Putusan juri New Mexico yang menyatakan Meta bertanggung jawab bisa menjadi preseden bagi kasus serupa. Namun, denda yang dijatuhkan pengadilan masih jauh lebih kecil dibanding nilai yang sebelumnya diminta oleh jaksa.
Meta merupakan induk perusahaan yang mengelola Instagram, Facebook, Thread, hingga YoutubeFoto: Tim Wegner/epd-bild/picture alliance
Iklan
Juri di negara bagian New Mexico, Amerika Serikat (AS), pada Selasa (24/3) memutuskan bahwa Meta Platforms bertanggung jawab dalam gugatan terkait keselamatan anak. Juri menilai perusahaan tersebut secara sadar merugikan kesehatan mental anak-anak serta menyembunyikan pengetahuannya tentang eksploitasi seksual anak di platform media sosialnya.
Meta memiliki beberapa platform media sosial, termasuk Facebook, WhatsApp, Instagram, dan Threads.
Putusan penting ini dijatuhkan setelah persidangan yang berlangsung hampir tujuh minggu, yang diajukan ke pengadilan oleh jaksa agung negara bagian tersebut.
Setelah berunding kurang dari satu hari, juri menyatakan Meta bersalah melanggar undang-undang perlindungan konsumen New Mexico dan memerintahkan perusahaan teknologi itu membayar denda perdata sebesar 375 juta dolar AS (sekitar Rp 6 triiliun).
Ini merupakan pertama kalinya juri memutuskan melawan Meta dalam kasus terkait eksploitasi anak. Sementara itu, juri lain di pengadilan federal California masih diisolasi dan telah berunding selama lebih dari satu minggu untuk menentukan apakah Meta dan YouTube juga harus bertanggung jawab dalam kasus serupa.
Apa yang ditemukan juri terkait praktik Meta?
Para juri sepakat dengan jaksa negara bagian New Mexico bahwa Meta membuat pernyataan yang salah atau menyesatkan mengenai keamanan anak di platformnya.
Iklan
Mereka juga menyimpulkan Meta melakukan praktik perdagangan yang tidak bermoral (unconscionable) dengan secara tidak adil memanfaatkan kerentanan dan kurangnya pengalaman anak-anak.
Juri menemukan ribuan pelanggaran, yang masing-masing dihitung sebagai dasar akumulasi hingga menghasilkan denda total sebesar 375 juta dolar AS.
Dalam sebuah pernyataan, Jaksa Agung New Mexico Raúl Torrez menyebut putusan tersebut sebagai “kemenangan bersejarah bagi setiap anak dan keluarga yang telah membayar harga atas keputusan Meta menempatkan keuntungan di atas keselamatan anak.”
“Besarnya ganti rugi yang diperintahkan juri untuk dibayar Meta harus mengirim pesan jelas kepada para eksekutif perusahaan teknologi besar bahwa tidak ada perusahaan yang berada di luar jangkauan hukum,” katanya.
Instagram Bisa Rusak Lingkungan?
Para followers mengikuti jejak selebgram mengunjungi sejumlah tempat wisata yang dikenal lewat tagar #instagramfamous. Mereka merusak tempat menakjubkan itu dengan meninggalkan sampah dan menghancurkan habitat alami.
Foto: instagram.com/publiclandshateyou
Dari #superbloom ke #poppynightmare
Usai musim dingin disertai hujan lebat, musim semi akhirnya muncul di California Selatan, AS. Momen yang tepat untuk melihat mekarnya bunga liar, namun sekitar 50.000 orang berbondong-bondong datang dan asyik berfoto. Mereka memetik, menginjak-injak bunga poppy, dan menghancurkan dengan meletakkan poster "bunga ini akan tumbuh lagi". Tidak perlu banyak merusak tempat-tempat keindahan alam.
Foto: Reuters/L. Nicholson
Ketika wisata alam menjadi viral
Dulunya menjadi tempat nongkrong warga setempat, namun kini spot yang menghadap ke Sungai Colorado dekat Grand Canyon, AS telah menjadi salah satu tempat paling instagramable. Terkenal di Instagram, membuat Horsehoe Bend dikunjungi jutaan turis setiap tahun. Area parkir kini sedang diperluas untuk mengakomodasi kerumunan wisatawan yang menyebabkan kemacetan lalu lintas di tempat terpencil.
Foto: imago/blickwinkel/E. Teister
Konsekuensi yang tidak diinginkan
Tak lama setelah fotografer Johannes Holzer memposting keindahan danau Barmsee di Jerman, foto tersebut langsung viral di Instagram dan mendorong banyak orang mengunjungi tempat itu. Dalam sebuah wawancara dengan radio Jerman Bayrischer Rundfunk, Holzer mengatakan jalan menuju danau saat ini terlihat seperti telah diinjak-injak oleh tentara. Kawasan danau juga dipenuhi sampah dan puntung rokok.
Sebuah kota kecil yang dikunjungi jutaan pengunjung
Sebuah desa kecil di Austria yang berpenduduk 700 orang viral di Instagram karena keindahannya. Desa ini menjadi terkenal dan didatangi 10.000 pengunjung per hari. Penduduk setempat mengeluhkan wisatawan yang berjalan ke rumah mereka untuk menemukan sudut terbaik untuk foto-foto. Mereka meninggalkan sampah, membuat film dengan drone yang menakuti burung, dan menghancurkan kedamaian dan ketenangan.
Playa Jardín di pulau Tenerife, Spanyol adalah tempat yang populer di kalangan fotografer yang membangun menara kecil dengan batu yang dikumpulkan dari pantai. Desain mereka mungkin menghasilkan bidikan yang sempurna, namun menara tersebut sebenarnya merusak ekosistem lokal. Laba-laba, serangga, dan kadal yang hidup di bawah batu itu kehilangan tempat berlindung.
Foto: Imago Images/McPHOTO/W. Boyungs
Jangan tinggalkan jejak
Organisme tanaman yang penting bagi kesehatan tanah akan tercabut ketika posisi batu-batu tersebut diubah. Hal itu lantas menyebabkan para pencinta lingkungan membongkar formasi batuan awal tahun ini dan memposting caption di Instagram dengan tagar #pasasinhuella, yang berarti "tidak meninggalkan jejak." Hanya beberapa hari setelah kampanye, Instagrammers sudah mulai membangun kembali menara batu.
Foto: Imago Images/robertharding/N. Farrin
"Popcorn" bukan untuk dibawa pulang
Alga mati di Pulau Canary, Spanyol ini menyerupai cemilan popcorn. Keunikannya memiliki daya tarik tersendiri di media sosial Instagram, sehingga membuat banyak orang berkunjung dan membawa ganggang pulang sebagai kenang-kenangan. Akibat ulah mereka, diperkirakan 10 kilogram "popcorn" menghilang setiap bulan. Sebagai tanggapan, Proyek Clean Ocean telah mulai berbagi foto seperti ini di Instagram.
Foto: Clean Ocean Project
Penduduk Islandia membalas
Lebih dari 10 juta gambar di Instagram, Islandia menjelma sebagai tujuan yang sangat populer. Untuk mendapatkan foto yang sempurna, banyak orang berkendara dan merusak pedesaan. Mereka duduk di gletser, berjalan di lumut, dan menerbangkan drone. Dewan turis Visit Iceland kini telah meluncurkan beberapa inisiatif yang mempromosikan contoh perilaku bertanggung jawab para wisatawan.
Foto: picture-alliance/E. Rhodes
Sikap main hakim sendiri
Akun Instagram Public Lands Hate You bertujuan untuk mempermalukan perilaku yang tidak bertanggung jawab. Akun itu memposting ulang foto orang-orang yang melanggar aturan, memicu sejumlah brand untuk memutuskan hubungan dengan beberapa influencer dan bahkan menyebabkan penyelidikan dari layanan taman nasional AS. Tetapi akun ini juga menuai kritik karena menyebut orang tanpa persetujuan.(ha/vlz)
Foto: instagram.com/publiclandshateyou
9 foto1 | 9
Bagaimana reaksi Meta terhadap keputusan juri?
Seorang juru bicara Meta mengatakan perusahaan tidak setuju dengan putusan di New Mexico dan akan mengajukan banding.
“Kami bekerja keras untuk menjaga keamanan orang-orang di platform kami dan selalu terbuka mengenai tantangan dalam mengidentifikasi serta menghapus pelaku jahat atau konten berbahaya,” ujar juru bicara tersebut. “Kami akan terus membela diri secara tegas dan tetap yakin dengan rekam jejak kami dalam melindungi remaja secara online.”
Negara Ini Batasi Penggunaan Media Sosial untuk Anak
Kekhawatiran dampak media sosial pada kesehatan mental dan keamanan digital mendorong sejumlah negara mengambil langkah baru. Negara‑negara ini mulai menerapkan berbagai kebijakan pembatasan akses media sosial anak.
Foto: Jonathan Raa/NurPhoto/picture alliance
Australia
Australia melarang anak di bawah 16 tahun memiliki akun media sosial melalui aturan yang mulai berlaku pada 10 Desember 2025. Aturan ini mewajibkan platform digital mencegah pembuatan atau penggunaan akun oleh pengguna di bawah usia tersebut, dengan ancaman denda bagi perusahaan yang tidak patuh.
Foto: Str/AFP/Getty Images
Indonesia
Pemerintah Indonesia menetapkan aturan yang membatasi akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun. Menteri Komunikasi dan Digital menyebut Indonesia sebagai negara non‑Barat pertama yang menerapkan kebijakan tersebut. Regulasi ini mulai berlaku pada 28 Maret 2026 dan melibatkan peran orang tua serta sekolah dalam mengawasi penggunaan media sosial anak.
Foto: picture-alliance/AP Photo/A. Ibrahim
Malaysia
Malaysia bersiap memutuskan kebijakan final untuk melarang akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun pada November mendatang. Kebijakan tersebut bertujuan memperkuat perlindungan anak dari perundungan siber, penipuan, dan eksploitasi seksual. Mulai Januari 2026, Malaysia juga mewajibkan platform dan layanan pesan instan dengan lebih dari 8 juta pengguna untuk memiliki lisensi resmi.
Foto: Imago/Richard Wareham
India
India mempertimbangkan larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun, terinspirasi Australia dan rekomendasi Economic Survey. Negara bagian Andhra Pradesh dan Goa aktif mengkaji aturan ini. Kekhawatiran muncul terkait kecanduan digital dan dampak kesehatan mental, serta kasus bunuh diri tiga anak di Ghaziabad. RUU baru juga mewajibkan platform untuk mencegah anak di bawah umur membuat akun.
Sejak 2021, Cina menerapkan aturan ketat bagi pengguna internet di bawah 18 tahun. Anak dan remaja wajib menggunakan verifikasi identitas serta menghadapi pembatasan waktu untuk layanan daring tertentu, termasuk gim online yang dibatasi hingga tiga jam per minggu. Pada 2023, regulator juga mengusulkan “mode remaja” di ponsel yang membatasi durasi internet harian sesuai kelompok usia.
Foto: Anna Kurth/AFP/Getty Images
Jepang
Jepang belum melarang penggunaan media sosial bagi anak secara nasional. Namun, pemerintah mewajibkan operator menyediakan fitur penyaring konten bagi pengguna di bawah 18 tahun dan mendorong edukasi penggunaan internet yang aman untuk melindungi anak dari konten berbahaya.
Foto: Kazuhiro Nogi/AFP/Getty Images
Jerman
Kanselir Friedrich Merz mendukung kenaikan batas usia minimum untuk platform seperti Instagram dan TikTok, mengingat remaja yang menatap layar lebih dari lima jam sehari berisiko mengalami masalah sosial dan kepribadian. Dalam podcast “Machtwechsel”, ia menyoroti usulan CDU menetapkan usia minimum 16 tahun dengan verifikasi usia, serta dukungan SPD untuk larangan bagi anak di bawah 14 tahun.
Foto: dts-Agentur/picture alliance
Uni Eropa
Norwegia, Yunani, Inggris, Denmark, Italia, Portugal, Austria, dan Belanda tengah membahas berbagai bentuk pembatasan. Prancis mempertimbangkan larangan bagi pengguna di bawah 15 tahun, sementara Spanyol mengusulkan batas 16 tahun. Uni Eropa sendiri mendukung gagasan itu, dan pada 2025 Parlemen Eropa bahkan merekomendasikan usia minimum 16 tahun untuk penggunaan media sosial di seluruh kawasan.
Foto: Jakub Porzycki/NurPhoto/picture alliance
Amerika Serikat
Negara bagian Florida di Amerika Serikat melarang anak di bawah 14 tahun memiliki akun media sosial melalui undang-undang yang berlaku sejak 1 Januari 2025. Remaja usia 14-15 tahun masih dapat mengakses platform, tetapi harus mendapat izin orang tua.
Foto: Annabelle Gordon/REUTERS
Brasil
Brasil membatasi penggunaan ponsel di sekolah melalui undang-undang yang ditandatangani pada Januari 2025. Aturan ini melarang siswa menggunakan perangkat elektronik selama pelajaran, istirahat, maupun di lingkungan sekolah. Ponsel hanya boleh digunakan untuk keperluan pendidikan, kondisi darurat, atau kebutuhan aksesibilitas.
Foto: Gustavo Basso/DW
10 foto1 | 10
Apakah denda tersebut akan berdampak besar?
Meski putusan ini menjadi preseden penting, denda 375 juta dolar AS hanya merupakan sebagian kecil dari 2,2 miliar dolar AS yang sebelumnya diminta oleh jaksa.
Salah satu juri, Linda Payton, mengatakan juri mencapai kompromi terkait perkiraan jumlah remaja yang terdampak oleh platform Meta, namun memilih hukuman maksimum per pelanggaran, yaitu 5.000 dolar AS.
Saat ini, nilai perusahaan Meta diperkirakan sekitar 1,5 triliun dolar AS. Saham perusahaan bahkan naik beberapa jam setelah putusan, yang menunjukkan sebagian pemegang saham tidak terlalu terpengaruh oleh denda tersebut.
Tahap kedua persidangan akan dimulai pada Mei, di mana hakim, bukan juri, akan menentukan apakah platform media sosial Meta harus membiayai program publik untuk menangani dampak kerugian tersebut.
Torrez mengatakan kantornya akan meminta pengadilan memaksa Meta melakukan perubahan serta menjatuhkan sanksi finansial tambahan pada tahap kedua.
Meta juga menghadapi ribuan gugatan lain yang menuduh perusahaan tersebut, bersama sejumlah perusahaan media sosial lain, sengaja merancang produknya agar membuat anak muda kecanduan, yang disebut berkontribusi pada krisis kesehatan mental nasional.
Sebagian gugatan itu menuntut ganti rugi hingga puluhan miliar dolar, menurut dokumen Meta yang diajukan kepada regulator keuangan.
Pada saat yang sama, sejumlah negara telah menerapkan atau sedang mempertimbangkan larangan penggunaan media sosial bagi anak-anak.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Ayu Purwaningsih