1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Museum Holocaust di Indonesia, Sebuah Kebutuhan?

Monique Rijkers
Monique Rijkers
30 Januari 2021

Bagi banyak orang sebuah museum mungkin tidak sepenting sekolah atau rumah sakit. Namun Museum Holocaust menurut opini Monique Rijkers adalah investasi masa depan guna mencegah kekerasan rasial terulang kembali.

Gambar simbol: Museum Holocaust Yad Vashem, di YerusalemFoto: Getty Images/AFP/M. Kahana

Di Indonesia tidak ada materi Holocaust dalam pelajaran sejarah. Bahkan di tengah perbedaan agama, banyaknya suku dan ras hingga perbedaan bahasa di Indonesia ini, kurikulum pendidikan kita bisa dibilang tidak memiliki muatan khusus tentang multikultural. Karena itu tidak mengherankan jika peristiwa Holocaust tidak dipandang perlu diajarkan sejarahnya di Indonesia sebab pendidikan multikultural pun tidak ada.

Bisa jadi mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan untuk siswa dan mata kuliah Pancasila untuk mahasiswa dianggap sudah mengandung nilai-nilai toleransi dan keberagaman tanpa perlu membahas sebuah peristiwa nun jauh di Eropa sana yang menimpa orang Yahudi yang tidak ada batang hidungnya di Indonesia.

Akibat tidak adanya materi Holocaust yang diajarkan di Indonesia maka tahun 2018 Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan PBB, Unesco bekerja sama dengan Museum Holocaust di Washington, DC Amerika Serikat dan Universitas Sanata Dharma Yogjakarta melakukan pelatihan untuk guru.

Tentu saja langkah ini patut diapresiasi sebab Indonesia tidak memiliki akses yang bisa menjangkau sumber-sumber atau materi edukasi Holocaust, tragedi kemanusiaan di masa modern ini. Karena itu di Indonesia sangat membutuhkan kehadiran sebuah Museum Holocaust atau Pusat Studi Genosida.

Sayangnya kebutuhan akan sebuah wadah untuk belajar ini tidak pernah muncul di Indonesia. Belum ada yang mengulas, menulis, mengusulkan atau timbul sebagai wacana guna memperkenalkan keberagaman dan pentingnya tidak membeda-bedakan sesama manusia.

Penulis: Monique RijkersFoto: Monique Rijkers

Museum Holocaust dibuka di Porto

Pada 20 Januari 2021 untuk pertama kalinya sebuah Museum Holocaust dibuka di Porto, Portugal. Untuk Portugal sebetulnya kehadiran Museum Holocaust bukan hal yang istimewa jika dibandingkan dengan Indonesia sebab di Portugal ada komunitas Yahudi. Bahkan saat Perang Dunia II, Portugal yang tidak terlibat perang, membuka pintu perbatasan bagi sekitar 50 ribu pengungsi Yahudi dari Eropa.

Komunitas Yahudi tumbuh di Portugal yang kemudian dikenal sebagai Yahudi Sephardi, sama dengan Yahudi di Spanyol. Kota Porto dan Lisbon adalah kota yang didiami mayoritas komunitas Yahudi di Portugal sehingga dengan akar sejarah ini tak heran ada Museum Holocaust di Portugal. Lantas mengapa Museum Holocaust di Indonesia adalah sebuah kebutuhan?

Pertama, Indonesia juga memiliki sejarah kekerasan massal yakni peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965 yang hingga kini masih dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia. Kita sudah memiliki Monumen Pancasila Sakti dan diaorama guna mengenang kejadian kelam tersebut. Memang sebuah monumen tidak cukup untuk mengedukasi tentang G30S karena itu demi merawat ingat, ada sejumlah film dokumenter yang diproduksi guna menghadirkan para saksi mata, korban, keluarga korban hingga pelaku.

Berbagai penelusuran sejarah masih tekun dilakukan sejumlah orang seperti upaya menemukan dan identifikasi kuburan massal para korban pembunuhan karena isu komunis. Dengan adanya sebuah Museum Holocaust maka rekaman audio/visual testimoni, memorabilia dan berbagai dokumentasi foto, gambar, dokumen, surat-menyurat dan lain sebagainya yang berkaitan dengan G30S bisa disimpan di sini. Hingga saat ini generasi muda kita di Indonesia tidak memiliki satu wadah yang menghubungkan anak milenial ini dengan kejadian sejarah masa lalu yang penting sebagai bahan pembelajaran.

Persoalan rasial di indonesia

Kedua, Indonesia masih menghadapi persoalan rasial. Ujaran dan perlakuan rasisme terhadap orang Papua, sentimen terhadap Tionghoa dan anti-Yahudi di Indonesia adalah contoh yang bisa kita masukkan sebagai ukuran pentingnya pendidikan multikultural. Salah satu metode pendidikan multikultural yang bisa dilakukan adalah dengan berkunjung ke museum, dalam hal ini Museum Holocaust atau Pusat Studi Genosida. Dengan adanya sebuah tempat edukasi yang sarat informasi, padat pengetahuan namun nyaman, mudah dijangkau publik, tanpa biaya untuk mengakses bahan-bahan ajar tentu dapat menarik publik.

Ketiga, Holocaust bukan hanya merebut nyawa orang Yahudi saja tetapi juga orang Gypsi, pemeluk Saksi Yehovah, kelompok homoseksual, orang cacat dan para tahanan politik Uni Soviet atau Polandia yang ditahan oleh Jerman. Keberadaan satu Museum Holocaust atau Pusat Studi Genosida dapat digunakan untuk membahas isu ras, agama, preferensi seksual, penghormatan terhadap hak disabilitas dan perbedaan paham politik. Dengan demikian keinginan untuk membangun sebuah Museum Holocaust bukan karena demi orang Yahudi semata, tetapi juga untuk kelompok lain yang turut menjadi korban rezim Hitler. Inilah yang tidak disadari oleh banyak orang Indonesia bahwa kepentingan untuk memberi pendidikan sejarah Holocaust bukan karena ingin mendewakan Yahudi, melainkan untuk mengangkat para kelompok korban lain yang terlupakan.

Selama ini kita hanya bisa miris membaca berita tentang anak muda yang berpose hormat ala Hitler seperti yang terjadi di Yogyakarta atau mengidolakan tentara Nazi seperti sebuah kafe di Bandung. Glorifikasi terhadap Hitler atau Nazi akan terus ada jika pemerintah Indonesia, swasta, lembaga non-profit atau ada individu-individu baik hati yang tergerak mengedukasi mereka melalui kehadiran museum atau pusat studi.

Kita tidak mungkin hanya mengelus dada dan berharap penerimaan akan perbedaan terjadi begitu saja tanpa adanya upaya mengedukasi, membangun kesadaran dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan agar tidak ada lagi kekerasan massal, pembunuhan massal dan penghilangan etnis (genosida).

Di Portugal, Museum Holocaust terwujud berkat bantuan dari Museum Holocaust di Hong Kong, Rusia dan Amerika Serikat. Sedangkan untuk edukasi guru yang dilakukan Unesco dan Museum Holocaust di Washington, DC Amerika Serikat bisa terwujud berkat dukungan dari pemerintah Kanada, Jerman, Legacy Heritage Fund dan SNCF. Mengacu data dari Asosiasi Organisasi-Organisasi Holocaust (AHO) terdapat 370 organisasi yang beraktivitas dalam pendidikan,penelitian atau mengenang Holocaust di seluruh dunia.

Dengan jumlah sebanyak itu ternyata masih kerap terjadi peristiwa antisemitisme. Di Jerman, misalnya Deutsche Welle memberitakan terjadi 2032 kasus antisemitisme pada tahun 2019. Menghitung angka kasus mungkin membuat Anda mengeryitkan dahi karena menganggap memiliki sejumlah Museum Holocaust di Jerman dan berbagai upaya yang sudah dilakukan pemerintah Jerman mencegah bangkitnya kelompok kanan tidak membuahkan hasil dalam menurunkan kasus kejahatan rasial. Mungkin juga setelah membaca tulisan ini, Anda menyadari sebuah museum bukan prioritas ketimbang membangun sekolah, rumah sakit atau jalan tol yang bisa dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat luas.

Bahasa sederhananya, membangun museum hanya buang-buang uang dan buang-buang waktu toh masih banyak cara untuk mengedukasi. Tentu saja mengeluarkan pendapat menolak boleh-boleh saja, sama halnya dengan berpendapat untuk membuka Museum Holocaust atau Pusat Studi Genosida. Pertimbangan baik-buruknya, kemanfaatan dan kerugian serta sisi positif dan negatif jika dipertarungkan tentu lebih banyak baiknya, jauh lebih bermanfaat dan lebih kuat sisi positifnya jika Indonesia memiliki sebuah Museum Holocaust atau Pusat Studi Genosida.

Kita sering berucap, “Tanpa foto, hoaks” atau “Satu gambar seribu kata” untuk menekankan betapa pentingnya sebuah dokumentasi foto atau gambar. Bayangkan jika Anda bisa melihat sendiri puluhan, ratusan dokumentasi dalam sebuah museum. Pengalaman menyerap sejarah dari museum adalah suatu pengalaman yang menggugah dan sering sekali mengubahkan cara pandang kita yang dapat menyelamatkan banyak jiwa di kemudian hari. Museum Holocaust adalah investasi paling mudah, murah dan tak habis ditelan waktu untuk pendidikan multikultural.

@monique_rijkers adalah wartawan independen, IVLP Alumni, pendiri Hadassah of Indonesia, inisiator Tolerance Film Festival dan inisiator #IAMBRAVEINDONESIA.
 
*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis
 
*Bagi komentar Anda dalam kolom di bawah ini.