1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikAmerika Serikat

NASA Ubah Haluan, Fokus Bangun Pangkalan di Permukaan Bulan

25 Maret 2026

NASA kini meninggalkan rencana untuk membangun stasiun di orbit Bulan dan beralih fokus membangun pangkalan di permukaan Bulan. Perubahan ini muncul di tengah memanasnya persaingan antariksa dengan Rusia dan Cina.

 ilustrasi karya seniman tentang pangkalan bulan yang rencananya akan dibangun dalam dekade mendatang
NASA menerbitkan ilustrasi karya seniman tentang pangkalan Bulan yang rencananya akan dibangun dalam dekade mendatangFoto: NASA

NASA membatalkan rencana pembangunan stasiun luar angkasa di orbit Bulan dan mengalihkan fokus pada proyek pembangunan pangkalan senilai sekitar USD 20 miliar (sekitar Rp338 triliun) di permukaan Bulan dalam tujuh tahun mendatang.

Pengumuman perubahan strategi besar ini disampaikan oleh Administrator NASA yang baru, Jared Isaacman, saat membuka sebuah acara khusus di kantor pusat NASA di Washington. Isaacman, yang dilantik pada Desember lalu, menjelaskan bahwa langkah tersebut menjadi bagian dari penyesuaian menyeluruh terhadap program unggulan NASA, Artemis II, yang dalam beberapa bulan terakhir terhambat oleh serangkaian kendala teknis dan jadwal.

Perubahan arah ini juga terjadi di tengah semakin ketatnya persaingan antariksa abad ke-21 dengan Rusia dan Cina, yang sama‑sama menargetkan misi kembali ke Bulan.

Setelah mengalami beberapa penundaan, NASA pada pekan lalu kembali menempatkan roket Space Launch System (SLS) di landasan peluncuran Kennedy Space Center, Florida. Badan antariksa tersebut menargetkan peluncuran misi orbit Bulan pertamanya pada awal April, jika seluruh persiapan berjalan sesuai rencana.

NASA berencana menata kembali misi bulan Artemis II di tengah berbagai penundaan serta kekhawatiran terkait efisiensi dan biaya.Foto: Joe Marino/UPI Photo/Newscom/picture alliance

Mengapa NASA mengubah strateginya?

Stasiun Lunar Gateway yang sebagian besar komponennya telah dibangun oleh kontraktor Northrop Grumman dan Lanteris Space Systems awalnya dirancang sebagai stasiun luar angkasa yang mengorbit Bulan. Dalam konsep tersebut, Gateway akan menjadi pusat operasi tempat para astronaut menggunakan wahana pendarat untuk bepergian naik‑turun dari permukaan Bulan.

Namun, rencana itu kini berubah.

Berbicara di hadapan para peserta sebuah acara NASA di Washington, Administrator NASA Jared Isaacman menegaskan bahwa lembaga itu akan mengalihkan fokusnya dari proyek Gateway ke pembangunan infrastruktur yang mendukung operasi jangka panjang di permukaan Bulan.

"Tidak seharusnya mengejutkan siapa pun bahwa kami menghentikan Gateway dalam bentuknya yang sekarang dan memusatkan perhatian pada infrastruktur yang mendukung operasi berkelanjutan di permukaan Bulan,” kata Isaacman.

Pernyataan itu muncul setelah proyek Gateway mendapat kritik sebagai pemborosan atau distraksi dari tujuan eksplorasi Bulan yang lebih penting.

Isaacman menambahkan bahwa meski ada tantangan nyata terkait perangkat keras dan jadwal, NASA masih dapat memanfaatkan peralatan yang sudah dibangun serta komitmen para mitra internasional untuk mendukung tujuan di permukaan Bulan maupun program lainnya.

Rencana yang direvisi bertujuan untuk membangun di permukaan bulan, bukan untuk membangun stasiun yang mengorbit satelit Bumi itu.Foto: Tayfun Coşkun/Anadolu/picture alliance

"Terlepas dari tantangan perangkat keras dan jadwal, kami dapat memanfaatkan kembali peralatan dan komitmen mitra internasional untuk mendukung misi permukaan serta tujuan program lainnya,” kata Isaacman, pengusaha berusia 43 tahun yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan pendiri SpaceX,Elon Musk.

Ambisi NASA tidak terbatas pada eksplorasi Bulan

Isaacman menegaskan bahwa target utama misi Artemis II, yakni pendaratan kembali manusia di permukaan Bulan pada 2028 tetap tidak berubah meskipun ia mengumumkan berbagai perubahan besar dalam detail program tersebut. Ia juga menyebut NASA akan menyesuaikan rencana penerbangannya dengan menambahkan misi uji coba sebelum pendaratan final, guna meningkatkan "muscle memory” atau kesiapan operasional kru dan sistem.

Perlombaan untuk kembali ke Bulan yang pertama kali dicapai lewat misi Apollo 11 pada Juli 1969 kini kembali memanas. Cina tengah menyiapkan misinya sendiri dan menargetkan pendaratan pada 2030, sementara Cina dan Rusia juga mempromosikan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di kutub selatan Bulan sebagai bagian dari proyek International Lunar Research Station (ILRS) yang ditargetkan beroperasi pada 2036.

Presiden Trump mengatakan di awal masa jabatan keduanya bahwa AS akan 'memimpin umat manusia kembali ke Bulan' dan menjadi 'negara pertama yang mendaratkan astronot di Mars.'Foto: Joe Marino/UPI Photo/Newscom/picture alliance

Bagi Amerika Serikat, kembalinya misi berawak ke Bulan dianggap sebagai langkah penting menuju pengiriman manusia ke Mars, sebuah misi jangka panjang yang sejak lama digaungkan oleh Elon Musk.

Musk sendiri pernah menyatakan bahwa misi berawak ke Mars bisa dilakukan pada 2030, meski klaim tersebut banyak diragukan mengingat uji terbang tanpa awak saja masih menunggu jadwal, dan peluncuran ke Mars hanya dapat dilakukan sekitar dua tahun sekali saat jarak kedua planet berada pada titik terdekatnya.

Bulan lalu, Musk menyebut bahwa fokus perusahaan kini beralih ke Bulan, bahkan mempromosikan gagasan "Moon City” yang menurutnya bisa terwujud dalam satu dekade mendatang.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Levie Wardana
Editor: Prihardani Purba

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait