Kanselir Friedrich Merz tampak terguncang, tapi tetap teguh ketika berbicara di Berlin tentang kemenangan AfD di Sachsen-Anhalt dan kekalahan pahit CDU. Ia menegaskan akan terus mempertahankan rencana reformasinya.
Kanselir Friedrich Merz dan Perdana Menteri Sachsen-Anhalt Sven Schulze berbicara tentang dampak hasil pemiluFoto: Michael Kappeler/dpa/picture alliance
Iklan
Ada kalanya dua politisi yang tak lagi sejalan harus berdiri bersama di hadapan pers. Begitulah yang terjadi ketika Kanselir Friedrich Merz (CDU) dan rekan separtainya, Sven Schulze, Perdana Menteri Sachsen-Anhalt, membahas hasil pemilu negara bagian pada Minggu (06/09). Keduanya menyebut hasil itu sebagai pukulan telak bagi CDU. Merz tampak terguncang, bahkan hancur—dan itu barangkali masih cara yang halus untuk mengatakannya.
Merz berterima kasih kepada Schulze atas kerja kerasnya selama kampanye. Tetapi kemudian ia berkata: "Bukan hanya sesuatu yang berubah di Sachsen-Anhalt kemarin, tapi di seluruh Jerman. Ini akan berdampak, termasuk di panggung internasional."
Sebab, pemenang pemilu negara bagian itu, AfD, menentang dukungan bagi Ukraina dalam menghadapi agresi Rusia. Banyak politisi AfD juga memiliki hubungan dekat dengan pemerintah Rusia di bawah Presiden Vladimir Putin, jelas Merz.
Tanggapan Warga Sachsen-Anhalt atas kemenangan Partai AfD
01:07
This browser does not support the video element.
Mengabaikan supremasi hukum?
Berbicara tentang AfD, Merz mengambil nada yang hampir konfrontatif. Mayoritas bisa berubah, katanya, dan para demokrat harus selalu menyadari itu dan menerimanya.
Iklan
Namun, kata Merz, sangat mengejutkan bahwa 60% pemilih di Sachsen-Anhalt memilih partai-partai yang mengabaikan supremasi hukum di Jerman. Merz tidak hanya berbicara tentang AfD, tapi juga Partai Kiri yang sosialis dan Aliansi Sahra Wagenknecht (BSW), yang memisahkan diri dari Partai Kiri atas isu-isu yang membuat BSW sehaluan dengan AfD.
Sebaliknya, Merz menyebut, pemerintahannya akan selalu membela nilai-nilai konstitusi Jerman: "Di negara kita, nilai-nilai ini tidak bisa diperdebatkan. Kekuasaan diberikan, bukan direbut. Dan minoritas bukanlah musuh mayoritas."
Para sejarawan sudah lama menggambarkan naiknya kekuasaan Nazi di Jerman sebagai "perebutan kekuasaan," itulah mengapa pernyataan Merz dipastikan akan menjadi bahan diskusi yang panjang.
Untuk meyakinkan mitra internasional Jerman di Uni Eropa dan NATO, ia mengatakan: "Kami tahu bahwa Jerman menanggung tanggung jawab khusus karena sejarahnya. Kami akan selalu membela tatanan politik kami dan keterlibatan kami yang kokoh di Eropa."
Bisakah politisi CDU di Sachsen-Anhalt bantu AfD berkuasa?
Berdiri di sampingnya, Schulze tetap diam. Pada malam pemilu sebelumnya, jauh setelah kekalahannya, Schulze berulang kali menekankan dalam berbagai pernyataan bahwa ketidakpuasan publik yang meluas terhadap pemerintah Merz di Berlin telah memberikan pukulan besar baginya.
Untuk saat ini, skenario terburuk baru saja terhindar dengan sangat tipis: AfD tidak memiliki mayoritas absolut di parlemen negara bagian Magdeburg, tapi hanya dengan selisih yang sangat kecil.
Dan ini menjadi masalah bagi Friedrich Merz: Ketidakpuasan kian tumbuh, bahkan di dalam barisannya sendiri. Bisakah ia mencegah anggota parlemen CDU secara individual di Sachsen-Anhalt untuk memilih, melawan garis resmi partai, Ulrich Siegmund, pemenang pemilu AfD, sebagai kepala pemerintahan?
Jika tidak, maka kedua kursi kekuasaan Merz akan berada dalam bahaya serius: posisinya sebagai ketua partai dan kanselir.
Sepuluh orang memerintah Jerman sejak 1949, dari Konrad Adenauer hingga Friedrich Merz. Sekilas para tokoh pemimpin Jerman dan pencapaian mereka.
Foto: picture-alliance/ ZB
Konrad Adenauer (CDU), 1949-1963
Konrad Adenauer adalah kanselir Jerman pertama. Bekas Wali Kota Köln ini membawa republik federal yang baru seumur jagung ke panggung dunia. Kebijakan luar negerinya sering berorientasi ke Barat. Adenauer yang dikenal otoriter sejak awal mendesak pembentukan kembali militer Jerman, Bundeswehr.
Foto: picture-alliance/Judaica-Sammlung
Ludwig Erhard (CDU), 1963-1966
Tahun 1963 Partai CDU menggeser Adenauer yang saat itu berusia 87 tahun dengan Ludwig Erhard. Sosok yang menjabat menteri ekonomi di era Adenauer itu memperkenalkan konsep Ekonomi Pasar Sosial dan dengan begitu ikut melahirkan keajaiban ekonomi Jerman Barat di akhir 50-an. Erhard menggemari cerutu, setiap hari ia menghabiskan 15 batang. Pemerintahannya bertahan sampai tahun 1966.
Foto: picture-alliance/dpa
Kurt Georg Kiesinger (CDU), 1966-1969
Kurt Georg Kiesinger adalah kanselir pertama yang menggawangi koalisi dua partai besar, CDU dan SPD. Pemerintahannya berhasil membawa perekonomian Jerman keluar dari resesi. Kiesinger menyulut aksi demonstrasi pemuda dan mahasiswa lantaran memberlakukan Undang-undang Darurat yang dianggap memberangus hak-hak warga sipil. Statusnya sebagai kanselir mengundang kontroversi berlatarbelakang NAZI.
Foto: picture alliance/AP Photo
Willy Brandt (SPD), 1969-1974
Gerakan sosial generasi 60-an membawa perubahan kekuasaan: Willy Brandt menjadi kanselir pertama dari Partai Sosial Demokrat (SPD). Foto Brandt saat bertekuk lutut di bekas Gheto Warsawa dan meminta maaf atas kekejaman rejim NAZI, menjadi simbol rekonsiliasi dan perdamaian. Ia merajut kembali hubungan dengan negara-negara anggota Uni Sovyet. 1971 Brandt mendapat penghargaan Nobel Perdamaian.
Foto: picture-alliance/Bildarchiv
Helmut Schmidt (SPD), 1974-1982
Helmut Schmidt mengambilalih kekuasaan setelah rekan separtainya, Brandt, mengundurkan diri. Krisis minyak, inflasi dan stagnasi ekonomi mewarnai pemerintahan bekas perwira Angkatan Udara tersebut. Gaya pemerintahannya rasional dan efisien. Ia misalnya bersikap keras terhadap kelompok teroris, Fraksi Tentara Merah (RAF). Karier Schmidt di Kanzleramt berakhir lewat mosi tidak percaya.
Foto: picture-alliance/Egon Steiner
Helmut Kohl (CDU), 1982-1998
Masa pemerintahannya yang berlangsung selama 16 tahun adalah rekor tersendiri. Helmut Kohl dikenal tangguh, keras kepala dan tidak menunjukkan ambisi reformasi. Pencapaian terbesarnya adalah reunifikasi Jerman dan pembangunan kembali kawasan bekas Jerman Timur. Kohl juga mempercepat institusionalisasi Uni Eropa.
Foto: picture-alliance/dpa
Gerhard Schröder (SPD), 1998-2005
Gerhard Schröder menjadi kanselir di tengah demam perubahan yang melanda Jerman pasca empat episode pemerintahan Helmut Kohl. Ia mengirimkan misi militer luar negeri pertama Jerman, di antaranya Afganistan. Penolakannya terhadap desakan Amerika untuk bergabung dalam invasi Irak mencuatkan namanya di dunia internasional.
Foto: picture-alliance/dpa
Angela Merkel (CDU), 2005-2021
Sejak tahun 2005, Angela Merkel menjadi kanselir di Jerman. Tantangan terbesar yang dihadapi kabinetnya adalah krisis keuangan global dan krisis euro serta krisis pengungsi. Gaya pemerintahannya pragmatis. Merkel misalnya menyudahi produksi energi nuklir pasca bencana atom di Fukushima, kendati ini bertentangan dengan haluan partai.
Foto: Johannes Eisele/AFP/Getty Images
Olaf Scholz (SPD), 2021-2025
Olaf Scholz mengambil alih jabatan Kanselir Jerman setelah tiga tahun menjabat menteri keuangan sekaligus wakil kanselir. Politisi Sosial Demokrat yang konservatif dan tenang ini dikenal karena sikap stoic dan rasa percaya dirinya yang teguh. Mantan Wali Kota Hamburg ini memiliki karier politik puluhan tahun yang diwarnai sejumlah kejutan.
Foto: Kay Nietfeld/dpa/picture alliance
Friedrich Merz (CDU), sejak 2025
Friedrich Merz adalah Kanselir ke-10 Jerman sekaligus Ketua Umum CDU. Lahir 1955, Merz berasal dari pedesaan North Rhine-Westphalia, negara bagian berpenduduk terbanyak di Jerman. Ia penganut Katolik yang taat, pernah jadi anggota Parlemen Eropa, dan berkarier sebagai pengacara komersial sebelum menekuni dunia bisnis.
Namun hingga hari ini, Merz masih mempertahankan reformasi-reformasi sulit yang diambil pemerintahannya. Salah satunya adalah perombakan sistem pensiun yang sudah lama defisit kronis, yang akan membawa penderitaan besar bagi banyak orang di Jerman dan menghadapi penentangan sengit selama kampanye pemilu.
Pada malam pemilu, Wakil Kanselir sekaligus pemimpin Partai Demokrat Sosial (SPD) tengah-kiri Lars Klingbeil menyarankan untuk mengevaluasi ulang reformasi menyusul kekalahan koalisi pemerintah di Berlin. Namun Merz belum menyebut perubahan arah semacam itu.
Pemerintah federal Jerman yang baru adalah koalisi partai CDU, CSU dan SPD. Para menteri yang terpilih dalam kabinet pimpinan Merz ini tak lain adalah mitra terdekat Kanselir Merz dan pemimpin SPD, Lars Klingbeil.
Foto: Christian Mang/REUTERS
Kanselir: Friedrich Merz (CDU)
Pengacara berusia 69 tahun, Friedrich Merz, akan menghadapi tantangan besar dalam hal kebijakan dalam dan luar negeri. Perekonomian Jerman terpuruk, dan partai sayap kanan AfD terus menguat. Pemimpin CDU ini ingin meningkatkan ekonomi dan membatasi migrasi. Yang utama, dia harus "memperbaiki diri", karena belum pernah ada kanselir yang tidak sepopuler Friedrich Merz.
Foto: Uwe Koch/HMB-Media/IMAGO
Menteri Keuangan: Lars Klingbeil (SPD)
Pemimpin SPD ini tidak hanya mengambil alih Departemen Keuangan tapi juga sebagai wakil kanselir. Hal ini membuat pria berusia 47 tahun ini menjadi tokoh sentral SPD meski hasil pemilihan umum begitu buruk bagi partainya. Klingbeil berlatarbelakang ilmu politik, sosiologi dan sejarah. Ia telah menjadi anggota parlemen sejak 2005. Ini adalah pengalaman pertama Klingbeil di pemerintahan.
Foto: Moritz Frankenberg/dpa/picture alliance
Menteri Pertahanan: Boris Pistorius (SPD)
Boris Pistorius adalah satu-satunya menteri petahana dari SPD. Ia 'rutin duduk' peringkat teratas daftar politisi paling populer Jerman. Pria berusia 65 tahun ini telah menjabat menhan sejak Januari 2023 dan memiliki reputasi tinggi di dunia militer Jerman. Pistorius ingin membuat pasukannya “siap berperang” lagi dan direncanakan akan menerima miliaran euro yang diperlukan untuk ini.
Foto: Anna Ross/dpa/picture alliance
Menteri Luar Negeri: Johann Wadephul (CDU)
Johann Wadephul, 62 tahun, telah menjadi anggota Parlemen sejak tahun 2009. Doktor hukum dan mantan tentara ini memiliki koneksi internasional yang baik dan dianggap diplomatis dan pragmatis. Ia memiliki banyak kesamaan dengan Friedrich Merz. Keduanya kemungkinan akan bersama menjalankan kebijakan luar negeri, karena setelah 60 tahun, Kanselir dan Menlu kini kembali dijabat CDU.
Foto: Political-Moments/IMAGO
Menteri Dalam Negeri: Alexander Dobrindt (CSU)
Politisi CSU, Alexander Dobrindt, pernah menjabat sebagai Menteri Transportasi di era Angela Merkel. Sebagai Mendagri, sosiolog berusia 54 tahun ini menginginkan pendekatan yang lebih keras terhadap tema migrasi: pengetatan perbatasan, penangguhan penyatuan kembali keluarga, deportasi ke Suriah dan Afganistan. Ia menentang kewarganegaraan ganda dan persamaan hak bagi pasangan homoseksual.
Foto: Bernd Elmenthaler/IMAGO
Menteri Ekonomi dan Energi: Katherina Reiche (CDU)
Bagi ahli kimia berusia 51 tahun, Katherina Reiche, ini a merupakan kembalinya ke dunia politik. Ia menjadi anggota Bundestag pada usia 25 tahun. Pada tahun 2015, perempuan asal Jerman Timur 'banting stir' ke dunia bisnis dan menjadi CEO Westenergie AG (E.ON Group). Tahun 2020, ia ditunjuk sebagai Ketua Dewan Hidrogen Nasional, yang memberikan masukan kepada pemerintah Jerman.
Foto: Kay Nietfeld/dpa/picture alliance
Menteri Digital dan Modernisasi : Karsten Wildberger
Penunjukkan Karsten Wildberger ini adalah kejutan besar. Dengan gelar doktor di bidang fisika, Wildberger sempat berkarir di posisi kepemimpinan internasional, antara lain di Boston Consulting, T-Mobile dan E.ON. Pria berusia 56 tahun ini adalah direktur MediaMarktSaturn, jaringan retail elektronik terbesar di Eropa.
Foto: Malte Ossowski/SvenSimon/picture alliance
Menteri Tenaga Kerja dan Sosial: Bärbel Bas (SPD)
Bärbel Bas mulai dikenal saat menjabat sebagai Presiden Bundestag pada tahun 2021. Dengan ijazah sekolah menengah dan pelatihan sebagai asisten kantor, jalannya menuju jabatan politik tertinggi tidaklah mudah. Namun wanita berusia 57 tahun dari Duisburg ini gigih dalam kariernya. Kini ia memimpin kementerian dengan anggaran terbesar.
Foto: Kay Nietfeld/dpa/picture alliance
Menteri Hukum: Stefanie Hubig (SPD)
Politisi Partai Sosial Demokrat berusia 56 tahun ini menjabat sebagai Menteri Pendidikan di Rhineland-Pfalz sejak tahun 2016. Ia adalah doktor hukum dari Frankfurt am Main pernah menjabat sebagai sekretaris negara bagian dari tahun 2014 hingga 2016. Sebelum berkarier di dunia politik, Hubig bekerja sebagai jaksa penuntut umum dan hakim.
Foto: Jürgen Heinrich/IMAGO
Menteri Riset, Teknologi, dan Antariksa: Dorothee Bär (CSU)
Dorothee Bär, 47 tahun, telah menjadi anggota Bundestag Jerman sejak tahun 2002 dan merupakan salah satu wakil ketua fraksi CDU/CSU di Bundestag. Ia telah menjadi salah satu wakil pemimpin partai CSU sejak 2017. Dari tahun 2018 hingga 2021, ia adalah Komisaris Digitalisasi Pemerintah Federal era Merkel. Untuk pertama kalinya, perjalanan luar angkasa menjadi topik dalam sebuah kementerian.
Foto: Emmanuele Contini/IMAGO
Menteri Pendidikan dan Keluarga: Karin Prien (CDU)
Karin Prien dianggap sebagai politisi pendidikan paling terkemuka di CDU. Penasihat hukum berusia 59 tahun ini telah menjadi Menteri Pendidikan di Schleswig-Holstein sejak tahun 2017. Prien dianggap berpendirian teguh dan tidak sungkan dalam berdebat. Ia lahir dan tumbuh besar di Belanda, tempat kakek-neneknya melarikan diri dari Nazi. Bahasa Belanda adalah bahasa ibu Prien.
Foto: Jens Schicke/IMAGO
Menteri Kerjasama Ekonomi dan Pengembangan Nasional: Reem Alabali-Radovan (SPD)
Ilmuwan politik, putri dari orang tua asal Irak dan lahir di Moskow, Rusia, Radovan adalah satu kejutan dalaf daftar menteri dari SPD. Perempuan Jerman Timur berusia 35 tahun ini sebelumnya menjabat sebagai Komisioner Pemerintah Federal untuk Integrasi dan Anti-Rasisme di Kantor Kanselir. Ia telah menjadi anggota Bundestag sejak 2021.
Foto: Bernd von Jutrczenka/dpa/picture alliance
Menteri Kesehatan: Nina Warken (CDU)
Perempuan berusia 45 tahun ini sudah menjadi anggota CDU sejak menjadi mahasiswa hukum dan telah menjadi anggota Bundestag sejak tahun 2013. Meski sudah lama fokus pada kebijakan-kebijakan negara, kini penasihat hukum ini harus segera membiasakan diri dengan kebijakan kesehatan.
Foto: Arnulf Hettrich/IMAGO
Menteri Pertanian: Alois Rainer (CSU)
“Sekarang kita punya Leberkäs (makanan khas Bayern), bukan tahu” - dengan kalimat ini, pemimpin CSU Markus Söder memperkenalkan Menteri Pertanian Federal Alois Rainer, 60 tahun. Rainer adalah ahli daging profesional yang menjalankan bisnis keluarga dan sebuah penginapan di hutan Bayern. Ia telah menjadi anggota Bundestag sejak 2013, menangani masalah anggaran dan transportasi.
Foto: Christoph Hardt/Geisler-Fotopress/picture alliance
Menteri Transportasi: Patrick Schnieder (CDU)
Sebagai menteri transportasi, Patrick Schnieder akan memiliki sesuatu yang akan membuat rekan-rekannya iri: banyak uang. Sebagian besar dari dana khusus sebesar 500 miliar euro untuk infrastruktur akan dialokasikan untuk rute-rute transportasi yang rusak. Pengacara berusia 56 tahun ini telah menjadi anggota Bundestag sejak tahun 2009.
Foto: dts Nachrichtenagentur/IMAGO
Menteri Lingkungan Hidup: Carsten Schneider (SPD)
Sebelumnya, perlindungan lingkungan dan iklim bukan fokus pria berusia 49 tahun ini. Pria asal Thuringia ini adalah seorang bankir, telah menjadi anggota Bundestag sejak tahun 1998 dan dengan cepat dikenal sebagai ahli keuangan dan anggaran untuk fraksinya. Jabatan terakhir yang ia pegang adalah sebagai Komisaris untuk Eropa Timur di Kantor Kanselir.
Perempuan berusia 37 tahun dari Trier ini beralih dari dunia bisnis ke politik. Setelah belajar bisnis, ia mendirikan dan mengelola perusahaan rintisan. Ia masuk ke Bundestag tahun 2021. Ia dianggap bersahaja, penuh semangat dan berorientasi pada hasil - kualitas yang akan ia perlukan di kantor barunya. Krisis perumahan adalah salah satu masalah terbesar di Jerman.
Foto: Harald Tittel/dpa/picture alliance
Kantor Kanselir: Thorsten Frei (CDU)
Pengacara berusia 52 tahun, Thorsten Frei, bisa dibilang orang kepercayaan Friedrich Merz yang paling penting. Dia telah menjadi anggota Bundestag sejak 2013. Sebelumnya adalah seorang politisi di Jerman bagian selatan. Frei memiliki pengetahuan yang luas tentang berbagai topik. Sebagai kepala kantor kanselir, ia harus mengantisipasi dan menyingkirkan masalah dan jebakan bagi Merz sejak dini.
Foto: Bernd Elmenthaler/IMAGO
Menteri Negara Bidang Kebudayaan dan Media: Wolfram Weimer
Sejarawan berusia 60 tahun dengan gelar doktor ini telah menulis buku-buku non-fiksi seperti "Das konservative Manifest"(“Manifesto Konservatif") dan "Sehnsucht nach Gott" (“Kerinduan akan Tuhan”). Sebelum mendirikan perusahaan penerbitan, ia pernah bekerja sebagai jurnalis di harian FAZ dan Die Welt, menjadi pemimpin redaksi Cicero dan Focus
Foto: -/teutopress/picture alliance
19 foto1 | 19
AfD tampil percaya diri
Beberapa jam sebelum penampilan Merz di markas CDU, AfD tampil di Konferensi Pers Federal. Calon utama di Sachsen-Anhalt, Ulrich Siegmund, secara sarkastis mengucapkan terima kasih kepada media, yang sebagian besar menggambarkannya selama kampanye sebagai ancaman bagi demokrasi dan supremasi hukum.
"Juga berkat kalian kami berhasil," kata Siegmund, menambahkan, "Terima kasih banyak atas liputan yang luar biasa selama kampanye pemilu ini."
Sebagai contoh, majalah berita berpengaruh Der Spiegel baru-baru ini memberi label politisi AfD itu sebagai "pria paling berbahaya di Jerman" dalam sebuah laporan utama yang banyak beredar.
Siegmund kemudian menatap dengan penuh kemenangan ke aula yang penuh sesak dan menyatakan: "Belum pernah ada jurang yang begitu lebar antara anggota media yang berusaha mendiktekan kepada kami di sini, di Sachsen-Anhalt, bagaimana kami harus hidup dan realita kehidupan warga di negara bagian ini."
Namun Siegmund menghindari pertanyaan tentang apakah hasil pemilu merupakan mandat yang jelas bagi partainya untuk membentuk pemerintahan, bahkan tanpa mayoritas sendiri jika perlu, atau mungkin dengan dukungan diam-diam dari Aliansi Sahra Wagenknecht (BSW) yang populis dan beraliran kiri secara ekonomi.
Siegmund memang mengatakan ia tidak ingin menjadi mitra koalisi, ia menginginkan kekuasaan penuh, tapi ia tidak memilikinya. Situasi di Sachsen-Anhalt dipastikan akan menjadi bahan diskusi panjang selama berhari-hari, bahkan mungkin berminggu-minggu ke depan.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Jerman