Paus Leo XIV memimpin misa Natal pertamanya di Vatikan. Pesan Natal perdana Paus asal AS ini berisi kritik terhadap ketimpangan ekonomi.
Di Vatikan, Paus Leo XIV memimpin misa pertamanya di Basilika Santo PetrusFoto: Marco Iacobucci/IPA/ZUMA/picture alliance
Iklan
Paus Leo XIV memimpin misa Natal pertamanya sebagai pemimpin Gereja Katolik di Basilika Santo Petrus, Vatikan. Perayaan ini menjadi momen penting bagi Paus asal Amerika Serikat (AS) tersebut, yang terpilih pada Mei 2025 dan untuk pertama kalinya menyampaikan pesan Natal dari takhta kepausan.
Dalam homilinya yang berlangsung pada Rabu (24/12) malam waktu setempat, Paus Leo XIV menegaskan Natal sebagai perayaan "iman, kasih, dan harapan." Dia mengingatkan bahwa martabat manusia tidak boleh dikorbankan oleh sistem "ekonomi yang terdistorsi," sekaligus menyerukan perdamaian global di tengah konflik yang masih berlangsung di berbagai belahan dunia.
"Ekonomi yang terdistorsi membuat kita memperlakukan manusia sebagai barang dagangan semata, Allah menjadi seperti kita, menunjukkan martabat tak terbatas setiap orang," ujar Paus Leo XIV.
"Di mana ada ruang bagi manusia, di situ ada ruang bagi Allah," ucapnya. "Bahkan kandang pun dapat menjadi lebih suci daripada kuil."
Kehidupan dan Perjuangan Paus Fransiskus
12 tahun menjadi pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Fransiskus dalam perjalanan hidupnya giat menyerukan pesan-pesan perdamaian, inklusi, perlindungan linkungan, dan keadilan ekonomi.
Foto: Evandro Inetti/dpa/ZUMA/picture alliance
Pemimpin 'gereja untuk kaum miskin'
Menyusul pengunduran diri Paus Benedict XVI, Kardinal Argentina, Jorge Mario Bergoglio, terpilih sebagai paus ke-266 pada bulan Maret 2013. Dia mengambil nama Fransiskus untuk meneladani Santo Fransiskus dari Asisi, yang begitu peduli terhadap orang miskin, rendah hati, dan merawat ciptaan. Sejalan dengan hal tersebut, Paus Fransiskus giat menyerukan “gereja untuk kaum miskin.”
Foto: Natacha Pisarenko/AP Photo/picture alliance
"Kami berharap dunia melihat tragedi kemanusiaan ini"
Dalam menjalankan tugas kepausannya Paus Fransiskus begitu memperhatikan nasib para pengungsi. Di tengah krisis migran yang terjadi pada tahun 2016, Paus mengunjungi kamp pengungsian Moria yang begitu padat di Pulau Lesbos, Yunani. Disana dia menyerukan agar dunia 'merespons secara manusiawi', ia lalu membawa serta 12 pengungsi muslim ke Roma dalam pesawat kenegaraannya.
Foto: Andreas Solaro/AFP/Getty Images
Menjaga Lingkungan
Dalam Ensiklik Paus Fransiskus di tahun 2015 yang berjudul “Laudato Si” (“Terpujilah Tuhan”), ia mengecam sistem kapitalisme global yang telah mengeksploitasi kaum miskin dan menghancurkan lingkungan. Selama masa kepausannya, Paus Fransiskus memperjuangkan pemeliharaan lingkungan mencegah krisis iklim. Dia membawa pesan ini ke seluruh penjuru, seperti pada foto di Papua Nugini tahun 2024 ini.
Foto: Gregorio Borgia/AP/dpa/picture alliance
Menjebatani Perbedaan
Tahun 2021, Fransiskus menjadi Paus pertama mengunjungi Irak, menghadapi banyak kekhawatiran perihal keamanan di negara tersebut. Di tengah reruntuhan gereja-gereja yang hancur, ia berdoa untuk para korban perang di Mosul, yang pernah menjadi ibu kota de facto dari apa yang disebut “Negara Islam”. Kunjungan ini adalah upaya Paus Fransiskus menjembatani kesenjangan umat Kristen, dan non-Kristen.
Foto: Andrew Medichini/AP/picture alliance
Permohonan maaf atas kebijakan sekolah katolik yang mengintimidasi
Pada tahun 2022, Paus Fransiskus menemui delegasi masyarakat adat Kanada Selatan, suku bangsa Inuit, dan Metis lalu meminta maaf atas pelecehan, kekerasan, dan penghilangan budaya secara sistematis yang dilakukan oleh para misionaris gereja katolik di sekolah-sekolah asrama Kanada.
Foto: Nathan Denette/The Canadian Press/AP/dpa/picture alliance
Pemuka agama di sampul majalah musik rok
Fransiskus menunjuk sejumlah kardinal dalam misi reformasi gereja. Ia bahkan sempat terlihat di sampul majalah rok “Rolling Stone” sebagai pelopor perubahan. Namun, dalam misi ambisiusnya, ia belum sepenuhnya berhasil terutama dalam hal melindungi korban dan penyintas pelecehan seksual anak di Gereja, atau merintis jalan bagi para pastor perempuan.
Foto: picture alliance/dpa/ROLLING STONE
Langkah-langkah kecil untuk diterima
Sosok Paus Fransiskus yang seperti musisi rok tentu menarik perhatian, sama halnya saat ia mengunjungi negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, Indonesia, pada tahun 2024. Sebagai salah satu upaya menjembatani Gereja yang lebih inklusif, Paus menyoroti komunitas LGBTQ+ dan menyerukan perlakuan yang setara sebagai manusia, namun ia belum mendukung pemberkatan untuk pernikahan sesama jenis.
Foto: Indonesia Papal Visit Committee
Pemberkatan kepada Kota dan Dunia yang terakhir
Di usia 88 tahun, kurang dari sebulan setelah berjuang melawan pneumonia ganda, Paus Fransiskus meninggal dunia pada 21 April 2025 karena strok. Satu hari sebelum wafat, ia menyampaikan pemberkatan terakhir Urbi et Orbi (“Kepada kota dan dunia”) di akhir Misa Paskah hari Minggu. Konklaf kepausan akan berkumpul di Kapel Sistina untuk menentukan penggantinya dalam 15 hingga 20 hari kedepan.
Ribuan umat Katolik dilaporkan mengikuti misa Natal di Basilika Santo Petrus dan Lapangan Santo Petrus. Sejumlah layar besar disediakan bagi umat yang tidak tertampung di dalam basilika. Sebelum misa dimulai, Paus Leo XIV menyapa umat yang hadir dan menyampaikan terima kasih atas kehadiran mereka.
Paus Leo menjadikan kepedulian terhadap para migran dan kaum miskin sebagai tema utama di awal masa kepemimpinannya. Dia mengatakan kelahiran Yesus menunjukkan kehadiran Tuhan dalam setiap diri manusia.
“Di bumi, tidak ada ruang bagi Tuhan jika tidak ada ruang bagi sesama manusia. Menolak yang satu berarti menolak yang lain," kata Paus dalam misa khidmat tersebut, yang dihadiri sekitar 6.000 orang di dalam basilika.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Gaya kepemimpinan dan penghormatan bagi Paus Fransiskus
Paus Leo XIV dikenal mengadopsi gaya kepemimpinan yang lebih tenang dan moderat dibandingkan pendahulunya, Paus Fransiskus, yang wafat pada April 2025.
Dalam homilinya, Paus Leo XIV juga mengenang Paus Fransiskus yang membuka Tahun Suci pada Natal 2024 meski dalam kondisi kesehatan yang menurun. Dia menyebut pesan harapan yang disampaikan pendahulunya tetap relevan di tengah tantangan global saat ini.
Misa tersebut dihadiri oleh tokoh tinggi Gereja Katolik, para diplomat, serta sekitar enam ribu umat. Upacara berlangsung khidmat dengan perpaduan musik tradisional dan simbol simbol liturgis, termasuk penempatan patung bayi Yesus di palungan.
Paus terlihat tengah menyaksikan adegan kelahiran Yesus dan diperkirakan akan menyampaikan pesan untuk mengenang para korban perangFoto: Maria Grazia Picciarella/Middle East Images/picture alliance
Seruan perdamaian di tengah konflik global
Sebelumnya pada Selasa (23/12), Paus Leo XIV juga menyerukan gencatan senjata selama 24 jam di seluruh dunia. Dia menyampaikan kesedihan mendalam atas penolakan Rusia terhadap usulan gencatan senjata di Ukraina.
Paus mengajak semua orang yang berkehendak baik untuk menghormati setidaknya satu hari perdamaian pada perayaan kelahiran Yesus Kristus. Selain Ukraina, Paus juga menyampaikan harapan akan kemajuan dalam upaya perdamaian antara Israel dan Palestina.
Seruan tersebut sejalan dengan pernyataan para pemimpin gereja Kristen di Yerusalem yang sebelumnya mengingatkan bahwa meski terdapat jeda kekerasan di Gaza, situasi di kawasan tersebut tetap rapuh dan membutuhkan sikap realistis.
Iklan
"Urbi et Orbi"
Pada Hari Natal, Paus Leo XIV dijadwalkan memimpin misa tambahan dan menyampaikan berkat Urbi et Orbi dari balkon Basilika Santo Petrus. Dalam pesan tradisional ini, Paus biasanya menyoroti konflik global dan menyerukan perdamaian dunia.
Perayaan Natal 2025 sekaligus menandai berakhirnya Tahun Suci Gereja Katolik, yang selama setahun terakhir telah menarik jutaan peziarah ke Roma.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris