Qatar dan Arab Saudi berinvestasi pada kabel optik darat untuk memperkuat jaringan kabel bawah laut yang melalui Laut Merah dan Selat Hormuz. Proyek-proyek ini digadang menjadi bagian dari strategi modernisasi.
Perusahaan raksasa telekomunikasi Ooredoo yang berbasis di Qatar.Foto: Lynn Bo Bo/EPA/picture alliance
Iklan
Setengah miliar dolar, atau Rp8,3 triliun, sedang disiapkan raksasa telekomunikasi Ooredo untuk berekspansi di Qatar. Duit tersebut akan membiayai pembangunan saluran serat optik terestrial baru, yang membentang dari Semenanjung Arab hingga Eropa.
Berdasarkan laporan kantor berita Watar QNA, jaringan akan dimulai di Oman melintasi Irak dan Turki hingga ke Marseille di Prancis.
Terlepas dari itu, menurut laporan pers, Arab Saudi dan Suriah juga sedang menegosiasikan pembangunan jaringan baru. Jaringan ini akan membentang dari Kerajaan Saudi hingga ke Eropa.
Ayad Al-Ani, peneliti Change Management and Consulting Berlin menyatakan dalam wawancaranya kepada DW bahwa Qatar dan Arab Saudi yang sedang mengusahakan pembangunan jaringan jalur darat penting untuk dicermati,"Sebab, koneksi darat ini melibatkan Irak dan Suriah dianggap sebagai negara transit berarti kondisi kedua negara haruslah aman dan layak investasi. Hal ini lantas akan membuat kedua negara terintegrasi ke dalam sistem data dan komunikasi internasional, hal ini akan menguntungkan ekonomi digital lokal dan mendorong perkembangan ekonomi mereka.”
Rute alternatif untuk lintasan Laut Merah yang sarat tantangan
Menurut Aziz Aluthman Fakhroo, CEO Ooredoo, pembangunan jaringan ini akan "menguatakan ketahanan jaringan global, menciptakan rute alternatif yang mengatasi rintangan yang dihadapi di Laut Merah dan Selat Hormuz.”
Baik Laut Merah dan Selat Hormuz merupakan wilayah yang sensitif dari sudut pandang operator jaringan. Selat Hormuz yang memisahkan Iran dari negara-negara pesaingnya di semenanjung Arab yakni Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Meski hubungan Qatar dan Iran tergolong baik, pasang surut konflik politik dan agama membuat hubungan Arab Saudi dan Iran kerap bersitegang.
Lini Masa Pertikaian Arab Saudi dan Iran
Bukan kali pertama Iran dan Arab Saudi bersitegang. Sepanjang sejarahnya, hubungan kedua negara acap mengalami pasang surut menyusul konflik politik atau agama. Inilah sejarah modern permusuhan dua ideologi dalam Islam
Foto: DW Montage
Damai berbayang kecurigaan
Hubungan Iran dan Arab Saudi baru tumbuh sejak kekuasaan Syah Reza Pahlevi dan Raja Khalid. Kedua negara sebelumnya sering direcoki rasa saling curiga, antara lain karena tindakan Riyadh menutup tempat-tempat ziarah kaum Syiah di Mekkah dan Madinah. Perseteruan yang awalnya berbasis agama itu berubah menjadi politis seiring dengan eskalasi konflik di Timur Tengah dan Revolusi Islam 1979.
Foto: picture alliance/AP Images
Pendekatan usai Revolusi Islam
Raja Khalid sempat melayangkan ucapan selamat kepada Ayatollah Khomeini atas keberhasilan Revolusi Islam 1979. Tapi hubungan kedua negara memburuk menyusul perang Iran-Irak dan kisruh Haji 1987. Puncaknya, Riyadh memutuskan hubungan pada 1987, ketika Khomeini mengecam penguasa Saudi sebagai "Wahabi yang tidak berperikemanusiaan, ibarat belati yang menusuk jantung kaum Muslim dari belakang."
Foto: Getty Images/Afp
Keberpihakan dalam Perang Iran-Irak 1980
Saat berkobar perang Iran-Irak, Arab Saudi sejak dini menyatakan dukungan terhadap rejim Saddam Hussein di Baghdad. Riyadh memberikan dana sumbangan sebesar 25 milyar US Dollar dan mendesak negara-negara Teluk lain untuk ikut mengisi pundi perang buat Irak. Demi menanggung biaya perang, Arab Saudi menggenjot produksi minyak yang kemudian mengakibatkan runtuhnya harga minyak di pasar dunia.
Foto: picture-alliance/dpa
Kisruh Haji 1987
Mengikuti ajakan Ayatollah Khomeini, jemaah Iran setiap tahun berdemonstrasi di Mekkah dan Madinah menentang Israel. Tradisi sejak 1981 itu tidak pernah diperkarakan, kecuali pada 1987, ketika polisi memblokade jalan menuju Masjid al-Haram. Akibat bentrokan, 402 jemaah Iran tewas dan 649 luka-luka. Setelah kedutaannya di Teheran diserbu massa, Riyadh memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran.
Foto: farhangnews
Kontroversi program nuklir Iran
Arab Saudi sejak awal menolak program nuklir Teheran. Sikap itu tidak berubah bahkan setelah tercapainya Perjanjian Nuklir di Vienna tahun 2015. Riyadh menilai kesepakatan tersebut "sangat berbahaya." Desakan kepada Iran untuk bekerja sama dengan pengawas nuklir PBB juga disampaikan Saudi pada awal 2023.
Foto: Irna
Pemberontakan Houthi di Yaman, 2004
Hubungan Iran dan Arab Saudi kembali menegang setelah kelompok Syiah Zaidiyah di Yaman mengobarkan pemberontakan. Riyadh menuding Teheran mengompori perang bersaudara dan mencampuri urusan dalam negeri Yaman dengan memasok senjata. Iran sebaliknya menuding Arab Saudi menghkhianati perannya sebagai mediator konflik dengan membombardir minoritas Houthi di utara Yaman.
Foto: picture alliance/Y. Arhab
Perang proksi di Suriah, 2011
Dukungan Iran atas rejim Bashar Assad di Suriah sejak lama dianggap duri dalam daging oleh Arab Saudi. Sejak 2011, Riyadh aktif memasok senjata buat oposisi Sunni di Suriah. Kerajaan di Riyadh juga menjadi yang pertama kali mengecam Assad seputar "tindakan represif pemerintahannya terhadap demonstrasi anti pemerintah," ujar Raja Abdullah saat itu.
Foto: picture-alliance/AP/Vadim Ghirda
Tragedi Mina 2015
Bencana memayungi ibadah Haji 2015 ketika lebih dari 400 jemaah Iran meninggal dunia di terowongan Mina akibat panik massa. Iran menuding pemerintah Arab Saudi ikut bertanggungjawab. Riyadh sebaliknya menyelipkan isu bahwa tragedi itu disebabkan jemaah haji Iran yang tak mau diatur. Kisruh memuncak saat pangeran Arab Saudi, Khalid bin Abdullah, mendesak agar Riyadh melarang masuk jemaah haji Iran.
Foto: picture-alliance/AP Photo
Eksekusi Mati Al-Nimr 2016
Sehari setelah pergantian tahun Arab Saudi mengeksekusi mati 46 terpidana, antara lain Syeikh Nimr al-Nimr, seorang ulama yang aktif membela hak-hak minoritas Syiah yang kerap mengalami represi dan diskriminasi di Arab Saudi. Al-Nimr didakwa terlibat dalam terorisme. Sebagai reaksi Pemimpin Spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei melayangkan ancaman, bahwa Saudi akan mendapat "pembalasan tuhan."
Foto: picture alliance/dpa/Y. Arhab
Drama di Lebanon
Pada November 2017 Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri mengumumkan pengunduran diri dari Riyadh, Arab Saudi, dan menyalahkan Iran terkait kebuntuan politik di Beirut. Langkah itu diyakini bagian dari manuver Arab Saudi untuk memprovokasi perang antara Iran dan Hizbullah dengan Israel. Saudi dan Iran berebut pengaruh di Lebanon pasca penarikan mundur pasukan Suriah 2005 silam.
Foto: picture-alliance/dpa/AP/Lebanese Official Government/D. Nohra
Narasi damai di awal 2023
Menyusul mediasi Cina, pemerintah Arab Saudi sepakat memulihkan hubungan dengan Ira pada Maret 2023. Kesepakatan tersebut disusul pembukaan kembali relasi dengan Suriah dan perundingan damai dengan pemberontak Houthi di Yaman. Sebelumnya, negara-negara Teluk juga sepakat mengakhiri perpecahan dengan Katar, sekutu dekat Iran di Teluk Persia.
Foto: Iran's Foreign Ministry/WANA/REUTERS
11 foto1 | 11
Situasi di Laut Merah lebih rentan. Selat Bab al-Mandab yang jadi ‘pintu masuk' Laut Merah dari teluk Aden dilalui oleh 22.000 kapal setiap tahunnya. Jaringan digitalnya juga tidak kalah padat. Saat ini ada 15 kabel bawah laut antarbenua di sana. Menurut perusahaan telekomunikasi Hongkong Global Communications (HGC), 80 persen lalu lintas data antara Asia, Afrika, dan Eropa mengalir melalui kabel-kabel tersebut.
Gangguan pertama terjadi pada tahun 2008. Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Henry Jackson School of International Studies di University of Washington, lima kabel rusak. Tiga di antaranya menghubungkan Asia dan Eropa. Akibatnya, Mesir kehilangan 70 persen koneksi internet untuk sementara waktu dan India kehilangan 50 hingga 60 persen. Sampai saat ini, masih belum jelas apakah kerusakan tersebut disengaja atau tidak.
Saat Perang Gaza, pemberontak Houthi di Yaman mendukung Hamas. Selama berbulan-bulan Houthi tidak hanya menyerang pelayaran internasional yang melintasi laut tetapi juga merusak empat dari 15 kabel yang melintasi wilayah tersebut pada musim semi 2024, termasuk Asia-Africa-Europe 1, yang menghubungkan tiga benua, menurut perusahaan telekomunikasi Hongkong Global Communications (HGC).
Dalam sebuah laporan, HGC menjelaskan bagaimana mereka mempertahankan komunikasi antarbenua dengan mengalihkan sebagian lalu lintas data ke Eropa via daratan Cina, atau melalui sebagian lagi melalui Amerika Serikat, dan sebagian lagi melalui kabel bawah laut yang tidak rusak di Laut Merah.
Krisis Yaman Memburuk, Organisasi Kemanusiaan Kehabisan Uang
Perang di Yaman terus berlanjut. Namun, sejumlah organisasi kemanusiaan saat ini terancam kehabisan uang. Invasi Rusia di Ukraina berpotensi memperburuk keadaan di Yaman.
Foto: Mohammed Huwais/AFP/Getty Images
Kurangnya bantuan kemanusiaan
Krisis kemanusiaan di Yaman yang dilanda perang semakin memburuk. Menurut Program Pangan Dunia PBB (WFP), 13 juta orang di sana terancam kelaparan, lantaran perang saudara yang berkepanjangan dan kurangnya bantuan kemanusiaan.
Foto: Khaled Ziad/AFP/Getty Images
Sangat bergantung pada bantuan
Sejak awal pandemi COVID-19, semakin banyak orang yang kelaparan. Yaman adalah salah satu negara yang paling membutuhkan bantuan, dengan lebih dari 40% populasi bergantung pada bantuan WFP.
Foto: Khaled Abdullah/REUTERS
WFP kehabisan uang
"Kami memberi makan 13 juta orang dari negara berpenduduk 30 juta orang dan kami kehabisan uang," kata David Beasley, Kepala WFP, kepada Associated Press belum lama ini. "Jadi, apa yang akan saya lakukan untuk anak-anak di Yaman? Mencurinya dari anak-anak di Etiopia, atau Afganistan, atau Nigeria, atau di Suriah? Itu tidak benar," katanya.
Foto: Giles Clarke/UNOCHA/picture alliance
Paket bantuan tidak lengkap
Saat ini sekitar lima juta orang terancam mati akibat kelaparan, kata Corinne Fleischer, Direktur WFP untuk Timur Tengah dan Afrika Utara. Sumbangan bantuan kemanusiaan sejauh ini hanya mencakup 18% dari hampir $2 miliar (Rp28,6 triliun) yang dibutuhkan WFP untuk misinya di Yaman.
Foto: Mohammed Mohammed/XinHua/dpa/picture alliance
Perang Ukraina memperburuk krisis kelaparan
Invasi Rusia berpotensi memperburuk keadaan di Yaman karena WFP memperoleh sekitar setengah dari gandumnya dari Ukraina. Bahkan sebelum perang dimulai, harga gandum telah meningkat tajam. Bank Dunia mengingatkan bahwa perang Ukraina akan mendorong krisis kelaparan yang lebih buruk.
Foto: AHMAD AL-BASHA/AFP/Getty Images
Perang saudara yang berkepanjangan
Perang saudara di Yaman telah berlangsung selama tujuh tahun. Sejak 2015, koalisi pimpinan Arab Saudi memerangi pemberontak Houthi yang didukung Iran, yang saat ini menguasai sebagian besar wilayah di Yaman, termasuk ibu kota, Sanaa.
Foto: imago images/Xinhua
Kekacauan di Aden
Wilayah selatan Aden dikendalikan sepenuhnya oleh separatis sejak 2020 dan telah menjadi basis pemerintah yang diakui secara internasional, dipimpin oleh Abed Rabbo Mansour Hadi, sejak Houthi menyingkirkannya keluar dari Sanaa.
Foto: Wael Qubady/AP Photo/picture alliance
Tidak ada tempat berlindung
Kota Marib dianggap strategis karena merupakan benteng terakhir dari pemerintah yang diakui secara resmi di utara. Pertempura tengah berlangsung di sini, di mana Saudi terus-menerus mengebom daerah tersebut. Warga sipil terpaksa terus memindahkan kamp pengungsi mereka karena garis depan terus bergeser.
Foto: AFP /Getty Images
Rumah sakit penuh
Sistem kesehatan di Yaman bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Perang yang sedang berlangsung dan pandemi COVID-19 hanya membuat segalanya lebih mengerikan di negara termiskin di semenanjung Arab itu.
Foto: Abdulnasser Alseddik/AA/picture alliance
Sekolah dibom
Dalam laporan tahun 2021, UNICEF mengatakan bahwa pendidikan menjadi salah satu korban terbesar perang Yaman. Lebih dari 2 juta anak perempuan dan laki-laki usia sekolah tidak dapat mengenyam pendidikan. Banyak sekolah hancur dibom.
Foto: Mohammed Al-Wafi /AA/picture alliance
Rangkaian kesengsaraan
Listrik, air bersih, dan bahan bakar - selalu ada sesuatu yang kurang di Yaman. Antrean di SPBU semakin panjang. Tanpa dana kemanusiaan yang lebih banyak, rangkaian kesengsaraan ini hanya akan berlanjut. (ha/yf)
Foto: Mohammed Huwais/AFP/Getty Images
11 foto1 | 11
Pengembangan sistematis industri telekomunikasi
Sistem jaringan baru diharapkan dapat mencegah insiden-insiden tersebut. Menurut Aziz Aluthman Fakhroo, Ketua Dewan Direksi Ooredoo, yang dikutip dari QNA "Kerja sama lintas batas telah menjadi kebutuhan operasional dan strategis yang mendesak, mengingat Timur Tengah merupakan pusat logistik dan digital global, dengan 30% data dunia dan 90% data yang diperdagangkan antara Eropa dan Asia melewati wilayah tersebut.”
Qatar berencana untuk memanfaatkan energi surya sebagai sumber daya untuk mendorong revolusi digital.Foto: Clive Rose/Getty Images
Beberapa bulan lalu, dua perusahaan yakni Qatar National Broadband Network (QNBN) dan Gulf Bridge International (GBI) mengumumkan rencana untuk melebur divisi telekomunikasi mereka. QNBN akan berfokus pada kabel serat optik, sedangkan GBI pada kabel laut dan darat.
Surat kabar Qatar The Peninsula menyebut integrasi keduanya "membuat Qatar memimpin infrastruktur digital dan kecerdasan buatan (AI) yang netral terhadap penyedia layanan, serta memperkuat konektivitasnya dengan dunia.”
Lebih dari sekadar infrastruktur
Menurut Ayad Al-Ani proyek-proyek tersebut tidak sebatas infrastruktur, tetapi juga teknologi digital seperti pusat data, "Infrastruktur itu sendiri sudah dianggap sebagai sumber pendapatan yang signifikan. Tetapi bersama dengan pusat data dan inovasi, hal ini menjanjikan keberhasilan ekonomi digital.”
Menurut GBI, Qatar saat ini sedang berupaya menarik perusahaan-perusahaan AI inovatif dari Eropa dan Asia ke Qatar dan menawarkan "akses masuk untuk terhubung dengan jaringan di Timur Tengah,” seperti yang dilaportakan Gulf Times Oktober 2024. Hal ini dilakukan searing meningkatnya permintaan konektivitas data lintas batas.
Ayad Al-Ani mengatakan bahwa Qatar, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, juga sedang mempersiapkan diri menghadapi era pasca-bahan bakar fosil dengan menciptakan sistem-sistem ini.
"Wilayah ini juga memiliki energi surya yang hampir tak terbatas, yang relatif murah, untuk mengoperasikan pusat data,” katanya. "Ini merupakan keunggulan signifikan dalam industri yang intensif energi ini. Tidak diperlukan pembangkit listrik nuklir tambahan, seperti halnya di AS.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman