1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Mogok Menentang Sarkozy

20 Maret 2009

Perancis kembali dilanda aksi mogok. Bukan hal baru, sebab negara ini setiap tahun mengalami berbagai aksi semacam itu. Kali ini didorong oleh meluasnya ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintahan Sarkozy.


Harian Perancis Dernieres Nouvelles d'Alsace, DNA yang terbit di Strassburg menulis:

Kesimpulan ini mungkin mengejutkan: Jika ratusan ribu orang turun ke jalan, ini petunjuk yang baik bagi negara ini. Ini hari besar untuk aksi mobilisasi. Dan aksi ini memperlihatkan semangat besar, yang jauh dari aksi putus asa. Tidak terasa ada kesedihan, tidak terasa ada kemarahan besar dalam berbagai aksi massal, melainkan terasa ada kekuatan yang penuh pertimbangan. Juga terdengar lebih sedikit kekacauan daripada yang dikhawatirkan sebelumnya. Para pekerja tidak membiarkan dirinya ditekan. Mereka ingin bertahan dan berjuang. Mereka tidak ingin ditelan begitu saja oleh sebuah krisis besar. Mereka mempertahankan tempat kerjanya dan membela industri Perancis.

Harian Jerman Frankfurter Allgemeine Zeitung berkomentar:

Di Perancis tekanan dari jalan makin meningkat. Sasarannya adalah Nicolas Sarkozy. Karena di suatu negara, di mana negaralah yang mengatur segala sesuatu, presiden akan jadi alamat pertama melampiaskan kekecewaan. Dengan defisit anggaran yang akan mencapai 100 miliar Euro tahun ini, Perancis harus mulai memikirkan generasi mendatang. Menurut perhitungan Dana Moneter Internasional, program stimulus ekonomi Perancis hanya mencapai 1,3 persen Produk Domestik Bruttonya, bandingkan dengan Jerman yang mengeluarkan 3,4 persen. Apalagi Perancis sebelum masa krisis tidak memperkecil utang negara.

Harian Swiss Neue Zürcher Zeitung menyebut aksi mogok di Perancis sebagai aksi ritual biasa. Harian ini dalam tajuknya berkomentar:

„Aksi massal kalangan serikat buruh dan ritual protesnya, yang mendapat simpati luas di kalangan masyarakat karena situasi ekonomi sedang memburuk, bukan merupakan suatu tanda bahaya. Sekalipun kalangan serikat buruh menggunakan istilah yang menakutkan ‚mogok massal', lingkup aksi-aksi mogok dalam ritual kali ini sebenarnya biasa saja. Mogok di kalangan pekerja kereta api juga tidak melumpuhkan lalu lintas kereta karena ada pelayanan minimum. Tapi dalam suasana sosial yang makin meruncing, memang tetap ada potensi ancaman dari aksi protes sektoral. Misalnya di perusahaan-perusahaan dan universitas yang terancam ditutup.

Hal lain yang jadi sorotan pers di Eropa adalah tuduhan gencar terhadap militer Israel karena aksi-aksi mereka dalam Perang di Jalur Gaza. Beberapa serdadu Israel mengaku melakukan pembunuhan secara sembarangan terhadap warga sipil. Harian Belanda Trouw menulis:

Para perwira tinggi berjanji akan melakukan pemeriksanaan intensif dan menyeluruh mengenai pernyataan itu. Tapi kalangan internasional sudah lama mendesak agar operasi Israel di Jalur Gaza diperiksa. Satu kelompok beranggotakan 16 ahli hukum internasional dan aktivis hak asasi baru saja minggu lalu meminta Dewan Keamanan PBB dan Sekretaris Jendral Ban Ki Moon untuk memeriksa kemungkinan pelanggaran hukum perang oleh Israel di Jalur Gaza. Kelompok itu, antara lain beranggotakan penerima hadiah nobel perdamaian Desmond Tutu dan mantan komisaris PBB untuk hak asasi, Mary Robinson, menuntut agar dilakukan pengusutan pidana terhadap yang bersalah.

Harian Italia La Repubblica berkomentar:

Pemujaan kekerasan dan prasangka bahwa semua warga Palestina adalah teroris menyebabkan terjadinya kekejaman, yang oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia sekarang dikecam sebagai kejahatan perang. Israel menolak tuduhan itu dengan argumen, bahwa jatuhnya korban di pihak Palestina adalah karena milisi Hamas menggunakan penduduk sipil sebagai tameng hidup. Yang dipersoalkan disini bukan bom fosfor dan senjata mematikan lain, melainkan lunturnya moral. (hp)