Natal Tanpa Rumah Doa di Teluknaga
25 Desember 2025
Natal kembali tiba. Di Teluknaga, Tangerang, jemaat Persekutuan Oikumene Umat Kristen (POUK) Tesalonika masih menanti izin beribadah di gedung yang mereka ajukan sebagai rumah doa. Namun, izin itu tak kunjung tiba.
Dalam prosesi Paskah April lalu gedung tempat mereka biasa berdoa disegel aparat pemerintah daerah. Paskah sebelumnya, sekelompok orang mengeruduk gedung yayasan yang dikira gereja, tempat mereka sedang bersiap untuk merayakan Paskah keesokan harinya.
Sejak persekusi yang dialami POUK Tesalonika oleh sejumlah orang pada Maret 2024 tepat sehari sebelum Paskah, jemaat terus berjuang agar bisa beribadah di rumah doa milik yayasan sendiri. Yayasan POUK Tesalonika telah mengupayakan izin Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) yang dibutuhkan untuk bangunan rumah doa.
Aturan mendirikan gereja di Indonesia diatur oleh Surat Keputusan Bersama (SKB) Dua Menteri yang mensyaratkan minimal 90 jemaah yang memiliki KTP dan tinggal di sekitar gereja. Selain itu, perlu dukungan dari minimal 60 warga sekitar yang disahkan lurah/kepala desa, rekomendasi tertulis dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dan rekomendasi tertulis dari kantor departemen agama setempat.
Namun, yang mereka ajukan hanya untuk pendirian rumah doa, yang menurut sepengetahuan yayasan tidak memerlukan izin sebagaimana pendirian gereja. Yang dibutuhkan hanya dokumen Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Karena izin tak kunjung keluar sejak persekusi itu, kembali Natal kali ini mereka rayakan hanya di aula kecamatan setempat. Bagaimana mereka memaknai Natal di tengah pergumulan ini?
Deutsche Welle berbincang dengan juru bicara jemaat, Pendeta Michael Siahaan untuk mengetahui perkembangan terkini dan memahami arti Natal di tengah tantangan, antara keyakinan, kebebasan beribadah, dan toleransi sosial yang selama ini menjadi fondasi kehidupan berbangsa.
Tidak terasa sudah dua tahun sejak tempat Anda beribadah disegel dan belum mendapatkan izin. Bagaimana kronologi dan kelanjutan kasusnya?
Kendala yang dialami gereja POUK Tesalonika terhadap gedung Yayasan POUK Tesalonika (Rumah Doa POUK Tesalonika) adalah Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) yang masih belum dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang, sejak diurus Juni 2023. Sertifikat yang terakhir dikeluarkan oleh pemerintah adalah PEIL Banjir (2024).
Kami sudah melapor ke Ombudsman, karena menurut kami ada maladministrasi yang dilakukan oleh Pemkab Kabupaten Tangerang, dalam hal ini Dinas Tata Ruang dan Bangunan (DTRB) Tangerang. Dalam berita acara yang disepakati antara Ombudsman, DTRB dan POUK tesalonika, maka akan dilakukan monitoring dan pendampingan kepada POUK untuk konfirmasi lingkungan setempat. Namun, hal ini belum berjalan.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Sampai Natal tahun ini masih belum berjalan?
Situasi Natal Tahun 2025 ini merupakan situasi yang sulit, karena beratnya perjuangan untuk menggunakan gedung rumah xoa untuk acara ibadah Natal tanggal 24 dan 25 Desember. Lalu Tahun Baru 31 Desember dan 1 Januari 2026 penuh dengan pergumulan. Sementara, seluruh jemaat berharap agar dapat menggunakan Rumah Doa POUK Tesalonika untuk ibadah Natal, bahkan setiap minggunya.
Bagaimana dampaknya bagi jemaat Anda?
Jemaat mengalami kejenuhan akan situasi yang dialami. Setiap melihat gedung rumah doa, mereka selalu dalam keadaan menangis karena belum dapat digunakan. Setiap ada perayaan Kristiani (Jumat Agung, Paskah, Kebangkitan Kristus dll), maka jemaat dan pengurus Gereja POUK Tesalonika bergumul untuk mencari tempat ibadah, mengingat tempat ibadah yang difasilitasi hanya dapat digunakan pada hari Minggu. Jemaat juga selalu teringat kembali akan peristiwa persekusi, ketika memasuki acara Jumat Agung-Paskah, karena peristiwa persekusi terjadi hari Sabtu, setelah perayaan Jumat Agung. Saya akan tetap bersama mereka. Saya tidak akan meninggalkan mereka, apalagi mengingat bertahun-tahun lamanya kami dalam suka duka bersama. Kasih dan kesetiaan adalah fondasi dalam kemanusiaan.
Menyongsong Natal, apakah pengalaman ini mengubah cara jemaat memaknai perayaan tersebut? Jika ya, bagaimana?
Ya. Perayaan Natal kali ini dilakukan secara sederhana, masih diwarnai duka, dengan harapan yang sungguh-sungguh agar gedung rumah doa dapat digunakan. Sejak gedung ini dibangun, dan sudah melewati tiga kali Natal, belum dapat digunakan dan sedang direncanakan untuk Natal tahun 2025 ini. Pemaknaaan Natal tahun ini sebagai titik balik untuk terus dan sunguh-sungguh percaya akan kuasa Tuhan dan pengharapan yang teguh kepada Tuhan Yesus bahwa suatu saat, gedung rumah doa akan dapat digunakan, dan harapannya dapat digunakan tahun depan.
Anda menyampaikan bahwa jemaat bahkan memiliki surat rekomendasi dari Komisi Nasional HAM untuk kebebasan beribadah, tetapi masih belum juga kunjung memperoleh izin. Apa pesan Anda tentang kebebasan beribadah secara konstitusional di Indonesia?
Rekomendasi Komnas HAM menurut kami tidak dijalankan dengan saksama oleh instansi yang disebutkan dalam surat rekomendasi tersebut. Harapannya, pemerintah memiliki ketegasan dalam menindak pelaku pelarangan ibadah, pelaku persekusi agar ada efek jera. Pembelajaran ideologi Pancasila harus benar-benar diajarkan di setiap lapisan pendidikan, baik negeri, maupun swasta.
Kementerian Agama kiranya terus membina para pemimpin, mulai dari tingkat RT, RW, kepala desa, lurah, camat, bupati untuk memahami kesetaraan di antara umat beragama dan kebebasan beribadah tanpa gangguan. Jika ada gangguan, seharusnya pemerintah fokus pembinaan kepada yang menolak, bukan mempersalahkan korban persekusi atau pelarangan ibadah.
Natal secara teologis adalah perayaan kelahiran Kristus, simbol harapan dan damai. Di tengah tekanan sosial yang jemaat Anda alami, bagaimana Natal menguatkan iman mereka?
Jemaat melihat sosok Maria dan Yusuf (orang tua Yesus). Sebagaimana Maria dan Yusuf juga mengalami tantangan. Maria dalam kondisi hamil harus pergi dari Nazaret ke Betlehem. Proses kelahiran Kristus juga bukan di tempat yang mewah atau penginapan yang besar. Maka peristiwa Natal menguatkan kami dalam menghadapi dan mengalami tantangan yang ada, sebagaimana yang dialami Yusuf dan Maria. Juga dikarenakan sang bayi Natal juga mengalami situasi sulit dalam proses kelahiran-Nya.
Apa pesan utama Anda kepada jemaat dan masyarakat luas tentang makna Natal yang sesungguhnya, bukan hanya perayaan, tetapi juga panggilan hidup bersama dalam keberagaman?
Natal hadir bukan hanya bagi umat Kristen, tapi untuk seluruh umat manusia. Maka, Natal harus menjadi panggilan untuk bersikap setara dan mencintai, sebagaimana Kristus hadir bagi manusia yang Ia cintai, tanpa memandang agamanya. Yesus lahir bagi semua manusia, maka kita yang merayakan Natal, juga harus hadir bersama-sama dalam kasih bagi seluruh umat manusia.
Apa harapan Anda kepada pemerintah pusat dan masyarakat umum agar kasus seperti ini tidak terus berulang?
Kami berharap pemerintah hadir bukan untuk satu agama, tetapi untuk seluruh agama. Maka pemerintah wajib memberi perhatian kepada setiap umat dalam merayakan perayaan hari besar setiap agama. Para penegak hukum, hadirlah sebagai pengayom, tidak pilih kasih terhadap tindakan kekerasan atas nama agama.
Secara pribadi dan sebagai pemimpin rohani, apa makna Natal kali ini bagi Anda?
Natal adalah panggilan menjadi hamba, sebagaimana Kristus hadir menjadi hamba bagi semua orang. Hati nurani terdalam masih mengalami kesedihan atas peristiwa persekusi yang terjadi pada Maret 2024, tapi Natal kali ini, saya pun harus mengampuni mereka yang berbuat salah terhadap kami.
Kasih adalah ajaran tertinggi Yesus. Kita harus membersihkan hati dengan kebaikan, mengampuni yang bersalah atau menyakiti kita.
Natal sering dihubungkan juga dengan nilai‑nilai universal seperti kasih, perdamaian, dan berbagi. Menurut Saudara, bagaimana kiranya umat Kristen bisa mewujudkan nilai‑nilai itu di luar gereja, misalnya dalam kehidupan sosial dan kemanusiaan?
Secara pribadi saya, saya mempraktikkan nilah kasih yang terkandung dalam Natal. Kami memberikan sedikit bantuan kepada sahabat yang mengalami bencana banjir baru-baru ini di Sibolga. Kami bersyukur dapat memberi, meneladani Allah yang rela mengorbankan putra-Nya Yesus Kristus bagi umat yang berdosa.
Kita harus selalu berbuat baik dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang buruk. Sebelum mengkritisi hal-hal di luar sana, kita harus merenungkan setiap perbuatan kita. Apakah sudah baik, sudah memberi, tak merugikan atau menyakiti orang lain. Membangun perdamaian dengan hati terkecil kita, mereka yang di sekitar kita, sebelum kita membantu perdamaian lebih luas.
Dalam konteks tahun ini selalu ada tema Natal setiap tahun, apakah ada pesan khusus yang ingin Saudara bagi kepada masyarakat luas?
Tema Natal tahun ini keselamatan keluarga. Bagaimana bisa menyelamatkan yang di luar sana jika dengan orang-orang terdekat sendiri kita tak mampu selamatkan?
Kristen adalah agama yang lahir dari cinta kasih, sebagaimana Kristus lahir karena cinta kasih-Nya kepada manusia. Maka, Natal kali ini harus menjadikan kita sebagai pribadi yang mencintai segala makhluk hidup, termasuk mereka yang menyakiti atau mempersekusi kita.
Biarlah Natal membawa keselamatan bagi individu, keluarga, gereja, masyarakat, bangsa dalam segala aspek kehidupan. Tetaplah berbuat baik dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan, mengasihi dengan setulus hati, termasuk kepada yang menyakiti kita.
Apa pesan Saudara bagi umat Kristen di Indonesia?
Selalu berbuat baik dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan jahat. Ini penting karena iblis senang jika kita jatuh ke lembah dosa, maksiat, tak mampu mengendalikan diri, melihat yang dii luar lebih hijau daripada di halaman kita sendiri: Baiklah kita menjaga nilai-nilai kebaikan, kejujuran dan hati nurani, rasa kemanusiaan. Jangan pernah menyakiti mahkluk hidup, terutama orang-orang terdekat yang mengasihi kita dengan tulus, hanya untuk ego dan kepentingan duniawi.
Rayakanlah Natal dalam suasana kasih, cinta, dan menjadi hamba bagi sesama. Termasuk yang berbuat tidak baik pada kita. Natal juga membawa kita terus berdoa bagi saudara-saudara yang mengalami musibah, berdoa bagi pemerintah agar berlaku adil, berdoa bagi masyarakat agar menerima perbedaan dengan kasih. Selamat Natal.
*Editor: Rizki Nugraha