Misi Penengah Jerman di Timur Tengah
15 Januari 2009
Tiga pekan setelah Israel melancarkan invasi militer di Jalur Gaza, usaha diplomasi untuk dapat dicapai gencatan senjata terus ditingkatkan. Menteri Luar Negeri Jerman Frank Walter Steinmeier, untuk kedua kalinya dalam waktu lima hari melalukan misi penengahan. Di Yerusalem ia mengadakan pembicaraan dengan Presiden Israel Shimon Perez, kemudian dengan Perdana Menteri Ehud Olmert, Menteri Pertahanan Ehud Barak, dan Menteri Luar Negeri Zipi Livni. Selanjutnya ia akan melakukan pembicaraan di Ramallah dan Kairo. Ketika tiba di Tel Aviv, Menteri Luar Negeri Frank Walter Steinmeier menyerukan segera dilakukannya gencatan senjata untuk kemanusiaan, sebagai awal diciptakannya gencatan senjata yang langgeng. Dengan demikian bahan bantuan bagi warga di Jalur Gaza yang mengalami penderitaan dapat disalurkan. Sebelumnya, bersama Menteri Luar Negeri Perancis Bernard Kouchner, ia juga menyerukan segera diakhirinya pertempuran. Apakah Menteri Luar Negeri Jerman Frank Walter Steinmeier dalam misi penengahnya akan berhasil mengikutsertakan pejabat otonomi Palestina dalam mencari solusi konflik di Gaza?. Menteri urusan pengungsi Palestina Ashraf al Asharami di Ramallah menilai skeptis.
"Hamas dan Isarel tidak tertarik terhadap penempatan tentara Internasional di Jalur Gaza. Dan juga tidak tertarik bersatunya Jalur Gaza dengan Tepi Barat Yordan, Dengan demikian Israel berkewajiban melanjutkan proses politik, sampai dicapainya perjanjian perdamaian berdasarkan tapal perbatasan dari tahun 1967".
Selain Menteri Luar Negeri Jerman Frank Walter Steinmeier,Sekjen PBB Ban Ki Moon juga melakukan misi penengahan, dan melanjutkan pembicaraan di Kairo. Di Ibukota Yordania, Amman, ia menyerukan Israel dan kelompok Hamas agar menghentikan pertempuran:
"Kedua belah pihak harus segera menghentikan pertempuran, Kita tidak ingin kehilangan waktu"..
Sementara itu, misi penengah Mesir, dibawah pimpinan kepala dinas rahasia Omar Sulaiman mencapai kemajuan dalam perundingan dengan delegasi kelompok Hamas. Dilaporkan kelompok Hamas menyetujui gencatan senjata.Tapi beberapa hal harus dijelaskan. Demikian diungkapkan wakil kelompok Hamas Salah al Bardawi. Kelompok Hamas menuntut penarikan tentara Israel dari Jalur Gaza, diakhirinya blokade Israel , serta dibukanya pintu perbatasan dari Gaza ke Israel dan Mesir. Rancangan usulan yang digagas Mesir untuk dapat dicapai gencatan senjata yang langgeng berisikan diakhirinya penyeludupan senjata ke Jalur Gaza,serta Israel menghentikan blokadenya terhadap wilayah Palestina. Sejak Israel melancarkan invasi militer tanggal 27 Desember lalu,lebih dari 3 ribu warga Palestina tewas, dan 4600 lainnya luka-luka. Demikian menurut keterangan pejabat urusan kesehatan di Gaza.(ar)