Minyak Venezuela: Risiko bagi Lingkungan dan Manusia
14 Januari 2026
Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Namun, industri minyaknya telah mengalami penurunan selama bertahun-tahun, dan volume produksi minyak anjlok di bawah Presiden Maduro.
Tingginya utang, bobroknya infrastruktur, dan korupsi berarti Venezuela akan membutuhkan investasi besar dan undang-undang baru sebelum dapat mendatangkan investor petrodolar.
Para ahli mengatakan, semua ini bisa memakan waktu bertahun-tahun. Harganya tidak murah bagi penduduk setempat dan lingkungan mereka.
Bahkan hingga saat ini, Venezuela masih berjuang mengatasi limpahan polusi air akibat aktivitas produksi minyak. Salah satunya berasal dari kebocoran pipa-pipa ekstraksi dan pengangkutan minyak yang mencemari air Danau Maracaibo, salah satu danau terbesar di Amerika Selatan.
Cekungan Sungai Orinoco merupakan salah satu cadangan minyak terbesar di dunia, diperkirakan mengandung 1,3 triliun barel minyak. Para ilmuwan memperingatkan bahwa ekstraksi di sini dapat mencemari sumber kehidupan terpenting negara tersebut.
Delta Orinoco adalah salah satu ekosistem air tawar dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia dan masih relatif utuh. Perluasan produksi minyak di sana akan mengakibatkan deforestasi besar-besaran. Para pemerhati lingkungan khawatir akan terjadinya bencana ekologis di ekosistem yang rapuh tersebut.
Selain itu, minyak Venezuela sangat bersifat berat dan membutuhkan lebih banyak bahan kimia untuk pengolahannya. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan. Ekstraksi dan produksi juga menghasilkan gas rumah kaca dalam jumlah yang sangat tinggi.
Jika nantinya produksi minyak Venezuela dengan keterlibatan AS benar-benar meningkat signifikan, tanpa peraturan dan standar lingkungan yang sesuai, masalah baru akan tak terhindarkan.
Dan contoh dari negara lain menunjukkan bahwa sumber daya minyak yang besar tidak secara otomatis mendatangkan pertumbuhan, lapangan kerja, dan kemakmuran bagi penduduk.
Sisi kelam eksploitasi gas di Mozambik
Pada tahun 2010, ladang gas besar ditemukan di lepas pantai negara Afrika Timur, Mozambik. Investasi lebih dari €27 miliar telah dijanjikan. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan bahwa proyek ini dapat menghasilkan pendapatan hingga US$500 miliar.
Angka-angka ini memicu harapan akan kucuran uang tunai cepat, yang sangat dibutuhkan negara tersebut. Namun, para kritikus berpendapat bahwa pendapatan sebesar itu tidak realistis.
Setelah penemuan cadangan gas, butuh waktu 12 tahun sebelum produksi dapat dimulai. Proyek gas alam cair (LNG) selanjutnya dijadwalkan baru akan dimulai pada tahun 2028. Jadi, tidak ada jaminan keuntungan cepat akan datang.
Apa manfaatnya bagi penduduk setempat? Masih jadi pertanyaan. Sebuah laporan dari International Institute for Sustainable Development (IISD) juga mengungkapkan konsekuensi ekologis yang drastis dari ekstraksi gas.
Menurut penelitian itu, di sekitar lokasi pengolahan Afungi , area hutan, lahan basah, dan habitat pesisir yang luas telah hancur. Padahal, habitat ini sangat penting untuk mendukung keanekaragaman hayati dan perlindungan pantai.
Ekosistem di laut lepas pantai juga tertekan: pengeboran, pengerukan, dan polusi memberikan tekanan pada kehidupan laut. Habitat yang terdegradasi, hilangnya spesies, dan migrasi kehidupan laut tidak hanya akan merusak alam, tetapi juga secara drastis mengurangi hasil tangkapan ikan. Hal ini mengancam mata pencaharian dan penghidupan penduduk setempat, demikian peringatan IISD.
Risiko lingkungan bukan hanya di negara miskin
Menurut perkiraan para ilmuwan Spanyol, produksi minyak global berdampak pada lingkungan dan kesehatan sekitar 600 juta orang. Risiko ini juga bukan hanya dihadapi oleh wilayah miskin dan negara berkembang.
Dunia mencatat bencana Deepwater Horizon yang terjadi pada 2010. Setelah ledakan anjungan minyak, lebih dari 700.000 ton minyak mentah mengalir ke Teluk Meksiko selama berbulan-bulan. Kerusakan yang terus berlanjut pada ekosistem pesisir di AS dan ekonomi lokal diperkirakan mencapai lebih dari $60 miliar.
Di Ekuador, minyak tidak memperluas kemakmuran
Di Ekuador, booming minyak juga pernah terjadi setelah penemuan cadangan pada tahun 1960-an. Namun, semua itu tidak dengan cepat membawa kemakmuran. Masalah malah berdatangan.
Kebocoran pipa, kontaminasi air limbah, dan banyaknya tumpahan minyak telah mencemari saluran air dan tanah, telah merusak pertanian, peternakan, dan stok ikan. Semua itu merusak sumber pendapatan penting penduduk setempat.
Tumpahan minyak terbaru, setelah pecahnya pipa pesisir pada Maret 2025, memengaruhi lebih dari 300.000 orang. Seperti di negara lain, tumpahan minyak sering dikaitkan dengan penyakit menular dan krisis kesehatan berkepanjangan akibat pencemaran air.
Pemerintah Ekuador sempat bertaruh bahwa booming minyak akan berlanjut tanpa batas. Namun, dengan krisis minyak tahun 1980-an yang disertai anjloknya harga minyak, ekonomi Ekuador terperosok ke dalam krisis.
Nigeria: Pendapatan minyak tinggi, hanya dinikmati segelintir
Selama beberapa dekade, produksi minyak dan gas di Nigeria menghasilkan pendapatan ekspor dan pendapatan pemerintah yang sangat besar. Tetapi sebagian besar penduduk terus menderita kemiskinan. Produksi minyak di Delta Niger telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang besar dan konflik sosial.
Perairan yang kaya ikan dan lahan pertanian telah terkontaminasi oleh ribuan ton minyak, dengan konsekuensi nyata terhadap kesehatan dan mata pencaharian lebih dari 30 juta orang di wilayah produksi. Sementara itu, sangat sedikit lapangan kerja baru yang tercipta.
Meskipun pendapatan perusahaan dan negara meningkat pesat, masyarakat setempat hampir tidak mendapat manfaat. Mereka sering kali dibiarkan menghadapi sendiri kerusakan lingkungan, ketidakstabilan sosial, dan kemiskinan yang meningkat. Sementara kompensasi yang dijanjikan sering kali kurang karena prosedur yang rumit dan penegakan peraturan yang lemah.
Permintaan minyak dan gas global memang diproyeksikan akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang menurut International Energy Agency (IEA). Namun, sebagian besar ahli sepakat bahwa era bahan bakar fosil suatu saat akan berakhir.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh: Arti Ekawati
Editor: Rizki Nugraha