1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Dunia DigitalQatar

Negara Teluk Rintis Jembatan Digital antara Asia dan Eropa

4 Desember 2025

Qatar dan Arab Saudi berinvestasi pada kabel optik darat untuk memperkuat jaringan kabel bawah laut yang melalui Laut Merah dan Selat Hormuz. Proyek-proyek ini digadang menjadi bagian dari strategi modernisasi.

Iklan raksasa perusahaan telekomunikasi Qatar, Ooredoo, di Yangoon, Myanmar.
Perusahaan raksasa telekomunikasi Ooredoo yang berbasis di Qatar.Foto: Lynn Bo Bo/EPA/picture alliance

Setengah miliar dolar, atau Rp8,3 triliun, sedang disiapkan raksasa telekomunikasi Ooredo untuk berekspansi di Qatar. Duit tersebut akan membiayai pembangunan saluran serat optik terestrial baru, yang membentang dari Semenanjung Arab hingga Eropa.

Berdasarkan laporan kantor berita Watar QNA, jaringan akan dimulai di Oman melintasi Irak dan Turki hingga ke Marseille di Prancis.

Terlepas dari itu, menurut laporan pers, Arab Saudi dan Suriah juga sedang menegosiasikan pembangunan jaringan baru. Jaringan ini akan membentang dari Kerajaan Saudi hingga ke Eropa.

Ayad Al-Ani, peneliti Change Management and Consulting Berlin menyatakan dalam wawancaranya kepada DW bahwa Qatar dan Arab Saudi yang sedang mengusahakan pembangunan jaringan jalur darat penting untuk dicermati,"Sebab, koneksi darat ini melibatkan Irak dan Suriah dianggap sebagai negara transit berarti kondisi kedua negara haruslah aman dan layak investasi. Hal ini lantas akan membuat kedua negara terintegrasi ke dalam sistem data dan komunikasi internasional, hal ini akan menguntungkan ekonomi digital lokal dan mendorong perkembangan ekonomi mereka.”

Rute alternatif untuk lintasan Laut Merah yang sarat tantangan

Menurut Aziz Aluthman Fakhroo, CEO Ooredoo, pembangunan jaringan ini akan "menguatakan ketahanan jaringan global, menciptakan rute alternatif yang mengatasi rintangan yang dihadapi di Laut Merah dan Selat Hormuz.”

Baik Laut Merah dan Selat Hormuz merupakan wilayah yang sensitif dari sudut pandang operator jaringan. Selat Hormuz yang memisahkan Iran dari negara-negara pesaingnya di semenanjung Arab yakni Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Meski hubungan Qatar dan Iran tergolong baik, pasang surut konflik politik dan agama membuat hubungan Arab Saudi dan Iran kerap bersitegang.

Situasi di Laut Merah lebih rentan. Selat Bab al-Mandab yang jadi ‘pintu masuk' Laut Merah dari teluk Aden dilalui oleh 22.000 kapal setiap tahunnya. Jaringan digitalnya juga tidak kalah padat. Saat ini ada 15 kabel bawah laut antarbenua di sana. Menurut perusahaan telekomunikasi Hongkong Global Communications (HGC), 80 persen lalu lintas data antara Asia, Afrika, dan Eropa mengalir melalui kabel-kabel tersebut.

Serangan berulang terhadap infrastruktur digital

Kabel-kabel bawah laut berulang kali menjadi target serangan, meski sulit membuktikan apakah kerusakan yang terjadi di sana memang disengaja.

Gangguan pertama terjadi pada tahun 2008. Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Henry Jackson School of International Studies di University of Washington, lima kabel rusak. Tiga di antaranya menghubungkan Asia dan Eropa. Akibatnya, Mesir kehilangan 70 persen koneksi internet untuk sementara waktu dan India kehilangan 50 hingga 60 persen. Sampai saat ini, masih belum jelas apakah kerusakan tersebut disengaja atau tidak.

Saat Perang Gaza, pemberontak Houthi di Yaman mendukung Hamas. Selama berbulan-bulan Houthi tidak hanya menyerang pelayaran internasional yang melintasi laut tetapi juga merusak empat dari 15 kabel yang melintasi wilayah tersebut pada musim semi 2024, termasuk Asia-Africa-Europe 1, yang menghubungkan tiga benua, menurut perusahaan telekomunikasi Hongkong Global Communications (HGC).

Dalam sebuah laporan, HGC menjelaskan bagaimana mereka mempertahankan komunikasi antarbenua dengan mengalihkan sebagian lalu lintas data ke Eropa via daratan Cina, atau melalui sebagian lagi melalui Amerika Serikat, dan sebagian lagi melalui kabel bawah laut yang tidak rusak di Laut Merah.

Pengembangan sistematis industri telekomunikasi

Sistem jaringan baru diharapkan dapat mencegah insiden-insiden tersebut. Menurut Aziz Aluthman Fakhroo, Ketua Dewan Direksi Ooredoo, yang dikutip dari QNA "Kerja sama lintas batas telah menjadi kebutuhan operasional dan strategis yang mendesak, mengingat Timur Tengah merupakan pusat logistik dan digital global, dengan 30% data dunia dan 90% data yang diperdagangkan antara Eropa dan Asia melewati wilayah tersebut.”

Qatar berencana untuk memanfaatkan energi surya sebagai sumber daya untuk mendorong revolusi digital.Foto: Clive Rose/Getty Images

Beberapa bulan lalu, dua perusahaan yakni Qatar National Broadband Network (QNBN) dan Gulf Bridge International (GBI) mengumumkan rencana untuk melebur divisi telekomunikasi mereka. QNBN akan berfokus pada kabel serat optik, sedangkan GBI pada kabel laut dan darat.

Surat kabar Qatar The Peninsula menyebut integrasi keduanya "membuat Qatar memimpin infrastruktur digital dan kecerdasan buatan (AI) yang netral terhadap penyedia layanan, serta memperkuat konektivitasnya dengan dunia.”

Lebih dari sekadar infrastruktur

Menurut Ayad Al-Ani proyek-proyek tersebut tidak sebatas infrastruktur, tetapi juga teknologi digital seperti pusat data, "Infrastruktur itu sendiri sudah dianggap sebagai sumber pendapatan yang signifikan. Tetapi bersama dengan pusat data dan inovasi, hal ini menjanjikan keberhasilan ekonomi digital.”

Menurut GBI, Qatar saat ini sedang berupaya menarik perusahaan-perusahaan AI inovatif dari Eropa dan Asia ke Qatar dan menawarkan "akses masuk untuk terhubung dengan jaringan di Timur Tengah,” seperti yang dilaportakan Gulf Times Oktober 2024. Hal ini dilakukan searing meningkatnya permintaan konektivitas data lintas batas.

Ayad Al-Ani mengatakan bahwa Qatar, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, juga sedang mempersiapkan diri menghadapi era pasca-bahan bakar fosil dengan menciptakan sistem-sistem ini.

"Wilayah ini juga memiliki energi surya yang hampir tak terbatas, yang relatif murah, untuk mengoperasikan pusat data,” katanya. "Ini merupakan keunggulan signifikan dalam industri yang intensif energi ini. Tidak diperlukan pembangkit listrik nuklir tambahan, seperti halnya di AS.”

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Rizki Nugraha

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait