih memperdebatkan pelarangan impor gas dan minyak dari Rusia.
Foto: Moritz Frankenberg/dpa/picture alliance
Antrian Mengisi Bahan Bakar di Kenya
Antrian panjang mobil di SPBU Nairobi. Di Kenya, warga juga merasakan dampak perang di Ukraina. Bahan bakar kian mahal, dan pasokannya terbatas, belum lagi krisis pangan. Duta Besar Kenya untuk PBB Martin Kimani dalam sidang Dewan Keamanan menyatakan keprihatinannya, dan membandingkan situasi di Ukraina timur dengan perubahan yang terjadi di Afrika setelah berakhirnya era kolonial.
Foto: SIMON MAINA/AFP via Getty Images
Siapa Amankan Suplai Gandum ke Turki?
Rusia adalah produsen gandum terbesar di dunia. Karena larangan ekspor dari Rusia, harga roti sekarang naik di banyak tempat, termasuk di Turki. Sanksi internasional telah mengganggu rantai pasokan. Ukraina juga merupakan salah satu dari lima pengekspor gandum terbesar di dunia, tetapi perang dengan Rusia membuat mereka tidak dapat mengirimkan barang dari pelabuhannya di Laut Hitam.
Foto: Burak Kara/Getty Images
Harga Gandum Melonjak di Irak
Seorang pekerja tengah menumpuk karung-karung tepung tergu di pasar Jamila, pasar grosir terpopuler di Baghdad. Harga gandum telah meroket di Irak sejak Rusia menginvasi Ukraina, karena kedua negara tersebut menyumbang setidaknya 30% dari perdagangan gandum dunia. Irak tetap netral sejauh ini, tetapi poster-poster pro-Putin sekarang telah dilarang di negara itu.
Foto: Ameer Al Mohammedaw/dpa/picture alliance
Unjuk Rasa di Peru
Para demonstran bentrok dengan polisi di ibukota Peru, Lima. Mereka memprotes kenaikan harga pangan, satu di antara rangkaian kenaikan harga. Krisis semakin diperburuk dengan adanya perang di Ukraina. Presiden Peru, Pedro Castillo memberlakukan jam malam dan keadaan darurat untuk sementara. Tapi jika peraturan tersebut dicabut, protes akan terus berlanjut.
Foto: ERNESTO BENAVIDES/AFP via Getty Images
Keadaan Darurat di Sri Lanka
Di Sri Lanka, warga turun ke jalan untuk mengekspresikan kemarahan mereka. Beberapa hari lalu, ada yang mencoba menyerbu kediaman pribadi Presiden Gotabaya Rajapaksa. Memuncaknya protes terhadap kenaikan biaya hidup, kekurangan bahan bakar, dan pemadaman listrik, mendorong presiden mengumumkan keadaan darurat nasional, sekaligus meminta bantuan pengadaan sumber daya dari India dan Cina.
Warga di Skotlandia juga memprotes kenaikan harga makanan dan energi. Di seluruh Inggris, serikat pekerja telah mengorganisir demonstrasi untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Brexit telah mengakibatkan kenaikan harga di banyak area kehidupan, dan perang di Ukraina makin memperburuk keadaan.
Foto: Jeff J Mitchell/Getty Images
Harga Ikan Goreng di Inggris Melonjak
Warga Inggris punya alasan untuk khawatir terkait hidangan nasional tercinta mereka "fish and chips". Sekitar 380 juta porsi goreng ikan dan kentang dikonsumsi di Inggris setiap tahun. Tetapi sanksi keras saat ini, berarti harga ikan putih dari Rusia, minyak goreng dan energi, semuanya melonjak naik. Pada Februari 2022, tingkat inflasi Inggris mencapai 6,2%.
Foto: ADRIAN DENNIS/AFP via Getty Images
Peluang Ekonomi bagi Nigeria?
Seorang pedagang di Ibafo, Nigeria, tengah mengemas tepung untuk dijual kembali. Nigeria telah lama ingin mengurangi ketergantungannya pada makanan impor, dan membuat ekonominya lebih tangguh lagi. Orang terkaya di Nigeria Aliko Dangot, baru-baru ini membuka pabrik pupuk terbesar di negara itu, dan berharap memiliki banyak pembeli. Apakah itu sebuah peluang? (kp/as)
Foto: PIUS UTOMI EKPEI/AFP via Getty Images
9 foto1 | 9
Karena pembicaraan antara Rusia dan AS tidak menghasilkan kemajuan dalam proses perdamaian, Uni Eropa pun mengumumkan sanksi baru terhadap Rusia.
Pistorius mendesak agar dilakukan upaya-upaya lebih lanjut untuk memutus aliran dana ke Rusia.
"Tujuannya adalah untuk menghentikan aliran uang besar-besaran ke kas negara Rusia, yang digunakan untuk membiayai perang,” katanya.
Menurut Pistorius, itulah satu-satunya cara efektif bagi negara-negara Barat untuk melemahkan kemampuan Rusia dalam mempertahankan perangnya di Ukraina. Ia merujuk pada pendapatan ekspor minyak dan gas Rusia sebagai sumber utama pendanaan perang.
Pistorius juga menekankan pentingnya mendukung kembali produksi senjata Ukraina. Menurutnya, Ukraina sebenarnya punya kapasitas produksi di sektor industri pertahanan, tetapi kekurangan dana untuk mengoptimalkannya.
"Kami akan bersama-sama mengisi kekurangan kapasitas ini,” kata Pistorius.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris