1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Modernisasi Militer Rusia

18 Maret 2009

Rusia akan melakukan modernisasi menyeluruh pada sistem persenjataan nuklirnya mulai tahun 2011. Presiden Medvedev terutama ingin menenangkan kalangan militer.

Symbolbild Presseschau Pers Internasional

Harian Polandia Gazeta Wyborcza menulis:

Pernyataan Medvedev tentang ancaman terhadap Rusia oleh NATO dan Amerika Serikat punya fungsi ganda. Pernyataan ini diarahkan ke dalam dan ke luar negeri. Sebagai konsumsi luar negeri, pernyataan ini bertujuan untuk memperbaiki posisi tawar Rusia menjelang pertemuan dengan presiden Amerika Serikat. Kalau bukan itu tujuannya, buat apa Rusia langsung menyatakan siap melakukan kompromi dengan mitra-mitranya. Ke dalam negeri, presiden dan menteri pertahanan ingin memberi sinyal penting kepada kalangan militer, yang setelah perang di Georgia menyadari, betapa parahnya kondisi tentara. Para jenderal tahu, modernisasi angkatan bersenjata harus segera dilakukan. Sekarang mereka mendapat janji, bahwa militer akan mendapat apa yang diperlukan sekalipun di tengah situasi krisis.

Harian Jerman Frankfurter Rundschau berkomentar:

Di dengar sekilas, Dmitry Medevdev seakan-akan ingin mendeklarasikan lagi perang dingin. Ia menyatakan, sehubungan dengan berbagai ancaman, antara lain NATO yang semakin dekat, maka militer Rusia harus dimodernisasi dan ditingkatkan kesiagaannya. Terutama kesiagaan persenjataan nuklirnya. Tapi Medvedev bukan kebetulan saja berpidato tentang persenjataan. Ia juga sering menyebut kata ‚krisis', dan ia berjanji akan menyediakan rumah bagi para perwira. Krisis di Rusia memang mudah menyulut kerusuhan sosial. Karena itu, kepala negara ingin menenangkan korps perwira yang sudah lama mengeluh. Di masa-masa krisis, tentara sering bisa jadi faktor menentukan dalam politik dalam negeri.

Harian Spanyol El Periodico yang terbit di Barcelona dalam tajuknya menulis:

Reformasi militer yang diumumkan Presiden Dmitry Medvedev adalah jawaban terhadap masuknya NATO ke negara-negara tetangga Rusia. Juga jangan dilupakan ancaman teror dan berbagai krisis regional seperti yang baru-baru ini terjadi di Georgia. Modernisasi angkatan bersenjata sebenarnya sudah lama dilakukan setelah perang di Afghanistan dan Cehnya. Karena itu tidak mengherankan, kalau Medvedev sekarang sehubungan dengan krisis ekonomi mulai menempatkan bidak-bidaknya di papan catur politik dunia. Tapi ia kelihatannya tidak tertarik pada persaingan persenjataan seperti yang pernah dialami oleh Uni Soviet dan Barat dulu.

Hal lain yang menjadi sorotan pers di Eropa adalah kasus perusahaan asuransi Amerika Serikat AIG. Sekalipun perusahaan ini hampir bangkrut dan perlu suntikan dana pemerintah, manajernya menerima bayaran bonus jutaan Dollar.

Harian Denmark Information menulis:

„Tidak ada perusahaan lain di Amerika Serikat yang menerima demikian banyak dana bantuan negara seperti AIG. Kementerian keuangan dan Bank Sentral sekarang menguasai 80 persen saham AIG. Meskipun demikian, tidak jelas benar siapa sebenarnya pengambil keputusan di perusahaan asuransi terbesar dunia ini. Kelihatannya, yang mengendalikan perusahaan ini masih kalangan manajer keuangan, yang juga bertanggung jawab atas kerugian raksasa di masa lalu. Mereka bahkan masih mendapat pembayaran bonus jutaan Dollar. Secara politis, hal ini tidak bisa diterima oleh Presiden Barack Obama. Tapi tidak cukup, jika Obama hanya menyampaikan kemarahan secara moral dan meminta Menteri Keuangan Timothy Geithner mengupayakan pembekuan bonus-bonus itu. Presiden harus bertindak lebih tegas lagi terhadap para direktur AIG. (hp)