Menurut Gubernur Aceh, hingga kini masih banyak kebutuhan dasar masyarakat yang belum terpenuhi. Pemulihan infrastruktur di Aceh baru 30 persen.
Kerusakan di Desa Tanjung Karang, Aceh. Gambar diambil pada 12 Desember 2025.Foto: Riski Cahyadi/Anadolu/IMAGO
Iklan
Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) mengatakan pemulihan infrastruktur pascabencana di Aceh hingga saat ini mencapai sekitar 30 persen. Menurutnya, masih banyak kebutuhan dasar masyarakat yang belum terpenuhi.
"Baru terpenuhi mungkin 30 persen (pemulihan infrastruktur)," kata Muallem usai rapat pemulihan pascabencana Sumatera bersama DPR dan pemerintah, di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Dia mengatakan sejumlah infrastruktur dasar, seperti jembatan dan fasilitas pendidikan, masih membutuhkan percepatan penanganan.
Hal itu disampaikan Tito seusai rapat bersama DPR RI di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (25/5/2026). Tito mengatakan pemerintah telah menyusun rencana induk percepatan rehabilitasi-rekonstruksi yang akan dijalankan selama tiga tahun, yakni 2026 hingga 2028.
Siklon Tropis Senyar menyebabkan hujan deras dan banjir dahsyat di Sumatra. Ratusan orang tewas dan banyak korban hilang. Tim penyelamat terus bekerja tanpa henti.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Foto udara wilayah yang terdampak
Setelah banjir besar dan tanah longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, 442 orang dilaporkan tewas. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), lebih dari 400 orang masih hilang. Sekitar 290.000 orang di ketiga provinsi tersebut kehilangan rumah dan membutuhkan bantuan.
Foto: Aidil Ichlas/REUTERS
Mereka yang kehilangan
Hujan deras turun selama lebih dari dua hari, yang disebabkan siklon Senyar,embuat air sungai meluap. Pada foto nampak gelondongan kayu pohon yang hanyut ke pantai Air Tawar di Sumatra Barat. Penebangan liar diduga telah mengurangi daya tampung air tanah dan memperparah dampak bencana ini.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Proses penyelamatan yang sulit
Cuaca yang membaik di akhir pekan (29-30 November) membuat tim penyelamat dapat memperluas operasi pencarian, melakukan penyelamatan, dan mengevakuasi korban dari reruntuhan. Pada saat yang sama, tim penyelamat berusaha mencapai wilayah-wilayah yang rusak parah dan terputus akibat longsor dan banjir bandang.
Foto: Stringer/REUTERS
Bantuan sedang didistribusikan
Setelah diguyur hujan lebat, akses ke beberapa wilayah di Sumatra dengan gunung api aktif dan pegunungan terjal sempat terputus. Jalan yang hancur dan jalur komunikasi yang terputus membuat daerah-daerah yang terkena dampak hanya dapat dijangkau dengan transportasi udara.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Keadaan darurat
Di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, hampir 80 orang hilang di tiga desa, tertimbun berton-ton lumpur dan batu. Alat berat sangat dibutuhkan untuk mengevakuasi korban yang tertimbun. Pihak berwenang menetapkan keadaan darurat hingga 11 Desember.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Rumah yang hancur
Berlokasi di “Cincin Api Pasifik”, sabuk gunung berapi dan zona patahan geologis di Pasifik, membuat Indonesia rentan dilanda bencana alam seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan tsunami.
Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
6 foto1 | 6
"Sekarang kita akan melakukan proses menuju pemulihan permanen. Itulah jadi dari tiga tahapan itu, tanggap darurat, transisi, kemudian kita masuk masa untuk menuju permanen, kita namakan rehab-rekon, dan ini kuncinya adalah Renduk (Rencana Induk)," kata Tito.
"Renduk ini, rencana induk ini direkap dari seluruh kabupaten/kota, provinsi, dan kementerian/lembaga. Setelah itu disandingkan. Dari sandingan itu, dari Bappenas, kemudian juga kami Satgas ikut dalam apa namanya itu, menyesuaikan, selama, akan diselesaikan dalam waktu 3 tahun, 2026, 2027, 2028," sambungnya. (amw/knv)