1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikAsia

Tensi Meningkat Setelah Buntunya Negosiasi AS-Iran

19 Februari 2026

Perundingan tidak langsung antara AS dan Iran di Swiss gagal mendekatkan kedua pihak. Teheran tetap berpegang pada hak pengayaan uranium, sementara Washington bersikeras mencegah Iran menguasai senjata nuklir.

Pilot di USS Abraham Lincoln
Pilot pesawat tempur AS di atas kapal induk USS Abraham Lincoln di Samudera Hindia, Januari 2026Foto: Seaman Daniel Kimmelman/US Navy/AP Photo/dpa/picture alliance

Putaran kedua perundingan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat berakhir tanpa hasil konkret. Pembicaraan yang dimediasi Oman itu kembali digelar di Jenewa, Swiss, pekan ini, menyusul putaran awal pada 6 Februari.

Pemindahan lokasi ke Jenewa diduga berkaitan dengan agenda paralel para perunding Amerika yang juga terlibat pembicaraan dengan Ukraina dan Rusia. Diplomasi yang berlapis ini mencerminkan kompleksitas agenda Washington di tengah ketegangan global.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi datang bersama delegasi teknis dan, menurut juru bicara kementeriannya, siap bertahan selama "beberapa hari bahkan beberapa pekan” hingga tercapai kesepakatan. Seusai lebih dari tiga jam perundingan tak langsung dengan utusan khusus AS Steve Witkoff dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, Araghchi menyebut atmosfer pembicaraan "konstruktif” dan menyatakan optimisme.

Namun optimisme diplomatik kerap menjadi bagian dari retorika. Mohammad Ghaedi, pakar hubungan internasional Timur Tengah dari George Washington University, menilai inti konflik belum berubah. "AS tidak menerima pengayaan uranium Iran. Itu garis merah mereka. Teheran juga tak akan menghentikan pengayaan,” ujarnya.

Iran and US flex military muscle as talks are held in Geneva

02:54

This browser does not support the video element.

Uranium: Garis merah yang tak bergeser

Bagi Washington, penghentian pengayaan uranium adalah syarat utama. Bagi Teheran, menghentikan sentrifugal berarti menanggalkan opsi kemampuan penangkal nuklir. Iran membantah sedang mengembangkan senjata atom dan bersikeras programnya untuk tujuan damai.

Ketua Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, dalam wawancara dengan Al Jazeera, menegaskan fasilitas nuklir Iran terbuka bagi pengawasan Badan Energi Atom Internasional. Sehari sebelum perundingan, Araghchi juga bertemu Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency, Rafael Grossi.

Hubungan Teheran dan badan PBB itu sempat memburuk setelah serangan Amerika terhadap fasilitas nuklir Iran tahun lalu. Iran bahkan membatasi akses sejumlah inspektur internasional.

Sebagai kompromi, Teheran memberi sinyal bersedia membatasi program nuklirnya dan memindahkan uranium yang diperkaya hingga 60 persen ke negara ketiga. Namun sebagai imbalannya, Iran menuntut pencabutan sanksi—sesuatu yang hingga kini ditolak Washington.

"Teheran mungkin lebih siap menanggung risiko konflik militer ketimbang sepenuhnya menghentikan pengayaan,” kata Ghaedi.

Isu lain seperti program rudal balistik dan dukungan Iran terhadap kelompok militan sejak awal dikeluarkan dari meja perundingan.

Bayang-bayang Hormuz

Ketegangan meningkat di luar ruang diplomasi. Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, memperbarui ancaman terhadap Amerika, menuding Trump berupaya mengganti rezim di Teheran. Sebelumnya Trump menyebut "pergantian rezim” mungkin menjadi jalan terbaik bagi Iran.

Tekanan domestik terhadap pemerintah Iran meningkat setelah gelombang protes besar dan demonstrasi diaspora yang menuntut perubahan politik. Di sisi lain, Republik Islam itu berupaya menunjukkan kekuatan militer. Garda Revolusi menggelar latihan angkatan laut dan menembakkan rudal ke sasaran di Selat Hormuz—jalur selebar 55 kilometer yang menjadi nadi ekspor minyak dunia.

Washington merespons dengan mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford ke kawasan. Wakil Presiden JD Vance menyatakan AS memiliki "banyak opsi” untuk mencegah Iran memperoleh bom atom.

Dalam artikel opini di The Wall Street Journal, Araghchi memperingatkan Iran akan "berjuang dengan semua cara yang tersedia” jika perang pecah. Dari sudut pandang Teheran, konflik terbuka bisa berarti serangan terhadap fasilitas minyak dan lonjakan harga energi global—sebuah risiko politik bagi Washington menjelang pemilu sela.

Ghaedi mengingatkan, keputusan memulai perang mungkin berada di tangan Amerika, tetapi lamanya konflik dan dampaknya tak sepenuhnya bisa dikendalikan.

Bola di tangan Teheran

Sumber pemerintahan AS menyebut ada kemajuan di Jenewa, namun detail penting masih terbuka. Iran dikabarkan akan kembali dalam dua pekan dengan proposal rinci untuk menjembatani perbedaan.

Meski bulan Ramadan tengah berlangsung, Ghaedi menilai tak ada jaminan penahanan diri militer. "Pertimbangan religius kadang berperan, tapi tidak pernah menjadi garansi.”

Untuk saat ini, diplomasi dan ancaman berjalan beriringan. Optimisme disuarakan, garis merah dipertahankan, dan Selat Hormuz tetap menjadi simbol betapa tipis jarak antara negosiasi dan konfrontasi.

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Yuniman Farid

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya