Pemadaman internet di Myanmar makin parah. Laporan terbaru dari organisasi hak digital Access Now menyebutkan bahwa pada tahun 2024, Myanmar mengalami lebih banyak pemadaman internet dibandingkan negara lain.
Pemadaman internet dimulai tak lama setelah kudeta 2021 di Myanmar, tetapi saat ini kondisinya memburukFoto: Getty Images
Iklan
Menurut laporan baru dari Access Now, dunia menyaksikan hampir 300 pemadaman internet tahun lalu, dan 85 di antaranya terjadi di Myanmar. Negara ini masih dilanda perang saudara antara junta militer dan berbagai kelompok pemberontak. Sejak kudeta militer pada Februari 2021, internet sering dipadamkan dengan alasan "menjaga stabilitas" dan mencegah berita palsu. Namun, empat tahun berlalu, pemadaman ini justru makin parah.
Laporan berjudul Emboldened Offenders, Endangered Communities: Internet Shutdowns in 2024 merinci berbagai pemadaman internet yang sebagian besar diatur oleh junta militer.
"Selama empat tahun berturut-turut, militer Myanmar menjadi salah satu pelaku pemadaman internet terburuk di dunia. Ini bukti nyata bahwa mereka mengabaikan hak asasi manusia dan makin menggunakan internet sebagai senjata untuk melemahkan rakyat Myanmar," kata Wai Phyo Myint, analis kebijakan Asia Pasifik di Access Now.
Myanmar: Aksi Protes Perahu Menentang Kudeta Militer
Warga etnis Intha di negara bagian Shan, Myanmar, melakukan protes unik terhadap junta militer dengan aksi protes perahu di Danau Inle, salah satu tujuan wisata populer di negara itu.
Foto: Robert Bociaga
Protes meluas di Myanmar
Protes terhadap kudeta militer di Myanmar 1 Februari lalu meluas ke luar kota Yangon. Pada 18 Februari, penduduk di sekitar Danau Inle, salah satu tujuan wisata populer di negara bagian Shan selatan, berdemonstrasi menentang junta militer dan menuntut pemulihan demokrasi.
Foto: Robert Bociaga
Protes dari atas perahu
Warga dari semua lapisan masyarakat berpartisipasi dalam aksi protes perahu. Mereka terlihat membawa megafon dan plakat-plakat, sambil melantunkan lagu-lagu revolusi.
Foto: Robert Bociaga/DW
Kudeta militer
Pihak militer awal Februari mengkudeta pemerintahan sipil dengan mengklaim terjadi penipuan yang luas dalam pemilihan umum November lalu, yang dimenangkan secara telak oleh partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) dari Aung San Suu Kyi, sekalipun militer ketika itu membuat partai politik untuk menang pemilu. Sejak kudeta, banyak anggota NLD dan pemerintahan sipil yang ditahan, termasuk Suu Kyi.
Foto: AP Photo/picture alliance
Pembangkangan sipil
Sejak kudeta, puluhan ribu orang melakukan protes dan kampanye pembangkangan sipil. Pihak militer menanggapi dengan keras dengan gelombang penangkapan ancaman sanksi berat.
Foto: REUTERS
Aksi protes perahu dukung sanksi Barat terhadap pelaku kudeta
Negara-negara Barat telah menjatuhkan sanksi kepada para pemimpin kudeta dan menuntut pembebasan Aung San Suu Kyi dan para tahanan politik lain. Pengunjuk rasa di Danau Inle menyambut baik sanksi tersebut dan mengatakan bahwa tujuan mereka adalah untuk mengakhiri dominasi militer selamanya. Namun, mereka tidak mendukung rekonsiliasi dengan para jenderal, kebijakan yang diambil Suu Kyi selama ini.
Foto: Robert Bociaga
Sistem demokrasi satu-satunya jalan melindungi minoritas
Negara bagian Shan dihuni oleh warga etnis Intha, yang juga dikenal sebagai "orang danau". "Satu-satunya cara untuk melindungi tradisi minoritas adalah melalui sistem demokratis dan desentralisasi. Itulah mengapa kami membutuhkan demokrasi federal di Myanmar," kata Ko Su, seorang aktivis etnis Intha, kepada DW.
Foto: Robert Bociaga
Sektor turisme di bawah pengawasan militer
Suku Intha mengatakan, mereka belum dapat sepenuhnya memanfaatkan pariwisata karena sebagian besar hotel dan bisnis di daerah tersebut dimiliki oleh orang-orang yang memiliki koneksi dengan militer. Namun sebelum kudeta, penduduk setempat setidaknya bisa mendapatkan keuntungan dari industri pariwisata yang berkembang pesat. (hp/vlz)
Foto: Robert Bociaga
7 foto1 | 7
Pemadaman internet sering terjadi saat pelanggaran HAM
Dari 85 pemadaman internet di Myanmar, sebanyak 76 di antaranya dilakukan langsung oleh militer. Yang menarik, pemerintah Cina juga menerapkan dua pemadaman lintas batas di Myanmar, sementara Thailand melakukan empat pemadaman. Sisanya dilakukan oleh kelompok pemberontak dan aktor yang tidak dikenal.
Iklan
Kadang, pemadaman hanya berdampak pada jaringan seluler atau internet broadband. Namun, di beberapa kasus, pemadaman total dilakukan. Sebagian besar pemadaman terjadi di wilayah-wilayah yang sedang berkonflik.
Laporan Access Now juga menemukan bahwa 31 pemadaman terjadi bersamaan dengan pelanggaran hak asasi manusia yang terdokumentasi. Bahkan, setidaknya 17 pemadaman yang dilakukan junta bertepatan dengan serangan udara terhadap warga sipil.
Menurut jurnalis veteran Myanmar, Toe Zaw Law, pemadaman ini adalah strategi junta untuk mengendalikan informasi di dalam negeri.
"Ini bukan hal yang mengejutkan. Myanmar punya salah satu sistem sensor digital terburuk," katanya kepada DW.
"Militer melakukan ini supaya masyarakat, terutama anak muda, tidak bisa mengakses informasi independen. Mereka hanya ingin satu versi kebenaran, yaitu versi militer," tambahnya.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Rakyat tak bisa pantau pergerakan militer
Sejak 1 Januari 2024, junta juga memberlakukan undang-undang keamanan siber yang melarang penggunaan VPN dan memberikan hukuman berat bagi siapa pun yang membagikan informasi dari situs web yang dilarang. Menggunakan VPN tanpa izin bisa dihukum enam bulan penjara dan denda.
Dampak dari pemadaman internet dan aturan ketat ini jauh lebih besar dari sekadar membatasi akses berita. Laporan dari Fulcrum, sebuah media analisis Asia Tenggara, menyebut bahwa daerah-daerah yang dikuasai pemberontak adalah yang paling merasakan dampaknya.
"Bagi junta, mematikan internet di daerah-daerah ini adalah strategi dua arah: menghentikan komunikasi antar-kelompok perlawanan dan mengisolasi mereka dari perhatian dunia."
Penduduk di wilayah konflik sebelumnya bisa memantau pergerakan militer dan mendapat peringatan serangan udara lewat internet. Sekarang, tanpa akses internet dan larangan VPN, mereka menjadi sasaran empuk tanpa peringatan.
Potret Aksi Protes Nasional Menentang Kudeta Militer di Myanmar
Warga Myanmar melakukan protes nasional menentang kudeta militer. Berbagai kalangan mulai dari dokter, guru, dan buruh menuntut pembebasan Aung San Suu Kyi dan pemulihan demokrasi Myanmar.
Foto: AFP/Getty Images
Dokter dan perawat di garda depan
Kurang dari 24 jam setelah kudeta militer, para dokter dan perawat dari berbagai rumah sakit mengumumkan bahwa mereka melakukan mogok kerja. Mereka juga mengajak warga lainnya untuk bergabung dalam kampanye pembangkangan sipil.
Foto: REUTERS
Koalisi protes dari berbagai kalangan
Sejak ajakan pembangkangan sipil tersebut, para pelajar, guru, buruh dan banyak kelompok sosial lainnya bergabung dalam gelombang protes. Para demonstran menyerukan dan meneriakkan slogan-slogan seperti "Berikan kekuatan kembali kepada rakyat!" atau "Tujuan kami adalah mendapatkan demokrasi!"
Foto: Ye Aung Thu/AFP/Getty Images
Para biksu mendukung gerakan protes
Para Biksu juga turut dalam barisan para demonstran. "Sangha", komunitas monastik di Myanmar selalu memainkan peran penting di negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha ini.
Foto: AP Photo/picture alliance
Protes nasional
Demonstrasi berlangsung tidak hanya di pusat kota besar, seperti Yangon dan Mandalay, tetapi orang-orang juga turun ke jalan di daerah etnis minoritas, seperti di Negara Bagian Shan (terlihat di foto).
Foto: AFP/Getty Images
Simbol tiga jari
Para demonstran melambangkan simbol tiga jari sebagai bentuk perlawanan terhadap kudeta militer. Simbol yang diadopsi dari film Hollywood "The Hunger Games" ini juga dilakukan oleh para demonstran di Thailand untuk melawan monarki.
Foto: REUTERS
Dukungan dari balkon
Bagi warga yang tidak turun ke jalan untuk berunjuk rasa, mereka turut menyuarakan dukungan dari balkon-balkon rumah mereka dan menyediakan makanan dan air.
Foto: REUTERS
Menuntut pembebasan Aung San Suu Kyi
Para demonstran menuntut dikembalikannya pemerintahan demokratis dan pembebasan Aung San Suu Kyi serta politisi tingkat tinggi lain dari partai yang memerintah Myanmar secara de facto, yakni Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD). Militer menangkap Aung San Suu Kyi dan anggota NLD lainnya pada hari Senin 1 Februari 2021.
Foto: Reuters
Dukungan untuk pemerintahan militer
Pendukung pemerintah militer dan partai para jenderal USDP (Partai Solidaritas dan Pembangunan Persatuan), juga mengadakan beberapa demonstrasi terisolasi di seluruh negeri.
Foto: Thet Aung/AFP/Getty Images
Memori Kudeta 1988
Kudeta tahun 1988 selalu teringat jelas di benak warga selama protes saat ini. Kala itu, suasana menjadi kacau dan tidak tertib saat militer diminta menangani kondisi di tengah protes anti-pemerintah. Ribuan orang tewas, puluhan ribu orang ditangkap, dan banyak mahasiswa dan aktivis mengungsi ke luar negeri.
Foto: ullstein bild-Heritage Images/Alain Evrard
Meriam air di Naypyitaw
Naypyitaw, ibu kota Myanmar di pusat terpencil negara itu, dibangun khusus oleh militer dan diresmikan pada tahun 2005. Pasukan keamanan di kota ini telah mengerahkan meriam air untuk melawan para demonstran.
Foto: Social Media via Reuters
Ketegangan semakin meningkat
Kekerasan meningkat di beberapa wilayah, salah satunya di Myawaddy, sebuah kota di Negara Bagian Kayin selatan. Polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet.
Foto: Reuters TV
Bunga untuk pasukan keamanan
Militer mengumumkan bahwa penentangan terhadap junta militer adalah tindakan melanggar hukum dan ''pembuat onar harus disingkirkan''. Ancaman militer itu ditanggapi dengan bentuk perlawanan dari para demonstran, tetapi juga dengan cara yang lembut seperti memberi bunga kepada petugas polisi. Penulis: Rodion Ebbighausen (pkp/ gtp)
Foto: Ye Aung Thu/AFP/Getty Images
12 foto1 | 12
Starlink jadi harapan, tapi tidak mudah diakses
Beberapa media anti-junta dan kelompok pemberontak kini mengandalkan Starlink, layanan internet satelit dari SpaceX. Namun, teknologi ini mahal, sulit didapat, dan tak mudah diakses di tengah kondisi perang.
Wunna Khwar Nyo, pemimpin redaksi Western News, media yang berfokus pada negara bagian Arakan, mengatakan pemadaman internet membuat ruang redaksi mereka lumpuh total.
"Tahun lalu, kami kesulitan. Para jurnalis harus pergi jauh hanya untuk mendapatkan koneksi internet atau sinyal telepon. Kadang, kami harus berkendara satu jam dengan motor hanya untuk mengirim berita," katanya kepada DW.
"Sekarang kami menggunakan Starlink, tapi aksesnya terbatas. Para editor yang berada di pengasingan lah yang membantu menerbitkan berita secara rutin," tambahnya.
Satelit Mini: Demokratisasi Akses Informasi
03:26
This browser does not support the video element.
Peningkatan otoritarianisme digital di Asia
Myanmar dikenal sebagai salah satu negara paling berbahaya bagi jurnalis. Sejak kudeta 2021, beberapa jurnalis dilaporkan tewas dalam tahanan. Statistik Committee to Protect Journalists menunjukkan bahwa pada 2024, seorang jurnalis di Myanmar 18 kali lebih mungkin dipenjara dibandingkan dengan di Cina, jika disesuaikan dengan jumlah populasi.
Namun, bukan hanya Myanmar yang mengalami pemadaman internet. Menurut laporan Access Now, kawasan Asia Pasifik menjadi wilayah dengan pemadaman internet terbanyak di dunia pada 2024, dengan total 202 pemadaman di 11 negara atau wilayah.
Raman Jit Singh Chima, Direktur Kebijakan Asia-Pasifik di Access Now, menyebut bahwa Asia sedang mengalami peningkatan otoritarianisme digital.
"Pemadaman internet mengacaukan masyarakat, menghambat perkembangan digital, membahayakan komunitas, dan menutupi pelanggaran hak asasi manusia. Dari Myanmar hingga Pakistan, pemerintah makin sering memutus akses internet tanpa konsekuensi," katanya.
"Tak peduli bagaimana caranya, memotong kabel, memberi perintah ke operator telekomunikasi, atau menyita perangkat, pemadaman internet tidak bisa diterima. Komunitas internasional harus bertindak sekarang untuk menghentikan praktik ini selamanya."