1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Banjirnya Pengungsi ke Eropa Karena Keruntuhan Islam Politik

4 Februari 2016

Perang saudara dan krisis politik di negara Muslim memicu banjirnya pengungsi ke negara lain. Keruntuhan Islam politik didorong oleh sengketa politik, kata mantan menlu Inggris David Miliband.

Deutschland Medizinische Versorgung Flüchtlinge
Foto: Getty Images/AFP/C. Stache

Mantan menteri luar negeri Inggris David Miliband berbicara blak-blakan soal pengamatannya tentang banjirnya pengungsi ke Eropa, yang oleh media kini sering disebut sebagai krisis pengungsi. Dia tampil di lembaga tangki pemikir (think tank) terkemuka Catham House di London hari Rabu (03/02).

Keruntuhan politik Islam, yang disebut Milliband sebagai "implosi", telah memaksa banyak warga mengungsi dari negaranya dalam jumlah besar. Tapi Milliband juga menyebut Indonesia sebagai contoh yang memperlihatkan perkembangan lain daripada Dunia Arab.

David Miliband saat ini menjadi Direktur lembaga kemanusiaan New York International Rescue Committee. Dia datang ke Inggris untuk memberi masukan di Konferensi Donor Internasional untuk Suriah

"Makin banyak orang yang melarikan diri dari konflik. Jumlah terbesar yang lari dari konflik adalah warga di negara-negara dengan populasi mayoritas Islam, inilah implosi Dunia Islam, seperti di Afghanistan, di Timur Tengah, yang menyebabkan hal itu," katanya.

David Miliband, ketika masih menjabat sebagai menteri luar negeri Inggris (2009)Foto: AP

Menunjuk pada kawasan yang disebutnya "wilayah rumit" (tricky territory), David Miliband mengatakan, tidaklah jujur jika dia tidak melaporkan kondisi sebenarnya, karena organisasi tempat dia bekerja kini makin fokus pada krisis di negara-negara mayoriotas Muslim.

"Saya kira di sini ada pertanyaan besar, ada perdebatan besar yang sedang terjadi dalam Dunia Islam antara kelompok-kelompok dengan tradisi (pemikiran) Islam yang berbeda-beda, tentang bagaimana Islam menanggapi modernitas, demokrasi," katanya.

"Untuk berpura-pura bahwa itu bukan bagian dari masalahnya, adalah (sikap) tidak tepat," tambah Miliband.

Kehancuran di Kobane, Suriah, setelah pertempuran hebat antara ISIS dan pasukan oposisi SuriahKeFoto: DW/Kamal Sheikho

Di beberapa negara yang dilanda krisis, kubu Sunni militan seperti Taliban dan ISIS, terlibat konflik bersenjata dengan kelompok Muslim lainnya, yang ingin agar Islam lebih berselaras dengan modernitas. Atau mereka berperang dengan kelompok minoritas seperti Syiah.

Tapi mantan menteri luar negeri Inggris David Miliband menegaskan, analisisnya tidak berlaku untuk seluruh dunia Muslim. Dia menunjuk pada Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar dunia, dan Bangladesh, sebagai dua contoh negara yang memperlihatkan perkembangan lain.

"Juga tidak tepat untuk berpura-pura bahwa semua negara mayoritas Muslim mengalami krisis," katanya. "Tapi saya pikir, jika Anda melihat sejarah di Asia Selatan selama 30 tahun terakhir, dan perkembangan di Timur Tengah selama 20 tahun terakhir, maka itulah bagian dari kisahnya."

Kawasan Irak dan Suriah terpecah belah oleh pertempuran (2015)

Miliband mengatakan, krisis Suriah adalah masalah jangka panjang, dengan sejumlah besar pengungsi mungkin tinggal di Lebanon, Yordania, Turki dan negara-negara lain selama bertahun-tahun.Jadi harus ada cara dan prioritas baru untuk menanganinya.

hp/yf (rtr)