Jerman: Jejaring Neonazi dalam Bidikan Kepolisian
7 Mei 2026
Mereka menamakan diri "Deutsche Jugend Voran”, Pemuda Jerman Maju atau "Jung und Stark”, Muda dan Kuat. Anggotanya mayoritas anak muda berhaluan ekstrem kanan yang membangun jaringan di berbagai kota di Jerman sambil menyebarkan ideologi kebencian dan kekerasan. Selama dua tahun terakhir, aparat keamanan dan para pengamat mencatat meningkatnya aksi kekerasan serta propaganda ekstrem kanan yang berasal dari kelompok-kelompok ini.
Target mereka terutama komunitas LGBTQ+, warga berlatar belakang migran, hingga remaja yang dicap berhaluan kiri. Dalam sejumlah kasus di Berlin dan kota-kota lain, kelompok tersebut kerap melakukan penyerangan, terutama saat parade Christopher Street Day (CSD), perayaan tahunan minoritas seksual.
Pada pagi 6 Mei 2026, aparat Jerman melancarkan penggerebekan besar-besaran terhadap jaringan tersebut. Kantor Jaksa Federal—otoritas hukum tertinggi Jerman—mengerahkan sekitar 600 polisi untuk menggeledah puluhan rumah di 12 negara bagian. Operasi itu menyasar 36 tersangka, meski belum ada penangkapan yang dilakukan.
Muda, maskulin dan kriminal
Jaksa federal menyatakan kelompok "Deutsche Jugend Voran” dan "Jung und Stark” diduga membentuk organisasi kriminal karena secara terbuka menyerukan kekerasan terhadap lawan politik.
Menurut penyelidik, anggota kelompok itu membangun jaringan melalui media sosial dan pertemuan rutin. Aktivitas mereka disebut tidak berhenti pada propaganda. Dalam pernyataan resminya, Kejaksaan Federal menyebut beberapa tersangka diduga terlibat dalam penyerangan terhadap kelompok kiri.
"Korban dipukul oleh beberapa pelaku dan mengalami luka yang cukup serius,” demikian pernyataan kejaksaan.
Menteri Kehakiman Jerman Stefanie Hubig mendukung operasi tersebut. Dia menilai kasus ini menunjukkan bahwa ekstremisme kanan berbasis kekerasan kini telah menjadi ancaman nasional.
"Sekali lagi terlihat jelas bahwa kita menghadapi ancaman ekstremisme kanan yang berorientasi pada kekerasan di seluruh Jerman,” ujar politikus Partai Sosial Demokrat itu.
Hubig bahkan menyebut ekstremisme kanan sebagai ancaman domestik terbesar bagi Jerman saat ini. Dia menyoroti meningkatnya dukungan terhadap kelompok-kelompok militan, terutama di kalangan anak muda.
Sulit dilacak
Beberapa hari sebelum penggerebekan berlangsung, Deutsche Welle mewawancarai aparat keamanan mengenai perkembangan jaringan ekstrem kanan muda di Berlin. Ibu kota Jerman itu belakangan kerap menjadi lokasi unjuk kekuatan kelompok sayap kanan, termasuk yang diduga melibatkan anggota "Deutsche Jugend Voran” dan "Jung und Stark”.
Wolfram Pemp, kepala divisi ekstremisme kanan di Kepolisian Kriminal Negara Bagian Berlin, mengatakan kelompok ekstrem kanan saat ini jauh lebih cair dibanding masa lalu.
"Kelompok-kelompok muda ini dibentuk, lalu berganti nama, dibentuk ulang, dan cepat menghilang lagi,” kata Pemp.
Menurutnya, pola semacam itu menjadi tantangan tersendiri bagi aparat penegak hukum.
Meski begitu, Pemp menilai Berlin relatif siap menghadapi ancaman ekstremisme kanan. Polisi kini memiliki unit-unit khusus yang memungkinkan penanganan cepat terhadap kejahatan bermotif politik, terutama yang melibatkan remaja.
"Tujuan kami juga untuk mencegah lahirnya karier ekstremis,” ujarnya.
Ideologi lama dengan wajah baru
Dalam dua tahun terakhir, "Deutsche Jugend Voran” dan "Jung und Stark” secara aktif membidik remaja sebagai basis perekrutan. Anggotanya dikenal sangat muda dan memiliki orientasi kekerasan yang kuat.
Ideologi mereka bertumpu pada kebencian dan paham antikemanusiaan yang merujuk pada nasional-sosialisme atau Nazisme era Adolf Hitler. Pada masa rezim Nazi Jerman 1933–1945, jutaan orang Yahudi, Sinti dan Roma, penyandang disabilitas, serta lawan politik dibunuh di seluruh Eropa.
Anggota kelompok Neonazi masa kini juga mudah dikenali dari gaya berpakaian mereka yang militan—mengadopsi tampilan klasik Neonazi dan kelompok skinhead.
Menteri Dalam Negeri Jerman Alexander Dobrindt menyatakan pemerintah tidak akan mentoleransi seruan kekerasan maupun serangan bermotif politik.
"Kami tidak menerima seruan kekerasan dan aksi kekerasan. Kami akan menindaknya secara tegas,” kata politikus CSU tersebut.
Anak muda jadi korban
Meningkatnya dukungan terhadap kekerasan ekstrem kanan di kalangan remaja telah lama menjadi perhatian aparat keamanan. Namun organisasi pendamping korban menilai perhatian terhadap para korban masih jauh dari memadai.
Lembaga bantuan korban di Berlin, ReachOut, dalam laporan April 2026 mencatat anak-anak dan remaja kini semakin sering menjadi sasaran serangan rasialis dan ekstrem kanan.
Parto Tavangar dari ReachOut mengatakan banyak korban masih harus berjuang keras agar pengalaman kekerasan yang mereka alami diakui, termasuk saat berhadapan dengan polisi.
"Kami melihat dalam banyak berkas penyelidikan, korban justru dicatat sebagai pelaku,” kata Tavangar kepada Deutsche Welle.
Dia mendesak agar korban kekerasan rasialis dan ekstrem kanan memperoleh perhatian yang lebih besar dalam masyarakat Jerman.
"Ada hak asasi manusia yang juga harus diakui di Jerman,” ujarnya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid