Paus Fransiskus telah menyumbangkan salah satu mobil kepausannya untuk membantu perawatan kesehatan anak-anak di Gaza. Ini adalah salah satu keinginan terakhir Paus.
Popemobile yang disumbangkan untuk melayani anak-anak Gaza akan dilengkapi dengan alat khusus dan akan dioperasikan oleh para dokter dan petugas medis di wilayah Palestina.Foto: Andrew Medichini/REUTERS
Iklan
Salah satu popemobiles atau mobil kepausan Paus Fransiskus akan kembali digunakan sebagai klinik kesehatan keliling untuk anak-anak di Gaza, sesuai dengan keinginan terakhir mendiang Paus.
Mobil kepausan adalah kendaraan yang digunakan para pemimpin Gereja Katolik dalam kunjungan kepausan ke berbagai negara dan wilayah.
Gaza: Mereka Kehilangan Tempat Bernaung
Perang yang berkecamuk memaksa puluhan ribu orang mengungsi di Jalur Gaza. Badan-badan bantuan PBB tidak memiliki sumber daya untuk mengatasi banjirnya pengungsi.
Foto: Reuters
Terus berlari
Perang memakan korban jiwa dan material. Serangan militer Israel di Jalur Gaza menyebabkan orang-orang kehilangan rumah mereka. Kemana mereka harus berlindung?
Foto: AFP/Getty Images
Mengutamakan anak-anak
Perang selalu berujung pada jatuhnya korban. Perang di Gaza memaksa orang-orang melarikan diri. Mereka mencari keselamatan. Seorang warga Palestina membopong anak-anakmya di dekat sebuah pasar di Shejaia.
Foto: Reuters
Menatap kehancuran
Dengan menaiki gerobak, warga di Bet Lahiya utara Jalur Gaza meninggalkan rumah-rumah mereka. Mereka menyeberangi perbatasan Gaza dengan melewati dua terowongan utama.
Foto: Reuters
Perempuan dan anak-anak
Perempuan dan anak-anak menyelamatkan diri. Dengan menggunakan kendaraan, para warga Palestina terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka, guna menghindari serangan massif.
Foto: Reuters
Rumah luluh lantak
Warga Palestina di distrik Shejaia ini berduka melihat kehancuran rumah-rumah mereka. Tak ada tempat lagi untuk bernaung. Jenazah para korban seakan berserakan di jalanan, sementara rumah sakit disesaki oleh korban yang mengalami luka-luka.
Foto: Reuters
Di tengah situasi mengerikan
Warga Palestina meninggalkan rumah mereka di timur distrik Shejaia, setelah serangan Israel menyebabkan jatuhnya korban jiwa di jalan-jalan.
Foto: M.Abed/AFP/Getty Images
Peringatan polisi
Keluarga-keluarga Palestina ini melarikan diri, setelah mendapat peringatan dari polisi, akan adanya serangan Israel di Gaza.
Foto: Reuters
Menara mesjid yang hancur
Warga Palestina berhimpun di dekat sebuah menara mesjid yang hancur. Polisi mengatakan menara mesjid di Gaza City itu rusak akibat serangan udara Israel.
Foto: Reuters
Kamp penampungan pun rusak
Sekolah PBB ini tadinya dimanfaatkan untuk menampung para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal. Namun kini, sekolah PBB di Jebaliya di utara Jalur Gaza ini rusak berat akibat serangan Israel 30 Juli 2014.
Foto: Reuters
9 foto1 | 9
'Intervensi nyata yang menyelamatkan nyawa' - Caritas
Layanan media Vatikan, Vatican News, melaporkan bahwa Paus Fransiskus, yang wafat bulan lalu, mempercayakan proyek ini kepada organisasi bantuan Katolik, Caritas Yerusalem, beberapa bulan sebelum ia wafat.
"Ini adalah intervensi nyata yang menyelamatkan nyawa di saat sistem kesehatan di Gaza hampir lumpuh sepenuhnya," kata Peter Brune, Sekretaris Jenderal Caritas Swedia, yang mendukung proyek tersebut, kepada Vatican News.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Ini adalah kendaraan yang sama yang digunakan oleh Fransiskus dalam perjalanannya ke Holy Land pada tahun 2014. Kendaraan tersebut akan dilengkapi dengan peralatan untuk diagnosis, pemeriksaan medis dan perawatan, menurut laporan Vatican News pada hari Minggu (4/5).
Kendaraan itu akan dikelola oleh dokter dan petugas medis. Mereka akan ditugaskan untuk menjangkau anak-anak di daerah-daerah terpencil di Gaza.
Ini Warisan Paus Fransiskus
01:08
This browser does not support the video element.
Anak-anak Gaza 'tidak dilupakan'
"Ini bukan sekadar kendaraan," tambah Brune. "Ini adalah sebuah pesan bahwa dunia tidak melupakan anak-anak di Gaza."
Vatikan News mengutip pernyataan Paus Fransiskus: "Anak-anak bukanlah angka. Mereka memiliki wajah. Nama. Cerita. Dan mereka semua suci."
Paus Fransiskus vokal mendukung perdamaian di Gaza dan mengecam aksi pengebomanterhadap anak-anak di wilayah Palestina, serta turut menyerukan diakhirinya pertikaian.
Sejak perang di Gaza dimulai pada tahun 2023, Paus Fransiskus secara rutin menelepon warga Palestina yang berlindung di sebuah paroki Katolik kecil di Kota Gaza.
Artikel Ini Pertama Kali Terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Yuniman Farid
Kehidupan dan Perjuangan Paus Fransiskus
12 tahun menjadi pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Fransiskus dalam perjalanan hidupnya giat menyerukan pesan-pesan perdamaian, inklusi, perlindungan linkungan, dan keadilan ekonomi.
Foto: Evandro Inetti/dpa/ZUMA/picture alliance
Pemimpin 'gereja untuk kaum miskin'
Menyusul pengunduran diri Paus Benedict XVI, Kardinal Argentina, Jorge Mario Bergoglio, terpilih sebagai paus ke-266 pada bulan Maret 2013. Dia mengambil nama Fransiskus untuk meneladani Santo Fransiskus dari Asisi, yang begitu peduli terhadap orang miskin, rendah hati, dan merawat ciptaan. Sejalan dengan hal tersebut, Paus Fransiskus giat menyerukan “gereja untuk kaum miskin.”
Foto: Natacha Pisarenko/AP Photo/picture alliance
"Kami berharap dunia melihat tragedi kemanusiaan ini"
Dalam menjalankan tugas kepausannya Paus Fransiskus begitu memperhatikan nasib para pengungsi. Di tengah krisis migran yang terjadi pada tahun 2016, Paus mengunjungi kamp pengungsian Moria yang begitu padat di Pulau Lesbos, Yunani. Disana dia menyerukan agar dunia 'merespons secara manusiawi', ia lalu membawa serta 12 pengungsi muslim ke Roma dalam pesawat kenegaraannya.
Foto: Andreas Solaro/AFP/Getty Images
Menjaga Lingkungan
Dalam Ensiklik Paus Fransiskus di tahun 2015 yang berjudul “Laudato Si” (“Terpujilah Tuhan”), ia mengecam sistem kapitalisme global yang telah mengeksploitasi kaum miskin dan menghancurkan lingkungan. Selama masa kepausannya, Paus Fransiskus memperjuangkan pemeliharaan lingkungan mencegah krisis iklim. Dia membawa pesan ini ke seluruh penjuru, seperti pada foto di Papua Nugini tahun 2024 ini.
Foto: Gregorio Borgia/AP/dpa/picture alliance
Menjebatani Perbedaan
Tahun 2021, Fransiskus menjadi Paus pertama mengunjungi Irak, menghadapi banyak kekhawatiran perihal keamanan di negara tersebut. Di tengah reruntuhan gereja-gereja yang hancur, ia berdoa untuk para korban perang di Mosul, yang pernah menjadi ibu kota de facto dari apa yang disebut “Negara Islam”. Kunjungan ini adalah upaya Paus Fransiskus menjembatani kesenjangan umat Kristen, dan non-Kristen.
Foto: Andrew Medichini/AP/picture alliance
Permohonan maaf atas kebijakan sekolah katolik yang mengintimidasi
Pada tahun 2022, Paus Fransiskus menemui delegasi masyarakat adat Kanada Selatan, suku bangsa Inuit, dan Metis lalu meminta maaf atas pelecehan, kekerasan, dan penghilangan budaya secara sistematis yang dilakukan oleh para misionaris gereja katolik di sekolah-sekolah asrama Kanada.
Foto: Nathan Denette/The Canadian Press/AP/dpa/picture alliance
Pemuka agama di sampul majalah musik rok
Fransiskus menunjuk sejumlah kardinal dalam misi reformasi gereja. Ia bahkan sempat terlihat di sampul majalah rok “Rolling Stone” sebagai pelopor perubahan. Namun, dalam misi ambisiusnya, ia belum sepenuhnya berhasil terutama dalam hal melindungi korban dan penyintas pelecehan seksual anak di Gereja, atau merintis jalan bagi para pastor perempuan.
Foto: picture alliance/dpa/ROLLING STONE
Langkah-langkah kecil untuk diterima
Sosok Paus Fransiskus yang seperti musisi rok tentu menarik perhatian, sama halnya saat ia mengunjungi negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, Indonesia, pada tahun 2024. Sebagai salah satu upaya menjembatani Gereja yang lebih inklusif, Paus menyoroti komunitas LGBTQ+ dan menyerukan perlakuan yang setara sebagai manusia, namun ia belum mendukung pemberkatan untuk pernikahan sesama jenis.
Foto: Indonesia Papal Visit Committee
Pemberkatan kepada Kota dan Dunia yang terakhir
Di usia 88 tahun, kurang dari sebulan setelah berjuang melawan pneumonia ganda, Paus Fransiskus meninggal dunia pada 21 April 2025 karena strok. Satu hari sebelum wafat, ia menyampaikan pemberkatan terakhir Urbi et Orbi (“Kepada kota dan dunia”) di akhir Misa Paskah hari Minggu. Konklaf kepausan akan berkumpul di Kapel Sistina untuk menentukan penggantinya dalam 15 hingga 20 hari kedepan.