1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Misi Jerman di Afghanistan

9 Juli 2007

Enam pesawat Tornado Jerman beroperasi melakukan pengintaian, sekitar 3000 tentara melakukan tugas pengamanan dan pembangunan kembali.

Pesawat Tornado di Jerman di pangkalan udara Mazar-i-Sharif
Pesawat Tornado di Jerman di pangkalan udara Mazar-i-SharifFoto: AP

Pesawat Tornado tinggal landas dengan suara memekakan telinga saat bertolak dari markas Bundeswehr Jerman di Mazar-i-Sharif, Afghanistan Utara. Lars, tentara Jerman yang ditempatkan di Afghanistan, mengamati Tornado itu sampai menghilang dari pandangan mata:

„Bekerja di sini tetap mengasikkan, dan Tornado kami juga bertahan dengan baik. Begitu juga dengan kami, kami selalu mengatakan happy landings.“

'Happy landings' atau pendaratan yang mulus. Itu yang diharapkan semua pilot Angkatan Udara Jerman. April lalu enam pesawat Tornado melapor siap bertugas.di Afghanistan. Sekarang hanya lima pesawat yang secara rutin lepas landas. Pesawat keenam tak meninggalkan hangar lagi sejak salah satu roda depannya patah saat mendarat. Sementara lima pesawat lainnya berpatroli secara rutin, biasanya mereka menuntaskan maksimal dua misi dalam sehari. Bagi Thorsten Poschwatta, pimpinan Angkatan Udara pasukan Bundeswehr di Afghanistan, misi Tornado Jerman sangat jelas, yaitu mengawasi dan bukan untuk bertempur.

Poschwatta: “Kawasan yang kami awasi meliputi jalan yang digunakan untuk patroli. Tujuannya untuk memberikan informasi detil kepada pimpinan patroli. Selain itu kami mengawasi institusi yang menyuplai pasokan serta jalan para pemasok.Itu termasuk infrastruktur dan daerah pedesaan, kami memeriksa apakah jembatan masih bisa dilalui – pokoknya misi kami meliputi seluruh aspek kehidupan di Afghanistan.”

Poschwatta tak memberikan penjelasan yang lebih rinci. Ia hanya menambahkan bahwa foto yang ambil Tornado Jerman selama terbang melintasi Afghanistan berkualitas sangat tinggi. Foto-foto itu harus tiba di markas besar ISAF selambatnya 45 menit setelah pesawat Tornado mendarat. Gambar tersebut digunakan untuk melengkapi bahan yang dikumpulkan pesawat pengintai tak berawak dan citra satelit.

Poschwatta: “Tentu saja, hasil pengintaian kami hanyalah bagian kecil dari seluruh misi pengawasan di Afghanistan. Informasi lainnya tetap dibutuhkan agar kami dapat memberikan gambar menyeluruh bagi ComISAF yang menggunakan informasi tersebut untuk merencanakan operasinya.”

ComISAF adalah markas komando pasukan perdamaian bagi Afghanistan ISAF. Pasukan ISAF kini terdiri dari 37.000 tentara dari 37 negara yang ditempatkan di seluruh pelosok Afghanistan – termasuk di selatan dan timur negara itu. Di sini perang benar-benar berkecamuk. Di sini Taliban berhadapan dengan dua pasukan, yaitu satuan koalisi anti terror di bawah pimpinan Amerika Serikat yang dikenal dengan Operation Enduring Freedom dan pasukan ISAF yang dipimpin Pakta Pertahanan Atlantik Utara NATO.

Kini, pasukan perdamaian ISAF berubah menjadi satuan tentara yang bertempur secara aktif. Pesawat pengintai Tornado Jerman dengan foto berkualitas tinggi pun jadi bagian dari operasi yang bersifat offensif. Ini memunculkan perdebatan sengit antar politisi di Jerman. Hal yang sulit dipahami menurut serdadu Bundeswehr yang ditempatkan ditempatkan di Camp Marmal di Mazar-i-Sharif. Seorang serdadu mengatakan:

„Kita harus tetap bertahan di sini, itu pasti. Misi ini harus dilanjutkan agar kerja keras yang memeras keringat ini tidak sia-sia.“

Kelompok Taliban dan sekutunya mengubah strategi serangan mereka. Mereka menggunakan jebakan bahan ledak dan pelaku bom bunuh diri untuk menghadapi pasukan internasional. Saat ini semua tentara asing menjadi sasaran. Termasuk sekitar 3.000 tentara Jerman Bundeswehr yang bertugas sebagai serdadu ISAF di Mazar-i-Sharif, Kundus dan Faisabad, tiga kota di Afghanistan Utara. Seorang serdadu Jerman menceritakan:

„Di sini, di kamp kami, saya dan rekan-rekan saya merasa cukup aman. Tapi di luar kamp ini situasinya sangat berbeda. Tentara yang bertugas di luar tentu menghadapi risiko yang lebih tinggi daripada kami yang berada di dalam kamp ini.“

Tanggal 19 Mai lalu seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan bom di tengah-tengah pasar di Kundus. Bom tersebut menewaskan tiga tentara Jerman dan delapan warga sipil Afghanistan. Walau begitu, situasi di provinsi di utara Afghanistan, di mana tentara ISAF berada di bawah komando Jerman, tak bisa dibandingkan dengan di selatan dan timur negara Hindukush itu. Di kawasan itu setiap hari diwarnai tembak menembak, aksi bom bunuh diri dan serangan udara.

Operasi militer pasukan internasional tak jarang menelan korban warga sipil. Belakangan kritik mulai muncul dari penduduk Afghanistan.

Mohamed Arif: „Saya hanyalah warga biasa. Saya tidak setuju bila penduduk sipil yang tidak bersalah jadi korban. Seharusnya pasukan internasional lebih banyak komunikasi. Tapi saya tetap lega ada tentara dari luar di sini, terutama tentara dari Jerman.”

Kebanyakan penduduk Afghanistan berpikiran sama dengan Mohamed Arif yang bekerja sebagai tukang kayu. Mereka tetap menerima bantuan dari luar. Walau belakangan suara-suara kritis mulai bermunculan, seperti yang dituturkan Sharif:

„Kami membutuhkan tentara asing di Afghanistan, mereka tidak boleh pergi sekarang. Kalau nanti Afghanistan sudah damai, mereka bisa meninggalkan negara ini. Tapi kalau mereka menarik diri sekarang, perang akan pecah di seluruh Afghanistan dan negara ini akan tenggelam dalam kerusakan.“

Sementara Sadiq, seorang mahasiswa jurusan jurnalistik di Universitas Kabul mengingatkan masyarakat international akan janji mereka yaitu menjamin perdamaian dan keamanan di Afghanistan setelah perang berkepanjangan selama 25 tahun.

Sadiq: „Warga sipil yang menjadi korban ini benar-benar merusak reputasi baik pasukan international. Seharusnya para tentara lebih berhati-hati, karena misi ini harus sukses. Bila dunia internasional kembali menelantarkan Afghanistan, maka tidak akan ada yang percaya lagi pada mereka.“ (zer)