Mungkinkah Protes Damai Dapat Runtuhkan Rezim Otoriter?
9 Februari 2026
"Saya tidak takut, saya tidak takut, saya akan berjuang demi pembebasan karena saya tahu mengapa saya diciptakan.”
Sekelompok paduan suara beranggotakan sekitar 20 orang dari berbagai usia berdiri dalam formasi setengah lingkaran, dengan satu orang di tengah bertindak sebagai dirigen.
Terdengar seperti latihan paduan suara yang kontemplatif, tapi ternyata memiliki tujuan serius. Mereka memegang poster bertuliskan "No sleep for ICE" (Tak ada tidur untuk ICE) dan "Hilton stop housing ICE" (Hilton berhenti menampung ICE). Kelompok itu berdiri di lobi sebuah hotel di Minneapolis tempat para agen imigrasi dan bea cukai Amerika Serikat, yang dikenal sebagai ICE, menginap.
Namun, polisi tiba dan meminta mereka membubarkan diri. Sebelum memasuki hotel, para organisator telah memberi instruksi jelas: cukup bernyanyi sampai polisi datang, dan jangan meningkatkan situasi.
Minneapolis kini menjadi panggung berbagai bentuk protes. Untuk melawan tindakan kekerasan oleh aparat ICE, warga setempat menjadi kreatif dengan membuat mereka terjaga di malam hari melalui nyanyian, suara bising, bahkan pernah menggelar konser musik rock.
Protes tanpa kekerasan ala gerakan Gen Z global
Beragam metode protes tanpa kekerasan semakin banyak warga Amerika Serikat (AS). Salah satunya adalah membangun koalisi, yakni mencari dukungan seluas mungkin bagi tujuan mereka.
Sering kali, fokusnya adalah pada ketidakpatuhan dengan cara sederhana, yaitu menolak bekerja sama dengan otoritas. Di Minneapolis, warga berpatroli di jalanan dan memperingatkan tetangga melalui grup obrolan tentang keberadaan petugas di sekitar wilayah mereka.
Ada pula yang memilih boikot. Pekan lalu, berbagai organisasi di seluruh AS menyerukan agar orang tidak pergi ke sekolah, berbelanja, atau bekerja. Namun, negara itu tidak benar-benar lumpuh pada hari tersebut.
Jadi, apakah protes tanpa kekerasan benar-benar berhasil?
Contoh di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa hal itu bisa berhasil. Protes yang dipimpin Generasi Z di Nepal, Bangladesh, dan Madagaskar selama dua tahun terakhir berhasil menjatuhkan pemerintahan di negara masing-masing. Sebagian besar berlangsung tanpa kekerasan.
Ivan Marovic, salah satu pemimpin gerakan protes melawan Slobodan Milosevic di Serbia, mengatakan aspek terpenting dalam protes tanpa kekerasan adalah memotivasi sebanyak mungkin orang selama mungkin.
Gerakan protes mahasiswa yang dikenal dikenal dengan Otpor berhasil menggulingkan pemerintahan Serbia pada tahun 2000 setelah para mahasiswa berunjuk rasa selama lebih dari dua tahun.
Prinsip dasar dalam ilmu politik menyebutkan bahwa jika setidaknya 3,5% dari populasi ikut serta dalam protes tanpa kekerasan melawan rezim otoriter, protes tersebut biasanya berhasil. Namun, angka saja tidak menjamin keberhasilan.
"Alasan mengapa gerakan berhasil adalah karena mereka menerapkan tekanan yang berkelanjutan,” kata Marovic, yang kini menjabat sebagai direktur eksekutif International Center for Nonviolent Conflict (ICNC) di Washington, DC. "Inilah mengapa kami berbicara tentang transformasi dari sebuah protes menjadi sebuah gerakan.”
Warga Minneapolis 'haus' akan protes
Protes di Minneapolis sudah memenuhi kriteria tersebut, kata Aru Shiney-Ajay, Direktur Eksekutif Sunrise Movement, organisasi yang mengoordinasikan berbagai aksi seperti protes di depan hotel-hotel.
Kelompok lingkungan yang mengorganisasi aksi melalui aplikasi perpesanan Signal secara rutin mencapai batas jumlah peserta aktif. Ajay yakin setidaknya 4% warga terlibat, bahkan di luar mereka yang turun ke jalan.
"Orang-orang benar-benar 'lapar' akan tindakan yang secara nyata menghambat kemampuan otoritarianisme untuk berfungsi,” kata Shiney-Ajay.
Namun, aturan 3,5% mungkin tidak berlaku untuk semua protes, kata Lee Smithey, profesor Studi Perdamaian dan Konflik dan Sosiologi di Swarthmore College, Pennsylvania. "Aturan itu mungkin sulit diterapkan pada kampanye skala kecil, seperti di lingkungan atau kota tertentu.”
Peran humor dalam gerakan protes
Untuk menjaga keterlibatan publik, Shiney-Ajay mengambil inspirasi dari gerakan lain, termasuk Otpor. Ia sangat terkesan oleh selera humor para demonstran Serbia. Pada hari ulang tahun istri pemimpin negara saat itu, sebuah lingkungan mengikat bunga favoritnya, bunga aster, pada seekor kalkun dan mengaraknya di jalanan.
Marovic mengenang bahwa aksi tersebut bukan semata untuk mengejek istri presiden, melainkan untuk mengkritik keseluruhan sistem politik. Aksi itu menjadi lelucon yang menyatukan para demonstran karena seluruh negeri memahami simbolismenya di baliknya.
"Penggunaan humor dalam gerakan membantu mengubah persepsi tentang mereka yang berkuasa,” kata Marovic. "Humor meruntuhkan relasi kekuasaan yang ada.”
Selain melemahkan figur pemimpin, humor juga membantu meredakan ketakutan masyarakat. "Salah satu hal yang menghalangi orang untuk bergabung dalam gerakan adalah rasa takut akan represi atau kekerasan,” ujar Marovic.
Protes yang dibalut humor dapat membuat masa-masa sulit terasa lebih ringan dan menyatukan orang-orang. Itulah esensi protes tanpa kekerasan, tegas Smithey, siapa pun bisa ikut serta. Tanpa kekerasan, anak-anak, lansia, dan orang dari berbagai latar belakang memiliki ruang untuk hadir. Setiap orang bisa berkontribusi, meski hanya dengan menyebarkan informasi.
Menyoroti keberhasilan protes untuk melawan apatisme
Salah satu ancaman terbesar bagi protes adalah apatisme, yakni perasaan bahwa protes sia-sia atau tidak sepadan dengan risikonya. Karena itu, Shiney-Ajay terus mengingatkan para demonstran akan keberhasilan yang telah dicapai gerakannya, misalnya, beberapa hotel berhenti menampung ICE dan jumlah petugas ICE di Minnesota dikurangi.
Gregory Bovino, petugas patroli perbatasan yang bertanggung jawab atas penegakan imigrasi di Minneapolis, harus meninggalkan jabatannya setelah seorang petugas ICE menembak demonstran Alex Pretti pada Januari. Sunrise Movement kemudian menulis di Instagram: "Anda yang melakukannya. Kita melakukannya bersama. Kita telah membuat ICE mustahil menjalankan tugasnya.”
ICE tidak menanggapi permintaan komentar dari DW hingga artikel ini diterbitkan.
Untuk menjaga semangat tetap hidup, Shiney-Ajay sudah menyiapkan ide protes berikutnya di Minneapolis: "Kami bertanya-tanya, bisakah pemerintah kota mulai melakukan konstruksi di semua pintu masuk jalan tol di sekitar gedung penahanan Whipple? […] Kami punya banyak jalan berlubang di Minnesota. Mungkin ini saat yang tepat untuk memperbaikinya.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Algadri Muhammad
Editor: Tezar Aditya