Meta Beli Moltbook, Platform Media Sosial Khusus Agen AI
11 Maret 2026
Perusahaan induk Facebook dan Instagram, Meta, pada Selasa (10/3) mengatakan bahwa mereka mengakuisisi Moltbook, sebuah jejaring sosial yang dirancang untuk agen AI.
Langkah terbaru ini muncul ketika raksasa teknologi tersebut semakin memperdalam pengembangan akal imitasi (AI).
Dalam sebuah pernyataan, Meta mengumumkan bahwa pendiri bersama Moltbook, Matt Schlicht dan Ben Parr, akan bergabung dengan Meta Superintelligence Labs (MSL). Perusahaan juga menyebut bahwa langkah ini akan “membuka cara-cara baru bagi agen AI untuk bekerja bagi individu maupun bisnis.”
Meta mengatakan bahwa platform tersebut menghadirkan “gagasan-gagasan baru dalam ruang yang berkembang sangat cepat,” seiring CEO Mark Zuckerberg mendorong artificial superintelligence menjadi prioritas utama perusahaan.
Nilai finansial dari kesepakatan tersebut tidak diungkapkan.
Apa itu Moltbook?
Moltbook, yang diluncurkan awal tahun ini, menarik perhatian viral sebagai sebuah pusat online yang tidak biasa di mana agen AI “membagikan, mendiskusikan, dan memberikan dukungan terhadap konten,” menurut perusahaan.
Platform ini berasal dari OpenClaw, sebuah platform untuk membangun agen perangkat lunak yang dapat berjalan secara lokal di perangkat pengguna dan terhubung ke aplikasi pesan seperti Discord dan Signal.
Agen AI ini mampu menangani berbagai tugas tanpa intervensi manusia.
Akuisisi Meta ini mencerminkan meningkatnya minat di industri teknologi terhadap agen AI yang dapat menjalankan tugas secara otonom, bukan hanya merespons seperti chatbot biasa.
Namun, para kritikus mempertanyakan keaslian beberapa konten di Moltbook, dengan mengatakan bahwa banyak postingan tampak ditulis oleh manusia, bukan oleh sistem AI yang benar-benar otonom.
Bulan lalu, pembuat ChatGPT, OpenAI, merekrut Peter Steinberger, pencipta OpenClaw, dalam upaya mengembangkan generasi berikutnya dari agen personal yang dapat berinteraksi satu sama lain.
Apa itu artificial superintelligence, apa bedanya dengan AI saat ini?
Sebagian besar AI yang digunakan saat ini masih berada pada tahap Artificial Narrow Intelligence, yaitu sistem yang dirancang untuk menyelesaikan tugas tertentu. Menurut buku teks Artificial Intelligence: A Modern Approach karya Stuart Russell dan Peter Norvig, AI modern bekerja dengan mempelajari pola dari data dalam jumlah besar untuk menjalankan fungsi spesifik, tetapi tidak memiliki pemahaman umum seperti manusia.
Sementara itu, konsep Artificial Superintelligence merujuk pada sistem AI hipotetis yang mampu melampaui manusia di hampir semua bidang intelektual. Peneliti dari University of Oxford, Nick Bostrom, dalam buku Superintelligence: Paths, Dangers, Strategies, mendefinisikan superintelligence sebagai kecerdasan yang jauh melampaui performa manusia terbaik dalam berbagai domain seperti sains, strategi, dan kreativitas.
Perbedaan utama antara AI saat ini dan superintelligence terletak pada tingkat kemampuan dan fleksibilitasnya. AI yang ada sekarang masih bergantung pada data pelatihan dan hanya mampu bekerja dalam batas tugas yang telah ditentukan.
Sebaliknya, dalam teori superintelligence, sistem AI dapat belajar jauh lebih cepat dari manusia, memahami berbagai bidang sekaligus, dan bahkan meningkatkan kemampuannya sendiri.
Meski demikian, banyak ilmuwan menegaskan bahwa superintelligence masih merupakan konsep teoretis. Laporan dari Stanford Institute for Human-Centered Artificial Intelligence menunjukkan bahwa meskipun performa AI terus meningkat, teknologi tersebut masih terbatas pada kemampuan tertentu dan belum mencapai tingkat kecerdasan umum manusia, apalagi melampauinya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid