Musuhan Seabad Lebih, Turki-Armenia Bakal Buka Perbatasan
6 April 2026
Sebuah momen bersejarah pada Juni 2025: Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan turun dari mobilnya dan berjalan menuju kediaman tuan rumahnya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan. Kedua politisi itu berjabat tangan, bersama-sama menghadap kamera, dan diabadikan dalam gambar. Ini pertama kalinya seorang pejabat pemerintah Armenia melakukan kunjungan kerja ke negara tetangga tersebut, dan itu pun atas undangan resmi seorang presiden Turki.
Turki dan Armenia berbagi perbatasan sepanjang hampir 330 kilometer dan telah bermusuhan selama lebih dari seratus tahun. Hubungan keduanya terutama dibebani oleh pembantaian terhadap orang Armenia di Kekaisaran Ottoman, yang pada tahun 2016 diakui oleh banyak negara Barat lainnya sebagai genosida.
Sikap Ankara dalam konflik Nagorno-Karabakh juga memperdalam jurang perbedaan. Dalam konflik tersebut, Turki berpihak pada Azerbaijan, lawan Armenia, dan menutup perbatasan bersama pada tahun 1993.
Perjanjian damai membuka perspektif baru
Sejak tahun 2022, mulai terlihat pendekatan yang masih penuh kehati-hatian. Armenia yang tidak memiliki akses laut, tidak lagi bersikeras agar Ankara mengakui peristiwa tahun 1915 sebagai genosida.
Selain itu, tahun lalu Armenia mengakhiri konflik berkepanjangan di Nagorno-Karabakh dengan Azerbaijan melalui sebuah perjanjian damai. Sejak itu, harapan di kalangan ekonomi Turki semakin besar akan normalisasi hubungan di kawasan serta pembukaan kembali perbatasan yang telah ditutup selama lebih dari tiga dekade.
Turki memiliki dua perlintasan menuju Armenia: Alican di Provinsi Igdir dan Akyaka di Provinsi Kars. Keduanya telah ditutup sejak perang pertama Nagorno-Karabakh, namun menurut para pengamat dapat dibuka kembali dalam beberapa bulan ke depan.
Media Armenia melaporkan bahwa pemerintahan di Yerevan telah melakukan persiapan yang diperlukan untuk membuka perlintasan. Di pihak Turki, pekerjaan masih berlangsung, tetapi sudah lumayan maju perkembangannya,
Jika perlintasan tersebut dibuka sebelum pemilu parlemen Armenia pada bulan Juni, itu akan menjadi keberhasilan besar bagi Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan. Ia telah lama mendorong proses rekonsiliasi dengan negara-negara tetangga dan mendekatkan negaranya ke Barat.
Rute perdagangan alternatif lewat Georgia
Ketua Dewan Pengembangan Ekonomi Turki-Armenia, Kaan Soyak menjelaskan bahwa karena perbatasan yang tertutup, perdagangan antara kedua negara selama bertahun-tahun dilakukan secara tidak langsung melalui Georgia dan bernilai sekitar 300 hingga 350 juta dolar AS. Menurutnya, sekitar 99 persen perdagangan tersebut terdiri dari barang-barang yang dikirim dari Turki ke Georgia, lalu diteruskan ke Armenia.
Produk utama yang diperdagangkan meliputi pakaian jadi, produk kimia, bahan makanan, dan logam mulia mentah. Ia yakin bahwa jika perbatasan dibuka, volume perdagangan bilateral dapat dengan cepat meningkat hingga satu miliar dolar.
Selain itu, ia memperkirakan akan segera terbentuk koridor logistik lengkap dengan jaringan energi dan telekomunikasi yang terhubung langsung ke seluruh kawasan Kaukasus.
Namun, perang Iran memperlambat proses tersebut. Menurut Soyak, meluasnya konflik ke negara-negara Teluk, Irak, dan Lebanon meningkatkan kekhawatiran akan gelombang migrasi baru. Karena itu, pembukaan perbatasan saat ini berjalan lebih lambat.
Anatolia berharap pada sektor pariwisata
Provinsi-provinsi timur seperti Kars, Igdir, Agri, Ardahan, dan Van terletak sangat dekat dengan perbatasan Armenia dan termasuk wilayah termiskin di Anatolia. Menurut data statistik Turki, produk domestik bruto daerah-daerah ini hanya sekitar 3.250 hingga 4.350 euro, menempatkannya di posisi terbawah dalam peringkat kota.
Karena itu, harapan masyarakat setempat sangat besar terhadap lalu lintas barang dan orang dari negara tetangga, termasuk wisatawan dari Armenia dan diaspora global. Banyak situs sejarah dan keagamaan penting berada di sisi Turki, sehingga pembukaan perbatasan dapat menarik jenis wisatawan baru. Ketua kamar dagang dan industri (IHK) Kars, Kadir Bozan juga menekankan pentingnya apa yang disebut sebagai "Koridor Trump".
Koridor ini disepakati pada Agustus lalu sebagai bagian dari rencana perdamaian yang dimediasi oleh Presiden AS Donald Trump antara Armenia dan Azerbaijan. Rencana tersebut mencakup koridor jalan dan rel sepanjang 43 kilometer melalui Armenia yang menghubungkan Azerbaijan dengan kawasan ceruknya, Nakhchivan, serta Turki.
Koridor transportasi antara Cina dan Eropa
Koridor ini bertujuan memperkuat rute transportasi internasional Trans-Kaspia dan memperpendek waktu pengiriman antara Cina dan Eropa. Turki melihatnya sebagai peluang besar untuk menjadi pemain penting dalam perdagangan global.
Sejak Agustus lalu, pembangunan jalur kereta sepanjang 224 kilometer telah dimulai, yang diharapkan dapat mengangkut jutaan ton barang dan penumpang setiap tahun.
Banyak warga di kawasan tersebut berharap perang Iran segera berakhir agar perdamaian dapat terwujud dan wilayah ini berkembang menjadi pusat ekonomi dan pariwisata. Kota Kars sendiri sudah memiliki jalur kereta yang baik dan populer melalui Tbilisi hingga Baku.
Di provinsi tetangga Ardahan, yang memiliki dua perlintasan ke Georgia, harapan terhadap pendekatan Turki-Armenia juga sangat besar. Karena kota ini hanya berjarak 20 kilometer dari Armenia, pimpinan kamar dagang Ardahan, Cetin Demirci, meyakini bahwa pabrik, kawasan industri, dan gudang baru akan segera dibangun di sana.
Selama bertahun-tahun, kota ini mengalami penurunan karena banyaknya anak muda yang pindah. Perbatasan terbuka diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja yang sangat dibutuhkan dan menghidupkan kembali perekonomian.
Pandangan optimistis juga disampaikan oleh Kamil Arslan, Ketua IHK Igdir, yang menegaskan: "Perdagangan tidak mengenal nasionalisme.” Ia berharap permusuhan antara Turki dan Armenia akhirnya berakhir.
Arslan juga berharap bahwa melalui perbatasan yang dibuka kembali, bahan makanan, material bangunan, tekstil, dan jasa, terutama aprikot manis khas Igdir yang terkenal, dapat kembali mengalir ke Armenia seperti pada masa lalu.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Arti Ekawati