1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikRusia

Negara Rusia Makin Sering “Kompromi” dengan Geng Kriminal

Mikhail Bushuev
27 Desember 2023

Sejak serangan terhadap Ukraina, negara Rusia semakin bergantung pada kejahatan terorganisir. Sebuah laporan penelitian terbaru menyoroti masalah yang dibayangi oleh perang.

Foto ilustrasi pusat kota Moskow
Foto ilustrasi pusat kota MoskowFoto: ALEXANDER NEMENOV/AFP

Perang Rusia melawan Ukraina tentu juga punya dampak bagi Rusia sendiri. Mark Galeotti, sejarawan berusia 58 tahun dan pakar dinas rahasia Rusia serta kejahatan terorganisir mengatakan, di Rusia terjadi perubahan besar di dunia kriminalitas terorganisir. Dia saat ini adalah profesor kehormatan di University College London, Inggris.

Negara Rusia sekarang makin bergantung pada jasa jaringan kriminal, tulis Mark Galeotti dalam laporannya yang baru saja dirilis untuk proyek Global Initiative against Transnational Organized Crime (GI-TOC) yang berjudul "TIME OF TROUBLES. The Russian underworld since the Ukraine invasion."

Bahkan sebelum invasi besar-besaran ke Ukraina, kejahatan terorganisir di Rusia sudah terkait erat dengan geng-geng di Ukraina. Bersama-sama mereka membentuk sindikat kriminal terbesar di Eropa, yang akhirnya bubar akibat perang. "Pada Februari 2022, kelompok kriminal Rusia dan Ukraina membentuk ekosistem kriminal terkuat di Eropa dan mengendalikan jalur penyelundupan yang menguntungkan antara Rusia dan Eropa Barat,” tulis Mark Galeotti dalam laporanya. Setelah Rusia menginvasi Ukraina, tokoh-tokoh terkemuka dunia kriminal Rusia kemudian bergabung dengan kelompok tentara bayaran "Wagner".

Pakar Rusia dan penulis buku, Mark GaleottiFoto: Photoshot/picture alliance

Pemenang dan pecundang perang

Mengenai dampak perang di Ukraina pada jaringan kriminal, Mark Galeotto mrnulis: "Pemenang utama adalah struktur yang memiliki koneksi ke Belarus, Armenia dan Asia Tengah. Kelompok yang kalah termasuk jaringan transnasional besar seperti Solntsevskaya dan Kelompok Tambovskaya." . Ini adalah dua struktur mafia paling terkenal di Rusia, yang pertama berasal dari Moskow, yang lain dari St. Petersburg.

"Jalur perdagangan alternatif dan penyelundupan, sekarang menjadi sangat penting. Beberapa negara di Timur Tengah, Asia Tengah dan Turki punya peran yang menonjol", kata Galeotti. "Mungkin secara keseluruhan ini bukan perang yang baik bagi gangster Rusia. Tapi itu tidak berlaku untuk semua orang."

"Hubungan antara negara dan dunia kriminal di Rusia secara sinis didasarkan pada prinsip saling membantu", jelasnya. Misalnya, struktur kriminal semakin terlibat dalam penyediaan microchip dan teknologi lain yang diperlukan untuk industri pertahanan Rusia, yang terkena sanksi berat dari Barat. Mark Galeotti mengutip seorang pegawai Europol: "Jika Anda membantu menyelundupkan microchip, dinas intelijen dalam negeri Rusia FSB bisa saja menutup mata terhadap perdagangan narkoba atau perdagangan manusia Anda."

Dengan kata lain: Apa yang negara tidak ingin atau tidak bisa lakukan sendiri, akan diserahkan pada kejahatan terorganisir. "Selain pengiriman barang-barang yang dikenai sanksi, hal ini juga melibatkan spionase sederhana, pembunuhan atau intimidasi terhadap musuh-musuh Kremlin, terutama di luar negeri", katanya "Saya khawatir hal ini akan dilakukan lebih banyak lagi untuk memberikan tekanan pada diaspora Rusia."

Fungsi lain dari jaringan kriminal adalah sebagai penjaga "dana gelap” untuk belanja bayangan pemerintah. Setelah pecahnya perang dan terisolasinya Rusia dari komunitas global, "semakin sulit bagi negara Rusia untuk membiayai operasinya di Eropa,” jelas Mark Galeotti. Batasan antara dunia kriminal dan negara menjadi kabur dan menjadi kurang penting, jika negara Rusia semakin bergantung pada jasa para penjahat.

Sebagai contoh, dia menunjuk ekspor gandum Ukraina yang "dikendalikan” dari wilayah yang diduduki Rusia, atau distribusi minyak oleh kapal-kapal tanker, yang mematikan transpondernya untuk menghindari embargo Barat.

Kriminalitas meningkat drastis karena kurangnya penindakan

Pada saat yang sama, Mark Galeotti mencatat bahwa jumlah kejahatan di Rusia, khususnya yang melibatkan penggunaan kekerasan, meningkat secara dramatis. Bahkan statistik resmi Kementerian Dalam Negeri Rusia menunjukkan peningkatan sebesar 30 persen pada tahun 2022 saja. Angka statistik resmi itu bisa dipastikan jauh lebih kecil daripada angka sebenarnya.

Dia menunjukkan betapa sulit dipercayanya statistik resmi Rusia, misalnya saja statistik tingkat kejahatan yang sangat rendah di Chechnya dan republik lain di Kaukasus Utara. Menariknya, Kementerian Dalam Negeri baru-baru ini memutuskan untuk tidak lagi mempublikasikan statistik tersebut.

"JikaPutin memutuskan untuk mengambil tindakan melawan kejahatan terorganisir, dia sebenarnya punya sumber daya untuk melakukannya,” kata Mark Galeotti. Namun negara Rusia tidak menunjukkan minat itu. Pada saat yang sama, masalah terkait kejahatan terorganisir bahkan semakin meningkat di Rusia. "Misalnya, jumlah veteran perang yang cenderung terjun ke dunia kriminal semakin meningkat", ujar pakar kejahatan terorganisir itu.

Mark Galeotti mengidentifikasi dua risiko utama yang ia yakini akan terjadi di Rusia: Pertama, "Donbassisasi.” Dia menggunakan istilah ini untuk menggambarkan pelanggaran hukum di wilayah-wilayah Ukrainya yang diduduki Rusia. Kedua, "nasionalisasi kejahatan”, yaitu transformasi Rusia menjadi negara mafia, walaupun dia menganggap istilah "negara mafia" sebagai klise jurnalistik, karena tidak mencakup "keseluruhan kompleksitas sistem" di Rusia.

Dia menyarankan untuk membandingkan Rusia modern lebih dekat dengan monarki pada abad pertengahan, di mana para bangsawan bersaing untuk mendapatkan dukungan tsar dan di mana "teks undang-undang memiliki nilai yang jauh lebih rendah" dibandingkan saat ini.

(hp/as)

Jangan lewatkan konten-konten eksklusif berbahasa Indonesia dari DW. Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait