1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Militer Israel Tanggapi Polemik Film Dokumenter "Naza"

Petra Lambeck dpa, epd, kna
2 Oktober 2026

Film dokumenter pemenang penghargaan NAZA masih memicu polemik di Israel. IDF kini menerbitkan dokumen setebal beberapa halaman yang menyebut kedua sutradara menyajikan gambaran “terdistorsi” dan "menyesatkan."

Panglima militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir (foto 2018)
Panglima militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir (foto 2018), yang mengambilalih kepemimpinan di tengah perang di Gaza pada Maret 2025.Foto: Thomas Coex/AFP

Pada pertengahan September, film itu disambut tepuk tangan berdiri selama hampir 25 menit di Festival Film Internasional Venesia. Juri memberinya penghargaan khusus.

Namun di negeri asalnya NAZA justru ramai sengketa. Menteri Kebudayaan Israel, Miki Zohar, menyebut karya dua sineasnya, Rachel Szor dan Yuval Abraham, sebagai bentuk pengkhianatan terhadap negara. Bahkan, dia meminta kewarganegaraan keduanya dicabut.

Militer Israel (IDF) juga dengan tegas membantah tuduhan kejahatan kemanusiaan dalam operasi di Gaza yang didokumentasikan dalam film tersebut. Kini, IDF menerbitkan dokumen beberapa halaman yang menuduh kedua sineas menyajikan "gambaran yang terdistorsi, menyesatkan, dan tidak jujur”. Menurut dokumen tersebut, penggambaran dalam film didasarkan pada "kesalahan faktual yang signifikan” yang muncul dari "penggambaran realitas secara manipulatif dan keliru”.

Sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional dan sebuah komisi PBB mengategorikan tindakan Israel dalam perang di Gaza sebagai genosida. Menurut otoritas kesehatan setempat dan sejumlah sumber lain, sedikitnya 74.000 warga Palestina di Jalur Gaza telah tewas sejak perang dimulai.

Sutradara Naza, Yuval Abraham dan Rachel Szor, ketika menerima penghargaan spesial dari juri Festival Film Venesia, 12 September.Foto: Yves Herman/REUTERS

Mengintip di balik layar perang

NAZA yang berdurasi 80 menit itu mengulas cara kerja militer Israel dalam perang di Gaza. Film ini dibuat berdasarkan wawancara dengan 24 anggota militer dan intelijen yang identitasnya dirahasiakan. Mereka membeberkan proses internal dan pengambilan keputusan dalam menentukan sasaran serangan di Jalur Gaza.

Menurut para narasumber, tingginya jumlah korban sipil dalam sejumlah serangan terkadang telah diperhitungkan secara sadar.

Namun, Militer Israel membantah testimoni para perwira dan serdadu. IDF menyatakan tidak pernah merencanakan atau melancarkan serangan yang memperkirakan akan menewaskan ratusan warga sipil. Klaim bahwa kecerdasan buatan secara mandiri menentukan sasaran serangan juga dinilai keliru. Menurut militer Israel, keputusan mengenai sasaran dan serangan selalu dibuat oleh manusia.

Pada saat yang sama, IDF menuding para sineas mengabaikan sejumlah aspek penting. Film tersebut, menurut militer Israel, tidak menampilkan peran penasihat hukum militer dan para komandan dalam memeriksa serta menyetujui setiap serangan.

Film juga tidak membahas langkah-langkah yang dilakukan angkatan bersenjata untuk melindungi warga sipil. Selain itu, serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 dinilai tidak mendapat porsi yang semestinya dari sudut pandang militer Israel.

Menteri Israel Ancam Cabut Kewarganegaraan Pembuat Film “Naza”

01:40

This browser does not support the video element.

NAZA diputar di bioskop dunia

Dalam penyerahan penghargaan di Venesia pada pertengahan September, salah satu sutradara, Yuval Abraham, mengatakan, "Kami percaya bahwa penyangkalan terhadap sebuah kejahatan turut membuat kejahatan itu terus berlangsung. Karena itu, sangat, sangat penting bagi kami agar warga Israel menonton film ini.”

Rachel Szor dan Yuval Abraham sebelumnya juga terlibat dalam film No Other Land, yang pada 2025 meraih Oscar untuk kategori film dokumenter terbaik.

Nama NAZA berasal dari istilah Ibrani Nezek Agavi, yang berarti korban sampingan atau kerusakan tak disengaja. Menurut seorang tentara yang diwawancarai dalam film, istilah tersebut digunakan di lingkungan militer untuk menyebut perkiraan jumlah warga sipil yang mungkin tewas dalam sebuah serangan.

Selain Menteri Kebudayaan Miki Zohar, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga mengecam keras film dokumenter tersebut. Sebaliknya, sejumlah organisasi hak asasi manusia, termasuk organisasi Israel B'Tselem, menyatakan dukungan terhadap kedua sutradara.

Setelah pemutaran perdananya di Festival Film Venesia, NAZA kini mulai diputar di bioskop-bioskop di sejumlah negara di dunia.

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait