Opa Jerman ini Punya Museum Batik di Köln
22 April 2026
Di Köln, Jerman ada sebuah museum batik. Pendirinya orang Jerman bernama Rudolf Smend. Tapi gara-gara melonjaknya harga properti di Jerman, pemilik museum batik pribadi ini terpaksa hengkang dari gedung lama, memboyong koleksi museumnya ke galeri yang ruangannya lebih kecil.
Selain punya museum 200 meter persegi, sebenarnya dia juga menyewa dua galeri untuk tempat ia jualan batik. Nah, akhirnya "harta karun” dari museum sebelumnya, akhirnya ia pindahkan ke lantai bawah ruang tanah salah satu galerinya itu. Soalny,a mencari ruangan baru untuk museum di Köln saat ini menurutnya tidaklah murah. Jadi, barang-barang museumnya kini disimpan di bawah tanah galeri dan menjadi museum yang lebih kecil.
Sejak tahun 1973 Smend membuka museum dan galeri batik, Saking bucinnya dengan warisan budaya asal Indonesia tersebut. Puluhan tahun Smend membiayai galeri ini sendiri—tanpa memungut tiket masuk atau dukungan pemerintah. Bagaimana nasib "harta karunnya” kini di tengah terpaan inflasi? Meski usianya sudah 85 tahun, Smend tidak mudah menyerah.
DW: Bisakah Anda ceritakan kapan pertama kali Anda melihat batik dan langsung jatuh cinta?
Rudolf Smend: Tahun 1972, dengan ransel, saya memulai perjalanan panjang saya dari Jerman hingga ke Australia, melalui Yogyakarta. Di Yogyakarta, seperti yang saya ketahui dari buku panduan turis, ada Istana Sultan dan pada hari Minggu pagi dan para putri biasanya menari di pendoponya. Tidak dikenakan biaya menonton, siapa pun bisa masuk ke situ. Itu pada tahun 1973, dan saya sangat senang melihat gadis-gadis muda yang menari di sana, dengan gerakan mereka yang ringan. Saya cukup terpesona dan kemudian melihat apa yang mereka kenakan... Seseorang mengatakan kepada saya bahwa itu adalah batik. Dan saya belum pernah mendengar soal batik sebelumnya. Pola-pola yang dipakai penari tersebut adalah Parang-Rusak, yang dicelup dengan warna-warna alami, cokelat dan biru dan diaplikasikan dengan lilin.
Lalu kemudian?
Lalu saya makin penasaran dan pergi ke Balai Batik atau Lembaga Penelitian Batik, di Yogyakarta. Di situlah saya bertemu pembuat batik dan diajak ke studionya di Taman Siswa, di mana para seniman memiliki bengkel kerja pembuatan batik. Saya bertanya kepada salah seorang seniman, bernama Giyanto, bagaimana cara membuat batik dan seperti apa teknologinya? Saya memutuskan tinggal di sana selama seminggu buat belajar membatik. Kami duduk di depan studionya dan mengoleskan lilin ke batik. Saya tidak tahu apa itu. Namun setelah dua hari saya berhenti belajar.
Kenapa?
Bukan itu yang saya mau. Saya lalu pergi ke pasar besar di Jalan Malioboro dan mwlihat lima perempuan di belakang duduk di depan tumpukan batik: Oh, itulah yang saya cari. Saya membeli setumpuk batik untuk membuat kemeja. Dan saya masih memiliki kemeja tersebut, kemeja batik yang indah dari seorang penjahit. Buatan tangan, tentu saja. Itulah permulaannya.
Di Yogjakarta saya berpikir bahwa jika membeli beberapa batik dan menjualnya di Jerman, bisa mendapatkan sedikit uang dan kembali ke Indonesia. Itu idenya.
Anda menjualnya di mana di Jerman?
Saat itu di Jerman, tahun 1973, ada pasar loak dan bagus sekali kalau bisa memamerkan batik di pasar loak, karena orang-orang yang pergi ke pasar loak adalah orang-orang biasa. Keuntungan hasil jualan saya pakai buat balik ke Indonesia lagi. Baru beberapa tahun kemudian saya pergi ke museum di Jakarta dan melihat batik-batik tua di sana. Namun menemukan batik yang benar-benar tua malah di jalanan di Jakarta. Di Jakarta, Anda dapat melihat beberapa orang pakai batik ketika Anda pergi ke kasino atau diundang ke pesta pernikahan. Bahkan para perempuan mengenakan batik kuno.
Baru pada tahun 1976, seseorang menunjukkan sebuah batik bertanda tangan pembuat batik atau cap signatur dan kemudian saya menjadi makin jatuh cinta pada batik.
Anda akhirnya mencari tahu tentang batik?
Saya kemudian melakukan penelitian di Jerman, tetapi tidak ada literatur tentang itu sama sekali. Ada yang bilang harus pergi ke Belanda, ke Rotterdam, di sana ada Museum Dunia. Ada literatur tentang batik. Dan sebagai tuan dan nyonya kolonial, mereka biasanya membawa banyak batik saat itu, menandatangani batik di Rotterdam dan kemudian menunjukkan kepada saya banyak sekali batik. Dan kemudian saya jatuh cinta dengan batik-batik tua. Itulah ceritanya.
Sulit tidak untuk menemukan batik tua dan langka?
Saat itu, ada pedagang di Jakarta dan mereka memiliki tekstil, ikat, batik, boneka wayang, dan segala macamnya, di Jalan Kebon Sirih Timur. Dan karena saya tertarik dengan batik, mereka pun menyiapkannya.
Pada saat itu, saya telah menulis surat yang mengatakan bahwa saya akan datang ke Jakarta. Dan kemudian mereka menunjukkan kepada saya apa yang telah mereka siapkan. Kemudian saya membeli beberapa barang, tidak semuanya. Kemudian di Jalan Suabaya, di mana Anda dapat menemukan barang-barang antik. Dan di sana, saya juga menemukan sebuah batik yang ditandatangani pembuatnya, batik yang sangat indah. Dan kemudian penjualnya mengatakan kepada saya, datanglah ke rumah saya, saya punya lebih banyak. Jadi, itulah permulaannya. Bagaimana saya bisa terlibat banyak dengan batik, murni karena kebetulan.
Apa batik tertua yang Anda punya?
Batik tertua berasal dari koleksi Nyonya Jans (Carolina Josephina von Franquemont). Nyonya Jans, saya ketahui kemudian, adalah seorang pembuat batik yang penting di akhir tahun 1800-an, dan Raja Rama V dari Thailand sedang berada di Jawa pada saat itu dan mengoleksi batik-batik dari Nyonya Jans. Kedengarannya agak aneh bahwa kami memiliki selera yang sama. Lalu saya berkata kepada teman saya, mungkin kita bisa menemukan lebih banyak lagi. Dan kami pergi ke rumah susun, ke rumah seorang teman dan ia berkata kepada yang menjual, ada orang Jerman gila yang ingin membeli batik, batik yang ditandatangani. Toh batik ini hanya tergeletak begitu saja, kita bisa menjualnya. Tidak terlalu mahal bagi saya, mungkin 200, 300, 400 dolar harganya saat itu. Ada pasar di Jerman untuk menjualnya saat itu. Anda harus mencari orang yang tepat untuk mendapatkannya untuk Anda.
.
Berapa harga batik termahal yang pernah Anda beli?
5000 euro. Harganya sangat mahal, tetapi saya menginginkannya dan kemudian saya mengumpulkan uangnya, tentu saja.
Gila. Saya pernah melihat batik tersebut dalam sebuah publikasi. Saya rasa karena mahal banget, tidak usah beli. Lalu penjualnya berkata kepada saya, tidak masalah jika tak mau beli. Minggu depannya, pesaing saya, Mary Kahlenberg, seorang konservator tekstil di Los Angeles, yang memiliki banyak uang dari Museum Los Angeles County juga tertarik batik yang sama. Lalu saya berpikir, oke, kalau begitu saya harus membelinya. 5.000 dolar. Ya, ya, itu adalah uang yang banyak, tapi saya benar-benar menginginkannya.
Sekarang, di mana itu? Sudah terjual ?
Bisa dibilang kita begitu tergila-gila sehingga akan membayar apa pun untuk mendapatkannya dan bersaing dengan Mary Kahlenberg. Dia adalah pesaing saya dari Amerika Serikat. Dan kemudian saya menerbitkan gambarnya dalam buku katalog. Lalu batik itu dibeli kurator di Paris. Sekarang barangnya ada di museum di Paris. Mereka membelinya sekitar 12.000 euro.
Ya, itu benar-benar sesuatu yang istimewa. Tentu saja. Kedengarannya memang besar, 12.000 euro, tetapi jika dipikir-pikir, seluruh tim mengerjakan batik itu setidaknya selama delapan bulan. Dan dengan mewarnai, melantunkan nyanyian dan sebagainya, harga itu bisa dibilang tidak terlalu tinggi.
Menurut Anda, apakah harga batik di Indonesia terlalu murah?
Mereka kadang menjual terlalu murah saat itu. Harganya 10 dolar, 15 dolar di pasaran. Padahal itu semua hasil kerja keras. Itulah mengapa saya ingin menjual dengan harga lebih tinggi di Jerman, supaya orang bisa menghargai teknik dan keindahan batik. Hal itu juga menjadi perhatian saya ketika saya menyebarkan batik di Jerman.
Anda mengatakan bahwa saat itu Anda memiliki dua bahkan tiga, galeri sebelumnya Dan Anda harus melepaskan museumnya sejak tahun lalu, bukan?
Ya, dulu kami memiliki Museum Batik di Jalan Mainzerstrasse 21 Köln, tetapi bangunannya dijual dan semua penyewa harus pergi. Tentu saja, tidak mudah bagi saya untuk mengosongkan ruangan seluas 200 meter persegi dalam waktu satu bulan. Lalu kami pergi ke pengadilan. Kemudian mereka berkata, baiklah, kasih waktu satu tahun. Itu adalah solusi yang bagus bagi saya, tetapi banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Dan sekarang saya pindahkan museum batiknya ke galeri tak jauh dari situ. Barang-barang museum saya simpan di ruang bawah tanah galeri itu. Dan pada saat yang bersamaan, kami menggunakan ruang di dua galeri yang saya sewa untuk memamerkan batik. Ini disebut Galeri 0. Dan di galeri utama di jalan Mainzerstrasse nomor 31, sekarang museum batiknya di ruang bawah tanah.
Ada banyak perangko batik dan gambar serta peta dan foto. Jadi, sangat layak untuk dilihat-lihat pengunjung. Jadi, saya bisa mengatakan bahwa ini adalah museum. Tidak ada biaya masuk. Dan ada banyak kunjungan rombongan, misalnya dari Museum Rautenstrauch-Joest-Museum, datang ke sini untuk melihat-lihat koleksi museum.
Sulit membiayai museum sendiri?
Kesulitan juga, dengan inflasi, segala macam, Kami dulu sering bekerja dan memberikan kursus batik di ruangan ini. Kursus menulis batik dan kursus melukis sutra. Setiap minggu, setiap bulan.
Dan sebagai sebuah bisnis keluarga kecil, kami adalah yang pertama memamerkan lukisan sutra di sini. Dan kami menghasilkan banyak uang di sana. Kami benar-benar bekerja keras. Kemudian bus-bus datang dari Belgia dan Belanda untuk membeli bahan dan lukisan sutra dari kami. Kain, bingkai, dan literatur. Berlangsung hingga tahun 1979, ketika gelombang lukisan sutra dimulai. Itu berlangsung selama 20 tahun. Itu adalah masa-masa yang menyenangkan. Kami mampu menghasilkan banyak uang. Dan saya dapat menggunakan uang tersebut untuk membeli barang-barang di Indonesia.
Apa jadinya museum ini setelah Anda pindahkan ke galeri Anda yang lebih kecil ini?
Saya bukan siapa-siapa. Saya bahkan tidak memikirkan seperti apa jadinya museum ini nanti. Dan sekarang saya tidak punya uang pensiun. Tapi itu tidak masalah bagi saya. Aku sehat. Dan terkadang saya menjual batik yang bagus.
Tapi bagaimana untuk membiayai galeri-museum ini?
Ruangan tempat kami biasa mengadakan kursus sangat populer di kalangan seniman yang ingin memamerkan karya mereka di sana. Jadi kami sewakan, biaya sewa ruangan bagi yang mau pakai sekitar 150 euro per hari. Dan sebagian besar seniman yang menampilkan karya mereka adalah perempuan. Tahun lalu ruang galeri kami disewa hampir sepanjang waktu. Kecuali, tentu saja, selama liburan musim panas dan karnaval. Semua berjalan dengan baik. Dan ketika tidak ada apa-apa di sini pada awal tahun, saya menggunakan waktunya untuk memamerkan koleksi saya di sini, karena saya memiliki begitu banyak batik dan saya ingin melihat semuanya lagi. Tentu saja saya juga bisa melihatnya di dalam kotak. Tapi jauh lebih bagus batiknya dipajang di dinding. Dan juga jauh lebih menyenangkan untuk ditonton oleh para pengunjung.
Berapa lama Anda ingin pertahankan galeri ini?
Aku sehat. Istriku juga sehat. Dan kami masih bisa menyewakan ruang galeri di sini untuk membiayai museum batik. Tentu saja, saya sadar apa pun bisa terjadi. Aku sering bersepeda. Mungkin sesekali naik trem. Bahaya bisa saja terjadi. Kemudian anak-anak kami mempertanyakan tentang apa yang harus dilakukan dengan semua batik yang telah dikumpulkan saya.
Apa Anda ada kontak dengan asosiasi batik di Indonesia dan museum tekstil dan mungkin berpikir di masa depan untuk menyumbangkan ini ke mereka?
Saya masih memikirkannya. Prasyaratnya adalah, semua batik harus difoto. Dan saya punya spreadsheet Excel berisi semua informasi yang penting. Usia dan ukuran serta kondisi batik dan sebagainya. Dan spreadsheet Excel tentu saja sangat penting jika Anda menawarkan koleksi museum dan galeri ini. Kami biasa mencetak katalog. Seperti buku yang satu ini. 25 tahun yang lalu dibuat saat pameran berlangsung di Rautenstrauch-Joest-Museum. Dan kemudian pada saat Pameran Buku Frankfurt tahun 2015.
Saya juga membayangkan sesuatu seperti itu mungkin saya lakukan, belum tahu. Saya masih mencari museum. Mungkin di Jerman atau di Cina atau di Taiwan atau di Jakarta. Tapi peluang itu masih terbuka.
Jadi, sekarang dalam benak Anda, Anda ingin mempertahankan galeri-museum ini selama mungkin?
Ya, itu menyenangkan. Tentu saja kita dapat mengatakan bahwa pada usia 85 tahun kita dapat melakukan lebih banyak hal sekarang. Tapi saya tidak tahu apa. Hanya bisa tetap semangat. Saya punya teman di Perhimpunan Indonesia-Jerman (Deutsch-Indonesische Gesellschaft e. V., DIG). Dan galeri kami menjadi semacam tempat pertemuan di sini di Köln. Dulu Karl Mertes sebagai presidennya. Sekarang Lena Simanjuntak sebagai presidennya. Dan mereka sangat aktif. Dan teman-teman dari Indonesia bertemu di museum ini tahun lalu, misalnya pada peringatan 75 tahun DIG. Dan kemudian, ketika galeri ini berusia 50 tahun pada tahun 2023, kami juga mengadakan acara besar di sini.
Lalu ada juga teman-teman Indonesia dari seluruh Jerman, termasuk Belanda. Jadi saya menikmatinya. Dan saya senang bersama orang-orang dan mengajar menulis batik. Saya senang ketika orang-orang muda datang dan berkata, bagaimana cara membuatnya? Saya memiliki penghangat lilin dan kain di sana sehingga mereka bisa bekerja sendiri. Mereka harus melihat dengan jelas bagaimana cara kerjanya. Betapa sulitnya membatik itu. Kita harus menanggapinya dengan serius.
Apakah Anda mungkin membutuhkan dukungan dari pemerintah? Atau dari institusi untuk menjaga keberlangsungan galeri atau museum ini?
Saya tidak suka mendapatkan uang dari pemerintah. Saya pernah duduk di sebelah walikota Köndi sebuah pertemuan dan mengatakan kepadanya bahwa saya berbicara tentang apa yang saya lakukan. Kota Köln seharusnya mendukung hal tersebut. Tapi ia berkata kepada saya, Pak Smend, jika Anda tidak menikmatinya lagi, mengapa Anda tidak menutup saja galerinya? Dan tentu saja dia benar tentang hal itu. Sepanjang kita masih menikmati sesuatu, maka harus terus maju. Namun jiika mendapatkan uang dari pemerintah sekarang, tentu saja itu akan menyenangkan.
Dan memang begitulah adanya, kita memiliki ekonomi pasar bebas di sini. Semua orang bisa melakukan apa yang mereka inginkan. Dan satu orang membuka museum batik, yang lain membuka museum The Beatles. Dan ya, tapi seperti yang saya katakan, jika Anda mengenal seseorang yang mendukung budaya, mungkin itu juga akan membantu, sehingga kita bisa memulainya agar budaya tersebut tetap ada untuk generasi berikutnya. Karena apa yang telah saya bangun di sini adalah unik di seluruh dunia. Dan saya tidak terlalu memikirkan tentang beberapa tahun ke depan. Yang jelas saya suka bekerja untuk diri saya sendiri. Dan saya tidak ingin ada orang yang memberi tahu saya apa yang harus saya lakukan. Saya lebih suka independen dan melakukan hal-hal di tingkat yang lebih rendah daripada memiliki atasan yang mengatakan bahwa Anda harus melakukan ini dan itu sekarang. Katakanlah mereka bilang: ”Kami memberi Anda uang dan kemudian Anda harus melakukannya dengan cara ini dan itu.” Jadi saya lebih suka melakukan apa pun yang terlintas dalam pikiran saya. . Menggantung tekstil tua yang indah untuk menyenangkan orang lain. Jadi itulah misi saya, usaha saya. Tentu saja, hal ini tidak mudah. Namun, orang yang tepat akan datang ke sini. Saya suka kebebasan.
Apa misi Anda dengan galeri dan museum ini di masa depan?
Misi saya adalah untuk menjaga galeri tetap buka selama mungkin dan terutama untuk menjaga museum batik agar generasi berikutnya, generasi penerus, anak-anak perempuan, kebanyakan dari mereka adalah perempuan yang tertarik dengan hal itu, seusia cucu-cucu kami yang sekarang berusia 15 tahun, dapat belajar cara membuat batik.
Dan selalu ada tren. Tren batik terjadi pada tahun 1970 hingga 1980, dan sekarang saya pikir sudah waktunya untuk tren batik lagi. Ini seperti perhiasan dan pakaian. Selalu ada efek riak, hal-hal dari masa lalu muncul kembali. Ya, singkatnya, saya ingin museum batik ini dilestarikan untuk menunjukkan kepada para pengunjung keindahan batik Indonesia.
Boleh sekali lagi saya tanya, Anda ingin mewariskan atau mempertahankan museum ini?
Anak kami tinggal di Berlin. Mereka memiliki minat yang sangat berbeda. Tapi mereka hanya berkata, sebelum kamu meninggal, saya ingin kamu meninggalkan koleksimu dengan rapi.
Namun untuk sekarang? Sekarang saya masih ingin mempertahankannya. Saya suka semangat saya ini, saya menyukainya. Ini menyenangkan. Dan semoga terus sampai akhir.
*Editor: Yuniman Farid